Story Of The Twin

Nggak ada satu pun murid SMAN XX yang pernah mau terima liat Masayoshi Hans dan Masayoshi Ilse sebenarnya adalah pasangan kakak-adik. Hans yang cowok, sementara Ilse lawan jenisnya. Dua anak ini sebenarnya kembar identik dan mereka sama-sama cakep. Justru gara-gara faktor keindahan fisik tersebut ditambah interaksi mereka di depan publik itu lah yang bikin orang-orang liatnya jadi kebawa perasaan.

Paham ga sih?

“Hans? Ilse? Saudaraan? Iya sih mereka mirip, tapi masa sih sama saudara kaya gitu?”

“Sayang banget mereka sedarah. Coba kalau engga.”

“Ga percaya gua ada adek yang tingkahnya begitu ke kakaknya, sebaliknya juga. Mana ada?!”

Ada kok.

Hans sama Ilse contohnya.

Misal siang ini, waktu Hans asyik main bola di lapangan sama siswa lain yang sekelas sama dia sementara Ilse bukannya makan di kelas malah duduk di pinggir lapangan, nontonin abangnya. Kotak bekal Ilse tergeletak di pangkuan, pun sendok dan garpunya. Perhatian gadis itu terus tertuju ke Hans yang dengan gesit menggiring bola, melewati lawan, lalu menendang bola itu sampai menyentuh jaring-jaring gawang lawannya. Hans bersorak, ngelakuin selebrasi ringan sama temen-temen setim. Ilse juga turut bersorak, teriak sekuat tenaga dan paling keras buat sang saudara.

Ga cuma rekan-rekan setimnya yang Hans ajak buat high-five . Lelaki itu juga menghampiri Ilse buat saling mengadu kedua telapak tangan, mengakhirinya dengan kaitan di jemari satu sama lain.

“Mainnya dah selesai?” tanya Ilse.

“Belum sih. Tapi aku capek, mau istirahat makan.”

Okay! Here’s your lunch, brother! Eat well .”

Thanks a lot, sissy .” Hans nerima kotak bekal pemberian Ilse, membukanya dan menyicip salah satu sosis bentuk gurita.

Makan siang itu dimasak tadi pagi dengan penuh cinta oleh Ilse, thanks to her . Hans yang capek main bola jadi terisi lagi tenaganya.

“Masih siang dah tebar kemesraan aja ni dua.” Abin, kakak kelas Hans dan Ilse melintas di hadapan mereka berdua, menggoda.

“Iri yaaa?”

Ilse tertawa dengar sindiran saudaranya. “Kalo Kak Abin mau nyicip boleh kok.”

“Makasih Ilse. Hans ga marah kan?”

“Ih Ilse, orang itu jangan dikasih,” seloroh Hans, narik tangan Ilse protektif.

“Mas Hansnya kan pagi siang malam sudah kumasakin. Kak Abin nyobain dikit kok.”

Ih, manggilnya mas mas segala ,’ gerutu Abin dalam hati.

“Rasa masakan kamu terlalu surgawi buat dicicip setan kaya dia.”

“Bawel!” seru Abin sembari menyambar nugget bikinan Ilse.

Sekiranya, itu sepucuk momen di antara jutaan interaksi sepasang saudara kembar ini.

“Lihat, nenek kirim apa nih?” Ilse masuk ke ruang tengah dengan bawa kantong plastik gede.

“Waaah kiriman apa?” Hans naruh remot TV di sampingnya, noleh ke saudarinya dengan raut cerah.

“Mmm yeah … can you smell that?

Karaage! ” seru Hans waktu Ilse mengangkat sebuah kotak.

Seusai mempersiapkan makanan di atas meja ruang tengah, dua anak itu menyantap dengan lahap makan malam mereka sambil nonton televisi. Ilse pindah-pindahin channel televisi, cari acara bagus.

Android yang telah dilarang beredar sejak beberapa tahun silam diduga kembali menyebar— ” Channel terganti.

“Ilse, bentar, balik berita tadi,” pinta Hans.

“Ga suka.”

“Berita besar loh tadi.” Hans ngambil remot dari tangan Ilse, kembali ke acara berita.

Sebelumnya, kami akan menjelaskan detail dari sejarah android ini,” ujar sang pembawa acara, “jadi seperti yang kita semua ketahui, android ialah robot yang dilengkapi dengan artificial intelligence atau kecerdasan buatan sehingga mereka menyerupai kita semua. Produk ini dulunya sangat membantu umat manusia dalam membantu pekerjaan mereka ditambah biaya perawatannya cukup terjangkau bagi kalangan menegah ke atas. The existence of androids may help humans a lot, namun sayang sekali keberadaan mereka juga membuat banyaknya tenaga kerja di-PHK sehingga orang-orang kehilangan pekerjaan dan ada juga beberapa dampak buruk lainnya terhadap masyarakat.

