Yang Tumbuh pun Bisa menjadi Patah


Sumber foto: pribadi

Kira-kira lima tahun yang lalu, pada saat malam minggu pukul tujuh malam. Rintik hujan tengah turun dengan kompaknya. Membasahi seluruh jagad raya. Juga membasahi pakaian kita. Padahal malam itu kita sudah berencana untuk pergi kencan berdua. Hujan turun tanpa aba-aba, sehingga kita tidak bisa bersiap siaga menghindarinya. Tapi tak apa kata orang dengan hujan kisah kita akan lebih romantis malam ini.

Dingin, satu kata yang ingin keluar dari benakku dari tadi. Apanya yang romantis, hanya omong kosong. Nyatanya kamu lupa bawa mantol dan jaket. Dan kita tengah berada dijalan yang tidak ada satupun tempat singgah untuk berteduh. Sial, ini bukan kencan yang kita inginkan. Seharusnya saat ini kita tengah berada di Alun-alun kota. Serta sedang naik bianglala berdua. Ekspetasi memang tak seindah kenyataannya.

Tapi kamu istimewa, bisa membuat suasana hatiku yang semula uring-uringan karena hujan dan gagalnya kencan di Alun-alun kota bisa tersenyum hangat kembali. Ditengah hujan yang deras ini sembari mencari tempat untuk berteduh kamu bercerita dengan teriak-teriak begitu kerasnya sambil menggenggam jemari tanganku. Kamu menyalurkan kehangatan serta rasa cinta yang tulus kepadaku. Aku terpaku, lalu senyum-senyum tak jelas. Memang tak seromantis film Dilan, tapi aku bahagia.

“Tala, kamu tahu kenapa malam ini hujan?”, tanyamu dengan mengeratkan genggaman dijemariku.
“Ya karena tadi mendung, Arsyad”, jawabku sedikit bingung.
“Ya bener juga sih. Tapi bukan itu maksudku. Malam ini hujan itu ya karena berkat do’a para orang-orang jomblo, mereka kan iri sama kita”, jelasmu sambil tertawa kencang.

Aku ikut tertawa terbahak-bahak mengalahkan suara hujan. Setelah sepuluh menit kita berhujan-hujan ria akhirnya kita menemukan tempat berteduh. Yah, malam ini kita gagal ke Alun-alun kota. Sayang sekali.

“Kita berteduh disini dulu ya”, katamu sambil memarkirkam motor disamping halte bus.
“Iya”, kataku sedikit kesal.
“Nggak apa-apa kalau belum bisa ke Alun-alun kota malam ini. Kan masih ada malam-malam lainnya”, jelasmu sedikit membujukku agar tak kesal.
“Iya”, kataku yang masih kesal.
“Kamu tahu nggak, dengan keadaan yang seperti ini kita bisa bercerita banyak hal”, katamu sambil meringis.
“Kalau mau cerita banyak ya dirumah aja, nggak perlu hujan-hujanan seperti ini. Dingin Arsyad”, jelasku panjang lebar sambil sedikit nge-gas.
“Iya juga ya”, jawabmu sambil tertawa terbahak-bahak mengalahkan suara petir yang menyambar.

Aku tambah sebal denganmu. Kamu masih saja tertawa, setelah kamu sadar aku sedang marah. Kamu meminta maaf kepadaku dengan memohon-mohon.

“Nabastala yang cantik, maafin aku ya! Lagian kalo dirumah tidak akan ada sejarahnya kita hujan-hujanan sampai disini. Kan ini romantis, Tala”, serumu.

Aku hanya diam saja tidak menjawab karena masih dalam mode marah. Dalam batinku berkata, apanya yang romantis dingin seperti ini dibilang romantis. Tentu saja aku tak memaafkanmu sekarang. Aku masih sebal sama kamu, jika saja tak sedingin ini aku pasti memaafkanmu. Tapi karena dingin mood ku jadi bertambah buruk.

“Aku ingin pulang”, kataku.

Tapi hujan masih sangat deras, dan mau tak mau harus menunggu reda. Kita hanya diam saja. Aku sebenarnya kesal kenapa hanya berdiam saja, kan bisa bercerita. Tapi aku tidak mau memulainya terlebih dahulu. Karena kamu masih diam saja, terpaksa aku yang memancing pembicaraan serta dengan baik hati aku memaafkanmu kali ini. Dan kamu hanya menjawab sekenanya saja ketika aku bertanya.

“Arsyad, kamu marah ya?”, tanyaku.

Dan kamu hanya diam seribu bahasa. Ketika hujan sudah reda kamu mengajakku pulang, membiarkan pertanyaanku terabaikan. Didalam perjalanan aku hanya diam dan bertanya-tanya, ada apa denganmu, apa yang terjadi. Sampai akhirnya kamu membuyarkan lamunanku, aku tersentak saat kamu suruh turun.

“Turun, kita sudah sampai Tala”, serumu.

Dan aku masih belum sadar ini bukan di depan rumahku, melainkan di Alun-alun kota seperti janjimu tadi siang. Aku masih belum sadar, melamun memikirkan apa yang terjadi denganmu. Tiba-tiba saja kamu tertawa begitu keras dan kembali membuyarkan lamunanku. Aku kesal kepadamu.

“Hahaha… Maaf kalau aku mengagetkanmu lagi”, katamu sambil masih tertawa.

