Apa itu penyakit Melioidosis?

Melioidosis adalah suatu penyakit yang menyerupai glanders, menyerang berbagai jenis hewan dan manusia. Pertama kali dilaporkan oleh Whitmore dan Krishnaswani di Rangon pada tahun 1912. Gambaran umum penyakit ini adanya septisemia, pyemia dan pembentukan granuloma yang khas pada hampir semua bagian tubuh. Di daerah endemis, Melioidosis adalah penyakit penting pengebab sakit dan kematian pada manusia dan hewan. Bersifat epizootik pada marmot dan kelinci. Penyakit ini juga menyerang tikus liar yang diduga merupakan reservoar penyakit. Manusia tertular karena gigitan kutu tikus Xenosylla cheopsis atau nyamuk Aedes aegypti.

PENGENALAN PENYAKIT
** 1. Gejala Klinis**
Pada manusia, penyakit ini sangat fatal, septisemia akut terjadi setelah sakit selama 10 hari. Melioidosis pada rodentia juga sangat fatal yang ditandai dengan adanya kelemahan, demam serta keluar lendir dari mata dan hidung dan berlangsung lama yaitu 2-3 bulan.
Pada domba terutama adalah kelemahan dan terbaring yang kemudian kematian terjadi dalam 1-7 hari. Pada domba yang diinfeksi untuk percobaan terjadi demam yang disertai anoreksia, tidak dapat berjalan normal dan keluar eksudat kuning kental dari hidung dan mata. Sebagian hewan menunjukkan gangguan syaraf pusat yaitu cara berjalan/berlari yang tidak normal, berjalan berputar-putar, menggelengkan kepala, kebutaan dan agak kejang.
Pada kambing gejalanya menyerupai bentuk akut pada domba, tetapi lebih sering berlangsung kronis. Pada babi penyakit ini biasanya kronis dan dimanifestasikan oleh cervical lymphadenitis tapi pada sebagian outbreak tanda-tandanya sama dengan pada spesies lain. Pada suatu outbreak dapat terjadi kelumpuhan sementara di bagian posterior, demam, batuk, ingus dari hidung dan lendir dari mata, anoreksia, keguguran dan kadang-kadang berakhir dengan kematian.
Pada kuda rangkaian gejalanya adalah pneumonia metastasis akut disertai demam tinggi dan berlangsung singkat. Sedikit batuk dan sedikit ingus serta tidak ada respons terhadap sebagian besar jenis obat yang digunakan dalam pengobatan.
Gejala klinis pada kuda meliputi septisemia, hypertheremia, oedema, kolik, diare dan lymphangitis pada kaki. Pada kasus sub akut dapat menjadi lemah, kurus dan terbentuk oedema. Kuda yang terserang penyakit ini dapat hidup beberapa bulan. Kasus meningoencephalitis akut pernah terjadi pada kuda. Kejadiannya mendadak, tanda yang terlihat hanya kejang.

2. Patologi
Pembentukan penyakit ini secara alam adalah sama dengan halnya Malleus, yaitu dengan diawali septisemia atau bakteriemia dan lokalisasi pada berbagai organ. Secara eksperimen, Melioidosis pada kambing ditandai oleh adanya septisemia dengan mikroabses yang menyebar luas setelah disuntik secara intra-peritoneal dan bila secara subkutan maka terbentuk penyakit yang kronis disertai abses pada paru-paru dan limpa.
Banyak abses di sebagian besar organ, terutama di sistem pernapasan termasuk ke bagian paru-paru, limpa dan hati. Abses juga terjadi di bagian subkutan dan lymphoglandulla yang merupakan ciri dari penyakit ini. Pada domba, abses ini mengandung nanah berwama hijau yang kental atau mengeju serupa dengan yang ditemukan pada penyakit karena serangan Corynebacterium pseudotuberculosis. Lesi-lesi pada mukosa hidung bisa menjadi robek dengan pembentukan ulser yang kasar. Polyarthritis akut dengan pembengkakan kapsul persendian oleh cairan yang mengandung nanah kehijauan dalam jumlah banyak dan meningoencephalitis akut ditemukan pada kasus-kasus penyakit secara percobaan.

3. Diagnosa
Bakteri ini mudah ditumbuhkan pada kebanyakan media dalam waktu 48-72 jam. Injeksi terhadap marmut dan kelinci menimbulkan penyakit yang menciri. Diagnosa dengan uji alergi pada kulit dengan menggunakan melioidin sebagai antigen, CFT dan Hl test. Diagnosa serologis dapat dilaksanakan dengan uji HA, Aglutinasi dan CFT.
Peneguhan diagnosa dengan isolasi dan identifi kasi bakteri pseudomonas pseudomallei pada media kultur.

4. Diagnosa Banding
Banyaknya abses pada berbagai organ dapat dibedakan dengan penyakit Gaseous Lymphadenitis pada domba. Lesi-lesi pada nasal actinobacillosis pada domba juga menyerupai melioidosis, tetapi penyakit ini relatif tidak fatal dan isolasi bakterinya menjamin diagnosa positif. Pada kuda penyakit ini mungkin dikelirukan dengan Malleus tetapi tidak ada pembesaran lympnodes pada mukosa hidung dan kulit.

5. Pengambilan dan Pengiriman Spesimen
Bakteri dapat diisolasi dari tanah, air dan lesi infeksi atau makanan dan minuman yang tercemar. Pengiriman sampel dilakukan dengan cara pengiriman bahan infektif bakteri secara umum. Pemeriksaan terhadap infeksi P.pseudomallei pada hewan dapat didasarkan pada kelainan pasca mati, isolasi kuman, dan pemeriksaan antibodi dalam serum. Uji serologik yang pernah dicoba antara lain serum aglutinasi, fl uorecent antibody staining technique (FAT), uji fi ksasi komplemen, dan hemaglutinasi tak langsung, sedangkan pemeriksaan antibodi pada manusia metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) telah dikembangkan.

Referensi:
http://wiki.isikhnas.com/images/b/b9/Manual_Penyakit_Hewan_Mamalia.pdf