Masalah tidak berhenti sampai situ karena beberapa android terjangkit virus, layaknya virus pada komputer Anda, yang menyebabkan ingatan mereka menyerap secara berlebihan apa yang mereka lihat, kemudian mengadopsinya menjadi tingkah laku mereka, hingga akhirnya mereka terlahir menjadi manusia-manusia baru terlampau sempurna yang dapat berkuasa. Mereka terlalu cerdas untuk diatur sehingga para android berontak melawan manusia, menjadi musuh manusia.

Oleh karena itu, perusahaan pertama, dan mungkin juga yang terakhir kalinya yang mengembangkan produk ini — Mashiro Inc. — terpaksa menutup perusahaan dan menarik kembali produk mereka yang telah beredar luas. Perusahaan tersebut menghadapi banyak tuntutan dari berbagai oknum, menghadapi demonstrasi dari masyarakat luas yang akhirnya menewaskan Pak Mashiro selaku pelopor perusahaan, kemudian menuntun perusahaan tersebut pada kehancuran. Semua android, baik yang terjangkit virus maupun tidak, semuanya dimusnahkan hingga sama sekali tidak bersisa.

Atau setidaknya itu yang telah kita kira selama beberapa tahun ini.

Sebuah android wanita ditemukan mati. Bukan di Jepang, melainkan Negara Yunani. Hal ini memunculkan dugaan masih adanya android beredar di antara masyarakat seluruh dunia. Melansir dari prediksi para Ahli, setelah permasalahan penon-aktifan massal android telah mereda, versi android paling mutakhir dilepas ke masyarakat luas secara diam-diam oleh suatu pihak sehingga tidak ada yang menyadari. Hal ini dapat dikhawatirkan dapat membawa kemenangan untuk para android mengambil alih dunia .”

Boo , ga suka beritanya.” Ilse sekali lagi pindahin channel yang mengundang protes dari Hans.

“Ilse! Lagi asyik nyimak kamu pindah-pindah.”

It makes me uncomfortable, somehow . I don’t like her trousers .”

“Celana panjang pembawa acara ga ngaruh ke topik beritanya, Ilse.” Hans mindahin channel kembali ke berita.

“Aku udahan ya.” Ilse berdiri, membawa serta kotak makannya.

Oleh karena itu, menanggapi keresahan masyarakat, mulai tanggal 17 Februari besok diberlakukan pemeriksaan besar-besaran dari pemerintah. Pemerintah hendak menyisir seluruh wilayah untuk mencegah peredaran android lebih luas .”

Perjalanan Ilse melambat kala dengar itu. “Hans.”

“Iya, Se?”

“Tidur sekarang aja yuk, matiin TV-nya.”

Atas perintah Ilse, Hans matiin TV, beres-beresin bekas makan di meja, lalu nyusul Ilse di dapur.

Malam itu sebelum tidur, Ilse ngedatengin kamar Hans buat ngecek anak itu udah tidur atau belum. Hans lagi main nintendo waktu Ilse datang.

“Hans, game -nya berhenti,” titah Ilse.

“Nanti.”

“Besok kamu gabisa bangun.”

“Bisa kok, tenang.”

Ilse mendekati saudaranya, lalu ngeliat foto yang barusan dipajang di atas nakas samping tempat tidur.

Portrait of us .” Ilse senyum.

Found it on attic , tadi waktu aku cari-cari sesuatu di sana.”

“Cari apa kamu?”

“Foto … orang tua kita.”

Ilse menarik nafas dalam-dalam.

“Terus nemunya foto itu. Ya sudah aku bawa ke sini.” Hans nyimpen nintendo -nya di laci nakas. “Sayang banget kita ditinggalin waktu masih kecil, jadinya ga inget mereka.”

Ilse senyum. Hans bangkit buat duduk waktu ngeliat itu. “Ilse?”

“Hm?”

“Kamu gapapa?”

Ilse menggeleng. “Nggak papa.”

“Cerita aja.” Hans turun dari kasur, nutup pintu kamarnya. “Mau tidur sini aja?”

“Eh, gapapa?”

Sure, why not. You’re my sissy, anyway. ” Cowok itu kembali ke tempatnya berbaring. Dia nepuk tempat di sampingnya. “Kita udah lama ga kaya gini bareng. C’mon .”

Ilse tertawa, membaringkan diri di samping Hans.

“Kenapa? Sini cerita,” bisik Hans.

Am I good enough?

What did you say? Of course you are.

