Zat Anti Lengket Bungkus Makanan Cepat Saji Sebabkan Kanker

Jakarta, CNN Indonesia – Para peneliti menemukan bahwa bungkus makanan cepat saji yang menggunakan kertas minyak kerap mengandung bahan kimia anti lengket yang dapat larut ke dalam makanan.

Melansir AFP, studi yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Science and Technology Letters tersebut menguji lebih dari 400 contoh yang berasal dari 27 restoran cepat saji waralaba di Amerika Serikat.

Hampir setengah dari kertas pembungkus dan 20 persen contoh kotak makanan seperti untuk kentang goreng dan pizza mengandung fluorine.

Fluorine adalah tanda dari tingginya penggunaan bahan kimia yang biasanya ada pada karpet tahan noda, peralatan masak anti lengket dan pakaian lapang tahan air.

“Pembungkus untuk makanan cepat saji, makanan penutup, dan roti adalah yang paling banyak mengandung fluorine,” tulis laporan tersebut.

Namun penelitian tersebut tidak menyebut bahaya spesifik pada kesehatan manusia dari paparan senyawa kimia tersebut yang dikenal dengan polyfluoroalkyl (PFASs) dalam pembungkus makanan.

Peneliti mengingatkan akan bahaya paparan PFASs yang berkaitan dengan kanker, penyakit tiroid, penurunan daya tahan tubuh, rendahnya bobot bayi yang baru lahir, dan penurunan kesuburuan manusia.

“Senyawa kimia ini telah berkaitan dengan sejumlah masalah kesehatan, sehingga mengkhawatirkan bahwa banyak orang berpotensi terpapar senyawa tersebut,” kata Laurel Schaide, penulis utama penelitian ini dan ahli kimia lingkungan Silent Spring Institute.

“Anak-anak adalah yang paling memiliki risiko kesehatan karena perkembangan tubuh mereka rentan terhadap senyawa kimia beracun,”

Sebanyak enam bahan uji mengandung PFAS jenis asam perfluorooctanoic (PFOAs), juga dikenal sebagai C8. Padahal menurut US Food and Drug Administration pada 2011, pabrik besar sepakat menghentikan penggunaan C8 pada kemasan makanan karena berbahaya bagi kesehatan.

Para peneliti juga menemukan sejumlah PFAS dengan ikatan kimia lebih pendek yang kini lebih sering digunakan menggantikan senyawa PFASs berikatan kimia panjang.

“Penggantian senyawa belum diketahui dan terbukti aman bagi manusia,” kata Arlene Blum, pendiri Green Science Policy Institute yang ikut terlibat dalam penelitian ini.

“Itulah mengapa masyarakat perlu mengurangi penggunaan dari seluruh jenis barang yang mengandung fluorine tinggi. Kabar baiknya adalah ada alternatif lain bebas dari senyawa tersebut.”

Data menunjukkan bahwa satu dari tiga anak di Amerika Serikat mengonsumsi makanan cepat saji setiap hari. Dan penelitian sebelumnya menunjukkan senyawa kimia yang ada di kemasan makanan dapat beripindah pada makanan. (les)