Tidak pernah seyakin ini

tidak pernah seyakin ini
ilustrasi : halaman Pinterest https://www.freepik.com/premium-vector/man-proposing-woman-proposal-marriage_5555489.htm

Semua cerita cinta akan membuat setiap orang tertarik untuk membacanya dan bahkan memimpikan memiliki kisah yang sama. Semua kisah yang berakhir bahagia membuat orang terbuai dengan kenyataan. Setiap kata cinta yang di ungkapkan melalui lirik dan sajak, membuat muda-mudi di mabuk asmara. Andaikan mereka dihadapkan pada kenyataan betapa tidak beruntungnya orang yang mencinta. Menjadi gila dan jatuh sejatuh-jatuhnya, membuat setiap hati menjadi patah. Datang seenaknya tanpa diberi undangan. Siapakah yang salah? mata atau hati? Aku tidak akan pernah menyalahkan mata, ia hanya tertarik akan hal indah. Lalu, apakah aku harus menyalahkan hati? yang berdetak untuk orang yang salah. Sekarang aku menjadi orang bodoh ketika menertawakan dirinya sendiri.

Aku melihat sekelilingku, penuh dengan fotonya. Ini bukan obsesi hanya peringatan kepada diri sendiri agar tidak jatuh ke lubang yang sama. Aku menghela nafas pelan, mengisi rongga paru-paru yang sejenak kehilangan fungsinya. Aku tidak masalah jika seandainya dia ingin pergi sebelum semuanya sempurna. Kita sudah dewasa, dan aku akan mencoba mengerti alasannya walaupun itu sakit. Tapi dia meninggalkanku ketika pernikahan hanya tinggal menghitung menit. Ada kekecewaan di mata kedua orang tuaku saat itu, bahkan aku melihat mata ibu berkaca-kaca. Kedua orang tuanya bahkan tidak tahu kemana putra semata wayang mereka itu. Betapa menyedihkannya aku saat ini. Mempelai wanita yang ditinggal pergi, sendirian di pelaminan tidak tahu harus melakukan apa. Perasaanku campur aduk antara marah, kecewa, benci dan ingin menangis. Tapi aku tidak mau menangis, air mataku tidak akan memberikan solusi. Yang harus dilakukan sekarang adalah menyelesaikan kekacauan pesta, patah hati urusan belakangan. Aku hanya ingin pihak laki-laki bertanggung jawab atas segala kerugian dan mereka menyetujuinya. Penyesalan terlihat jelas terlihat di mata pihak Andrian. Semua tamu berbisik-bisik dan satu persatu meninggalkan ruangan. Aku tidak peduli dengan mereka. Aku hanya ingin pulang ke rumah.

Sejak hari itu aku merasa tidak beruntung dalam percintaan. Hubungan yang dijalin bertahun-tahun kandas di tengah jalan. Aku menyerah akan cinta. Aku tidak mau membiarkan rasa itu tumbuh apalagi berbunga. Cinta kedua orang tuaku sudah cukup. Aku ingin bekerja keras dan melanjutkan hidup. Pria itu tidak akan kubiarkan merebut kebahagiaanku dan mendapatkan kembali simpatik dari diriku. Untuk tetap bertahan pada prinsip tidak mudah karena ayah dan ibu selalu membujuk untuk mencari pasangan. Beberapa kali aku meyakinkan mereka bahwa keputusanku sudah bulat, tidak ada pria selain ayah.

" Rani, sampai kapan nak?" tanya ibu saat makan malam sedang berlangsung.
Aku berhenti mengunyah sembari melihatnya.

“Maksud ibu? Rani tidak mengerti bu.” Sebenarnya aku mengerti arah pembicaraan ibu, aku hanya lelah selalu ditanyakan hal yang sama.

“Sudah 3 tahun nak, mustahil kamu belum menemukan pria yang tepat. Ibu tahu kamu belum bisa melupakan Andrian. Tapi nak, ibu mau kamu bahagia. Pria itu jangan di pikirkan. Dengan keadaanmu sekarang akan membuat orang berpikir yang bukan-bukan Ran. Nanti kamu disangka belum bisa melanjutkan hidup karena masih menunggu Andrian.” Aku tahu sekarang ibu sedang mengutarakan perasaannya. Ibu benar tentang itu, tapi hatiku belum siap menanggung semua kemungkinan buruk.

“Kamu itu anak satu-satunya ayah dan ibu. Kamu itu kebanggaan ayah Ran, kami hanya ingin yang terbaik untuk kamu, tidak baik hidup sendiri nak.” Perkataan ayah menyentuh hatiku.

Apa aku harus mencoba demi ibu dan Ayah? menantang trauma masa lalu. Hati ini pesimis dan pikiran berkata tidak. Tapi apa yang lebih berharga dari senyuman kedua orang yang paling aku sayangi. Aku akan mencoba sekali lagi. Dan jika berhasil maka itu takdir.

“Rani akan mencoba, hanya sekali tidak lebih.” Kataku memutuskan.