Ilse mengembuskan nafas. “Aku selama ini berusaha jadi keluarga yang baik buat kamu. Karena selain nenek, cuma kamu keluargaku. Aku main peran sebagai saudara sekaligus orang tua kamu sehingga kamu merasa terurus. Tapi …”

"Tapi …?”

“Tapi kalo misal aku capek, boleh nggak?.”

Hans tersenyum, nyelipin helaian rambut Ilse ke belakang telinga gadis itu. “Boleh. Boleh banget. Istirahat bentar gapapa. Lagian aku ga nuntut-nuntut banget. In fact , kita ngurusin satu sama lain, Ilse. Kamu bisa bersandar ke aku. Kamu bisa ngandalin aku. Kamu ga harus jadi yang terkuat buat aku.”

Well , kamu ketua OSIS di sekolah. Urusan kamu lebih banyak. Di antara kita, harus ada yang urusin kamu. Ada kepentingan kamu yang jauh lebih besar daripada jadi kuat buat aku.”

Hans memutar tubuh, menghadap langit-langit. “Ya tapi kan kita harus terima fakta kalo kita gabisa selamanya jadi kuat. Capek itu manusiawi, Se. Kalo kita ngejalanin suatu peran, kita ga bisa selamanya baik dalam menjalankan itu.”

Ilse tersenyum. “Terima kasih pencerahannya, abang.”

Denger itu, Hans jadi tertawa. “Sama-sama, adek.”

Ilse naikin selimut Hans sampe nutupin dagu laki-laki itu.

Kejadiannya terjadi pada beberapa hari setelah percakapan di malam itu. Ceritanya, pasangan saudara tersebut sarapan dengan tenang sebelum berangkat sekolah, hingga pintu depan mereka diketuk. Hans yang mau bukain pintu diberhentiin sama Ilse, disuruh lanjut sarapan biar Ilse aja yang terima tamu.

“Kediaman Masayoshi?” pria berpakaian polisi bertanya.

“Iya, ada apa?”

“Ada siapa saja di sini?”

“Saya sama saudara kembar sa … ya …” tuturan Ilse melambat waktu lihat ada neneknya sama polisi-polisi tersebut.

“Dengan nama siapa?”

“I-Ilse.”

“Nyonya Ilse, kami di sini mau membawa Anda serta saudara Anda melakukan pengecekan android.”

“Nggak ada kok, pak,” ujar Ilse cepat, “lagipula kenapa yang datang mengecek kami polisi? Bukannya harusnya pihak institut?”

Mata polisi itu memicing. “Kami menemukan sebagian dari data penting yang hilang mengenai pak Mashiro,” ujar pria itu, “menurut data tersebut, Pak Mashiro sudah menikah dengan salah satu orang berkebangsaan sini dan sudah punya anak dengan darah campuran Jepang-Indonesia. Menurut semua informasi yang sudah ditemukan, data-data tersebut merujuk kepada Anda.”

Ilse sedikit menutup pintu.

“Tapi beliau hanya punya satu anak, nyonya Ilse. Tidak dicantumkan beliau punya anak kembar, juga tidak dijelaskan yang mana anaknya di antara kalian berdua.”

“Ada apa ini?” Hans menghampiri Ilse. “Aku denger semuanya. Nggak ada darah Mashiro di dalam kami. Orang tua kami Masayoshi.”

“Itu tidak jelas kebenarannya, tuan.”

Tatapan Ilse jatuh pada neneknya. Neneknya mengisyaratkan sesuatu. Ilse ambil nafas panjang, mencengkeram pergelangan tangan Hans, kemudian dengan secepat kilat dia nutup pintu sebelum menguncinya.

“Naik ke atas!” Ilse narik tangan Hans.

“Ilse! Ada apa?!”

“Ku jelasin nanti.”

Polisi di luar menggedor-gedor pintu.

Pintu ruang tidur Ilse terbanting tertutup.

“Ilse, apa-apaan ini?!”

“Aku, Hans. Aku android.”

Hans berjalan mundur, mencerna ucapan Ilse. “Hah?”

“Kamu hilang ingatan waktu kamu masih kecil dulu. Ayah kamu pak Mashiro. Seperti kata berita, beliau meninggal waktu demo besar-besaran waktu itu. Gara-gara demonstrasi itu juga ada yang celakain kamu, bikin ingatan kamu hilang. Aku di sini buat temenin kamu, bikin seakan-akan kamu bukan anak beliau.”

“Tapi … tapi kita … wajah kita.”

“Aku android yang sangat-sangat beda. Aku diciptain khusus buat kamu, buat jadi pelindung kamu layaknya nanny . Beliau sayang banget sama kamu. Perawakan aku dibikin persis seperti prediksi beliau soal fisik remaja kamu.

