Apa makna agama Islam merupakan rahmat bagi alam semesta ?

sufi
akhlak
takwa

(Hetty Mukammilah) #1

Apa makna agama Islam merupakan rahmat bagi alam semesta ?


(macoy) #2

Al-Quran memberikan isyarat kepada dua macam rahmat, rahmat umum yaitu bagi alam semesta dan rahmat khusus bagi kaum mukminin. Untuk memperjelas bagaimana Islam merupakan rahmat bagi alam semesta, pada awalnya harus dilihat bahwa hal-hal apa saja yang menjadikan rahmat bagi alam semesta dan memerlukan apa saja, apa saja kebutuhan-kebutuhan mendasar dan esensial manusia?

Apabila kita meneliti wujud diri kita, maka kita akan melihat bahwa esensi dan hakikat wujud manusia adalah pikiran dan pengetahuannya. Oleh itu, kebutuhan utama dan pertama manusia adalah hidayah. Dalam hal ini, Islam merupakan hidayah yang paling sempurna bagi manusia.

Untuk menjelaskan agama Islam merupakan rahmat bagi alam semesta harus dikatakan bahwa Islam membuka jalan kepada jalan hidayah dan membawa manusia untuk mencapai kebahagiaan di dua dunia. Tipologi ini sangat penting di mana tidak ada syarat-syarat ras, jenis kelamin, waktu, tempat dan lain sebagainya untuk dapat melalui jalan ini.

Bagi orang-orang yang berakal, dalil ini telah cukup bahwa Islam dapat diterima sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Tentu saja maksud agama Islam merupakan agama rahmat tidak berarti bahwa agama-agama sebelumnya dan para nabi ulul azmi sebelumnya bukan merupakan rahmat bagi alam semesta. Tidak demikian. Hanya saja terdapat dalil-dalil yang mengenalkan bahwa Islam, al-Quran dan Nabi Muhammad Saw adalah sumber rahmat dan berkah bagi seluruh alam semesta, yaitu bahwa kaum Mukminin akan menerima rahmat yang luas ini; para pembangkang dan penentangnya dikarenakan adanya rasa dengki dan keras kepala, maka mereka tidak akan menerima rahmat Ilahi dan akan menanggung kerugian dunia dan akhirat.

Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Qs Al-Anbiya [21]: 107)

Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta karena Nabi Muhammad Saw membawa syariat dan ajaran di mana ketika seseorang mengamalkan ajaran-ajarannya, maka ia akan bahagia di dunia dan di akhirat. Islam akan mendatangkan rahmat bagi ahli dunia dan bagi kaum Mukmin.

Ya, Islam merupakan rahmat dari sisi bahwa pengaruhnya sedemikian berkah dan dengan berkah kebangkitan Nabi Saw serta ajakannya kepada kebahagiaan telah membawa perubahan dalam masyarakat, di mana apabila kita membandingkan keadaan masyarakat dunia sebelum dan setelah bi’tsah (pengutusan) Nabi Saw, maka berkah rahmat akan nampak kelihatan secara nyata.


(Vina Shaw) #3

Konsep Islam Rahmatan Lil Alamin adalah merupakan tafsir dari ayat 107 surat al-Ambiya. Ayat ini oleh Ahmad Mushthafa al-Maragy ditafsirkan sebagai berikut.

Ai wa maa arsalnaaka bi haadza wa amtsaligi min al-syara’ii wa al-ahkaami all althi biha manaathu al-sa’adah fi al-darain illa rahmat al-naas wa hidayatahum fi syu’un ma’asyihim wa ma’adihim .

Artinya: Yakni tidaklah aku mengutus engkau Muhammad dengan al-Qur’an ini dan yang serupa dengan itu berupa syari’at dan hukum yang menjadi pedoman kehidupan bahagia di dunia dan akhirat, melainkan sebagai rahmat dan petunjuk bagi kehidupan mereka di dunia dan akhirat .

Sementara H.M. Quraish Shihab dalam Tafsirnya al-Mishbah menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan:

Rasul adalah rahmat, bukan saja kedatangan beliau membawa ajaran, tetapi juga sosok dan kepribadian beliau adalah rahmat yang dianugerahkan Allah Swt kepada beliau. Ayat ini tidak menyatakan bahwa Kami tidak mengutus engkau untuk membawa rahmat, tetapi sebagai rahmat atau agar engkau menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Kepribadian Rasulullah SAW yang demikian itu dijelaskan lebih lanjut dalam surat Ali Imran, (3) ayat 159 yang artinya:

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammmad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maaafkanlah mereka dan mohonkan ampun mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkalah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal .”