Tentu saja kedua orang tuaku sangat bahagia. Mereka tidak masalah jika aku hanya mau mencobanya sekali. Sudah lebih dari cukup kata mereka. Semoga ini pilihan yang tepat. Kedua orang tuaku melanjutkan makan malam mereka dengan wajah yang tidak berhenti tersenyum. Setidaknya aku menjadi sumber kebahagiaan mereka malam ini.

Tidak lama sejak percakapan itu berlangsung, 3 hari kemudian pria yang ingin diperkenalkan ibu kepadaku datang ke rumah. Aku hanya ingin mengabulkan keinginan sederhana ibu dan setelahnya akan kukatakan tidak ada kecocokan antara aku dengan pria itu. Ibu terlihat sangat bersemangat saat ibu memperkenalkan pria di hadapanku ini. Namanya Sandi dan dia lebih tua 2 tahun dari aku. Dia pria yang mapan dan aku akui dia menawan. Tapi aku tidak merasakan ketertarikan pandangan pertama seperti kepada Andrian. Apa yang aku lakukan? membandingkan Sandi dan Andrian?.

Setelah pertemuan itu, ibu terus saja membujuk aku bertemu dengan Sandi. Aku hanya bisa mengabulkan permintaannya. Sejak saat itu kami terus bertemu dan aku mulai terbiasa dengannya. percakapan diantara kami seakan mengalir begitu saja, sangat alami. Kami tidak banyak memiliki kesukaan yang sama tapi kami seakan tidak peduli. Dia sopan dan mengerti bagaimana cara memperlakukan wanita dengan hormat. Apakah aku jatuh cinta dengan Sandi? jawabannya tidak. Aku hanya merasa nyaman bersamanya lebih ke arah persahabatan. Apakah di dalam persahabatan tidak pernah timbul cinta? aku tidak bisa menjawabnya.

Saat tangan yang aku ulurkan tanda persahabatan dia menawarkan cinta. Hari itu saat dia mengatakan akan datang malam ini untuk melamar membuatku tertawa. Aku bahkan memukul lengannya seakan kalimat yang diucapkannya adalah lelucon. Tapi bagaimana jika lelucon menjadi kenyataan? Lelucon bagiku tapi tidak untuk Sandi. Apa yang kulihat malam ini membuat kedua mataku tidak berkedip. Aku melihat Sandi dan keluarganya di ruang tamu sedang berbicara dengan ayah dan ibu. Aku sudah mulai aneh saat melihat mobil Sandi ada di depan rumah tapi ada beberapa mobil lain yang tidak aku kenal. Aku melangkah perlahan ke dalam rumah, entah mengapa perasaanku tidak enak.

“Rani sini nak.” Ibu melambaikan tangan memanggil duduk di sampingnya. Aku baru saja pulang kerja. Sebenarnya aku harus lembur malam ini, tapi ibu mengatakan ada keadaan darurat dan aku terpaksa pulang. Saat melihat ayah dan ibu terlihat bugar, ada sedikit kelegaan di hatiku. Setidaknya hal darurat yang ibu maksud bukan mengenai masalah kesehatan mereka. Melihat Sandi dan keluarganya, aku tahu itu keluarga Sandi, aku yakin walaupun belum pernah bertemu. Ini memang hal darurat. Sandi tersenyum ke padaku dan aku menatapnya bingung.

“Bagaimana jadinya pak? seperti yang sudah kita bicarakan tadi, apakah Rani bersedia?” Pria yang berbicara itu sepertinya ayah Sandi.

“Saya sangat senang dengan nak Sandi, apalagi saya sudah mengenal betul siapa Sandi dan keluarga. Tapi keputusan terserah kepada anak saya Rani.” Ayah melihat kepadaku.

“Ini ada apa sebenarnya, Rani tidak paham.”

“Mereka hendak melamar kamu untuk Sandi nak.” Ibu menjawab pertanyaan yang mengguncang hidup ku.

“Ran, aku sudah bilang sama kamu tadi siang akan datang melamar malam ini bukan?” Jawaban Sandi membuatku pusing. aku hanya bungkam.

Tiba-tiba Sandi menghampiri dan memegang tanganku. Seakan dia tahu apa yang aku pikirkan. Aku sedang meragu saat ini. Mencoba mencerna semua peristiwa yang terjadi. Ini terlalu mendadak, apakah aku siap?

“Aku tahu apa yang membuat kamu ragu, jelas itu sulit. Aku tidak akan menjanjikan banyak hal yang belum tentu bisa aku tepati, aku juga tidak menjamin kamu akan mencintai diriku, tapi beri aku kesempatan untuk membuktikan diri sehingga cinta akan datang dengan sendirinya. Aku memilih kamu bukan karena cinta yang menggebu-gebu tapi karena aku yakin kamu bisa menyempurnakan diriku. Aku memilih takdirku Ran, dan jalannya menuju kamu.”

Mataku berkaca-kaca mendengar kata-katanya. Setiap kata yang diucapkannya membuat diriku ingin mengabaikan prinsip yang sudah kutanamkan. Entah mengapa hati ini tau kalau Sandi tulus. Aku belum pernah merasa seyakin ini dalam menentukan pilihan. Aku berharap pilihan ini tidak salah.

3 Likes