“Aku diciptain dengan sangat kompleks, aku hanya ada satu di dunia ini. Nggak ada android lain yang kaya aku. Maka dari itu aku bisa makan atau ngelakuin aktivitas biologis lain.”

Ada air mata mengalir dari mata Hans. Laki-laki itu menggeleng. “Bercanda, kan? Oke, Ilse, kamu lucu.”

Ilse nahan isak tangisnya, menggeleng kuat.

Hans narik badan perempuan itu ke pelukannya. “ You took care of me, and that’s because …”

I’m your artificial guardian angel.

Hans narik ingus. “ That reminds me of … how you never let us bleed ever.

Ilse mengangguk. “ You know why .”

Mereka tetap di posisi itu selama beberapa saat, nikmatin pelukan masing-masing.

“Terima kasih sudah anggap aku manusia, bolehin aku ngerasa lelah.” Ilse merenggangkan pelukannya.

Hans menengadah, menyandarkan dagu di puncak kepala Ilse. “ I won’t let you go anywhere .”

But I have to .”

No, stay!

I … have to! ” Ilse nyentak lepas badannya dari belenggu Hans. Dia segera keluar ruangan, ngunci pintu kamarnya sendiri dari luar. Hans gedor-gedor pintu minta dibukain.

Sampai koridor, Ilse bisa lihat polisi-polisi yang berpapasan sama dia siap buat jemput manusia gadungan.

“Aku,” kata Ilse, “aku androidnya. Bawa aja aku.”

“Cepat, tangkap dia,” suruh pemimpin polisi.

“Ga ada kekerasan! Aku ikut dengan sukarela.”

Setelah kejadian itu, Hans tetep masuk sekolah. Orang-orang pada ga biasa ngeliat dia sendirian di luar kelas. Kenapa di luar kelas? Karena kelas mereka terpisah, jadi Cuma bisa bersama-sama di luar jam pelajaran.

Banyak ga sih yang nanyain Ilse ke Hans? Banyak, tentu saja. Setiap ditanyain ke mana perginya cewek cantik tersebut, alasan ga masuk, Hans jawab Ilse lagi sakit. Jawaban klise. Hans masih belum ada mood buat ngarang alasan Ilse ga masuk buat … selama-lamanya.

Hans sedih banget. Asli, sediiiih banget. Dia sesayang itu sama saudarinya. Iya, saudari. Mau sampai kapanpun, dia ga pernah ga anggap perempuan itu sebagai adiknya.

Yang biasanya sepulang sekolah dia masuk rumah bareng Ilse sambil ketawa-ketawa dengan barang belanjaan tersampir di tangan mereka, sekarang enggak. Rasanya hampa banget. Ga tergambarkan gimana kosongnya yang dia rasain sekarang.

Ada lagi yang beda di hari itu. Dia pulang dengan neneknya yang udah nunggu di dalam rumah. Wanita paruh baya itu senyum waktu ngelihat Hans. Hans balas senyum, namun kemudian tangisnya pecah. Neneknya merengkuh badan dia

“Ilse …”

“Ya, ya, nenek tau kamu sedih.”

Hans menangis keras. Neneknya senantiasa nunggu dia tenang. Begitu Hans berhenti nangis, neneknya ajak dia duduk, minum teh.

“Hans,” panggil nenek.

Yang dipanggil mengangkat wajah.

“Bagi Mashiro, anak saya, Ilse itu hal terindah yang pernah terjadi.”

Hans mengangguk, tersenyum. “Bagi aku juga.”

“Begitu pun kamu. Mashiro sayang ke kamu,” ujar wanita itu, “dia ga pingin hal buruk terjadi pada kalian berdua. Kalian seakan-akan diciptakan buat melindungi satu sama lain, buat sayang satu sama lain.”

Hans yang mendengar itu jadi melamun.

Nenek Hans ngelus rambut cucunya. “Agak rumit ya rasanya kalau terlanjur sayang terlalu dalam ke sebuah android.”

Hans menatap mata neneknya. Dia mengangguk, setuju sama ucapan sang nenek.

“Hans, kamu ini cerdas banget. Suatu saat nanti mungkin kamu ngerti sama ucapan nenek. Kapanpun kamu siap.”

Wanita itu berdiri kemudian berlalu dari sana. Hans jadi mikirin kalimat neneknya barusan. Lelaki itu menikmati tehnya sampai tandas lalu pergi ke kamar. Dia mengambil foto masa kecilnya dengan Ilse yang dipajang di meja nakasnya.

Hans tersenyum, kasih pujian betapa baiknya skill edit foto siapapun yang bikin foto ini. Sangat menipu. Ibu jarinya mengelus permukaan foto.

