Takwa adalah Kunci Kebersihan Hati dan Akhlak yang Mulia

image

Tidak sedikit orang yang terjebak oleh puja dan pujian dari sesama manusia. Mendapat pangkat atau jabatan yang tinggi, lantas mendapatkan kebahagian yang sifatnya sementara. Kenapa sementara? Karena itulah sifat dasar yang dimiliki oleh manusia, rasa tidak puas akan apa yang dicapai maupun dimilikinya.

Setelah dipuji sekali oleh seseorang mereka senang akan hal itu, tapi, tidak puas sampai situ saja, mereka mau yang lebih dari itu. Hingga mereka selalu berusaha melakukan apapun hanya untuk dimuliakan oleh sesamanya. Ketika dimuliakan oleh orang lain, memanglah berjuta rasanya, tapi, sadarlah itu sementara dan tidak menyeluruh.

Maksudnya tidak menyeluruh itu bagaimana, sih? Artinya, tidak akan pernah bisa semua orang dari seluruh penjuru mana pun akan memuliakanmu, sekalipun orang di sekitarmu sudah memuji atau memuliakanmu. Atau bahkan, orang terdekat yang ada di sekitarmu pun boleh jadi tidak sudi untuk memujimu. Jadi, untuk apa melakukan hal-hal yang orang lain belum tentu memujimu.

Mengapa kamu tidak mengubah cara berpikirmu saja dengan mengubah rasa ingin dipujimu itu kepada Allah. Kamu ingin dipuji atau dimuliakan oleh Allah, Sang Pencipta langit dan bumi ini. Bukankah, hal itu lebih baik bagimu, bagi kita untuk melakukan hal-hal yang bisa menghadirkan kemuliaan diri kita di hadapan maupun di sisi Allah SWT?

Bagaimana caranya agar mulia di hadapan-Nya, yaitu dengan meningkatkan takwa. Yang mana, takwa itulah yang akan melahirkan seberapa mulia akhlak yang dimiliki oleh seseorang hingga Allah memuliakan orang tersebut. Maka dari itu, kunci dari akhlak mulia adalah sebuah takwa, bagaimana Al-Qur’an memandang sebuah hakikat takwa?

Sebagaimana yang yang termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13:

يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَأُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقٰىكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِير

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Kemudian, ayat ini ditafsir oleh Ath Thobari rahimahullah, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian –wahai manusia- adalah yang paling tinggi takwanya pada Allah, yaitu dengan menunaikan berbagai kewajiban dan menjauhi maksiat. Bukanlah yang paling mulia dilihat dari rumahnya yang megah atau berasal dari keturunan yang mulia.” (Tafsir Ath Thobari, 21:386)

Berdasarkan penafsiran di atas, dapat ditarik maknanya adalah, Allah telah menciptakan manusia dengan berbeda rupa, strata, harta, tapi, bukan perbedaan itu yang menjadi poinnya. Memang, di mata manusia, pembeda itulah yang menjadikan seseorang layak dimuliakan atau tidak. Berbeda dengan pandangan Allah, Dia, tidak pernah membedakan makhluk-Nya dengan kategori-kategori tersebut.

Bagi-Nya, berdasarkan surat Al-Hujurat ayat 13 di atas, bahwa orang mulia di sisi-Nya adalah orang-orang yang bertakwa. Dan, tujuan dari perbedaan yang diberikan oleh Allah pada kita adalah untuk saling mengenal, selebihnya kita adalah sama di mata Allah, kecuali ketakwaannya. Ayat ini juga dikuatkan oleh hadis tentang takwa berikut:

عَنْ أَبِى ذَرٍّ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لَهُ انْظُرْ فَإِنَّكَ لَيْسَ بِخَيْرٍ مِنْ أَحْمَرَ وَلاَ أَسْوَدَ إِلاَّ أَنْ تَفْضُلَهُ بِتَقْوَى

Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Lihatlah, engkau tidaklah akan baik dari orang yang berkulit merah atau berkulit hitam sampai engkau mengungguli mereka dengan takwa.” (HR. Ahmad, 5: 158)

Lantas, timbullah pertanyaan, bagaimana cara menjadi orang yang bertakwa itu agar melahirkan sebuah akhlak yang mulia di hadapan-Nya? Caranya sudah terangkum dalam Al-Qur’an surat Al-'Imran ayat 133-135.

Al-'Imran ayat 133

وَسَارِعُوٓا إِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

Al-'Imran ayat 134

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكٰظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Al-'Imran ayat 135

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلٰى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Berdasarkan ketiga ayat di atas, orang yang bertakwa akan mendapat balasan berupa surga yang seluas langit dan bumi. Siapa orang yang bertakwa itu? Ialah orang yang selalu menafkahkan hartanya, saat lapang maupun sempit, menahan amarah, memaafkan kesalahan, tidak berbuat keji, selalu ingat pada Allah, dan selalu bertaubat. Jika semua hal ini dilakukan atas dasar takwa seseorang, maka, muncullah sebuah gelar yang dinamakan akhlak mulia yang disukai bahkan dicintai oleh Allah SWT.

Selain itu, dengan adanya takwa dalam diri seseorang, maka, akan melahirkan hati yang bersih dalam dirinya itu. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis berikut:

Diriwayatkan dari Abdullah bin 'Amr bin 'Ash, beliau berkata, “Rasulullah SAW pernah ditanya, ‘Siapakah orang yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Setiap orang yang bersih hatinya dan benar ucapannya.’ Para sahabat berkata, ‘Orang yang benar ucapannya telah kami pahami maksudnya. Lantas apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya?’ Rasulullah SAW menjawab, 'Dia adalah orang yang bertakwa (takut) kepada Allah, yang suci hatinya, tidak ada dosa dan kedurhakaan di dalamnya, serta tidak ada pula dendam dan hasad.” (HR Ibnu Majah).

Hadis di atas sudah sangat jelas bahwa kebersihan atau kesucian hati seseorang hanya bisa didapatkan ketika seseorang itu sudah bertakwa, melakukan perbuatan terpuji yang sudah disebutkan sebelumnya, memelihara akhlak yang mulia itu hingga akhir hayatnya. Mustahil, orang yang belum bertakwa akan memiliki hati yang bersih ataupun suci. Orang yang menginginkan hatinya bersih, akan selalu berusaha untuk menjauhi hal-hal yang bisa membuat hatinya kotor, dengan selalu berbuat apa yang Allah perintahkan.

Jadi, untuk mendapatkan kesucian atau kebersihan hati dan akhlak yang mulia, itu semua kembali lagi pada ketakwaan seseorang. Karena, ketakwaan adalah kunci lahirnya sebuah hati yang bersih dan akhlak yang mulia di sisi Allah. Pada hakikatnya, jika ingin dimuliakan oleh Allah, adalah dengan bertakwa, yang mana takwa itu akan terbukti dari akhlak yang mulia, bukan jabatan terhormat, harta berlimpah, atau hal-hal lainnya yang bersifat duniawi. Dengan selalu menjaga kebersihan hati dan akhlak yang mulia dengan landasan takwa, maka, Allah akan memuliakan hamba-Nya. Ketika Allah sudah memuliakan Hamba-Nya itu, maka, seluruh dunia pun akan ikut memuliakan.

Referensi:

9 Likes