SRIKANDI di KELUARGAKU

                                                                        SRIKANDI di KELUARGAKU

image

                                                                          Sumber : talenthouse.com

Minggu ini, Rania akan pulang ke kampung halamannya yang berada di Sembalun, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Meski jatah liburannya hanya 1 hari, membayangkan kampung halamannya yang berada di kaki gunung Rinjani, yang diselimuti kabut setiap pagi dan hangat begitu di sambut sinar mentari pagi.

“Hati-hati, ya sayang.” Pesan mama pada Rania. “Jangan lupa sampaikan salam papa kepada kakek, nenek dan Mira, ya.”

“Siap bos.” Kata Rania sambil memasang tangannya di sudut alis dengan gestur orang sedang memberi hormat. Mama tersenyum manis sambil membelai rambut panjang Rania yang hitam pekat dan lembut.

“Ma, Rania berangkat dulu, ya.” Kata Rania sebelum check in tiket pesawatnya. Mama dan Papa mengangguk, langkah Rania berlalu menjauh ditemani lambaian tangan papa dan mamanya, ini pertama kali mereka melepas putri semata wayangnya setelah 17 tahun selalu menemani Rania kemana-mana.

Setibanya di Sembalun, Rania disambut hangat oleh kakek neneknya juga Tante Mira yang notabenenya adalah saudara kembar mama Rania.

“Keponakan tante udah besar ya sekarang, tambah cantik.” Ujar tante Mira sambil memeluk keponakannya. Rania hanya tersenyum manis. Lalu, ia diajak untuk makan siang bersama, kemudian dibantu oleh tante Mira, Rania menata bajunya di lemari kamar yang telah disiapkan oleh keluarga Rania.

Setelah mandi, Rania merebahkan tubuh mungilnya yang lelah setelah menempuh perjalanan Jakarta-Lombok. Kamar bercat putih dengan segala furniture berwarna putih itu begitu menyejukan. Tak lama, mata Rania terpejam ditemani semilir angin sepoi-sepoi yang masuk melalui jendela kamarnya.

Begitu sore tiba, Rania terbangun dari tidurnya dan berjalan keluar kamar. Ia berniat untuk membersihkan dirinya namun ia mengurung niatnya karena melihat tante Mira tengah menyapu halaman rumahnya. Rania menghampiri tantenya dan mulai berinisiatif untuk membantu menyapu halaman.

“Eh, Rania kok nyapu juga? Biar tante aja, gak usah repot-repot.” Kata tante Mira.

“Gak apa-apa kok, tan. Pengen bantu tante, soalnya kalau di Jakarta, Rania gak pernah kerja. Semua diselesaikan sama pembantu.” Tante Mira terkekeh mendengar penuturan keponakannya. Setelah menyapu, Rania menyiram tanaman. Awalnya Rania mengalami kendala dalam memasang selang, namun dibantu tante Mira, Rania dapat mengatasi masalahnya.

“Rania, jangan disitu aja yang disiram. Nanti mawar yang di sebelahnya iri, lho.” Koreksi tante Mira. Rania terkekeh. Ia begitu menyukai bunga mawar merah yang ditanam oleh nenek dibawah jendela kamarnya. Kalau dilihat-lihat, rumahnya ini seperti rumah klasik yang ada di video klip lagu-lagu lawas yang sering diputar oleh papa.

Oleh nenek, Rania disuruh untuk membersihkan diri. Setelahnya, tante Mira menyusul lalu kemudian mereka menikmati sepiring pisang goreng dan ditemani teh hangat. Semakin malam, suhu di Sembalun semakin dingin. Rania disarankan untuk menggunakan baju rajut yang telah disiapkan oleh mama.

Suasana sore hari dirumah nenek sangat hangat mengalahkan dinginnya udara, Rania tentu menikmati ini karena papa dan mamanya yang sibuk bekerja mengurusi perusahaan tempat mereka bekerja. Rania bercengkrama, menukar cerita, dan yang paling Rania sukai adalah tante Mira yang sering bercerita hal-hal lucu yang membuat Rania sakit perut akibat tertawa.

Begitu matahari telah tenggelam sempurna, Rania dan keluarganya masuk ke dalam rumah untuk melindungi diri dari dinginnya udara diluar rumah. Rania tidak langsung ke kamar, ia menonton televisi di ruang keluarga. Dengan santainya Rania merebahkan dirinya di sofa dengan motif bunga-bunga mawar merah yang cantik.

Tante Mira datang dan duduk di sisa sofa yang tidak ditiduri Rania. “Eh, tante.” Kata Rania. Ia mengubah posisinya dari tidur menjadi duduk. “Kenapa duduk, sayang?” tanya tante Mira. “Hehe, gak apa-apa, tante.” Kata Rania kikuk.