Dengan ayat ini, menurut H.M. Quraish Shihab, Allah sendiri yang mendidik dan membentuk kepribadian Nabi Muhammad Saw. Hal ini sesuai pula dengan pernyataan beliau

Aku dididik oleh Tuhanku, maka sungguh baik hasil pendidikan-Nya.

Beliau adalah rahmat yang dihadiahkan Allah pada seluruh alam.

Kepribadian Nabi Muhammad SAW yang mulia itu tentu saja menjadi rahmat bagi orang yang meneladaninya, memahami, menghayatinya dalam kehidupannya sehari-hari. Yaitu bagi orang yang berakhlak dengan akhlak rasulullah ( al-takhalluq bi akhlaa al-Rasul ‘ala thaqa al-basyariyah ).

Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT,

Sungguh pada diri rasulullah itu terdapat contoh teladan yang baik bagi orang yang mengharapkan keridlaan Allah dan balasan pahala pada hari akhir. (Q.S. al-Ahzaab , 33:21.)

Berkaitan dengan ini terdapat beragam perilaku yang ditampilkan pengikutnya guna meneladani Nabi Muhammad SAW. Sebagian besar dengan cara membacakan shalawat dan salam kepadanya. Namun orang yang membawa shalawat dan salam ini tujuannya untuk menghormati dan mendapatkan syafa’at (pertolongan) pada hari kiamat, sementara akhlak dan perilaku bertentangan dengan akhlak Rasulullah SAW.

Shalawat dan salam pada Rasululllah SAW yang demikian itu tidak akan efektif, karena sifatnya sangat transaksional, dan tidak memiliki dampak positif bagi perbaikan moral. Mengikuti pribadi dan sepak terjang perjuangan Rasulullah SAW itu akan membawa rahmat, karena di dalam kepribadian Rasulullah itu terdapat hal=hal yang membawa kemajuan sebagai berikut.

  • Pertama, unsur rasionalitas. Maksudnya adalah bahwa keberhasilan Rasulullah dalam perjuangannya bukan semata-mata karena beliau seorang Rasul, dekat dan dicintai oleh Allah, lantas apa saja, sekalipun tidak masuk akal, tanpa ada usaha keras, kemudian berhasil. Tentu tidak demikian. Semua kesuksesan Rasulullah karena usaha dan kerja kerasnya yang dilakukan sesuai aturan atau sunnatullah.

    Sejarah mencatat, bahwa di antara peperangan yang diikuti oleh Rasulullah SAW ada peran yang menang dan ada perang yang kalah. Pada waktu perang uhud misalnya, Rasulullah dan pengikutnya menderita kekalahan luar biasa. Hal ini terjadi karena pada perang uhud ini terdapat sebagian pasukan Rasulullah SAW yang tidak mentaati aturan peran yang ditetapkan Rasulullah SAW. Dengan demikian, menang atau kalah dalam perang itu sangat rasional. Menang karena mengikuti aturan, dan kalah karena tidak mengikuti aturan. Dengan demikian sebuah keberhasilan perjuangan ditentukan oleh doa dan kerja keras. Banyak doa tapi tidak didukung oleh cara kerja yang benar, secara rasional sulit bisa diwujudkan.

    Contoh rasionalitas lainnya yang relevan terkait dengan mu’jizat yang dimiliki Nabi Muhammad SAW yang berbeda dengan mu’jizat para nabi dan rasul lainnya. Jika mu’jizat para nabi dan rasional lainnya bersifat spektakuler dan ekstra ordinary, seperti membelah laut dengan tongkat oleh nabi Musa As, menghidupkan orang yang sudah mati seperti pada Nabi Isa, maka mu’jizat nabi Muhammad SAW adalah al-Qur’an yang bukan hanya dari segi kata-kata dan kalimatnya, tetapi pada dampak perubahan yang ditimbulkannya bila al-Qur’an tersebut dipahami, dihayati dan diamalkan.

    Mu’jizat para nabi dan rasul lainnya memang berhasil meyakinkan kenabian dan kerasalannya, serta dapat mencengangkan atau membuat musuh tidak berkutik atau bertekuk lutut, nabi mu’jizat yang demikian itu hanya untuk gagah-gagahan, karena tidak bisa dicontoh oleh para pengikutnya. Hal ini berbeda dengan mu’jizat al-Qur’an tentang isi kandunganya yang luas dan diyakini kebenarannya baik secara teologis maupun empiris, dan sekaligus dapat dipraktekkan dalam kehidupan masyarakat dan dijamin akan membawa keberkahan dan rahmat bagi seluruh alam. Di sinilah letak kehadiran Rasulullah SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam.

