Stigma ditengah Asa

422979852

https://www.google.com/amp/s/fame.grid.id/amp/462076049

Napas sudah tak bisa berhembus lega. Rasa panas amat kuat, kian meluruhkan keringat yang terus mengucur hebat. Kududuk di emperan lantai. Sekedar untuk rehat, dari aktifitas hari ini yang amat lelah dan penat.

“Ren, Ren! Tadi ada telepon buat kamu. Penting katanya,” ucap Fajar rekan seperjuanganku. Aku menegapkan kembali tubuhku, lalu bergegas untuk mencari tahu siapa yang mencoba untuk menghubungiku.

Ku-rengkuh handphone-ku. Didapat di layar, nama yang memanggil nomorku berulang kali. Tertera di sana ‘Ibu Kos’. Setelah mengetahuinya, helaan napas keluar spontan begitu saja. Perasaanku sudah tak biasa. Aku sudah menerka, pasti ia akan terus menekanku untuk segera pindah dari kosannya.

Aku bergegas pergi. Meminta izin kepada seniorku, untuk pulang, mengurus kepindahanku. Tanpa berlama-lama lagi, aku segera membersihkan diri. Dan memastikan, diriku sudah steril dan bisa berpergian jauh agar secepatnya bisa mengurus keperluan pribadi.

Tak butuh waktu yang lama, aku mulai berjalan kaki menuju kosan. Hanya membutuhkan lima belas menit, aku sudah bisa berdiri di depan gerbang. Namun baru saja pukul tujuh malam, kosan terasa sangat sepi dan sunyi. Keheningan membelah riuh menuju malam. Entah mengapa, rasanya sangat berbeda. Orang-orang yang biasa bermain dan menongkrong di luar, kini sudah tak ada.

“Oh, mungkin ini efek virus corona,” pikirku begitu saja. Kubuka gerbang. Namun tiba-tiba saja, suara bisik-bisik lewat celah jendela terdengar nyaring di telinga. Seseorang seperti mengintip dan memperhatikanku dengan seksama.

Sesaat aku tak menghirau. Aku tetap meneruskan langkahku untuk segera masuk ke dalam kamar kosku. Namun tiba-tiba saja ceklek, suara seseorang membuka pintu dari kamar samping kosku. Rupanya dia Ibu Kos. Aku menyapa dan mencoba tetap berjaga jarak dengannya. Aku tersenyum. Namun yang kuterima bukan balas raut senyum ramah darinya. Sudah berbeda. Raut cemas dan salah tingkah, sudah tergambar jelas pada cara ia bicara dan dari sorot matanya.

Benar saja, belum beberapa menit aku bertemu dengannya, ia mulai bertutur kata dengan nada tak biasa.

“Neng, kalo bisa, neng jangan ngekos di sini lagi ya. Kasian tetangga lain, pada takut sama neng. Takut ketular katanya,” ucapnya. Tapi entah mengapa, tiba-tiba saja ucapannya menyiratkan rasa masygul yang tak biasa.

Sesaat aku tertegun. Mencoba tenang, dan memahami situasi yang ada. Namun, tiba-tiba saja, ucapan lainnya datang mendenging tepat jelas di telinga.

“Iya Neng Rena. Kalo bisa malam ini aja. Kami gak tenang soalnya,” ucap Mba Ratna tetanggaku. Kupikir aku akan kuat. Namun, air mataku tak bisa bertengger lagi di pelupuk mata. Ia jatuh begitu saja di pelipis. Lantas aku hanya bisa menunduk. Berusaha kuat untuk menjawab perkataan mereka.

“Iya Bu. Besok pagi saya gak bakal di sini lagi. Saya mau masuk dulu beres beres. Permisi,” ucapku masih dengan gelagap.

Kakiku berjalan cepat. Membuka pintu saja sudah kalangkabut dibuatnya. Entahlah, rasanya aku hanya ingin merebah, meluruhkan tangisku, tentang perkataan yang kudengar barusan.

“Tenang Rena, kamu kuat. Itu bukan apa-apa. Anggap aja angin lewat biasa,” yakin batinku.

Kututup segera pintu dengan rapat. Tasku sudah terlempar tak tahu arah. Yang kutuju hanyalah bantal guling yang ingin kurengkuh dengan kuat. Tak kuasa, dayuh pilu dari kata-kata biasa begitu menyiksa batin yang lemah tak berdaya.

Sejenak dalam pikirku, mungkin ini hanya efek dari semua rasa lelahku. Namun aku sadar, bahwa tentang aku dan karirku, dalam musim ini tak akan pernah lepas dari stigma warga. Walau begitu, setidaknya mereka sedang waspada. Namun alangkah baiknya, jika kewaspadaan selalu disertai dengan rasa hormat dan penuh etika.

“Sudahlah Rena tak apa! Ini hanyalah cemoohan biasa,” pikirku sekali lagi mencoba mengubur semua rasa pilu yang ada.

Namun aku tetaplah makluk perasa. Dan beban pikirku terdalih pada perihal tempat kutinggal selanjutnya.

“Jika aku pindah dari tempat ini, kemana akan aku menyimpan semua barangku?” tanyaku sekali lagi.

Tangisku pecah lagi. Rasa lelahku benar-benar tertumpah saat ini.

“Mereka egois. Jika mereka sakit, aku terkadang yang merawat. Tapi sekarang apa?” kesalku terus menjerit dalam hati.

Dalam situasi menghadapi pandemi ini, kita sudah ditunggangi tugas dan peran sendiri. Kewaspadaan dan tindakan pencegahan adalah hal terpenting saat ini. Tapi bisakah semua tak dibumbui dengan keegoisan diri? Jika tak bisa mengobati, setidaknya rasa simpati harus tetap tertanam dalam diri. Jangan sampai, kepanikan dan ketakutan hanya akan menjebloskan kita menjadi insan yang tak manusiawi. Untuk itu, mari tetap jaga diri dan hati.

1 Like