Stuxnet, Data 500 KB Yang Bisa Memicu Perang Dunia Selanjutnya

Infiltrasi melalui penyamaran nampaknya tak lagi menjadi tren sabotase di masa depan. Sinyal-sinyal elektrik melalui kabel, atau cahaya yang dilewatkan serat optik lah yang akan menjadi senjata masa depan. Ya, selamat datang di era perang siber.

Infiltrasi melalui penyamaran nampaknya tak lagi menjadi tren sabotase di masa depan. Sinyal-sinyal elektrik melalui kabel, atau cahaya yang dilewatkan serat optik lah yang akan menjadi senjata masa depan. Ya, selamat datang di era perang siber.

Tahun 2010, Iran dikagetkan dengan kondisi tak lazim pada mesin sentrifugal pabrik uranium miliknya yang terletak di Natanz. Mesin sentrifugal merupakan tabung silinder yang berputar dalam kecepatan 1235 km/jam untuk memisahkan isotop pada uranium yang digunakan sebagai bahan pembagkit nuklir.

Hal ini diketahui setelah International Atomic Energy Agency melakukan inspeksi dan mendapatkan adanya penurunan laju yang tak pernah terjadi sebelumnya.

Perusahaan keamanan siber dari Belarus yang dipanggil untuk melacak apa yang terjadi, menemukan adanya sabotase oleh virus berukuran 500KB pada mesin. Hal ini menjadi senjata digital pertama di dunia, yang disebut stuxnet.

Tidak seperti virus yang lain, virus ini mampu merusak bangunan fisik yang dikendalikan melalui komputer. Senjata siber ini memanipulasi katup pada sistem yang kemudian meningkatkan tekanan di dalam mesin sentrifugal untuk merusak proses peningkatan uranium.

Yang menjadi pertanyaan adalah, siapakah pihak yang berada di balik virus ini? David E. Sanger dari New York Times, pernah melaporkan dalam bukunya, bahwa US-Israel pernah melakukan kerjasama pengembangan senjata penyerangan siber untuk menghentikan pengembangan nuklir Iran. Pejabat administrasi mengungkapkan kepada Sanger bahwa National Security Agency (NSA) dan Unit 8200 Israel lah yang bertanggungjawab atas pembuatan virus ini.

Sumber: