Tradisi Pemakaman Mewah di Toraja. Haruskah Dipertahankan?

Masyarakat Toraja di Sulawesi Tengah, Indonesia, telah lama dikenal atas kemewahan perayaan mereka akan kematian di pemakaman, kuburan, dan patung-patung.

Tak jauh di luar Rantepao, ibukota daerah Tana Toraja, pemakaman yang mahal dan penuh pertunjukan kerap dilakukan. Sementara menjaga tradisi budaya ini penting bagi masyarakat Toraja, biaya pemakaman biasa mereka sangat besar. Di tengah jantung pertikaian antara yang muda dan yang tua dari Toraja, terdapat masalah ekonomi pemakaman.

Praktek pemakaman begitu mewah dan mahal hingga banyak keluarga yang terjerat hutang untuk pembayaran perayaan pemakaman dari orang yang mereka cintai. Hutang ini dibawa melalui generasi, sehingga anak-anak mereka pun sering kali lahir dengan hutang berkaitan dengan pemakaman orang yang belum pernah mereka kenal dan harus menghabiskan seluruh hidup mereka berusaha untuk membayar, sehingga mengembangbiakkan kemiskinan.

Apakah Youdics setuju bahwa praktek pemakaman mewah di Tanah Toraja justru menimbulkan beban baru ke generasi muda disana? Menurut Youdics, haruskah praktek pemakaman mewah di Tana Toraja tetap dilanjutkan?

Referensi

Kesenjangan adat istiadat tradisional antara muda versus tua di Tana Toraja Indonesia

3 Likes

Sebelumnya mari kita lihat persyaratan upacara pemakaman disana. Untuk melaksanakan pemakaman sendiri diperlukan hewan kurban berupa kerbau atau babi. Hewan tersebut bagi masyarakat sana dipercaya akan menghantarkan mereka ke surga. Kerbau pun yang dikorbankan bukan sembarang kerbau biasa, mereka biasanya menggunakan kerbau bule dan harga per ekornya 20-50 juta bahkan ada yang mencapai 600 juta. Untuk jumlah yang dikorbankan tergantung dari status sosial tiap keluarga, semakin tinggi tentu semakin banyak yang dikorbankan. Singkat cerita, total biaya dari sekali upacara ini bisa mencapai 4-5 Milyar Rupiah. Sebuah nominal yang fantastis bukan? Harga ini bahkan jauh lebih mahal dari paket pemakaman Private Estate di San Diego Hills yang harga maksimumnya hanya 1.7 Milyar, itupun untuk 4-8 orang.

Dari fakta diatas sebenarnya cukup jelas bahwa praktek pemakaman mewah ini cukup mahal dan terkadang akan sangat merugikan generasi selanjutnya karena para pendahulunya berhutang. Bayangkan hidup dalam keadaan minus? hidup dari nol saja sudah susah. Untuk kelanjutannya saya tidak bisa memutuskan karena bukan warga sana karena sebenarnya tidak ada yang buruk dari adat itu, yang buruk hanya kemahalan. Untuk keputusannya lebih baik diserahkan kepada generasi muda Toraja

Referensi:
Jangan Kaget! Hitung Dulu Biaya Upacara Pemakaman Toraja
Berapa Harga Pemakaman di San Diego Hills? Halaman all - Kompas.com

1 Like

karena itu memang sudah menjadi tradisi budaya, jadi menurut sebaiknya dipertahankan saja, namun akan lebih baik jika upacara pemakaman dilakukan sewajarnya saja, sehingga dana yang tersisa dapat digunakan untuk keperluan lain di masa depan, seperti investasi, tabungan, pendidikan, keluarga, atau mempersiapkan kebutuhan anak.

1 Like

Kalau saya sih akan mengembalikan lagi ke para pelaku tradisi. Hutang antar generasi yang mungkin akan timbul harus dipertimbangkan secara bijak oleh keluarga mendiang. Jika memang keluarga itu mampu, maka itu tidak masalah. Tapi kalau belum mampu, itu namanya memaksakan.

Tuntutan tradisi memang seringkali bertentangan dengan relevansi masa kini. Keadaan ekonomi, politik dan sosial masa kini tentu saja berbeda dengan kondisi ketika tradisi tersebut diciptakan. Mungkin saja zaman dulu, menjaga prestise status sosial di lingkup masyarakat yang masih kedaerahan masih relevan. Tapi di era modern seperti sekarang, apakah banyaknya hewan ternak masih menjadi penentu status sosial?

Zaman berganti, namun tradisi tidak. Pilihannya adalah apakah mau fleksibel dengan majunya zaman atau tetap terkungkung dalam jerat tradisi?

1 Like

Menurutku upacara adat Rambu Solo yang dilakukan oleh masyarakat suku Toraja ini berpotensi menimbulkan kesalahpahaman bagi orang non-Toraja. Mungkin banyak dari kita yang menyangka bahwa upacara kematian Rambu Solo selalu mewajibkan setiap keluarganya untuk menyembelih puluhan hingga ratusan babi atau kerbau sehingga membutuhkan biaya yang fantastis bahkan hingga miliaran rupiah. Padahal, informasi itu tidak sepenuhnya benar.