Kalimat neneknya masuk ke ingatannya kembali tanpa permisi.

Agak rumit ya rasanya kalau terlanjur sayang terlalu dalam ke sebuah android, Agak rumit ya rasanya kalau terlanjur sayang terlalu dalam ke sebuah android, Agak rumit ya rasanya kalau terlanjur sayang terlalu dalam ke sebuah android … ’ kalimat tersebut diulang beberapa kali dalam hati Hans.

Hans naruh bingkai foto yang dia pegang ke atas meja, lalu pergi ke ruang belajar yang dia bagi sama Ilse. Laki-laki itu menjelajahi area belajar Ilse yang belum pernah dia sentuh, dan dia berhenti sesaat setelah dia ngerasain lantai yang dia injak ngeluarin suara deritan yang beda. Hans berlutut, ngeraba lantai, dan di sanalah dia menemukan pintu loker. Cowok itu membuka pintu loker rahasia tersebut dan menemukan tumpukan berkas yang ga sedikit.

Dia ingat dia dengar dari polisi soal sebagian data penting yang hilang mengenai Mashiro. Tumpukan berkas ini mungkin sisanya.

Hans juga menemukan beberapa bungkus obat.

Kalo Ilse android, kenapa dia butuh obat? ’ tanya Hans dalam hati.

Hans nyingkirin obat-obat itu kemudian memeriksa isi map-map di sana. Dia yakin bagian kepalanya terasa seperti terhantam keras oleh sesuatu waktu melihat tulisan pertama di salah satu kertas.

Prototype Hans-0320

Kenapa … kenapa … ini …?

Kepala Hans terasa sakit setelahnya. Dalam kepalanya seakan-akan ada ribuan data dan informasi yang membludak keluar tanpa perintah dari ‘ recycle bin ’ pada komputer.

Dia ingat semuanya.

“Tinggiii!!” Seru Ilse mungil ceria waktu dia ditempatin Hans di atas bahunya.

Hans terkekeh.

“Aku ingin menikah sama Hans!” ujar Ilse, tiba-tiba.

Hans senyum, ngebenerin baju Ilse. “Kenapa Ilse pingin nikah sama Hans?”

“Hans baik, ganteng, tinggi, gagah, bisa ngurus Iche dengan baik! Aku pingin sama Hans selamanya, ga mau sama yang lain!”

“Ilse mana bisa menikah sama benda kayak aku?”

“Bisa dong, kalo Iche pingin, Iche bisa nikah sama Hans!”

“Kamu ini ga bisa nikahin android.”

Ilse cemberut. “Kenapa Hans ga berontak aja kaya android gagal lainnya? Jadi Hans sama Ilse bisa nikah! Jadi robot jangan nurut-nurut deh!”

“Ga bisa dong. Masa gitu sih.” Hans tertawa.

“Kalo gitu, misal Iche sama Hans selamanya tinggal bersama, gapapa kan?”

Hans menggelitik pinggang Ilse. “Hans emang sejak diciptain janji buat ngelindungin Ilse selama-lamanya. Jadi soal itu, Ilse jangan khawatir.”

Ilse kecil meringkuk ketakutan di pojokan ruangan waktu massa di luar rumah demo, nuntut pemilik rumah buat keluar. Papa mamanya nyium puncak kepala Ilse sebelum mereka pergi turun ke bawah, ngehadepin amukan massa.

Neneknya datang, mengangkat badan kecil Ilse ke gendongannya.

“Rumah kita kenapa?” tanya Ilse ketakutan.

“Ssshhtt … yang terpenting, kita selamatkan diri kita dulu.” Nenek ngebuka kunci sebuah ruangan yang di dalamnya ada Hans. Pemuda itu dikunci di ruang kerja papa Ilse sebagai upaya penyelamatan. Bagaimanapun juga, masyarakat ga boleh berhasil nyentuh Hans — android terbaik yang tugasnya menjaga anak semata wayangnya.

“Nyonya,” gumam Hans.

“Kamu, Hans. Kamu ikut saya kabur.”

“Masyarakat di luar mencari saya. Sepertinya saya harus menemui mereka.”

“Mereka bakal bunuh kamu, Hans!” sentak nenek Ilse. Lama-lama, wanita itu lelah juga sama android terlalu penurut semacam Hans.

“I-itu, bukankah itu karena saya berbuat salah dan saya pantas dihukum?”

“Kamu ga salah apa-apa. Yang salah android beringas penyakitan yang bikin citra android di mata masyarakat jadi buruk. Ikut saya!”

