Strategi Mengatasi Stres bagi Mahasiswa Ketika di Rumah Saja

f642853fc790f135a564358a4dfd56e3

Menurut World Health Organization, kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya. Berdasarkan penelitian di Inggris dengan melakukan survei terhadap 3000 orang terdapat pernyataan bahwa kesehatan mental memang menjadi salah satu permasalahan dalam pandemi Covid-19 tahun ini. Hal ini disebabkan karena masyarakat tidak dapat bebas untuk beraktivitas di luar rumah dan dilanda kecemasan akan penyebaran Covid-19 yang semakin luas dan cepat. Keadaan tersebut juga terjadi pada mahasiswa perantau di yang diharuskan untuk meninggalkan tempat kost ataupun asrama dan tidak dapat menjalankan rutinitasnya beraktivitas di kampus untuk berkuliah ataupun berorganisasi.

Menurut World Health Organization, atau yang sering disingkat WHO menyatakan bahwa kurang lebih 20% remaja mengalami gangguan mental. WHO juga menyatakan bahwa 75% gangguan mental emosional memang umum terjadi pada usia 15-24 tahun, yang artinya pada usia tersebut merupakan usia-usia mahasiswa. Gangguan mental pada mahasiswa yang masih termasuk pada usia remaja biasanya berupa gangguan kecemasan berlebihan. Menurut Sri Maslihah, Psikolog klinis dan juga Dosen di Universitas Pendidikan Indonesia gangguan dapat terjadi karena lingkungan sosial yang selalu mengalami perkembangan dan perubahan secara cepat, serta pesatnya informasi media massa.

Dalam keadaan pandemi yang mengharuskan mahasiswa untuk pulang ke rumah masing-masing dan berkuliah di rumah saja. Hal tersebut dipandang sebagai cara terbaik untuk memutus rantai penyebaran Covid-19, dikarenakan jika berkuliah dan berada di kostan akan menciptakan kerumunan yang di dalamnya tidak kita ketahui siapa dalam kerumunan tersebut yang terinfeksi. Namun disisi lain terdapat banyak mahasiswa ketika di rumah semakin membuat ia merasa cemas yang berlebihan dan terbebani oleh beberapa permasalahan di rumah.

Bentuk kecemasan mahasiswa yakni berupa cemas akan penyebaran virus covid-19 di sekitar tempat tinggal, cemas akan deadline tugas yang sempit, cemas akan pengiriman tugas yang terganggu oleh jaringan internet yang lambat, dan cemas akan jam perkuliahan yang tidak menentu. Sedangkan beberapa bentuk permasalahan di rumah yang dialami yakni pertengkaran dengan adik atau kakak yang menganggu saat mahasiswa sedang ada jam kuliah ataupun saat mengerjakan tugas, masalah pertengkaran orang tua, masalah dengan perbedaan pendapat dengan orang tua karena terkadang orang tua tidak memperhatikan situasi dan kondisi ketika mahasiswa sedang menunaikan kewajibannya untuk mengikuti perkuliahan daring, dan masalah selanjutnya mungkin tidak semua mahasiswa mengalaminya yakni masalah perekonomian orang tua yang semakin sulit karena pandemi Covid-19 dan orang tua menceritakannya pada mahasiswa sehingga ia pun turut memikirkannya.

Dari berbagai bentuk kecemasan dan masalah yang dihadapi mahasiswa ketika di rumah saja, menyebabkan terganggunya kesehatan mental mahasiswa yakni berupa stres. Menurut Lazarus dan Folkman (1984), stres berkaitan erat dengan interaksi manusia dan lingkungan, karenanya stres bisa dipahami sebagai hubungan atau interaksi antara individu dengan lingkungan yang dihayati sebagai beban atau dirasakan melebihi kekuatannya. Stres yang dialami oleh kebanyakan mahasiswa juga karena ia mengalami perubahan dalam hidupnya ketika ia diharuskan untuk kuliah di rumah. Perubahan yang secara cepat dan mendadak tidak dapat diterima dengan mudah bagi mahasiswa, banyak mahasiwa yang tidak siap sehingga ia cenderung terbebani akan kebijakan untuk berkuliah di rumah saja. Kuliah yang dilakukan secara daring di rumah menyebabkan semakin kebingungan untuk menentukan prioritasnya untuk berkuliah atau menuruti perintah orang tua.

