Yang Bisa Kita Lakukan


Sumber gambar: Pixabay/iqbalnuril

Tak bisa dipungkiri, bahwa roda gerigi mesin kehidupan terus bergulir. Menggerakkan manusia untuk terus mengais rezeki demi sesuap nasi yang jangan sampai basi. Tak ada yang bisa mengalihkan jalan pikiran mereka dari apa yang disebut harta, gengsi, dan kehormatan. Seolah-olah makhluk paling berakal di planet hijau ini hanya punya tujuan hidup untuk memuaskan nafsu mereka yang sudah mengontrol penuh seluruh jiwa dan raga. Kupikirkan itu sambil mengelus bawah dagu kucing peliharaanku yang sedang mendengkur di atas tumpukan kayu. Memang asyik kalau sore-sore seperti ini melepas penat tubuh yang terpapar aroma gas emisi campur cairan dari kulit yang melalui proses ekskresi.

Hari sudah semakin petang. Maka, aku berjalan ke dalam rumah kontrakan dan kutaruh helm ojek daring yang kupakai ini di rak kamarku. Kuambil bungkusan makanan kucing yang sudah terbuka dan kuberikan sebagian isinya kepada kucingku di teras kontrakan. Lidah kucing itu membawa setiap butir makanan ke dalam mulutnya dan dikunyahnya dengan tulang runcing hingga mengeluarkan bunyi. Namanya kucing, pekerjaannya ya hanya makan dan tidur. Kucingku ini suka tidur lama sekali di bangku kotor. Tak peduli bagaimana rupa tempat tidurnya, yang penting kucingku ini bisa tidur di tempat datar dengan aman tanpa gangguan. Makan pun sudah ada yang selalu memberi. Enak sekali hidupmu cing. Senja sudah menampakkan semburat jingganya, namun masih banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalan yang mulai diterangi lampu-lampu. Sebaiknya aku segera mandi dan menunaikan sembahyang.

Malamnya, aku merasa perutku sudah tak bisa diajak diam. Kuperiksa isi dompetku hasil dari ojek daring tadi. Kuhitung setiap lembar kertas berwarna-warni yang menampilkan wajah karismatik dari para pahlawan negeri ini. Sepertinya aku bisa membeli makanan yang kumau, setidaknya yang kubutuhkan. Ada warung makan nasi padang di samping kontrakan yang ramai setiap harinya. Semoga masih ada hidangan yang siap bertamu ke lambungku. Aku masih mau melihat kucing kesayanganku dulu, namun tak kelihatan berhelai-helai kumisnya. Ya sudah, aku langsung ke warung saja.

Bahu jalan sempit di depan warung penuh dengan kendaraan parkir aneka jumlah roda. Selain manusia, kulihat ada seekor kucing gemuk tapi kumal yang sedang menyantap tulang di pojok depan warung. Warung khas Padang ini cukup luas dan bangunannya permanen. Hidangannya juga lengkap dan harganya terjangkau, pantas ramai. Aku memesan makanan dengan menunjuk setiap jenis makanan untuk dimakan di warung. Kupesan juga teh hangat dan kupilih tempat duduk di bagian depan yang sepi. Saat hendak menyantap makanan yang baru saja sampai di meja, ada temanku yang mengenakan jaket ojol menyapaku, “Hai, Rudi, bagaimana kabarmu?”

“Wan, seperti yang kau lihat. Baik-baik saja,” ujarku kepada Wawan. “Kamu juga makan di sini?”

“Tidak, Rud. Aku sedang membeli pesanan, cukup banyak sih. Jadi aku tunggu di sini saja. Boleh, ya, aku duduk di dekatmu, nggak ganggu kan?”

“Tidak apa-apa, silakan duduk.” Lalu dia duduk berseberangan denganku.

“Wan,” kataku, “Sebagai ojol, kita memang punya banyak cerita, ya! Meskipun ada mudah ada susahnya, aku senang menikmatinya di tengah kuliahku ini.”

“Benar, kita ini memang selalu ada masalah saja. Sebagai orang kecil, kita hanya terus berharap ada banyak order -an.”

“Wan, saat aku mau pulang ke kontrakan, ada sampah tisu yang dibuang seseorang dari mobil yang menyalipku dan hampir mengenai wajahku. Untung ada helm. Kuteriaki mereka, ‘Alhamdulillah, aku dapat rezeki’. Yah, aku kesal. Mobil bagus tapi tak punya tempat sampah. Mereka pikir jalan itu tempat sampah, ya?”

“Yah itu memang keterlalulan, Rud. Oh, ya. Aku tadi merasa seperti mendapat tamparan keras, Rud. Tadi, aku mengantarkan tukang pijat tunanetra. Yang ngorder adalah tetangganya agar dia bisa pergi ke tempat yang dimaksud. Aku salut dengan semangat juangnya. Bahkan dia melebihkan bayaran. Awalnya kutolak, tapi aku mengalah melihat niat tulusnya. Rupanya orang yang tunanetra saja masih bisa bermanfaat bagi orang lain. Apa lagi kita, Rud. Seharusnya kita bisa lebih bermanfaat bagi orang lain.”

“Hebat sekali dia, tekadnya patut dicontoh. Dan memang selain mencari rezeki, pekerjaan kita memang dibutuhkan banyak orang, Wan. Mungkin ini sudah jalan dari Tuhan yang bisa kita lakukan untuk berbuat baik seikhlasnya.”

“Eh, pesananku sudah selesai, Rud. Saya pergi dulu, ya!”

“Ya, hati-hati, Wan.”

Sebelum menyantap, aku lihat-lihat dulu unggahan teman-temanku di media sosial. Ada salah satu unggahan tentang lomba artikel daring bertema “Peduli dan Bermanfaat bagi Sekitar”. Sepertinya menarik. Oke, aku akan ikut lomba itu.