Suryakanta Elegi Kaum Jelata

rakyat-miskin
Kaum buruh berkabung dengan lambung kembung
Menjejaki peradaban terus terputar bersambung

Retensi Marsinanah dan kawan-kawan tak pernah terselesaikan
Munir hilang atas napas kaum kelas bawah telah dilupakan
Perempuan liyan diperkosa dialienasikan

Mahasiswa berlabel babil insinuasi berdiri di gedung perwakilan rakyat untuk berkorban
Pengubah reformasi berujung badan terbujur kaku, bermandi darah, bersiar berita kehilangan
Nyawa yang dirampas di atas sandiwara tikus-tikus lapar tak berkesudahan
Saksi harus kuat menahan segala ketertindasan
Kebencian takkan menang, dendam dipendam, sembunyikan seakan tenang berzaman-zaman
Nama abadi sekadar menjadi sejarah bisu yang dilupakan

Jelata termarginalkan, tersubordinasi, dan penuh represi atas demarkasi
Negeri ini konon negeri yang besar, besar dengan berjuta bualan bagi petinggi
Akar rumput hanya dapat berpeluh memakan nasi aking sisa kemarin hari
Meminum air keringat atas jarak dan peluh lagi

Pesakit tidak mendapatkan kesempatan hidup atau mencecap manis bangku sekolah dasar
“Kau harus realitis, katanya”
Peraturan sebuah kontruksi penjilat memakan kenyang hak manusia sebagai ilusi
Jelata hanya menerima pedih, tusuk, atau caci maki atas palsunya janji

Zaman ini zaman edan, apalagi pandemi beredar tak ada celah untuk jelata
Petinggi dan penjilat duduk bersandarmenyantap lezat hak manusia
Hidup tak sesingkat berita kampanye dan sumpah janji kaum penjual asa
Jelata mencoblos petinggi dengan pretensi manis legit hingga sulit memisahkan asa dan realita

Lalu, si jelata meraung berdoa kepada Tuhan agar dipanggil cepat
Entah lewat angin yang masuk ke perut hingga mengenaskan dan melahirkan jenat

Ordonasi hanya konstruksi, desepsi, dan aklamasi petinggi asal tunjuk kian buruk
Iluminasi semakin terpuruk

Merah putih berkibar makin tinggi di bumi pertiwi adalah kemenangan alegori regresi dan aberasi
Merah dan putih memudar, jelata berbinar hanya koar, petinggi barbar berkibar

Mendorong kemunduran, intelektual sibuk memikirkan nasib sendiri terus, jelata semakin tergerus
Sampai kapan jelata terus mengikuti arus tidak lurus?

Coba kesampingkan hawa, biarkan kami bersuara
Mencicipi eksistensi pengharapan menjadi manusia
Kami sama, seorang manusia, ingin bebas mencicip suka
Jelata hanya sebuah istilah konstruksi saja!

sumber gambar: https://puisipendek1.blogspot.com/2013/03/puisi-jeritan-rakyat-jelata.html

2 Likes