Anarko-Sindikalis : Sebuah Ancaman atau Stigma Semata?

Kemunculan gerakan anarko-sindikalis di berbagai media meningkat secara signifikan terutama menjelang dan pasca peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day. Pemberitaan tersebut tak lepas dari atribut ‘hitam-hitam’ yang kerap dimaknai secara sembrono sebagai lambang universal gerakan ini, penangkapan dan represifitas aparat, serta tindakan “anarkis” yang diduga dilakukan. Dalam pemberitaan media juga, gerakan tersebut dianggap ancaman baru bagi keamanan negara. Sebenarnya, apa itu anarko-sindikalis?

Dari segi sejarah, sejarah anarkisme sendiri berakar pada abad 19 dalam komunitas buruh internasional. Diskursus mengenai anarkisme mulai terbuka dengan dasar pemikiran yang lebih sistematik. Banyak tokoh-tokoh penting yang mendeklarasikan dirinya sebagai seorang anarkis dan kesadaran untuk menentang kapitalisme, memiliki pengaruh besar terhadap pertumbuhan anarkisme sebagai gerakan massa. Para buruh mulai sadar atas kekuasaan industrial bukan dari para petinggi tetapi dari diri mereka sendiri. Menuntut secara terbuka pengalokasian alat produksi kepada buruh sebagai tanda antinegara dan antipartai, dengan konfederasi atau sindikalis (syndicate), artinya asosiasi atau serikat. Hal inilah yang menjadi awal mula pergerakan anarko-sindikalis.

Dari segi pemikiran, anarko-Sindikalisme adalah cabang dari anarkisme yang berkonsentrasi kepada pergerakan buruh sindikalis merupakan kata Prancis yang bermakna “serikat buruh”. Para penganut ideologi ini disebut dengan anarko-Sindikalis. Anarko sindikalis memiliki prinsip-prinsip, yakni solidaritas kaum pekerja, aksi langsung, dan swa-kelola kaum pekerja. Gerakan anarko-sindikalis bukan bertujuan kepada “without order” tetapi lebih kepada “without leader”. Gerakan menolak otoritas dalam bentuk apapun, terutama otoritas politik, yang termanifestasikan dalam bentuk Negara. Hal ini diambil dari tesis bahwa kebebasan manusia hanyalah mungkin sejauh kebebasan itu sendiri tanpa intervensi pihak lain yang memaksa. Jika penindas itu pemerintah, anarki akan memilih masyarakat tanpa pemerintah. Jika penindas itu hierarki, anarki akan antihierarki. Jadi yang ditekankan di sini bukan pemerintah atau hierarki yang jadi target perlawanan, melainkan penindasan dalam dua otoritas tersebut. Hal inilah yang menjadi tujuan dalam gerakan anarko-sindalis

Sayangnya, pemahaman masyarakat mengenai gerakan anarko-sindikalis masih begitu rancu. Sehingga sulit untuk menilai dengan benar. Masyarakat digiring untuk semakin antipati terhadap anarko-sindikalis dan ideologi anarkisme pada umumnya. Gerakan anarko-sindikalis kini dipahami publik sebagai gerakan massa yang getol memicu kerusuhan pada aksi demonstrasi. Keadaan ini diperparah ketika negara mulai melakukan pemetaan anggota kelompok anarko-sindikalis layaknya jaringan terorisme.

Benarkah anarko-sindikalis berbahaya atau hanya sekedar stigma semata? Berikan tanggapanmu

Sumber :

  1. Cahya, Muhammad Fahmi Nur.2014.Fenomenologi Anarkisme.
    http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-kmntsa11e00b523full.pdf (diakses tanggal 23 September 2020)

  2. Lokataru Foundation. 2020.Kaus Hitam dan Paranoia Negara.
    https://lokataru.id/wp-content/uploads/2020/05/anarko.pdf (diakses tanggal 22 September 2020)

  3. Tompkis, Piper, Anakkopi, dan Sugababe.2019. Anarkis-Sindikalisme dan Anarkisme Komunisme: Berbeda, namun Saling Melengkapi.
    https://medium.com/@egosin/anarkis-sindikalisme-dan-anarkisme-komunisme-berbeda-namun-saling-melengkapi-d619c288d3fd (diakses 23 September 2020)

  4. Adam, Galih Bayu. 2020.Sejarah Anarkisme dan Atribut Hitam yang Dikambinghitamkan.
    http://dimensipers.com/2020/04/18/sejarah-anarkisme-dan-atribut-hitam-yang-dikambing-hitamkan/ (24 September 2020)

Terimakasih atas artikel menariknya, izin menanggapi yaa…
Gerakan ini punya dasar yang sama dengan Marxisme, yakni menentang kapitalisme. Anarko Sindikalis selama ini dianggap sebagai musuh negara karena memang anarkisme sangat mudah dipahami sebagai sebuah ideologi. Bila dibandingkan dengan ideologi lainnya semacam Komunisme, maka anarko sindikalis lebih mudah dipahami dan mudah diterima.

Sumber : nasional.tempo.co

Terimakasih artikelnya, menurut saya Anarko Sindikalis berbahaya karena tujuan mereka untuk menumbangkan sistem kapitalisme di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia.

artikel yg menarik!

masyarakat digiring utk antipati thd ideologi anarkisme krn aksi2 tsb biasanya diwarnai dengan semacam penjarahan sehingga memicu kerusuhan.
anarkisme sendiri pernah berhasil di beberapa negara, seperti spanyol, chiapas di mexico, christiana di denmark meski tdk berjalan sempurna. mungkinkah wilayah di indonesia dapat menerapkan anarkisme yg sejatinya menentang kapitalisme, seperti gerakan sosialis-komunisme dan marxisme. mengingat juga indonesia bisa dibilang dgn negara yg anti-komunisme?

publik memahami hal tersebut, karena apa yang sudah dilihat dan bisa dibilang gerakan tersebut tujuannya membuat kekacauan