Aku hanya diam saja dan tidak menggubris kata-katamu tadi. Aku hanya melihat keadaan sekitar. Aku ternganga, kaget luar biasa. Kamu memenuhi janjimu, padahal aku sudah mengatakan dari tadi bahwa kita gagal berkencan ke Alun-alun kota. Tapi kamu mengabulkannya.

“Kenapa tidak bilang kalau kita kesini nggak pulang? dan kenapa dari tadi kamu cuma diam saja?”, cecarku kepadamu.
“Biar jadi suprise”, jawabmu sambil meringis.
“Terimakasih Arsyad”, ungkapku.
“Sama-sama Tala, ya sudah kita naik bianglala yuk”,
“Yey, ayo”, seruku dengan sangat girang.

Ah, Arsyad kamu memang ada-ada saja. Kamu istimewa dan penuh dengan kejutan, itu alasan kenapa aku selalu ingin bersamamu setiap waktu. Yah, setiap hari rasa cintaku ini kian tumbuh subur seperti halnya tumbuhan yang setiap hari disirami pagi dan sore. Saking bahagianya, aku sampai terlena dan lupa bahwa sesuatu yang tumbuh pun bisa patah jua.

Tahun demi tahun pun berlalu. Dan kita sudah melewati suka duka bersama sebagai pasangan kekasih. Aku selalu bahagia ketika didekatmu, namun kadang juga ada sedih dan kesalnya. Hingga suatu ketika kamu harus pergi bekerja ke Ibu kota, sedang aku masih menetap di Surabaya. Terlalu berat jika kita harus berjauhan. Namun masing-masing dari kita masih punya kewajiban untuk bekerja. Meski kadang ada ragu, apakah hubungan kita akan tetap bertahan, tapi kamu tetap menguatkan aku untuk saling percaya satu sama lain.

Dan semua kisah itu berakhir, ketika kamu tiba-tiba menelponku. Aku masih ingat saat tengah malam di hari kamis pukul sembilan malam. Tidak ada angin atau hujan maupun topan kamu tiba-tiba meminta untuk berpisah denganku dan mengakhiri kisah cinta yang sudah kita lukiskan selama tiga tahun silam.

“Aku minta maaf Tala, sepertinya kita sudah cukup sampai disini”, katamu dengan sedikit rasa penyesalan.
“Aku salah apa? Kenapa kamu meminta kita berpisah?”, rengekku kepadamu.
“… Kamu nggak salah apa-apa. Maafkan aku Tala, tetap jalani hidup seperti biasanya meski tanpa aku. Kamu harus selalu bahagia ya”, katamu yang sok menasehati dan aku hanya diam membisu, mencerna semua perkataanmu.
“Terimakasih atas segalanya Tala”, kamu pun langsung menutup telepon.

Aku menangis sejadi-jadinya. Ini adalah patah hati yang pertama kali yang aku rasakan. Aku kira kita akan menikah dan mempunyai anak empat seperti katamu dulu. Nyatanya justru kamu yang meminta berpisah. Aku hancur, setiap hari menangis dan tidak menjalani aktivitas seperti biasanya. Semangatku telah hilang. Memang benar yang tumbuh dengan subur pun bisa patah dan mati.

Dua bulan pun berlalu, sakit hati yang aku rasakan dulu masih membekas sampai sekarang. Cukup perih ketika mengingat kembali di malam kamu memutuskan hubungan kita tanpa alasan yang cukup jelas. Namun aku mencoba untuk bangkit, seperti katamu aku harus menjalani hidupku seperti biasanya dan selalu berbahagia. Meski masih berat, aku terus mencobanya.

Sampai terdengar kabar ditelingaku, bahwa kamu akan menikah dengan wanita lain. Katanya kamu akan dijodohkan oleh kedua orang tuamu. Wanita yang akan kamu nikahi sangat beruntung, Arsyad. Sekali lagi aku patah hati setelah mendengar kabar ini, ternyata ini alasanmu memutuskanku.

Aku kembali ke fase dimana aku setiap hari menangis dan tidak nafsu makan lagi. Sampai aku menjadi kurus seperti ini, padahal dulu kamu selalu mengingatkan jangan sampai lupa makan apalagi sampai sakit. Maaf aku mengecewakanmu, Arsyad. Aku tidak bisa menjalankan semua perkataanmu dengan benar. Aku cukup payah ketika tidak ada kamu disampingku.

Bulan demi bulan berlalu. Kini aku sudah terbiasa sendiri dan menjalani semuanya dengan ikhlas. Meski kadang perih ketika aku mengingat kenangan kebersamaan kita. Ku lihat di postingan instagrammu kamu nampak tersenyum bahagia dengan istrimu. Aku menyumpah serapahi kalian berdua. Aku merasa kamu jahat, katanya kamu tidak bisa hidup tanpaku. Tapi ku lihat kamu nampak baik-baik saja bersama istrimu, malah kalian terlihat sangat berbahagia.

Bodohnya aku yang menangisimu selama berbulan-bulan. Sia-sia sudah air mataku kala menangisimu. Aku menyesal sekarang, dulu seharusnya aku tidak harus berlarut-larut dalam kesedihan setelah kamu memutuskanku. Tapi tak apa yang lalu biarlah berlalu. Aku ingin berbahagia sekarang, dan aku tidak akan melupakan segala kenanagan bersamamu. Biarkan semuanya menjadi kisah pembelajaran untuk kita berdua. Terimakasih atas segala yang telah kamu berikan kepadaku, Arsyad.