  • Kedua, unsur kecerdasan. Maksudnya adalah bahwa ketauladan nabi Muhammad Saw yang dapat membawa rahmat bagi yang mengikutinya adalah adanya unsur kecerdasan. Yaitu suatu kemampuan intelektual dan intelegensi dalam ketepatan menganalisa dan mengambil kesimpulan atau keputusan yang tepat dan akurat yang terkadang tidak bisa dicapai oleh kebanyakan otak yang lain. Dalam kaitan ini Rasulullah SAW pernah mengambil kebijakan melakukan Perjanjian Hudaibiyah yang pada intinya adalah gencatan senjata dengan tujuan untuk memusatkan perhatian dan kekuatan pada kaum Yahudi di Khaibar.

    Diketahui, bahwa isi perjanjian hudaibiyah itu ada yang kurang merugikan bagi ummat Islam, seperti apabila ada orang kafir Quraisy yang tertangkap oleh umat Islam, maka harus dikembalikan, tetapi jika ada orang Islam yang tertangkap oleh kafir Quraisy, maka kafir Quraisy tidak berkewajiban mengembalikan. Kebijakan ini dinilai sebagai pengikut Nabi Muhammad sebagai kurang cerdas, sehingga hampir saja nabi ditinggalkan sendirian, karena dianggap kurang cerdas. Namun Abu Bakar Ash-Shiddieq mengingatkan mereka agar mengikuti Nabi. Dengan perjajian tersebut, pusat perhatian Nabi Muhammad Saw menghadapi pertempuran Yahudi Khaibar yang jumlahnya mencapai puluhan ribu. Dan ternyata, mereka dapat dikalahkan. Melihat keadaan yang demikian, menyebabkan kaum Kafir Kuraisy getar, hilang nyalinya. Keadaan ini nampak, ketika Nabi Muhammad memasuki atau menaklukan kota Mekkah ( Fath al-Makkah ), ternyata tampak mengalami perlawanan, sehingga kota Mekkah dapat dikuasai dengan baik. Di sini nampak dengan jelas, betapa Nabi Muhammad SAW tersebut sangat. Kecerdasan inilah yang membawa rahmat bagi ummat Islam.

  • Ketiga, unsur keseimbangan antara hati berupa spiritualitas dan moral; akal pikiran dan wawasan intelektual, serta unsur kemampuan teknis. Perpaduan ini juga terjadi dalam setiap pengambilan keputusan. Yakni apa yang akan diucapkan oleh lisan; dikordinasikan lebih dahulu dengan akal pikiran; dan dipertimbangkan lebih dahulu dengan hati nurani. Jika sudah cocok, barulah keputusan tersebut diambil. Dengan cara demikian, maka keputusan tersebut menjadi matang, dan terjadi keseimbangan yang kokoh. Inilah yang dipraktekkan oleh nabi Muhammad SAW, sehingga apa yang dikeluarkannya selalu membawa rahmat bagi umatnya.6

  • Keempat, unsur komprehensif, bahwa ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW menyentuh semua aspek kehidupan sebagaimana yang dirumuskan oleh al-Syathibi dalam al-Muwaqat dengan istilah maqashid al-syar’iyah (tujuan agama) yang mencakup memelihara jiwa (hifdz al-nafs), memelihara agama (hifdz al-din), memelihara akal (hifdz al-‘aql), memelihara harta benda (hifdz al-maal), dan memelihara keturunan (hifdz al-nasl).

    Kandungan ayat-ayat al-Qur’an yang diwahyukan Tuhan kepada Nabi, dan penjabarannya oleh hadis secara keseluruhan ditujukan ditujukan memelihara hal-hal yang selanjutnya termasuk hak-hak asasi manusia. Dengan demikian, ajaran ini benar-benar memberikan landasan yang kokoh dalam mewujudkan rahmat bagi seluruh alam.

Dari empat hal tersebut di atas, seseorang dapat bekata, bahwa kehadiran Nabi Muhammad SAW adalah memberi rahmat bagi seluruh alam. Namun rahmat yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW diperoleh bukan dengan cara mengagumi atau memuliakannya saja seperti dengan membaca shalawat atau meminta syafa’at, tetapi yang terpenting adalah melakukan kerja keras, bekerja sesuatu aturan, kreatif, inovatif, dinamis dan progressif. Dengan demikian, rahmat yang diperoleh dari Nabi Muhammaf SAW harus memberi dampak bagi timbul etos kerja, kreatifitas dan berusaha sungguh-sungguh.

Secara harfiah, al-rahmat berakal pada kata al-rahman yang mengandung arti riqqat taqtadli al-ihsan ila al-marhum wa qad tusta’malu taaratan fi al-riqqah al-mujarrodah, wa taaratan fi al-ihsan al-mujarradah an al-riffah . Yaitu suatu sikap kasih simpati yang mendorong untuk berbuat kebaikan kepada orang yang patut dikasi hani, dan terkadang digunakan pada sikap simpati saja, dan terkadang digunakan untuk melakukan kebaikan yang tidak disertai sikap simpati.

Sedangkan kata alamin, menurut Anwar al-Baaz adalah jami’u al-khalaiq . Artinya semua makhluk ciptaan Allah. Sedangkan menurut al-Ashfahany bahwa alam terbagi dua, yaitu alam besar yang mencakup dunia antariksa dan segala isinya; dan yang kedua adalah alam yang kecil, yaitu manusia.

Sementara itu H.M. Quraish Shihab mengatakan, bahwa para mufassir memahami kata alam dalam arti kumpulan sejenis makhluk Allah yang hidup, baik hidup sempurna maupun terbatas. Hidup ditandai oleh gerak, rasa, dan tahu. Ada alam malaikat, alam manusia, alam binatang, alam tumbuh-tumbuhan, tetapi tidak ada istilah alam batu, karena batu tidak memiliki rasa, tidak bergerak, tidak juga tahu, walaupun tentang dirinya sendiri.

Selanjutnya arti rahmatan lil alamin dijelaskan oleh Fuad Jabali dan kawan-kawannya. Menururnya, Islam Rahmatan lil alamin artinya adalah memahami al-Qur’an dan Hadis untuk kebaikan semua manusia, alam dan lingkungan. Islam yang dibawa oleh Nabi adalah Islam untuk semua. Islam mengajarkan kasih sayang pada semua makhluk: manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, air, tanah, api, udara dan sebagainya. Islam memandang, bahwa yang memiliki jiwa bukan hanya manusia, tetapi juga tumbuh-tumbuhan dan binatang, karenanya mereka itu harus dikasihani.

Tumbuh-tumbuhan memiliki jiwa makan (al-ghaziyah), tumbuh (al-munmiyah), dan berkembang biak (al-muwallidah) Sedangkan binatang selain memiliki jiwa sebagaimana jiwa tumbuh-tumbuhan, juga memiliki jiwa bergerak (al-muharrikah), dan menangkap (al-mudrikah) yang terdiri dari menangkap dari luar (al-mudrikah min al-kharij) dengan menggunakan pancaindera; menangkap dari dalam (al-mudrikah min al-dakhil) dengan indra bersama (al-hissi al-musytarak), daya representasi (al-khayal), daya imajinasi (al-mutakhayyialh), estimasi (al- wahmiyah), dan rekoleksi (al-hafidzah).

Dengan pandangan kejiwaan ini, maka Islam mengajarkan harus santun kepada tumbuh-tumbuhan dengan cara memberikan udara untuk bernafas, sinar matahari yang cukup, pupuk dan disiram air yang cukup dengan penuh kelembutan. Dengan kasih sayang yang demikian itu, maka tumbuh-tumbuhan, pohon atau bunga terbut daunnya akan lebat, batangnya akan kuat, rantingnya akan rindah, dan buah serta bunganya akan mekar dengan segar dan mewangi yang melambangkan ucapan terima kasih kepada yang melakukannya. Demikian pula kasih sayang dilakukan kepada binatang dengan cara memberi makan, minum, tempat tinggal, perawatan kesehatan, pelatihan dan sebagainya.

Di dalam riwayat hadis dinyatakan, tentang seorang wanita pelacur masuk syurga karena memberi minum seekor anjing yang kehausan; dan seseorang yang disiksa di dalam kubur, karena menyiksa seekor kuncing yang dikatnya dan tidak diberi makan hingga mati. Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa Nabi Muhammad SAW pernah menegur seorang sahabat yang memberi beban yang terlalu berat terhadap seekor unta hinga perutnya menyentuh tanah.

Nabi berkata kepada sahabat itu:

Ittaqillah fi al-bahaim farkabuha shalihatan wa zabahuha shalihatan . Artinya: Bertakwallah kamu di dalam memperlakukan binatang ini, tunggilah dengan wajar, dan sembelihlah dengan menyenangkan.

Jika kepada tumbuh-tumbuhan dan binatang saja Islam melarang menyakitinya, apalagi terhadap manusia. Iman yang tertanam dalam jiwa manusia harus dibuktikan dengan amal shalih, sikap yang amanah, jujur dan terpercaya. Iman tanpa amal shalih dianggap iman yang palsu.

Selanjutnya ajaran ibadah shalat misalnya harus menumbuhkan sikap rendah hati, mawas diri, rasa syukur, dan kasih sayang. Hal ini lahir dari pemahaman yang mendalam dari makna gerakan, bacaan dan ucapan yang terdapat dalam ibadah shalat. Demikian pula ibadah puasa harus melahirkan manusia yang bertakwa yang antara lain sikap yang merasa diawasi Tuhan. Demikian pula zakat mendorong sikap simpati, empati dan kepedulian sosial. Sedangkan ibadah haji, mengajarkan sikap persaudaraan dan memberikan rahmat dan manfaat bagi seluruh manusia di dunia.

Islam sebagai rahmatan lil alamin ini secara normatif dapat dipahami dari ajaran Islam yang berkaitan dengan akidah, ibadah dan akhlak. Akidah atau keimanan yang dimiliki manusia harus melahirkan tata rabbaniy (sebuah kehidupan yang sesuai dengan aturan Tuhan), tujuan hidup yang mulia, taqwa, tawakkal, ikhlas, ibadah. Aspek akidah ini, harus menumbuhkan sikap emansipasi, mengangkat harkat dan martabat manusia, penyadaran masyarakat yang adil, terbuka, demokratis, harmoni dalam pluralisme.

Sementara itu Fethulleah Gulem mengatakan, bahwa bukti Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam adalah dengan diutusnya seorang Rasul dan diturunkannya al-Qur’an yang dapat membantu manusia dalam menjawab berbagai masalah yang tidak dapat dijawab oleh akal pikiran.

Islam rahmatan lil alamin selanjutnya dapat dilihat dalam praktek ajaran Islam dalam realitas sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya generasi pertama. Nabi Muhammad SAW senantiasa berfihak kepada kaum mushtad’afin, kepedulian sosial, fakir, miskin dan orang-orang yang terkena musibah. Guna menjamin terpeliharanya hak-hak asasi manusia lebihlnajut dapat dibaca dalam Piagam Madinah yang dibuat oleh Nabi Muhammad SAW semasa di Madinah dan disepakati oleh seluruh perwakilan komunitas penduduk Madinah. Isi Piagam Madinah yang sebanyak 47 pasal itu antara lain mengandung visi etis, solidaritas, persatuan, kebebasan, pengakuan supremasi hukum, keadilan, serta kontrol sosial untuk mengajak kepada kebaikan dalam mencegah kemungkaran.

Dalam prakteknya, Nabi pernah memerintahkan mengasihi tawanan Perang Badar secara lebih baik, seperti yang dilakukan terhadap Abu Azis. Ia seorang tawanan Perang Badar yang diberi makanan yang keadaanya lebih baik dari makanan yang dimakan orang yang menawannya. Nabi Muhammad saw juga tidak pernah kehilangan kasih sayangnya karena mendapatkan perlakuan buruk dari musuh-musuhnya. Di hadapan Nabi, orang yang jahat dibalas dengan kebaikan. Dalam sebuah riwayat tercatat, nama Suhail bin Amr yang diusulkan oleh Umar bin Khattabm agar ditarik lidahnya agar berhenti menyebarkan fitnah dan melakukan perlawanan pada Nabi. Namun Nabi berkata:

Aku tidak akan memutilasinya, atau Tuhan akan memutilasiku walau aku seorang Nabi.

Contoh praktek Islam rahmatan lil alamin dapat dijumpai dalam perilaku dan hubungan antara orang Muhajirin dan Anshar. Di dalam surat al-Hayr (59) ayat 9 dinyatakan, bahwa orang-orang Anshar yang telah beriman kepada ajaran Nabi Muhammad SAW sangat menyintai orang-orang Muhajirin, mereka memberikan berbagai kebutuhan orang Muhajirin, dengan ikhlas, walaupun mereka hidup dalam kekurangan. Berkaitan dengan ayat ini, Ahmad Musthafa al-Maraghi menghubungkannya dengan hadis riwayat Bukhari, Muslim, Turmudzi dan al-Nasai dari Abi Hurairah yang menceritakan kisah orang Anshar bernama Abu Thalhah yang menjamu tamunya orang Muhajirin dengan makanan bayinya, karena ia tidak punya makanan lain (karena miskinnya) kecuali makanan bayi.

Dalam konteks dunia, Islam rahmatan lin alamin nampak dalam bentuk ilmu pengetahuan, kebudayaan dan peradaban Islam yang dibangun oleh umat Islam berabad-abad yang dimanfaatkan oleh Barat guna membangun kejayaan bangsanya. Dalam buku Influence of Islam on World Civilization, Ziauddin Ahmad mengatakan, bahwa Islam mempengaruhi para pemikir politik tentang Hak-hak asasi manusia, pemikiran Rousseau tengang Trias Politica (Kekuasaan Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif) konsep tentang Tuhan, agama alam, dan pemikiran filsafat John Locke. Islam juga mempengaruhi kondep pemerintahan yang adil (trusted).

