Teman Baik_ Lomba Cerpen tema manusia dan cinta

Teman Baik

Meski satu kelas, jangankan bercakap dengannya. Tahu namanya saja hanya sekilas dari panggilan teman-teman. ‘Ravi’. Sebenarnya aku tidak ada urusan dengan murid yang amat pendiam itu. Yang selalu mendapat sanjung puji dari setiap guru. Nilai tertinggi di setiap mapel. Matematika, Bahasa, maupun Ilmu pengetahuan lain. Dia selalu berambisi mendapat sanjungan dari semua orang. Hingga mama dan papaku selalu membawa namanya ketika memberi nasihat.

“Jadilah seperti Ravi. Dia anak yang jujur, pintar dan tidak banyak masalah.” Papa mengenal Ravi dari cerita pak Hasan, wali kelasku di sekolah. Pak Hasan selalu memuji Ravi dihadapan orang tua murid yang lain ketika pembagian rapor. Nama ‘Ravi’ selalu dijadikan contoh yang amat membanggakan.

Sebut namaku Hanani. Siswi kelas dua SMA disalah satu sekolah negeri Medan. Sedikit aku ceritakan jika sejak sekolah dasar, aku selalu mendapat rangking satu. Seorang putri dari insinyur perusahaan yang bergerak dalam proyek pembangunan ‘maha besar’ di negeri ini. Papa bersama teman-temannya bisa menyulap laut yang indah menjadi tempat wisata mahal, perumahan elite kelas internasional atau sebuah kota impian sekalipun. Mengubah air menjadi daratan. Tentu bukan hanya dengan modal ‘abrakadabra’. Semua dengan proses. Surat perizinan, persetujuan, kadang ditolak penduduk setempat. Tidak jarang demo berkali-kali dari warga yang menolak digusur akibat lahan mereka telah dijual pada perusahaan papa. Tapi hanya sebentar. Apa mau dikata? Mereka mengalah pada nasib dan penguasa. Itulah yang aku tahu dari pekerjaannya.

Berkali-kali papa terus menasihatiku dengan perkataan yang sama.

“Jadilah seperti Ravi. Dia anak yang jujur, pintar dan tidak banyak masalah.”

Sungguh aku bosan. Seorang papa yang terhormat di perusahaannya bisa semangat sekali menyebut nama anak laki-laki itu. Padahal tidak pernah sekalipun mereka bertemu. Ravi seperti cerita dalam negeri dongeng yang selalu dijadikan tokoh protagonis panutan anak-anak. Ravi… Ravi… Puh! Apa istimewanya anak laki-laki itu?

Hingga suatu malam yang sangat senyap. Nama itu terngiang kembali dikepalaku.

“Han… Harus berapa kali mama menyuruhmu belajar? Sejak kau masuk SMA kau jarang sekali membuka buku pelajaran. Main gadget terus setiap waktu.” Mama terus mengomel.
“Han… Kau dengar Mama, nak? Kau banyak berubah sekarang. Waktu di Jakarta, kau semangat sekali sekolah. Tidak pernah ada guru yang protes nilai ulanganmu anjlok. Sekarang kau pindah di disini, hampir seluruh guru bilang pada Mama jika nilai ulanganmu terjun bebas. Ayolah nak, kau bisa tanya anak genius itu jika kau belum paham. Dia pasti mau membantu. Ravi…”

“Cukup Ma! Apa istimewa anak laki-laki itu? Seluruh guru memujinya. Hingga kedua orang tuaku sangat kompak membawa namanya dalam tiap nasihat kalian. Jadilah seperti Ravi… Ravi… Dan Ravi. Dia siswa biasa di sekolah, Ma!” Aku mendadak meluapkan amarah pada Mama.

Entah mengapa, aku benci dengan nama itu. Langsung terbayang wajahnya yang menyebalkan saat dipuji guru dan teman-teman.
Maka detik itulah. Aku berjanji akan mengalahkannya. Merebut prestasiku yang sempat tertinggal jauh di belakang. Supaya nama itu hilang dari ingatan mama dan papa.
~
Hari itu udara terasa terik di langit kota Medan. Pelajaran bahasa yang amat aku sukai akhirnya selesai bersamaan dengan menjauhnya sosok wanita empat puluh tahunan itu dari ruangan kelas. Hari ini siswa mendapat tugas menceritakan profesi salah satu anggota keluarganya. Di jadikan sebuah karangan. Tugas harus dikumpulkan esok hari. Itu PR paling mudah yang pernah aku dapatkan. Daripada harus menghafal materi biologi, fisika atau kimia. Namun tak sedikit pula yang mengeluh. Mereka tidak jago dalam hal mengarang. Dan ini menjadi kesempatan bagiku merebut nilai tertinggi mengalahkan si bintang kelas.