Kebingungan, kecemasan, masalah dalan rumah menyebabkan mahasiswa stres. Mahasiswa juga tak mampu berbuat ketika caranya menghilangkan stres biasanya pergi ke luar rumah untuk sekedar ngobrol dengan teman secara tatap muka, berbelanja, menonton konser, ataupun cara lainnya untuk menghilangkan stres, hal ini disebabkan oleh kebijakan pemerintah berupa phsycal distancing. Sehingga mahasiswa hanya mampu memendam dan semakin membuatnya menjadi stres dan kehilangan fokus saat sedang berkuliah atau mengerjakan tugas. Mahasiswa menjadi tidak bahagia karena tidak mempunyai kebebasan untuk menjalankan aktivitas sosial seperti biasanya. Mahasiswa tak mampu ingin bahagia tapi tak ia juga merasa kebingungan mengenai apa yang seharusnya ia lakukan untuk mendapatkan kebahagiaan agar tidak stres.

Untuk itu perlu dilakukan terobosan untuk menghilangkan stres dan tindakan yang dapat menciptakan kebahagiaan. Hal ini didasarkan pada pendapat The Dalai Lama yaitu “Happiness is not something readymade. It comes from your own actions” yang intinya kebahagiaan itu tidak diperoleh secara instan, melainkan kebahagiaan itu datang dari tindakan kamu sendiri. Beberapa terobosan yang dapat dilakukan oleh mahasiswa untuk menghilangkan kecemasan serta masalah ketika di rumah aja yaitu

  • Yang pertama, ialah olahraga atau berjemur karena olahraga dan berjemur merupakan salah satu anjuran pemerintah untuk mencegah terinfeksi Covid-19.

  • Kedua, menyalakan lilin aromaterapi karena dapat membantu untuk merilekskan pikiran.

  • Ketiga, kurangi mengkonsumsi kafein karena kafein dapat meningkatkan kecemasan.

  • Keempat, menulis karena dengan menulis seseorang dapat mencurahkan semua keluh kesahnya tanpa ada judgement.

  • Kelima, mengunyah permen karet karena bisa membantu lebih rileks.

  • Keenam, tertawa, hal ini dapat dilakukukan dengan menonton video-video lucu di sosial media ataupun bercanda dengan teman melalui grup whatsapp atau line.

  • Ketujuh, yakni belajar menunda sesuatu, karena ketika sesuatu itu semakin ditunda maka akan menyebabkan kecemasan yang belebih ketika deadline semakin dekat.

  • Kedelapan, yakni belajar untuk tidak terlalu panik akan penyebaran Covid-19, dapat dilakukan dengan cara tetap hidup sehat.

  • Kesembilan, yakni mengobrol dengan orang tua agar dapat memahami kegiatan perkuliahan yang ada di rumah, dan agar tidak bertengkar secara terus-menerus.

  • Kesepuluh, yakni berbelanja dari rumah, karena kebanyakan mahasiswi sangat suka berbelanja.

  • Kesebelas, yakni melalukan hobi yang sekiranya dapat dilakukan di rumah saja misalnya, melukis, membuat animasi, memasak, dan lain sebagainya.

  • Dan yang terakhir yakni mengikuti lomba agar tetap produktif ketika di rumah saja.

Ketika di rumah saja memang dapat menimbulkan kejenuhan, kecemasan, beberapa permasalahan yang dapat menimbulkan stres pada mahasiswa. Artinya, mahasiswa tidak merasa bahagia ketika di rumah saja. Untuk mendapatkan kebahagiaan pada diri mahasiswa, yang harus dilakukan bukan hanya diam saja ketika di rumah dan mengikuti alur kehidupan. Mahasiswa harusnya tetap peorduktif dan mampu menciptakan kebahagiaannya melalui tindakannya sendiri.

Referensi

7 Likes