Tuhan, Jaga Senjaku

Yang aku tahu, malam ini seperti tak punya nafas. Tak ada angin yang meliukkan tubuhnya. Pohon-pohon diam. Tak terdengar desah dedaunan. Gunung-gunung membisu. Demikian juga rerumputan yang ada di halaman. Diam. Malam begitu terbungkus kesunyian.

“Kemungkinan Rinjani untuk sembuh sangatlah kecil.” Ucap Dokter.

“Dok, saya mohon sembuhkanlah ia. Saya akan bayar berapapun biaya yang anda butuhkan. Tapi, mohon …. ” Digenggamnya lengan dokter itu erat.

“Kami akan usahakan yang terbaik. Cukup, berdoalah …. ” Dokter menjawab.
Terdengar hela nafas berat di sela kalimatnya sebelum ia berlalu pergi meninggalkanku, terpuruk seorang diri.

Bayang-bayang Rinjani menari-nari di otakku. Lincah gerak tubuhnya saat ia berjalan. Gelak tawanya yang menunjukkan kepada dunia, bahwa ia selalu baik-baik saja. Senyuman manis yang selalu tersungging di balik bibir kecilnya itu, tanda ia seorang wanita yang tak mudah menyerah.

“Ahh … Rinjani, kenapa harus kamu yang menderita??” Tangisku mengutuk diri.


Ia melihat senja dengan tatapan kosong. Tampaknya ia berada di ambang kesedihan yang sangat dalam. Terpancar jelas dari raut mukanya, seperti meminta harapan. Dan setiap senja itu berakhir, ia menangis. Seolah-olah senja itu adalah sumber kebahagiannya. Dan aku? Aku hanya mampu mengamatinya dari kejauhan, tak berani mendekatinya walau hanya sekedar untuk berkenalan.

Aku ingin sekali menghampiri gadis itu, tapi aku tak ingin mengusik kesendiriannya. Apa ia butuh teman? Apa ia butuh seseorang untuk menghiburnya? Aku bertanya-tanya dalam hatiku. Apa pedulinya aku pada gadis itu? Aku kan tidak mengenalnya, bahkan namanya saja aku tak tahu. Hati ini terus menuntutku untuk menemuinya. Maka akhirnya kucoba memberanikan diri sekarang.

“Hai." Sapaku ramah. Sepertinya ia terkejut dengan kehadiranku.

“Ya? Ada apa?" Ia menjawab sementara sebelah tangannya berusaha menghapus air matanya.

“Bolehkah a-aku du-duduk disini untuk menemanimu?" Tanyaku ragu.

“Ya, silakan.” Jawabnya cuek. Bahkan menoleh padaku pun tidak.

Gadis itu memang kelihatannya cuek. Tapi mungkin karena aku asing di matanya. Entahlah, dia diam seribu bahasa. Matanya berkaca-kaca dan pandangannya nanar. Kurasa ia menyembunyikan sesuatu, tapi aku belum bisa menanyakan padanya.

“Kamu suka senja?" Tanyaku ragu. Sekilas, ia menoleh ke arahku.

“Senja adalah sahabatku.” Jawabnya singkat.

“Sahabatmu? Bagaimana caranya berkomunikasi dengannya?" Tanyaku sambil mengernyitkan dahi keheranan.

“Jika kau mengerti senja, ia akan memberitahumu bagaimana caranya.” Ia bangkit lalu pergi sembari tersenyum padaku.

“Hei, tunggu! Aku Revan. Siapa namamu?" Aku setengah berteriak, lalu ia menoleh dan berkata

“Rinjani."

Rinjani? nama yang unik. Tapi, apa mungkin aku bisa berkomunikasi dengan senja? Gumamku dalam hati.


Hari ini hujan turun. Entah mengapa sore ini langit justru menangis. Setelah seharian ia memanggang kulit manusia yang beraktifitas di bawahnya. Selintas pikiranku menuju pada Rinjani. Apakah Ia berada di tempat kemarin? Tapi mana mungkin senja terlihat. Awan kelabu pasti akan menutupinya. Tapi aku penasaran. Kuputuskan menengoknya. Kuambil mantelku. Setelah sampai di sana, aku tak menemukan sosok Rinjani.

“Hujan pasti membuatnya tak ingin berkunjung.” Gumamku sedih.

Aku terduduk sendirian di kursi tempat Rinjani biasa duduk ketika mengamati senja.

“Kenapa kamu di sini? Ingin melihat senja setelah hujan reda?” Terdengar suara dari belakangku. Aku buru-buru menoleh. Mataku bertemu kedua matanya. Ia bertanya sambil tertawa padaku. Rinjani! Baru kali ini aku melihatnya tertawa lepas seperti itu, seolah ia bahagia.

“Aku hanya menanti kehadiranmu. Bagiku senja itu adalah kamu. ” Ucapku asal.

“Aku sudah di sini, lalu kamu mau apa?” Tanyanya lagi. Kulihat wajahnya tersipu malu.

“Aku hanya ingin mengajakmu menikmati pelangi setelah hujan. Yaa … walaupun hujan belum tentu berhenti sampai malam hari. Bagaimana?” Kali ini aku tertawa kecil.

“Hmm … Tapi aku lebih ingin melihat senja daripada pelangi.” Jawabnya sambil menghela napas.

“Senja itu sudah tiba. Ia melihat kita, walau kita tak melihatnya.” Kutepuk pelan pundaknya.

Lalu ia menoleh ke arahku dan tersenyum, “Ya, aku tahu.”


Hari-hari berlalu bersamaku dan Rinjani yang mulai semakin akrab. Kami di pertemukan oleh senja, dan aku rasa senja ingin aku selalu bersama dengan Rinjani. Aku belajar mencintai Rinjani. Selayaknya aku mencintai senja.

Aku baru sadar. Terlalu banyak luka dan sakit yang Rinjani rasakan. Kehidupannya begitu pelik, mulai dari masalah keluarga hingga pribadinya sendiri. Ia selalu berusaha bahagia, di saat sekelilingnya ingin menghancurkan hidupnya. Betapa malang gadis ini. Namun ia masih bisa bertahan dan berdiri setegar karang.

“Rinjani, aku siap untuk menjadi sandaranmu.” Gumamku.

Aku bertekad untuk membuatnya bahagia. Selama tuhan masih memberiku nyawa untuk hidup.


When you love someone just be brave to say
That you want him to be with you
When you hold your love don’t ever let it go
Or you will lose your chance
To make your dreams come true

Alunan musik indah itu menemaniku dan Rinjani yang tengah asyik menikmati senja. Sekaligus juga mewakili perasaanku pada Rinjani. Aku menyukainya, mencintainya. Tapi hati ini masih belum yakin untuk berkata.

“Apa Rinjani mau mengisi ruang di hatiku?” Pertanyaan mulai muncul di benakku.

Bersediakah ia untuk menikah denganku?” Banyak pertanyaan berkecamuk di pikiranku saat itu.

*“Oke … Tenangkan hatimu, Revan. Aku mulai mengatur napas sebelum kuutarakan apa yang kuinginkan dari Rinjani.

Kutatap senja untuk berterima kasih padanya. Karena senja, kami bertemu dan mengukir cerita. Karena senja, aku tahu bagaimana istimewanya ia. Dan karena senja, aku sadar, banyak hal juga momen indah yang kulalui dalam hidupku. Atau mungkin aku memang tak menyadarinya. Terima kasih senja ….

“Rinjani …” Panggilku. Aku tak mampu untuk menatapnya. Hati ini takut.

“Kenapa, Van?” Ia tersenyum simpul.

Aku berdiri menghadap ke arah di mana senja itu berada. Rinjani heran dengan tingkah lakuku yang tak seperti biasanya ini. Kemudian ia pun berdiri tepat di sampingku. Rasa ini campur aduk, jiwaku bergejolak. Aku dapat merasakan aliran darah di nadiku yang seakan mulai tak beraturan. Kuhembuskan napas, lalu menghadap ke arah Rinjani.

“Rinjani … " Panggilku sekali lagi.

Rinjani tersenyum kemudian menoleh ke arahku. Kami berhadap-hadapan. Aku berlutut di depan Rinjani, lalu kukeluarkan kotak merah kecil dari saku celanaku.

“Rinjani, will you marry me ? ” Tanyaku dengan penuh kesopanan.

Rinjani menatapku dalam-dalam. Butiran bening itu mulai bersarang di matanya. Rinjani diam, berusaha untuk mengatur jalan pikirannya. Ia mengambil napas panjang kemudian menghembuskannya. Ia memelukku erat, seolah-olah tak ingin aku jauh darinya.

“Aku tidak baik untukmu, Revan.” Kudengar nada kesedihan dari perkataannya.

“Aku, aku hanya takut suatu saat aku akan kehilanganmu.” Ucap Rinjani parau. Ia berusaha menahan tangisan itu agar tidak tumpah.

“Aku tak akan pergi, Rinjani. Aku akan tetap selalu ada untuk menjadi pundakmu.” pintaku memohon. Tuhan, aku janji.

Rinjani menatapku iba. Lidahnya kelu seketika. Kutatap matanya yang sayu. Seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku, namun aku tak tahu apa itu.

“Revan, terima kasih atas kejujuranmu. Aku hargai itu. Tapi maaf, aku tak bisa.” Ia menangis sesenggukan. Lalu memelukku untuk kedua kalinya.

“Tak apa Rinjani. Aku mengerti. Tenanglah, aku tak akan marah.” Ucapku menenangkannya.