Mereka keluar dari ruangan, pergi menuju lorong bawah tanah yang mengarah ke salah satu pintu keluar rahasia. Sebuah mobil sudah nunggu di luar. Malam itu juga mereka bakal kabur ke bandara. Mereka berencana pergi jauh, terbang ke negara asal mama Ilse dengan identitas baru. Jet pribadi punya Mashiro sudah nunggu mereka, siap lepas landas.

Mereka sampai di ambang lorong waktu mereka denger suara tembakan. Ilse menjerit. Hans dengan sigap ngambil badan Ilse ke gendongannya, nenangin gadis cilik yang terguncang hebat itu.

“Semua bakal baik-baik saja.”

Usia Ilse kini 12 tahun. Dia tumbuh jadi gadis yang cantik, cerdas, jenius tak tertandingi. Yang dimaksud di sini, dia bener-bener jenius.

Hans ngeletakin segelas teh di atas meja. Di sofa itu, Ilse merenungi pemadangan luar.

“Diminum, Ilse.”

“Hans,” panggil Ilse.

“Iya?”

“Sedih banget sih situ.”

“Ah, enggak. Malahan Ilse yang keliatannya murung.”

“Enggak tuh. Kamu yang sedih.”

Hans sekali lagi menggeleng.

“Kalo sedih itu ngomong.” Ilse nepuk tempat di sebelahnya. “Sini, sama aku cerita.”

Hans gabisa membantah. Dia duduk di samping Ilse.

Ilse menyeruput tehnya. “Jadi?”

“Aku dihantui perasaan bersalah. Kawan-kawan android aku semua dimatikan, sementara hanya aku yang selamat. Padahal aku sama saja sama mereka, sama-sama benda mati yang punya tujuan yang sama pula.”

“Kamu itu spesial, ga boleh gitu. Syukur-syukur kamu dibiarin hidup.”

“Tapi sama aja aku merasa bersalah.”

Ilse menghela nafas. Kemudian dia menyeringai. “Hans.”

“Hm?”

“Kamu tenang ga kalau aku bilang di perusahaan papa ada beberapa versi android paling mutakhir yang belum dihancurin? Dia belum ditemuin massa.”

“Beneran? Ada?”

Ilse mengangguk. “Mereka mirip banget sama manusia, hampir gaada bedanya. Kalo kamu ketemu mereka, kamu hampir ga kenal.”

Hans mengulas senyum. Sesaat kemudian senyumnya raib. “Hmm … kamu ngomong gitu biar aku senang aja ya?”

“Nggak, aku beneran kok.”

“Nggak papa, ga perlu gitu. Aku nggak papa.” Hans berdiri, pergi dari ruangan itu. Ilse menghela nafas kesal.

Karena itulah dia non-aktifin Hans. Berkat kecerdikannya, dia berhasil memprogram ulang Hans, masukin virus ke sistem Hans sehingga android tersebut “terlahir” kembali. Ilse juga menginjeksi berbagai memori yang sebenarnya ga pernah Hans alami.

Ilse perlu waktu kurang dari 4 tahun buat membuat Hans baru.

Di suatu malam, Hans bangun dari “tidur” panjangnya. Wajah lelah Ilse jadi objek pertama yang dia lihat.

“Ilse?” panggil Hans, “kok belum tidur? Besok hari pertama sekolah kita.”

Air mata menetes dari mata Ilse. Cewek itu menghambur ke pelukan Hans. Hans jelas bingung.

“Ilse? Kenapa?”

“Aku cuma excited banget besok kita mulai sekolah di SMA impian kita.”

Ilse memprogram ulang Hans atas dasar rasa sayangnya yang terlalu dalam ke pemuda itu. Dalam hatinya dia berjanji bakal melindungi Hans dengan nyawanya, hitung-hitung balas budi sama dedikasi lelaki itu.

Kembali ke masa sekarang, masa di mana Hans yang baru saja sembuh dari ledakan memorinya. Cowok itu bangkit duduk, ngeberesin berkasnya dengan asal-asalan ke dalam loker rahasia, lalu segera turun ke lantai bawah.

“Hans? mau kemana?”

“Nyonya, saya —”

“Nenek!” koreksi si nenek. “Saya nenek kamu. Jangan panggil saya seperti itu.”

“Anda nenek Ilse.”

Wanita itu menghela nafas. “Sekarang kamu cucu saya.”

“Anda ga bisa begini! Ilse dalam bahaya. Dia bakal dihancurkan.”

“Dia sudah lindungi kamu dengan nyawanya. Sebaiknya jangan sia-siakan dia seperti itu.”

Hans ga mau dengar. Dia ambil kunci motor lalu pergi ke pintu depan.

“Berhenti di sana!” sentak nenek.

Hans menurut.

