Tidak ada yang Benar

images (16)

Alkisah seorang ayah dan anak, dimana ayahnya mengatakan kepada anaknya, apapun yg kita lakukan di dunia ini belum tentu benar. Dan sang ayah mengatakan akan membuktikan ucapan. tsb pada esok harinya.

Pada keesokan harinya, diambil seekor keledai, dan sang ayah menyuruh anaknya naik ke keledai itu, dan sang ayah menariknya. saat melewati pasar, orang-orang di pasar mengatakan :
“Anak yg tak tau diri, orangg tua sudah setua itu disuruh menarik keledai, dan dia enak enakan duduk di atas keledai.”

Sampai di rumah, sang ayah mengatakan kepada anaknya, sudah dengarkan apa yangg di katakan orang. Besok kita coba lagi, tapi kamu yg menarik keledainya, ayah yangg menaiki keledainya.

Keesokan harinya seperti yang sudah di rencanakan, orang-orang pasarpun mengatakan :
“Memang orang tua tak tau diri,anak sekecil itu di suruh menarik keledai, sedang dia duduk enak di atas keledai.”

sampai di rumah, sang ayah mengatakan kepada
anaknya, sudah dengarkan apa yg di katakan orang. Besok kita coba lagi, kita berdua akan menaiki keledai ini bersama², dan saat melewati pasar, orang² di pasar mengatakan, “Memang sepasang ayah dan anak yang tidak tau diri, makhluk selemah keledai dinaiki bersama².”

Sampai di rumah, sang ayah mengatakan kepada anaknya, sudah dengarkan apa yg di katakan orang. Besok kita coba lagi, tapi kali ini keledai ini akan kita bawa jalan bersama² kita tanpa kita naiki. Pada saat melewati pasar, orang² di pasarpun mengatakan, “Memang orang yg goblok, bukan di naiki dan di gunakan sebagai alat transport, malahan dibawa jalan tanpa dinaiki.”

Sampai di rumah, sang ayah mengatakan kepada anaknya, Sudah dengarkan apa yg di katakan orang…

Pesan Moral bagi kita:
Apapun yg kita lakukan, walaupun itu benar, tapi belum tentu benar di mata org. Maka jalanilah hidup ini sesuai dgn kata hati kita dengan segala Kebaikan. SEMOGA SEMUA BAHAGIA

Apa pesan moral dari kisah tersebut?

SUMBER :

Kita juga pasti mengalami dan melakukan sesuatu yang barangkali baik dan benar menurut kita, namun penilaian itu hanya sebatas menurut kita. Artinya, sifatnya relatif. Karena sifatnya relatif maka bisa mengakibatkan multi tafsir.

Sesuatu yang menurut kita sendiri itu baik dan benar, namun belum tentu baik dan benar menurut-Nya. Sebaliknya, sesuatu yang menurut kita tidak baik dan tidak benar, boleh jadi itu yang baik dan benar menurut-Nya. Sebab, kebenaran mutlak itu hanya milik-Nya semata. Manusia tidak mempunyai kebenaran yang dimaksud.

Maka tidaklah elok, bila ada di antara kita yang menganggap dirinya paling baik dan benar, sementara orang lain ia anggap salah atau tidak benar. Kelompok yang satu menganggap dirinya benar, sedangkan kelompok-kelompok lainnya selalu salah. Hanya dirinyalah yang benar, sementara yang lain salah. Orang yang bergabung dengan kelompoknyalah yang ia anggap benar, sedangkan yang tidak mau bergabung dengan kelompoknya ia anggap salah dan “sesat.”