Seorang tokoh masyarakat Toraja bernama Layuk Saroenggalo menjelaskan makna di balik upacara Rambu Solo, yaitu semua sisa hasil usaha orang Toraja dilakukan untuk penguburan. Mereka beranggapan bahwa harta harus dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk sosial, agar membiasakan anak-anak yang ditinggalkan tidak bergantung pada warisan.

Lebih lanjut lagi, ternyata upacara adat Rambu Solo di Toraja terbagi menjadi empat tingkatan yang sesuai dengan kedudukan atau strata sosial masyarakatnya, yaitu:

  1. Upacara Dissili’, ritual pemakaman untuk strata paling rendah atau anak-anak yang belum mempunyai gigi. Upacara tingkat ini dibagi lagi menjadi 4 bentuk.
  2. Upacara Dipasangbongi untuk rakyat biasa yang hanya dilakukan dalam satu malam saja. Upacara tingkat ini juga memiliki 4 bentuk, yang masing-masingnya berbeda mulai dari mengorbankan 4 babi sampai 2 kerbau.
  3. Upacara Dibatang atau Digoya Tedong sebagai upacara untuk kalangan bangsawan menengah. Upacara ini dibagi menjadi 3 jenis, yang masing-masing dilakukan selama 3, 5, dan 7 hari. Jumlah kerbau dan babi yang dikorbankan juga bervariasi mulai dari 3-7 ekor.
  4. Upacara Rapasan yang dikhususkan bagi bangsawan tinggi. Jenis upacara ini dilakukan dua kali dalam rentang waktu setahun. Upacara pertama disebut Aluk Pia, sedangkan upacara kedua disebut Aluk rante. Dibagi menjadi 3 jenis, jumlah babi dan kerbau yang disembelih dalam upacara ini bervariasi mulai dari 9 ekor hingga di atas 100 ekor. Upacara inilah yang membutuhkan biaya termahal sebagaimana yang dikenal luas oleh orang-orang.

Berdasarkan informasi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa upacara kematian Rambu Solo di Toraja tidak selalu membutuhkan banyak hewan kurban dan biaya yang sangat mahal. Upacara yang sangat mahal itu hanya dilakukan oleh kalangan bangsawan tinggi yang pastinya mampu melaksanakannya. Dengan demikian, sudah seharusnya tradisi ini wajib dilestarikan.

Sumber

Itsnaini, F. M. (2021, 5 Mei). Upacara Adat Rambu Solo: Makna di Balik Ritual Pemakaman Unik dari Toraja. Diakses pada 29 Juli 2021, dari https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5559494/upacara-adat-rambu-solo-makna-di-balik-ritual-pemakaman-unik-dari-toraja.

1 Like

Tradisi Rambu Solo merupakan salah satu kekayaan adat yang dimiliki Indonesia. Tradisi ini sudah terkenal bahkan hingga keluar negeri. Meskipun memakan modal yang sangat besar, tradisi ini harus tetap lestari. Kegiatan dari tradisi ini sangatlah kompleks dan mewah, tak jarang orang sengaja datang lansung ke Toraja hanya untuk melihat upacara tradisional ini. Namun, pada zaman sekarang sebagian orang menilai tradisi ini hanya akan menghabiskan uang dan membenani keluarga dengan utang yang besar. Memang, jika dilaksanakan secara autentik, upacara ini tidak memungkinkan dilaksanakan oleh semua masyarakat Toraja. Lalu, bagaimana cara menjaga tradisi sementara kita tidak mampu membiayainya? Saya rasa hal ini perlu dipikirkan baik-baik oleh yang bersangkutan, jika memang tak memungkinkan, lebih baik melakukan semampunya saja. Apalagi sekarang banyak masyarakat Toraja yang beralkulturasi dengan kepercayaan lain. Saya juga pernah membaca kalau sekarang Upacara Rambu Solo bisa dilakukan lebih singkat dan sederhana daripada dahulu, sehingga bisa menghemat pengeluaran biaya.

Kehidupan masyarakat Toraja tidak ada yang tidak lepas dari upacara, sama halnya dalam kehidupan ini, tidak ada yang luput dari suka dan duka, terang dan gelap, kebahagiaan dan kecelakaan dan sebagainya yang kesemuanya diidentifikasikan dalam timur dan barat. Karena itu, jenisupacara Rambu Tuka’ dan upacara Rambu Solo’, pelaksanaannya tidakboleh dicampur-adukkan, satu jenis upacara harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum melakukan jenis upacara lainnya.

Masyarakat Toraja menganggap upacara ini sangat penting, karena kesempurnaan upacara ini akan menentukan posisi arwah manusia yang
meninggal tersebut, apakah sebagai arwah gentayangan (bombo), arwah yang mencapai tingkat dewa (to membali puang), atau menjadi dewa pelindung (Deata). Dalam konteks ini, Upacara Rambu Solo’ menjadi sebuah “kewajiban”, sehingga dengan cara apapun masyarakat Tana Toraja akan mengadakannnya sebagai bentuk pengabdian kepada manusia tua
mereka yang meninggal dunia.