“Mundur dari pintu itu, ke sini sekarang, dan mulai saat ini kamu jadi cucu saya yang penurut,” suruh wanita itu, “Ilse melakukan hal yang dia anggap benar, Hans. Dia biarkan mereka menghancurkan Ilse, lalu atas tuduhan membunuh manusia, mereka menghentikan kekejaman pada android. Kamu mau rencana dia gagal?”

Hans mencengkeram kunci motornya kian keras. “Kalau Anda kira hidup saya tenang berkat pengorbanan yang dibuat Ilse, maka Anda salah, nyonya.” Cowok itu balik badan. “Saya memang sudah jadi android bebas, bukan lagi penurut seperti dulu. Tapi melindungi Ilse tetap jadi kewajiban saya.”

“Cepat hancurin aku lalu kita selesaikan ini,” titah Ilse.

Gadis itu duduk di kursi yang letaknya di pusat ruangan. Para ilmuwan di sekitarnya ga menggubrisnya.

“Kenapa kalian ga segera hancurin aku?”

“Karena, nyonya Ilse, Anda android terbaik buatan tuan Mashiro. Rasanya sayang sekali kalau Anda dihancurkan hingga tidak bersisa. Anda bisa jadi program paling cerdas, paling penurut milik kami. Anda juga bisa membantu kami memberantas android sehingga pekerjaan kami lebih mudah,” salah satu ilmuwan ngejelasin, “sementara menunggu kami memprogram ulang Anda, Anda bisa bertemu dengan teman-teman Anda.”

Mata Ilse terbeliak saat melihat seseorang di antara android lainnya.

“I-Ilse?”

“Lia, kamu … selama ini kamu android?”

Gadis yang diajak Ilse bicara itu salah satu teman sekelas Ilse.

Lia mengangguk. “Ga keliatan ya?”

“Wah, aku ga nyangka…”

“Ilse juga, ya?”

Ilse mulai menitikkan air mata.

Lia digiring masuk ke ruang penghancuran. Ilse cuma bisa diam memandangi temannya. Pintu ditutup, Ilse cepat-cepat palingin wajah waktu dengar suara kehancuran yang menyayat hati dari dalam ruangan itu.

“Kenapa harus banget android dihacurkan?” tanya Ilse.

“Mereka bengis, pemberontak. Virus dalam diri mereka bahaya buat umat manusia.”

“Oh, lihat siapa yang ngomong sambil hancurin orang-orang baik itu.”

“Mereka bukan orang!”

Ilse mengepalkan tangannya. “Aku tau mereka. Mereka baik semua. Jangan menggeneralisir mereka.”

“Nyonya Ilse, apa ini? Anda menangis?”

Ilse cepat-cepat hapus air matanya. “Sensor perasaan.”

“Baiklah, kembali duduk dan kami akan mulai menon-aktifkan Anda. Kami akan mulai melakukan pembedahan.”

“Tidak! Hancurkan saja aku,” pinta Ilse, “tolong?”

“Aku rasa itu bukan ide bagus, nyonya Ilse.”

Semua orang dalam ruangan noleh ke yang barusan bicara. Ilse nutup mulutnya yang terbuka.

“Maaf, siapa kamu?” tanya salah satu ilmuwan.

“Aku? Aku bagian dari kalian kok. Ini nametag aku.” Lelaki itu mengetuk nametag -nya. “Roy.”

“Ray,” koreksi salah satu ilmuwan, “Raymond. Tuan Raymond tidak terlihat seperti Anda.”

“Oh ya? Aku barusan minum serum aneh yang bikin aku keliatan lebih muda. Aku tetap Raymond.”

“Hans, pergi!” bisik Ilse, kasih isyarat buat pergi.

“Dan … ada hal lain yang harus saya selesaikan.”

“Keamanan! Ada penyusup!”

Hans segera mengambil tubuh Ilse, ngebawa cewek itu di bahunya.

“Kamu sudah tau kebenarannya?” tanya Ilse sedih seraya dibawa Hans lari.

“Sudah. Semua sudah jelas,” jawab Hans, “jangan ngomong sama aku. Aku marah. Kamu sudah bohongin aku.”

I have to! ” seru Ilse, “mereka ga berniat ngehancurin aku. Niat mereka ngebedah aku, modifikasi aku lalu dijadikan robot suruhan mereka.”

“Kamu bahkan bukan robot.”

“Berhenti!”

Hans berusaha buka pintu yang ga tau gimana ternyata sudah terkunci.

“Ilse, pintunya gabisa dibuka.”

“Turunin aku,” pinta Ilse.

“Berhenti di sana!” para keamanan kembali kasih perintah.

Hans balik badan. “Dengar! kalian sudah bawa orang yang salah. Ilse manusia.”