Demikian pula pemikiran sosiologi dari Ibn Khaldun misalnya mempengaruhi pemikiran John Dewey, kehidupan yang terang benderang, concep tentang pragmatisnya. Ajaran Islam juga mempengaruhi pemikiran Rabendranat Tagore, literatur berbahasa Inggris, kemajuan ilmu pengetahuan, kemajuan angka Arab, kedokteran, ilmu bedah, dan sejumlah tenaga medik terkemuka lainnya. Atas dasar itu, maka sebagian orientalis yang jujur ada yang berkata, bahwa Barat seharusnya berterima kasih kepada dunia Islam yang telah memberikan sumbangan yang luar biasa bagi kemajuan bangsa dan negaranya, bahkan di antara mereka ada yang berkata: andaikata Barat mengambil ilmu, kebudayaan dan peradaban Islam lebih awal, maka kemajuan Eropa dan Barat akan lebih maju lagi dibandingkan dengan masa sekarang.

Sumber : Prof. Dr. H. Abuddin Nata, MA., Islam rahmatan lil alamin : Sebagai model pendidikan Islam memasuki Asean community, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Referensi
  • Ahmad Mushthafa al-Maraghy, Tafsir al-Maraghy , Juz XVII, (Beirut: Dar al-Fikr, tp. th).
  • H.M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an , Jilid 8, (Ciputat:Lentera Hati, 1430.2009)
  • Waheeduddin Khan, Muhammad A Prophet for All Humanities (Muhammad adalah Nabi untuk Semua ), (Jakarta:Grafindo Persada, 1989)
  • Syaikh Sayiyurrahman al-Mubarakfuri, al-Rahiq al-Mahtum, Sirah Nabawiyah (Jakarta:Pustaka al-Kautsar, 1997), cet. I.
  • Muhammah Husain Haikal, Sejarah Hidup Muhammad (terj.) Ali Audah, dari judul asli Hayatu Muhammad , (Jakarta:Litera Antar Nusa, 1992), cet. XIII.
  • Abi Ishaq Ibrahim Lukhaimy al-Ursathy al-Syahir al-Syathibi, (w. 790 H.), al-Muwafaqat fi Ushul al- Ahkam, Juz II, (Darul Haditsah)
  • Sayyid Hawa, al-Islam , (terj.) Abd al-Hayyi al-Qattani, dari judul asli al-Islam , (Jakarta:Gema Insani Press, 2005), cet. I
  • al-Raghib al-Ashfahany, Mu’jam Mufradat Alfaadz al-Qur’an , (BeirutL Dar al-Fikr, tp. th.)
  • Anwar al-Baaz, al-Tafsir al-Tarbawoy li al-Qur’an al-Karim , Jilid I, (Mesir: Dar al-Nasyr lil al-Jami’ah, 1428 H./2007 M.)
  • M. Tuwah, dkk, Islam Humanis, (Jakarta:Moyo Segoro Agung, 2001), cet. I; Muhammad Fethulleh Gulen, Islam Rahmatan lil Alamin , (Jakarta:Republikata, 2010)
  • Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya Jilid II, (Jakarta:UI Press, 1979).
  • Imam al-Jurjawi, Hikmatu al-Tasyri’ wa Falsafatuha , (Beirut: Dar al-Fikr, tp. th), jilid I
  • Nurcholish Madjid, Islam, Doktrin dan Peradaban , (Jakarta:Yayasan Wakaf Paramadina, 1992), cet. II
  • Fethulleah Gulen, Islam Rahmatan lil Alamin, Menjawab Pertanyaan dan Kebutuhan Manusia, (Jakarta:Republika, 2011), cet. I
  • J. Suyuthi Pulungan , Universalisme Islam , (Jakarta:Moyo Segoro Agung, 2002), cet. I

(Vina Shaw) #4

Rahmat dalam bahasa Arab disebut rahmah. Penyebutan ini mengandung konotasi yang mengarah kepada riqqah taqtadli al-ihsan ila al-marhum, perasaan halus (kasih) yang mendorong memberikan kebaikan kepada yang dikasihi. Dalam penggunaannya, kata itu bisa mencakup kedua batasan itu dan bisa juga hanya mencakup salah satunya, rasa kasih atau memberikan kebaikan saja.

Islam itu adalah satu organisme yang hidup, sehingga ketika dinyatakan sebagai rahmat bagi seluruh alam, maka berarti agama itu mengasihi dan memberikan kebaikan secara aktual kepada seluruh alam. “Islam” yang tidak memberikan kebaikan aktual berarti menjadi agama laknat. Hal ini karena kebalikan dari rahmat adalah laknat, yang berarti hukuman, tidak memberi atau tidak ada kebaikan dan doa supaya dijauhkan dari kebaikan Tuhan.

Paradigma Islam agama rahmat ini sejalan dengan paradigma ketuhanan dalam Islam. Allah dalam al-Qur’an menyatakan bahwa Dia mewajibkan diri-Nya untuk memiliki sifat kasih (Q.S. al-An’am , 6: 12). Dalam ayat 107 S. al-Anbiya’, ditegaskan bahwa Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam ( al-’alamin ).

Al- ’Alamin adalah jamak dari ‘alam (alam). Alam adalah semua wujud selain Tuhan. Semua wujud itu disebut alam (dalam bahasa Arab ‘alam juga berarti tanda), karena mereka menjadi media untuk mengenal Allah, Penciptanya.

Namun jika dihubungkan dengan istilah lain yang akar katanya sama (‘-l-m), ‘ilm, (ilmu), maka bisa dipahami bahwa alam itu diciptakan dengan ilmu. Alam yang sedemikian kompleks tidak mungkin diciptakan tanpa berdasar ilmu. Menurut mereka, alasannya adalah:

  • Pertama , manusia itu merupakan bagian dari alam dan jika dia bersama-sama yang lain menjadi cakupan pengertian kata, maka dialah yang dijadikan pertimbangan untuk memperlakukan kata itu.

  • Kedua , yang dimaksudkan dengan al-’alamin bukan seluruh alam, tapi hanya malaikat, jin dan manusia.

  • Ketiga , yang dimaksudkan dengan al-’alamin hanya manusia saja karena masing-masing manusia yangmemiliki keunikan yang membedakannya dari yang lain, merupakan alam yang tersendiri.

Kesadaran ini telah diungkapkan oleh al-Qur’an bahwa segala yang ada di langit dan bumi itu bertasbih kepada AIlah. Dengan demikian, wajar jika al-Qur’an menyebut alam semesta dengan bentuk jamak yang biasa digunakan untuk manusia yang berakal. Ayat itu menegaskan idealitas risalah atau agama Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam dengan menggunakan pola kalimat nafi - istitsna’ (menafikan-mengecualikan): Kami tidak mengutusmu (Nabi), kecuali untuk menjadi rahmat ( istitsna’ ). Pola itu digunakan untuk membatasi ( al-qashr ). pola nafi-istitsna ’ itu dalam penggunaannya dimaksudkan untuk menetapkan satu kualitas bagi sesuatu dengan menafikan darinya segala kualitas selainnya secara total, sehingga pengertian pernyataan tersebut adalah “Islam itu adalah rahmat dan agama yang tidak menjadi rahmat itu bukan Islam”.

Pengertian yang demikian, maka pernyataan untuk mengesakan Allah dalam tahlil la ilaha illa Allah ) dan syahadat pun menggunakan pola itu, bukan pola lain yang dikatakan lebih kuat dalam memberi pembatasan. Penggunaan pola tersebut sudah barang tentu untuk menafikan kualitas ketuhanan dari selain Allah yang dipercaya sebagai Tuhan dalam agama- agama politheis.

Islam itu adalah agama rahmat, tidak ada Islam yang tidak menjadi rahmat. Karena itu, Islam yang qur’ani adalah Islam yang menjadi rahmat dan “Islam” yang tidak menjadi rahmat bukanlah Islam yang sesuai dengan ideal kitab suci itu, sehingga berarti al-Qur’an juga hadits) yang menjadi dasarnya itu adalah bangunan rahmat , bukan sekedar bangunan kalimat, kata dan huruf-huruf. Dengan demikian, paradigma Islam yang qur’ani itu bukan Islam sebagai agama asing ( gharib ) yang sama sekali berbeda dari agama dan budaya lain, sehingga umat Islam harus berbeda dari umat-umat yang lain dalam segala hal.

Pembuktian ini dapat ditunjukkan melalui firman Allah dalam al-Qur’an, yang menyatakan bahwa Dia mewajibkan diri-Nya untuk memiliki sifat kasih (Q.S. al-An’am , 6: 12), yang berbunyi sebagai berikut:

Artinya : “Katakanlah, “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?”Katakanlah, “Kepunyaan Allah. “Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh-sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan terhadapnya. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman.

Firman itu menunjukkan bahwa sifat dasar-Nya adalah cinta-kasih. Sifat sifat yang lain dan perbuatan-perbuatan-Nya didasarkan pada sifat dasar itu, sehingga ketika memperkenalkan diri-Nya dalam surat al-Fatihah, surat pertama dan bagian dari al-Qur’an yang paling banyak dibaca umat Islam, Dia sampai dua kali menyebut diri-Nya sebagai Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Pertama, dalam ayat pertama sebagai perkenalan pertama dan kedua dalam ayat ketiga sebagai penegasan cinta-kasih-Nya dalam menciptakan dan memelihara alam semesta. Karena itu, wajar jika risalah Islam yang diwahyukan sebagai bagian dari perbuatan-Nya memelihara alam semesta pun merupakan agama rahmat , agama cinta kasih.

Paradigma Islam yang qur’ani itu adalah agama rahmat dengan pengertian itu, maka ekspresi Islam yang sesuai dengan al-Qur’an, baik dalam pemikiran, perbuatan dan persekutuan atau keummatan adalah ekspresi yang memberikan kebaikan yang nyata bagi kehidupan, khususnya manusia. Apabila laknat bagi masyarakat yang berperadaban itu adalah kebodohan, keterbelakangan dan kemiskinan, maka Islam yang qur’ani itu adalah agama yang secara aktual dapat membebaskan umat dari ketiga kutukan itu, bukan malah memeliharanya apalagi membela dan memperjuangkannya.

Pertimbangan akan adanya rahmat tentu melewati berbagai proses, yang salah satunya berupa sabar dan jujur. Kedua sifat ini merupakan arah pembentukan karakter seorang hamba yang hendak membentuk sikap daya tahan yang dijalani seorang hamba dalam menerima ujian-ujian dari Tuhan. Lebih lanjut, kesabaran dan kejujuran merupakan aspek keyakinan yang khas yang diperlihatkan seseorang tatkala ia berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Ketika kedua sifat ini dan tentu sifat-sifat yang lainnya, baik berupa kemurahan hati, keberanian dan kesetiaan yang juga termasuk ciri dari rahmat yang sering disebut dalam al-Qur’an mampu diakomodir dan dikonstruk dalam tatanan kehidupan seorang hamba, tentu ini akan melahirkan sikap positif dan menunjukkan sebagai bukti seorang hamba yang beriman.

Memperlihatkan seorang hamba telah beriman kepada Tuhan berarti ikut membatasi segala keyakinannya yang berada di luar konteks Tuhan. Bagaimana pun, nilai-nilai yang didapat seorang hamba atas rahmat Tuhan telah memberikan pilihan tentang kebaikan, dan kebaikan yang berada di sekitar hambanya adalah bukti konkrit adanya tingkat kepedulian Tuhan kepada hambanya juga. Karena itu, dengan sendirinya Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam juga merupakan agama yang peduli kepada nasib manusia. Nasib manusia di dunia berhubungan dengan pandangan mereka tentang hidup. Pandangan bahwa hidup itu buruk yang ada dalam satu kebudayaan akan mendorong masyarakatnya melakukan segala usaha untuk memadamkan hidup guna meraih kebahagiaan sejati, sehingga kehidupan mereka tidak berkembang. Al-Qur’an mengajarkan bahwa hidup itu merupakan ujian supaya manusia melakukan usaha yang terbaik

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, (Q.S. al-Mulk ayat 2)

dan mengidealkan hayah thayyibah, hidup sejahtera, bagi orang beriman.

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S. al-Nahl , 16: 97).

Oleh karena itu, dimensi ke-Tuhanan, sesungguhnya berorientasi kepada tuntutan ideal Tuhan atas manusia yang tertuang dalam al-Qur’an dan dimensi kemanusiaannya berupapengakuan Tuhan atas realitas manusia yang diciptakan-Nya sebagai makhluk yang memiliki keistimewaan, di antaranya ialah hidayah atau petunjuk hidup ( innā hadaynāhu al-sabīl immā shākiran wa immā kafūran ), sekaligus juga memiliki kelemahan ( wa khuliq al-Insān da’īfan ), seperti sifat-sifat buruknya berbuat aniaya dan bodoh (zalūman jahūlam).

Dalam konteks ini, agaknya dapat dipertimbangkan sebagai indikasi kuat dalam al- Qur`an terdapat pesan-pesannya yang menghendaki kolaborasi dan integrasi tersebut, di antaranya ialah pesan yang berkenaan dengan karakteristik Ulī al-Albāb yang mengkolaborasikan dan mengintegrasikan antara berpikir yang berdimensi rasional dan logis dengan aspek spiritual dengan cara zikir yang berdimenasi penghayatan dan renungan. Untuk itu, kebenaran pada nilai-nilai al-Qur’an dipandang sebagai kebenaran yang absolut, meski faktor keseimbangan menjadi hal urgen bagi manusia dalam mengkonfirmasikan dirinya pada wilayah yang lebih istimewa; dan proses pencapaian yang demikian dapat dikategorikan kedalam rahmat .

Referensi :

  • Ar-Raghib al-Ashfahani, Mu’jam Mufradat Alfadh al-Qur’an , (Beirut: Dar al-Fikr, t.th)
  • Abu Hasan al-Jurjani, al-Ta’rifat , (Beirut: Dar at-Tunisiyah li an-Nsyar, 1971)
  • Ahmad ad-Damanhuri, Syarh Hilyah al-Lubb al-Mashun , (Semarang: Thaha Putera, t.th)