Bel istirahat berbunyi nyaring. Mengajak semua siswa segera keluar dari kelas. Begitu pula denganku. Lapar dan dahaga. Kuputuskan ke kantin sekolah. Sendirian. Aku memang terbiasa sendiri. Meski dua tahun di sekolah yang jauh dari kota kelahiranku. Harusnya aku bisa beradaptasi cepat. Namun sebaliknya. Aku lebih menikmati berteman seadanya. Dengan semua anak tanpa membedakan. Berbeda dengan memilih sahabat, itu cukup sulit. Belum ada yang masuk kriteria teman baik.

Bangku kantin sekolah sudah cukup penuh. Hanya tersisa beberapa tempat duduk. Hingga seorang lelaki mempersilakan aku duduk di salah satu kursi. Aku mengangguk menerima kebaikannya.
“Boleh aku bergabung disini?” Aku hampir tersedak menyadari kedatangannya yang tiba-tiba.

Dua tahun aku satu kelas dengannya, baru pertama kali dia berkomunikasi langsung denganku di kantin kelas. Masih ada satu kursi tersisa. Aku yang saat itu asyik melahap semangkuk bakso berkuah pedas buru-buru menjawab pertanyaannya dan memasang wajah biasa saja seperti dirinya.

“Sudah berapa buku yang kau baca, Han?” Ravi melirik dua buku cerita fiksi yang tergeletak diatas meja.

“Aku tidak menghitungnya.”

“Dulu waktu aku kecil, Mamak pernah berkata, ‘jadilah Ravi yang suka membaca. Karena firman Allah yang pertama turun adalah perintah untuk membaca’.”

“Lalu?” Aku menjawab singkat. Sebenarnya maksudku ‘lalu apa hubungannya denganku?’

“Aku benci dengan buku bacaan. Cerita dongeng. Yang terlalu imajinatif. Diluar logika manusia. Mamak pernah membacakan cerita dongeng tentang seorang dimasa depan yang bisa merubah daratan menjadi lautan. Ataupun sebaliknya. Dari lautan menjadi daratan. Itu adalah dongeng yang paling aku bosan mendengarnya.” Ravi masih duduk di depanku. Berbicara seraya menyendok bakso dalam mangkuknya.

“Reklamasi maksudmu? Itu bukan dongeng.” Jawabku.

“Aku tahu kau akan mengatakan demikian. Kau anak dari seorang insinyur. Reklamasi bukanlah dongeng bagimu. Karena papamu bisa menjelaskannya. Lain denganku. Yang hanya menjadi korban dari rakusnya para penguasa.” Ravi tetap berkata dengan datar. Seperti menyamarkan maksud kalimatnya.
Menggantung. Aku tahu ujung kalimatnya masih bisa diteruskan. Namun dia memilih menutup percakapan siang itu di kantin sekolah. Apa maksud menjadi korban rakusnya para penguasa?

Ruangan 4×4 meter persegi itu lengang. Aku masih menyelesaikan tugas mengarang cerita yang diberikan guru bahasa. Tentang mama dan papa. Seorang insinyur perusahaan yang terlibat dalam sejumlah proyek pembangunan kalangan elite. Aku bangga dengan papa. Meski sebenarnya pekerjaan beliau pula yang memaksa kami harus pindah ke Medan. Ada proyek yang menurut papa penting di kota ini.

Esok harinya di sekolah, semua tugas dikumpulkan pada guru bahasa. Bu Ratna namanya. Badannya tinggi, gempal dengan tatapan mata galak pada anak yang malas mengerjakan tugas. Aku tidak sabar melihatnya mencermati tiap karangan siswa. Ravi pasti tidak akan menang dalam tugas bahasa kali ini.

“Ravi!” Seru bu Ratna memanggil sosok menyebalkan dengan wajah datar itu. Rasakan. Pasti dia mengarang cerita yang jelek. Tidak masuk akal.

“Jadi sebelumnya kau pernah tinggal di pesisir laut? Dimana, nak? Kau bukan asli orang Sumatera? Maafkan jika ibu lupa latar belakang seorang bintang kelas yang amat pendiam sepertimu. Kau bisa maju ke depan menceritakan ulang apa yang kau tulis di selembar kertas tugas ini?” Perkataan itu telah membuatku tergugu. Bu Ratna akan memuji anak menyebalkan itu lagi?

Sosok anak laki-laki itu melangkah mantap ke depan kelas. Tatanan rambut dengan predikat paling rapi dari ratusan siswa yang lain. Pandangan matanya tidak menyiratkan dia takut atau grogi di depan kelas.