Gadis itu mulai tenang. Ia usap perlahan air mata yang membasahi hampir seluruh wajahnya. Aku berharap ia bisa tersenyum seperti sedia kala. Akhirnya karena hari beranjak gelap, kami pun pergi meninggalkan bukit damai itu. Biarlah bukit itu menjadi saksi atas perasaanku terhadap Rinjani. Dan senja itu menjadi saksi atas kesiapanku untuk menjaga Rinjani, selama nyawa ini masih bersarang dalam tubuhku.


“Rinjani … bangunlah, Sayang.” Sosok paruh baya itu menggenggam erat tangan wanita senjaku. Butiran bening tumpah ruah di wajahnya, tak mampu ia bendung lagi. Hanya suara monitor pendeteksi denyut nadi dan isak tangis yang memenuhi ruangan 3x4 itu.

Malam menyampaikan apa yang tak terlisankan terang, sunyi memiliki gaduhnya sendiri, dan kosong tak dapat selalu disinggahi.

Hari itu aku datang ke bukit damai, tapi sosok yang selalu kunanti tak ada. Dua.Tiga. 5 hari aku baru mengetahui bahwa Rinjani terbaring koma di rumah sakit. Aku takut akan kehilangan senjaku. Senja yang begitu istimewa, dan mampu mengisi ruang kosong di hatiku.

“Rinjani mengidap penyakit kanker otak stadium akhir. Ia telah mengidap penyakit itu selama 2 tahun. Dokter telah memvonis kematiannya 1 tahun yang lalu. Namun dengan segala harapan, Rinjani selalu berdoa keajaiban akan berpihak padanya untuk tetap hidup lebih lama lagi.” Ucap mama Rinjani pilu.

“Rinjani anak yang kuat, Nak. Ia hebat, mampu bertahan selama ini dengan beban yang menimpanya. Terima kasih telah menjadi pundak untuk Rinjani di waktu akhirnya.” dipeluknya aku erat.

Aku tak mampu berkata-kata saat itu. Pikiranku kacau balau. Teringat, saat aku melamarnya di bukit damai lalu ia menolaknya. Jadi, inilah alasan mengapa ia menolakku. Ia tak mau mengecewakanku dengan kepergiannya.

“Kemungkinan Rinjani untuk sembuh sangatlah kecil.” Ucap Dokter.

“Dok, saya mohon sembuhkanlah ia. Saya akan bayar berapapun biaya yang anda butuhkan. Tapi, mohon …. ” Digenggamnya lengan dokter itu erat.

“Kami akan usahakan yang terbaik. Cukup, berdoalah …. ” Dokter menjawab. Terdengar hela nafas berat di sela kalimatnya sebelum ia berlalu pergi meninggalkanku, terpuruk seorang diri.

Bayang-bayang Rinjani menari-nari di otakku. Lincah gerak tubuhnya saat ia berjalan. Gelak tawanya yang menunjukkan kepada dunia, bahwa ia selalu baik-baik saja. Senyuman manis yang selalu tersungging di balik bibir kecilnya itu, tanda ia seorang wanita yang tak mudah menyerah.

“Ahh … Rinjani, kenapa harus kamu yang menderita??” Tangisku mengutuk diri.

Jatuh hati mengajarkanku bagaimana memberanikan diri. Juga bagaimana menjadi kuat saat kau di tinggalkan sendiri.

Rinjani telah pergi. Perjalanannya telah usai saat ini. Hari ketika aku melamarnya, adalah hari terakhir di mana ia melihat senja. Sebelum ia terbaring tak berdaya di rumah sakit, ia menuliskan sebuah surat untukku.

Revan, sandaranku …

Aku memang ingin cerita ini berakhir sempurna. Namun, aku telah belajar dari pengalaman yang sulit, bahwa beberapa puisi tidak berima, dan beberapa cerita tidak memiliki awal, tengah, dan akhir yang jelas. Hidup adalah tentang tidak mengetahui, harus berubah, memanfaatkan momen, dan memanfaatkannya sebaik mungkin, tanpa mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.

Selamat tinggal tapi bukan untuk selamanya. Itu semua bukan akhir, kita akan bertemu lagi. *Berjanjilah padaku, kamu tidak akan pernah melupakanku. Jangan menangis, karena aku tidak akan pernah pergi. Buka matamu dan tersenyumlah, karena hidup ini masih panjang. Aku masih disini. Dalam hatimu.

Love Rinjani

Aku meneteskan air mata …. Apa jadinya menikmati senja tanpa dirimu. Ini seakan-akan kembali ke beberapa bulan lalu, sebelum aku mengenalmu. Aku akan selalu merindukan sosok istimewamu. Kamu akan tetap jadi memori indah dalam hidupku.

Tuhan, jaga senjaku ….

1 Like