Wastra lungsed ing sampiran

image

Wastra (pakaian, kain), lungsed (lusuh), ing sampiran (di tali tempat menggantungkan pakaian). Terjemahan bebasnya, pakaian menjadi lusuh karena terlalu lama dibiarkan tergantung dan tidak dipakai.

Pesan dari peribahasa tersebut menggambarkan ilmu pengetahuan yang tidak pernah dimanfaatkan, sehingga akhirnya benar-benar tak berguna dan dilupakan orang. Di samping itu, ungkapan itu juga menyindir keberadaan orang pandai di suatu tempat, tetapi tidak pernah keahliannya dimanfaatkan oleh dirinya sendiri ataupun masyarakat di lingkungannya.

Contohnya, di sebuah kampung tinggal seorang dalang yang mumpuni. Hanya saja, ia jarang diminta mendalang karena miskin. Hidup keseharian hanya bertani dengan penghasilan pas-pasan, sehingga tidak mampu membeli wayang dan gamelan. Padahal, ilmu dan kemampuan mendalangnya tidak kalah dari dalang-dalang kondang di Jawa. Akibatnya, setalah dalang tadi tua, masyarakat benar-benar melupakannya. Tidak seorang pun yang tergerak hatinya untuk belajar menimba ilmu pedalangan darinya. Nah setelah sang dalang meninggal, barulah mereka menyesal. Terlebih, ketika ada anak-anak muda yang ingin belajar mendalang, tetapi tidak tahu ke mana harus berguru. Nasib dalang itu benar-benar seperti Wastra lungsed ing sampiran.