“Bapakku seorang nelayan. Sebelum pindah ke Sumatera, tepatnya di kota Medan. Aku tinggal di sebuah tempat yang terkenal dengan kampung terapungnya. Berdiri diatas perairan laut. Itu seperti dongeng bagi kalian yang hidup di daerah daratan dengan bentang alam normal. Kampung kami mengapung. Puluhan penduduk terdaftar sah sebagai warga yang diakui dan dilindungi negara. Awalnya kehidupan kami baik-baik saja. Kampung yang damai. Teratur. Kehidupan di pesisir laut dengan menangkap ikan, berdagang di pasar terapung, pun pekerjaan lain layaknya penduduk kampung daratan. Nelayan adalah pilihan kedua bapak. Bapak juga bekerja sebagai kuli bangunan. Beliau menerima pekerjaan apa saja asalkan halal. Selama tidak menyakiti orang lain. Sedangkan Mamak adalah seorang guru ngaji dengan upah seikhlasnya. Bagi mamak, memberikan ilmu agama tidak bisa dipatok dengan harga. Beliau adalah teladan kehidupanku. Sederhana dalam menjalani kehidupan. Mencintai sesama manusia. Mencintai alam. Serta cinta pada pekerjaan yang halal…” Ravi menggantungkan kalimatnya. Tiba-tiba sorot matanya jatuh tepat di kedua bola mataku.

“Hingga sekelompok manusia membawa surat perintah mengosongkan lahan seluruh kampung kami. Entah berapa hektar luasnya. Aku masih sepuluh tahun waktu itu. Belum tahu apa-apa tentang mereka. Hingga aku paham jika merekalah sosok yang selama ini mamak ceritakan dalam dongeng pengantar tidur. Jika akan ada manusia yang merubah lautan menjadi daratan. Meruntuhkan kampung terapung yang sudah menjadi tanah tumpah darah kami. Ketika kapal besar merapat di dermaga. Dengan membawa pasukan pengamanan guna mengawal seorang pejabat elite negeri. Kampung kami telah dijual. Itu kesimpulan yang aku dengar dari rangkaian kisah penolakan warga kampung beberapa tahun sebelumnya. Alasannya sederhana. Demi memajukan warga kampung terapung yang semakin tertinggal. Fasilitas MCK yang buruk, kesehatan dan pendidikan yang menurun. Menjadi alasan kampung kami akan dipindah menuju tempat yang sudah ditentukan. Mamak dan bapak enggan lagi berada di pulau itu. Memutuskan pergi jauh menyeberang menuju Sumatera. Mamak terlanjur sakit hati dengan mereka yang seenaknya menggusur warga kampung. Ketika satu per satu bangunan dirobohkan. Rumah kami pun ikut menjadi sasaran. Kami menjemput kehidupan baru di pulau ini. Menjadi petani sawah tadah hujan.” Ravi menutup kalimatnya.

Papa, aku baru tahu maksud kalimatnya di kantin tempo hari. ‘Korban rakusnya penguasa’. Aku salah mengira selama dua tahun. Dia menyebalkan bagiku karena aku tidak bisa mengalahkan prestasinya. Papa, selama ini dia tahu jika aku anak seorang insinyur perusahaan yang terlibat dalam proyek reklamasi kampung terapungnya.

“Ravi!” Aku baru pertama kali menyebut namanya. Berlari mengejarnya lepas pulang sekolah. Jantungku berdegup kencang.
“Han… Kau baik-baik saja?” Dia menatapku datar.

“Aku mengira kau anak yang berambisi mengejar prestasi, sanjungan dari orang lain. Sebaliknya, akulah yang demikian. Juga papa yang amat aku hormati. Kami keluarga penuh ambisi. Aku kira Papaku adalah orang yang hebat. Seorang insinyur. Tapi dia melupakan hakikat manusia dan cinta. Sebodohnya manusia, dia masih memiliki cinta. Pada sesama manusia, alam, pun pekerjaan yang tidak menyakiti orang lain. Maaf aku selama ini salah menilaimu. Pantas saja, Mama dan Papa selalu menyebut namamu dalam tiap nasihat mereka. Maafkan pula atas perlakuan Papa yang menyakiti warga kampung terapung.” Aku meneteskan air mata di depannya. Tidak bisa membayangkan luka masa lalunya.

“Sebelum kau minta maaf, Papamu sudah lebih dulu membayarnya. Papamu adalah teman baik Bapakku. Jalannya saja yang berbeda. Aku baru tahu dua tahun lalu saat kau akhirnya pindah ke Medan. Papamu membantu biaya sekolahku, Han. Sebagai permintaan maafnya. Sudahlah Han. Semua sudah terjadi. Maukah kau menjadi teman baik di sekolah maupun di luar sekolah?” Ravi menatapku datar. Tapi kali ini matanya berbinar. Tangannya terjulur ke depan.

Aku mengangguk. Menerima jabatan tangannya.