SUGESTI SEMILIR


#dictioCommunity
#ghodavihusain
#cerita_pendek

SUGESTI semilir

Bertabuh rindu pada semesta, aku ditemani angin semilir senja ini. Seperti biasa aku pulang kerja hari ini, melewati jalan biasa, melakukan kebiasaan yang tak bisa kutinggalkan, membawakan sebungkus nasi untuk nenek paruh baya yang selalu duduk di tepian masjid. Aku tak peduli dengan isu yang tersebar entah virus apakah yang sudah melanda negeri ini, aku pria berusia 25 tahun ini sudah cukup bahagia dengan kebiasaanku ini, entah mengapa aku merasa damai setiap kali nenek itu menggenggam tanganku, aku punya prinsip berbuat baiklah tanpa memandang situasi dan kondisi maka seperti itu pula kebaikan mendatangimu.
Beralih ruang dan waktu bumi kembali mendatangkan senja untukku, aku itu sebuah isyarat bahwa cintaku pada ciptaan tuhan ini telah dibalas, pulang sore dari perusahaan tempatku bekerja seperti biasa aku membawa sebungkus nasi untuk sang nenek, tapi setibaku disana aku tidak melihatnya, aku bertanya ke orang sekitar mereka mengatakan nenek itu positif Corona, aku cemas bukan karena virusnya tapi dengan keadaan nenek itu, aku mengejarnya ke rumah sakit. Selangkah saja aku lebih cepat pasti aku masih bisa melihat menghirup nafas terakhirnya. Rumah sakit ini sangat ramai dengan pasien positif corona, aku dicegat dan diperiksa dokter dan akhirnya dokter memutuskan aku positif Corona, aku diisolasi, diasingkan dari keramaian, padahal aku belum sempat hubungi siapapun bahwa aku di rumah sakit, aku hanya takut keluargaku mencemaskanku.
Tangan gemetar, padahal aku tidak gerogi aku pun tidak takut firasatku mengatakan sebentar lagi aku akan menyusul nenek, aku tidak punya apa-apa, berobatpun biasanya aku pakai asuransi kesehatan, biasanya pelayanannya cukup buruk, aku lihat ratusan orang antri untuk dilayani, dan pada akhirnya aku akan bernasib sama seperti mereka, aku hanya bisa pasrah terbaring membayangkan semua kebahagiaan yang aku lakukan. Sesaat aku memejamkan mata, salah satu dokter membangunkanku, dokter itu menanyakan namaku “ Damer” jawabku pada dokter itu, tiba-tiba dia bertanya “apa hubungan bapak dengan nenek tadi?” aku menjawab “aku hanya orang yang selalu membawakannya sebungkus nasi setiap sore”, setelah itu mataku mulai berkilauan, kepalaku terasa pusing, dan pada akhirnya aku tidak sanggup membuka mata lagi, dalam tidur aku bermimpi bertemu nenek, aku memeluknya, mencium tangannya, mengatakan apa yang belum sempat aku ucapkan, aku minta maaf karena terlambat, aku mengungkapkan rasa sayangku, sudah kuanggap nenek kandungku, aku menangis di depan nenek, dia hanya bilang “sudah, perjalananmu masih panjang, jangan berhenti berbuat baik”.
Ruang hampa tempat pertemuanku dengan nenek adalah satu ruang kebahagiaan hakiki yang kurasakan, benar kata orang-orang dari ruang mendatangkan raung kemudian menjadi riang, dan beberapa jam kemudian aku tersadar dan didepanku ada dokter yang terakhir berbicara denganku, dia duduk disampingku sembari mengatakan “selamat anda orang pertama yang selamat dari virus ini pak” aku tidak tahu apa yang telah terjadi, aku mencoba bertanya “berapa lama aku dirawat dok?”,. “ini sudah pukul 9 malam semenjak tadi sore bapak dibawa ke rumah sakit ini”, melihatku bingung dia menceritakan semuanya, bahwa ia adalah anak dari nenek yang selalu kubawakan sebungkus nasi, neneknya adalah orang yang keras kepala, selalu hilang pantauan darinya, ternyata nenek itu selalu menungguku setiap sorenya, bukan karena sebungkus nasi yang kubawa tapi karena kebaikan yang kupunya. Setelah ia bercerita, aku bertanya kenapa ia bisa tahu aku punya hubungan dengan nenek itu, dokter itu menjelaskan “Damer, . Damer,. Damer, nama itu yang selalu ibuku lontarkan ketika akhir nafasnya, dan aku bertanya kenapa dengan damer? Dia bilang sembuhkan dia, inilah yang membuatku semangat dalam menemukan vaksin virus ini pak, berkat bapak juga, terima kasih pak, bapak telah terlibat dalam pembuatan vaksin ini”, aku tidak tahu harus bagaimana, jadi aku hanya bertanya kapan aku bisa pulang? Dokter itu bilang “kapanpun bapak mau”, karena khawatir dengan keluargaku aku bergegas bersiap-siap untuk pulang, jadi anak tunggal itu merepotkan terlalu over dalam penjagaan, aku masih memiliki ayah dan ibu tempatku memberitakan segalah hal tentangku, itulah yang harus kulakukan untuk saat ini.
Kembali lagi senja, aku bukanlah seorang yang berbeda masih dengan prinsip yang sama, hanya saja dengan kondisi yang berbeda, tidak ada lagi nenek yang harus kuberi sebungkus nasi, tapi itu bukanlah akhir dari kebaikanku, masih banyak nenek-nenek lain yang membutuhkan uluran tanganku, pasti sang nenek juga menginginkan hal yang sama, benar kan nek? Aku merindukanmu sampai berjumpa di surga nanti