“Ga benar!” sergah Ilse.

“Itu benar!” teriak Hans, “aku bisa buktiin.”

Hans ngeluarin pisau bedah dari saku jasnya. “Android gapunya darah. Warna plasma mereka ga merah.”

“Hans, engga!” Ilse berusaha mencegah, tapi Hans terlanjur melukai lengannya sendiri.

“Lihat?”

Ilmuwan tercengang ngeliat lengan Hans. Hans menunduk dan liat lengannya sendiri.

“Kok … merah …?” tanya Hans lirih.

Ilse mengambil pisau bedah dari tangan Hans kemudian ngelukain lengannya sendiri. Cairan biru mengalir keluar dari lengan gadis itu.

“Kamu istimewa, Hans. Sejak dulu warna plasma kamu merah. Sementara aku, aku rutin minum obat yang bisa ngerubah warna darah aku.” Ilse tertawa. “Aku, aku sudah siapin dengan baik diri kita buat momen seperti ini, untung aja.”

“Ilse …” Hans menggeleng perlahan.

“Tapi tau nggak?” ujar Ilse, “mereka ga berniat hancurin aku. Aku ga berniat buat terus di sini.” Gadis itu ngeluarin pistol dari dalam kemejanya, kemudian dia letuskan tembakan ke pintu di belakang mereka. Hans buru-buru tutup kuping waktu pintu dihancurkan.

“Android itu bersenjata!” salah satu keamanan ngeluarin pistol, ngarahin senjata itu ke Ilse.

Hans yang melihat itu buru-buru mendekap Ilse erat-erat. Dia berniat melindungi gadis itu.

Beberapa tembakan terlepas sekaligus. Hans bisa rasain peluru-peluru menembus punggungnya.

Sayang sekali, komponen dalam badan Hans beda dari organ dalam badan Ilse. Tubuh Hans ga cukup melindungi Ilse. Peluru tersebut menembus, sekarang bersarang di tubuh Ilse.

Play dead ,” titah Ilse. Kakinya melemah, dia jatuh berlutut dengan Hans yang berusaha menopang badan gadis itu. “Pura-pura ga sadarin diri, Hans.”

“Kamu harus dapat pertolongan secepatnya.” Hans menggeleng tegas.

“Bawa yang pria ke rumah sakit! Bawa nyonya Ilse ke ruang reparasi!” Salah satu orang kasih perintah.

They will find about us, sooner. ” Ilse tersenyum lemah.

“Ilse, enggak! Aku bawa kamu ke rumah sakit!” Hans buru-buru nekan darah yang keluar dari badan Ilse.

“Semua bakal baik-baik saja.” Ilse tersenyum.

Singkat cerita, ilmuwan sadar tentang kebenaran mengenai Hans sama Ilse setelahnya. Ilse dinyatakan meninggal di ruang reparasi, dan begitu mereka paham soal apa yang terjadi, Hans sudah kabur dari rumah sakit, ga ditemukan di mana-mana.

Hans kembali ke nenek Ilse, sendirian, dan nenek Ilse berusaha sebaik mungkin sembunyiin eksistensi Hans sehingga pemerintah ga bisa menemukan pemuda itu.

Hans sedih, tentu saja. Dia kehilangan saudarinya, saudari kesayangannya.

Muncul tekad kuat dalam diri Hans — dari sistem Hans. Dia bertekad akan “membuat” Ilse, atas dasar rasa sayangnya yang terlalu dalam pada perempuan itu. Secara diam-diam, Hans kembali ke Jepang, negara ayah Ilse. Menggunakan komponen-komponen yang terbengkalai, dia membuat kloningan dirinya sendiri dalam wujud Ilse.

Butuh usaha bertahun-tahun buat mewujudkan keinginan itu. Namun kelihatannya, kecerdasan buatan dalam sistem Hans bikin dia bisa membentuk Ilse 5 tahun lebih cepat dibandingkan saat Mashiro membuatnya dulu.

Thanks god they’re android . Bertahun-tahun Hans mengerjakan usahanya, fisiknya sama sekali tidak berubah. Dia tetap terlihat muda dan tampan.

Di suatu malam, Ilse bangun dari “tidur” panjangnya. Wajah penuh harap Hans jadi objek pertama yang dia lihat.

“Hans?” panggil Ilse, “kok belum tidur? Besok hari pertama ospek kita, lho. Kita harus bangun pagi.”

Air mata menetes dari mata Hans. Cowok itu menghambur ke pelukan Ilse. Ilse jelas bingung.

“Hans? Kenapa? You’re freaking me out .”

“Aku cuma excited banget besok kita mulai kuliah di kampus impian kita.”

1 Like