Tontowi Ahmad : Cara untuk Memaksimalkan Potensi Diri Guna Mencapai Kesuksesan

Ribuan orang bahkan jutaan orang baik muda maupun tua, di dalam negeri maupun luar negeri, yang melihat langsung atau hanya dari layar kaca menyaksikan bagaimana perjuangan atlet Indonesia di kompetisi olahraga terbesar antar negara di dunia di cabor bulutangkis, cabor dimana sebagai tumpuan Indonesia untuk menorehkan sejarah dan khususnya prestasi bagi atlet yang berjuang secara langsung.

Selama 45 menit masyarakat Indonesia disajikan permainan yang taktis ganda campuran terbaik Indoneia yaitu Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir. Suatu kebanggan bisa tampil di partai puncak olimpiade setelah menumbangkan musuh-musuhnya yang notabene adalah atlet terbaik di negaranya masing-masing, hingga akhirnya lagu Indonesia Raya bisa berkumandang di Olimpiade Rio de Janeiro Brasil tepat dengan kemerdekaan Indonesia yang ke 71.

Sungguh kado manis yang diberikan ganda campuran ini terhadap bangsa Indonesia, khususnya adalah Tontowi Ahmad yang sekaligus medali pertama di olimpiade. Merupakan hal yang sangat luar biasa, mengingat awalnya Tontowi Ahmad sendiri tidak menyukai bulutangkis. Benar-benar hal yang berkebalikan dengan kondisi yang dirasakannya saat ini.

Apakah yang membuat Tontowi dapat sukses hingga saat ini? apakah sekedar karena keberuntungan ataukah ada hal-hal lain? Untuk menjawab berbagai pertanyaan diatas, maka kita harus menelusuri apakah sesorang itu memang berbakat atau karena suatu hal lain. Oleh karena itu lebih dahulu kita memahami apakah sebenarnya talenta atau bakat dan hubungannya dengan potensi.

Hal yang umum terjadi di masyarakat seperti orang sukses baik itu seorang tokoh yang merubah dunia, olahragawan maupun pebisnis adalah disebabkan karena adanya bakat atau talenta yang telah ada dan pemberian tuhan.

Sebenarnya hal ini sangat mungkin terjadi, dimana misalnya seorang musisi terkenal dan karyanya banyak dipuji oleh banyak orang adalah berkat talenta yang telah dipunyai, dengan talenta tersebut seseorang bisa mencapai hal tertenggi di suatu bidang dibanding dengan orang lain. Hal ini tidak memandang umur seseorang, meskipun umurnya kalah, seseorang yang berbakat tersebut bisa menandingi orang yang lebih tua darinya, misalnya Joey Alexander yang menggetarkan panggung Grammy Awards 2016 dan bersaing dengan musisi kelas dunia.

Pianis muda ini memang berbakat dan mempunyai talenta di bidang musik, Indra Lesmana adalah orang dibalik kesuksesan Joey Alexander selain kedua orang tuanya, ketika tahun 2013 Indra Lesmana lah yang mementori Joey, dengan bakat yang telah ditemukan di dalam diri Joey maka seseoarng bisa lebih mengasahnya hingga lebih ahli, dan meraih berbagai penghargaan terkait bakat yang sudah diasahnya. Bakat yang dimiliki oleh seseorang mempunyai variasi yang berbeda, terdepat tiga faktor yaitu faktor keturunan, faktor lingkungan dan faktor ketekunan.

Akan tetapi pada kenyataanya, seorang Tontowi Ahmad atlet yang sukses mengharumkan nama Indonesia di mata dunia justru tidak menyukai bulutangkis dan lebih menyukai bermain layangan dan bermain gundu dengan teman-temannya.

Memang masa kecil Tontowi berbeda dengan kondisinya saat ini. Sebagian masyarakat memandang bahwa orang yang tidak memiliki bakat akan kesulitan untuk bersaing hingga level tertinggi, dan hal ini terbantahkan dengan Tontowi Ahmad yang bisa berprestasi dengan bidang yang justru tidak ia sukai, ditambah dengan riwayat dari keluarganya juga bukan keluarga atlet.

Namun, orang tua Tontowi lah yang memaksa Tontowi untuk berlatih bulutangkis dari jam 15.00-17.00, hingga dia mencintai olahraga tepok bulu tersebut, selain itu orang tuanya lah yang mengarahkan Tontowi untuk masuk sekolah bulu tangkis agar bisa lebih memaksimalkan potensi yang sudah ada secara intensif dengan waktu yang telah dikelola sedemikian rupa bahkan ditambah dengan ilmu yang didapat dari atlet-atlet bulutangkis yang sudah berpengalaman dan yang terpenting juga adalah mengelola tenaga yang memengaruhi seorang atlet yang sedang berkompetisi.

Ketiga hal itulah yang benar-benar mengantarkan Tontowi dalam puncak karir olahraganya selain dari doa masyarakat Indonesia khususnya doa orang tua Tontowi.

Selain itu tokoh lain yang awalnya diragukan dan pada akhirnya bisa sangat berpengaruh adalah Picasso dan Da Vinci yang justru menderita dyslexia yaitu suatu penyakit ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam melakukan aktivitas membaca dan menulis. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa

Kesuksesan tidak hanya diraih dari bakat saja ataupun orang yang tidak bertalenta belum tentu bisa sukses. Namun dengan memanfaatkan waktu, mengasah tenaga, pikiran, serta mengenali diri sendiri untuk bisa mengembangkan potensi yang juga didapat dari usaha kerja keras bahkan ketekunan dan kemauan untuk belajar sehingga bisa memanfaatkan potensinya dengan efektif hingga bisa meraih prestasi dan bisa bisa sukses di bidangnya secara maksimal.

Referensi

  1. http://www.tribunnews.com/video/2016/08/23/cerita-ayah-waktu-kecil-tontowi-ahmad-tak-suka-bulu-tangkis
  2. http://olahraga.kompas.com/read/2016/08/18/06020071/Fakta.Menarik.dari.Kemenangan.Tontowi.Ahmad.Liliyana.Natsir.
  3. http://www.tabloidbintang.com/articles/berita/sosok/33508-joey-alexander-dalam-pemberitaan-media-internasional-seperti-apa
  4. http://reudoc.blogspot.co.id/2015/03/setiap-orang-mempunyai-talent-bakat.html
  5. http://indianexpress.com/article/print/da-vinci-picasso-suffered-from-dyslexia/