Untuk Yang Terakhir, Untuk Yang Terkasih

Summary

Source : twitter

Ingin kuciptakan puisi yang spesial semenjak ini puisi terakhirku di sini
Sajak tentang pemilik senyum terindah
Tentang dia sang pemilik tawa yang merdu
Seseorang dengan suara yang tenang juga halus,
yang mampu buatmu seakan-akan sedang berbaring di samping sungai yang mengalir dengan air terjun mungil tiap kali dengarnya berbicara
Peluknya juga hangat, sehangat kalor mentari pagi yang kecup kulitmu saat kau keluar dari rumah untuk temukan ketenangan batin

Rasanya, tidak ada yang dapat kalahkan rasa secangkir kopi hitam hangat
yang dinikmati di dalam ruangan yang juga hangat
dengan rintik hujan basahi bumi di luar
Oh, tidak
Dia tidak terlalu suka kopi hitam
Dia lebih suka capuccino yang manis
Itu lebih cocok untuknya mengingat senyumnya yang juga manis

Perbedaan selera tak halangi kami untuk tetap bersatu
Dengan tangannya yang terulur, malaikat itu undangku tuk berdiri dan ikuti dia
Sambut bumi di luar yang diguyur hujan tipis
Juga sambut aroma hujan yang sapa penghiduan kami

Berbagi cerita, kelilingi kota yang tak pernah tidur
Berbagi kehangatan dari satu setel jaket kebesaran
Jauhkan diri dari gawai yang senantiasa tersimpan dalam kantong
Untuk nikmati hidup saat itu dan hanya saat itu juga

Biarpun kenangan ini terlampau sederhana
Kenangan ini akan selalu miliki tempat spesial di hati dan kepalaku
Karena ini kenangan yang manis
Sebelum perpisahan pisahkan kami