'Tika Kalah Kenapa Kita Resah?

penting-mengajarkan-anak-menerima-kekalahan (sumber sukma.co)

Sebelum mulai pembahasan topik diskusi, saya mau kasih tau (share) beberapa topik saya sebelum, yang mungkin tidak terlalu menarik :joy: tapi menurut saya itu hal baik. Yang pertama, itu ambisi; singkatnya ambisi adalah salah satu acuan terkuat menjadi dorongan kita melangkah. Yang kedua, itu menerima; ringkasnya yaitu pada saat kita gagal atau jatuh kita hanya takut, karena kita belum menerima. Saya, hanya mengingatkan jikalau beberapa topik itu berkaitan sampai topik yang ini. Oh iya, mungkin ini yang terakhir dari bagian bagian yang berhubungan dengan 2 topik sebelumnya. Jadi silahkan dibaca kalau tertarik, kalau tidak juga tak masalah.

Link topik diskusi lainnya:
Ambisi, Apakah Hal Tersebut Merupakan Acuan Paling Kuat Dalam Mengembangkan Diri Menggapai Cita-Cita?

Dalam Konteks Berusaha: Jatuh Sebenarnya Adalah Jalan Menuju “Self-Improvement”, Tapi Kenapa Kita Takut Jatuh?

Perlu diingat kalah hampir serupa dengan gagal, kita hanya dapat pelajaran dari hal tersebut. Dan dari pelajaran tersebut kita bisa mengembangkan diri kita menjadi lebih baik, inilah bentuk dari Self-Improvement.

Kenapa (menurutmu) kita meresah/bersedih ketika kita kalah? Kalau dari saya jawabannya sederhana yaitu karena kita salah. Pasti ada yang bertanya, “Apa hubungannya dengan salah?” atau "Kenapa jawabannya “salah”?

Pertama, salah adalah pernyataan yang objektif atau faktual. Jadi sejatinya, kalau kita salah - kita harus mengakui, jangan membantahnya (bantahan inilah yang bisa justru menjatuhkan kita). Kenapa mengakui? sperti yang sudah saya bahas ditopik saya yang kedua: kita hanya membuat kita tertimpa tangga 'tika jatuh, seandainya kita menerima kita bisa melangkah lebih tinggi. Sampai sini pasti sudah jelas bukan kenapa kita resah ketika kita kalah?

Kedua, salah itu bukan cuma mencakup satu aspek. Aspek-aspeknya bisa meliputi:

  1. Dalam berpikir (mindset). Umpamanya dalam catur: memikirkannya itu sederhana, tapi langkahnya bisa jadi langkah brilian kalau dipikir baik-baik. Anggap musuh dalam caturmu itu dunia, mungkin kamu pintar, tapi dia bisa lebih pintar. Jadi harus bagaimana? Langkah kita, berpikir baik-baik dengan perencanaan atau siasat.
  2. Dalam bertindak. Acuan bertindak ini dari berpikir, tapi kalau bertindak dulu baru berpikir itulah salah langkah besar. Dalam catur sering disebut blunder. Makanya selalu hati-hati.
  3. Dalam bersikap. Sikap berkembang dari perasaan (emosi) dan mental. Lebih mudahnya lagi akan saya umpamakan dengan catur :joy:. Saat bermain, yang ikut bermain bukan cuma ego, otak, atau siasat; mental dan emosi juga hadir saat permainan. Jadi pertahankan emosional kita jangan sampai itu jadi kelemahan. Sampai sini pasti sudah mengerti kan kaitannya dengan kehidupan? kalau belum kamu bisa bertanya dikolom diskusi.

Kenali medan dan iklim (emosi), maka kemenangan anda akan lengkap” - Sun Tzu

Terakhir, saya mau berpesan hidup ini bukan hanya kompetisi. Kita tidak harus menang dalam menjalankan hidup, selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk diri sendiri maupun orang lain. Kamu yang membaca ini juga: jangan menyerah, kalah bukan akhir. Dan demikian, itulah beberapa pembahasan saya menganai topik ini yang saya tulis seringkasnya dan sejelasnya. Dan bagaimana pendapatmu kenapa kita resah 'tika kalah?

Mari kita memandang kekalahan sebagai awal baru, jangan takut kalah!