Untai Pedas dari yang Terdekat

Ngapain Sekolah Tinggi Kalau Cuma Jadi IRT_

Dalam siklus kehidupan, tidak dapat dipungkiri bahwa kita akan bertemu manusia dengan berbagai macam sifat yang berbeda, terkadang kita sering menyebut mereka dengan sebutan si Angkuh, si Baik, si Dermawan dan tidak lupa si Egois. Antara orang satu dengan yang lainnya tentu tidak bisa kita samakan. Apalagi kumpulan manusia yang mementingkan diri sendiri merasa dirinya lebih baik dengan segala keangkuhan dan kesombongan yang sering dijuluki egois.
Sebelum senja pulang ke peraduan, ibu mengajakku keluar menikmati angin sepoi-sepoi sambil menuju ke rumah saudara untuk sekedar silahturami. Perjalanan kami tidak membutuhkan waktu yang lama. Karena jarak rumah kami yang begitu dekat. Sesampainya disana dengan segera kuucapkan salam ketika bertamu sebagai kewajiban seorang muslim tentunya. Dengan segera bibi menyilahkan kami masuk ke dalam rumahnya. Belum sampai beberapa menit bibiku membuka topik percakapan.
“Eh iya nduk setelah lulus SMA mau kemana?” Tutur bibi.
Pertanyaan afdhal yang sering kudapatkan entah hari raya, waktu pergi kewarung atau bahkan kegiatan lainnya.
“Insyaallah kuliah bi !” jawabku.
“Halah nduk-nduk ngapain anak perempuan kuliah, toh pada akhirnya ya menikah terus ngurus anak, setelah itu tidak bekerja. Ngabisin uang aja!” ucapnya dengan ketus.
Rasanya semua sisi damaiku langsung bergejolak, menunggu api selanjutnya yang siap membakar sisi tenang yang masih berusaha kusabarkan.
“Ya tidak apa-apa bi, bukankah seorang anak juga membutuhkan didikan yang baik dari ibu yang berpendidikan , lagipula namanya menuntut ilmu tidak ada yang akan berakhir dengan sia-sia kok !” selorohku santai dengan menampilkan senyum tulus seolah batinku tidak terusik.
Apakah aku sakit hati dengan penuturan bibiku ? jawabanya sudah pasti jelas, semakin hari karena seringnya mendengar lontaran kalimat menohok , dapat kutangkap perbedaan bahwa semakin hari hatiku yang tadinya lemah semakin kebal. Tentu aku mengapresiasi diriku yang dapat mengendalikan emosi yang hampir saja membuncah andai saja tidak kutahan sekuat mungkin. Bukan hanya bibiku , bahkan tetangga yang satu frekuensi dengan bibiku juga sering melontarkan kalimat pedas seolah apa yang akan kulakukan hanyalah kegiatan tidak berguna yang akan berakhir sia-sia. Mungkin bibi kesal dengan balasanku yang seakan tidak mau kalah dengannya. Lagipula apa salahnya seorang perempuan yang memiliki pendidikan tinggi, tidak ada larangan yang menegaskan bahwa seorang perempuan tidak pantas mengejar ilmu setinggi mungkin. Terkadang memang yang mematahkan semangat perjuangan seseorang itu malah berasal dari orang-orang terdekat. Dengan mengatakan asumsi yang belum difilter seolah mereka adalah yang maha benar.
“ Woalah-alah. Buat apa kuliah, diluar sana aja banyak lulusan sarjana yang masih luntang-lantung nganggur ngga dapat kerjaan !” salah satu contoh kalimat tetangga, yang bahkan hingga kini terekam jelas dalam otakku.
“Baiklah ! “ ucapku untuk menenangkan diri sendiri.
Jika sudah membicarakan hal seperti ini mungkin orang-orang seperti mereka adalah spesies manusia yang pasrah dan enggan untuk berjuang. Untunglah aku bukanlah tipikal manusia yang mudah hanyut perasaannya, jika iya matilah aku dengan mudahnya terpengaruh untaian-untaian kalimat yang dapat merobohkan sekat semangat yang kubangun sekokoh mungkin. Aku tahu bahwasanya takdir setiap manusia tidak bisa kita samakan, antara si A, si B begitu pula dengan si si yang lain. Sangatlah pasti mereka memiliki garis takdir yang berbeda. Memang setiap hal yang terjadi pada manusia sudah ditetapkan oleh Allah sang pemilik semesta alam… Namun bukankah kita memiliki kewajiban memperjuangkan garis takdir kita ? baru kita serahkan hasil ikhtiar kita dalam bentuk tawakal kepada Sang Khalik, karena tentunya apa yang akan terjadi pastilah yang terbaik untuk kita. Itulah kalimat pengyakin dalam diri yang sering kutanamkan. Teruntuk para tetangga yang julidnya minta ampun, tanpa untai pedas kalian aku tidak akan sekuat ini. Maturnuwun

#LombaCeritaMini #2.0 #dictiocommunity #EgoismediSekitarKita #CeritaDiRumahAja #DiRumahAja)

96 Likes