Tante Mira yang jago mencairkan suasana mengajak Rania bercengkrama. Mereka membicarakan banyak sekali hal. Mulai dari sekolah Rania, kondisi Jakarta, kondisi papa dan mama, pekerjaan papa mama, dan lain-lain. Sebaliknya, Rania juga menanyai tante Mira.

Hingga pada satu pertanyaan yang selama ini dipendam Rania. “Tante, Rania boleh tanya sesuatu?” tanya Rania. Tante Mira yang masih memasang tampang senyum menoleh. “Kenapa tante memutuskan untuk tidak menikah?” tanya Rania. Senyum tante Mira perlahan memudar digantikan dengan helaan nafas panjang.

“Tante, Rania gak salah ngomong kan?” tanya Rania ragu-ragu. Tante Mira menoleh ke arah Rania dan tersenyum tipis. “Tante sudah biasa ditanya dengan pertanyaan seperti ini, sayang. Gak masalah kok.” Jawab tante Mira lembut.

“Tante gak ingin menikah karena banyak alasan. Yang pertama, kalau tante menikah, siapa yang mau rawat kakek dan nenek sedangkan Rania tahu, anak kakek dan nenek cuma tante dan mama kamu. Lalu, kamu tau kan kalau tante ini super pemilih. Tante gak mau salah pilih lelaki untuk dijadikan pasangan sehidup semati. Karena…” omongan tante Mira terputus. Air mata perlahan menuruni pipi lembut tante Mira.

Dengan ragu-ragu, Rania menepuk-nepuk pundak tantenya. “Karena tante punya trauma mendalam dengan pria. Tante pernah dikecewakan begitu mendalam. Disakiti begitu hebatnya hingga tante gak pernah percaya sama semua lelaki kecuali ayah.”

“Rania sayang…” kata tante Mira. “Kalau nanti kamu jatuh cinta, sisakan tempat dihatimu untuk menerima rasa sakit. Karena jatuh cinta dan patah hati itu satu paket. Jangan terlalu cinta, jangan memberikan semua yang kamu punya karena tidak ada jaminan dia akan membersamai kamu selamanya. Seseorang yang akan datang, pasti akan pergi pada waktunya. Entah karena cinta lain atau di panggil oleh Yang Maha Esa dan menurut tante, cinta gak harus memiliki, cinnta itu soal keikhlasan dan kesabaran.” Tutur tante Mira air mata masih nampak mengalir.

“Maaf, aku jadi bikin tante nangis.” Kata Rania tidak enak hati.

“Gak masalah, sayang. Kamu sudah tante anggap anak sendiri, jadi kamu juga harus tau sejarah hidup tante. Makasi ya sudah mau mendengarkan curahan hati tante. Mau tanya apa lagi?” tanya tante Mira antusias. Ia menghapus air matanya dengan tisu yang senantiasa ada di meja ruang kluarga.

“Menurut tante, cinta itu apa?” tanya Rania lagi. Mata tante Mira menerawang ke langit-langit rumah. “Setiap manusia membutuhkan cinta, begitu cinta dalam hatinya sirna, ia akan menjadi manusia namun hanya separuh, tak utuh. Cinta begitu penting bagi segala mahluk di bumi.”

“Lalu, bagaimana nasib manusia separuh, tante?” tanya Rania.

“Ya seperti tante Mira. Raganya hidup, jiwanya mati. Tapi, gak masalah. Tante ikhlas kalau memang harus seperti ini takdir tante. Tante percaya everything happens for a reason. ” Jawab tante Mira tenang. Rania kagum melihat tantenya yang begitu tegar menghadapi hidupnya. Ia bak dewi Srikandi, yang begitu hebat dan tegarnya menjalani kehidupannya bahkan ia berhasil membuka usaha besar yang telah mendunia dengan memperkerjakan para janda. Rania memeluk tante Mira dengan begitu hangat. “Rania bangga punya tante seperti Dewi Srikandi.” Tante Mira tersenyum manis. “Istirahat, yuk. Besok kan Rania harus balik ke Jakarta.” Rania mengangguk kemudian pamit untuk mengistirahatkan raga dan hati masing-masing.

Ketika matahari telah tinggi, menggunakan mobil tante Mira, Rania diantar menuju Lombok International Airport untuk berangkat ke Jakarta. Liburan kali ini sangatlah singkat. Namun, bukan masalah lama atau sebentarnya pertemuan melainkan seberapa kualitas pertemuan tersebut.

“Terimakasih, kakek nenek dan tante Mira.” Ucap Rania mengucapkan perpisahan. “Iya sayang, sama-sama. Hati-hati di jalan ya. Jangan lupa mengabari kami kalau sudah tiba.” Ucap kakek sambil mengelus rambut cucu kesayangannya. Rania mengangguk. Setelah mencium tangan kakek nenek dan tante Mira, Rania berlalu. Ia pulang dengan pengalaman dan kesan yang begitu melekat di hati dan pikirannya.

4 Likes