Apa permasalahan demokrasi Indonesia dikaitkan dengan budaya politik?

image

Apa permasalahan demokrasi Indonesia dikaitkan dengan budaya politik? Beserta contoh kasus

Demokrasi di Indonesia yang menganut pada sistem pemilu proposional dimana calon pemimpin di pilih. Suatu partai bisa menerapkan/mengemukakan kebijakan melalui kampanye agar terpilihnya calon pemimpin dari partai tersebut. Tidak terkecuali dengan money politic yaitu suatu cara dengan membayar masyarakat dengan uang guna terpilihnya calon pemimpin dari partai yang diusung. Penerapan politik uang di indonesia yaitu dengan memberikan sejumlah uang kepada beberapa warga lalu warga yang menerima uang tersebut memberikan uang kepada warga yang lain dengan syarat coblos partai ini. Contoh kasus Panitia Pengawas Pemilihan Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, menangkap empat orang yang diduga melakukan politik uang untuk memenangkan calon tertentu pada Pemilihan Kepala Daerah Sulawesi Barat 2017. Pelaku ditangkap karena membagi-bagikan uang Rp 200.000 kepada warga untuk memengaruhi sikap pemilih. (Junaidi. (2017). Diduga Lakukan Politik Uang, Empat Warga Ditangkap 20 june, 2017, from http://regional.kompas.com/read/2017/02/13/12595761/diduga.lakukan.politik.uang.empat.warga.ditangkap)

Menurut saya budaya poltik di Indonesia merupakan budaya politik parokrial karena masyarakat berdemokrasi pada pemilu saja itupun dimanfaatkan oleh beberapa partai dengan memberlakukan praktik money politik serta belum juga angka golput. Berdasarkan hasil quick count (hitung cepat) di sejumlah daerah, ditemukan angka golput yang masih tinggi. Di Malang, Jawa Timur (Jatim), hasil hitung cepat Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JAmencatat partisipasi pemilih hanya 57,6% atau golput mencapai 42,4%. Angka yang kurang lebih sama juga terjadi di Pilkada Kediri, Jatim, dengan partisipasi pemilih hanya 56,3%. Di Kota Batam, Kepulauan Riau, tim riset LSI bekerja sama dengan Jaringan Info Publik mencatat partisipasi pemilih yang lebih rendah, yakni 50,24%. Golput di daerah ini mencapai 49,7% atau hampir setara dengan jumlah pemilih yang menggunakan suaranya. Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, LSI juga mencatat tingkat partisipasi pemilih yang tergolong rendah, yakni 59,81%. Bahkan, pada beberapa daerah ditemukan partisipasi pemilih yang di bawah 50% dari jumlah daftar pemilih tetap (DPT). (Angka Golput Masih Tinggi. (2015). Koran sindo 20 june,2017, from http://koran-sindo.com/page/news/2015-12-10/0/3)