Stereotip kuliah pertanian

Kuliah dan sekelebat hal di dalamnya sudah jadi trend sejak lama, di setiap tahun ajaran baru. Ada camaba alias calon mahasiswa baru yang ga sabaran mau rasain dunia kampus.

Dari SMA saya suka banget biologi — kimia. Berangkat dari passion dan minat saya akhirnya buat target Proteksi Tanaman UGM, Silvikultur IPB dan Proteksi Tanaman UNSRI. tiga — tiganya Pertanian.
Then, saya lulus di opsi ketiga. Alhamdulillah…
Dari awal buat target sampai saya lulus banyak banget orang di sekitar yang kritis kenapa saya ambil pertanian.

Lo kok ambil pertanian, kan ga trend
Jurusan buangan atau cadangan.
Prospek apa dan role model yang udah sukses siapa?
Sampe yang paling klise
Capek capek kuliah cuma jadi petani
Sudut pandang yang belum tau pentingnya kalau sampe bagian dari life sciences ini mati atau ga ada yang lanjutin pun impactnya bakal balik ke medicine, economy, social and technology.
Pertanian jelas penting, sekalipun compared dari kedokteran sampe social, juga sebaliknya.

Pada dasarnya dunia plus subjeknya tercipta variatif. Sah aja kalau yang minat theology, policy, law, numerik, engineering dan lainnya.
Bisa kita bayangin sendiri gimana jadinya kalau semua orang jadi pengatur kebijakan, semua jadi fisikawan atau semua orang jadi Petani. Gimana nanti kalau ada orang yang sakit? Dan gimana orang yang tinggal di daerah geografis ekstrim atau bukan penghasil pangan?

Mereka butuh peran Medicine dan Economic yang basicnya barter.
Jadi kalau kita putar, tanpa petani dan orang yang antusias Ilmu Pertanian impactnya bisa krisis pangan dan lainnya.

Hadirnya pertanian merupakan antisipasi hal itu. Supaya semua orang bisa kenyang, tapi alam ga rusak.
Minat dan tujuan ga melulu harus ikut-ikutan. Kalau kebanyakan orang ambil A karena kesan prospek menjanjikan dan nyaman tapi lo minat D, yaa biarin aja dan fokus ke apa yang kita mau karena suka plus tekun. fortunately, jadi bermanfaat buat banyak orang dan terkenang baik.

2 Likes