Singkat Saja (Cerpen [Challenge 30 Hari Menulis Sastra])

images
Sumber Gambar: anime.goodfon.com

Tidak ada manusia yang benar-benar tahu apa yang terjadi di detik berikut dalam hidupnya. Tidak terkecuali Agni. Meski ia sempat memprediksi bahwa Ayah dan Ibu akan mengurungkan niat menjodohkannya, nyatanya ia berada di sini sekarang, di stasiun tempat perhentian kereta yang nanti akan mengantarnya pulang ke kampung halaman.

Suara roda yang bergesek dengan rel kereta makin jelas terdengar. Agni bangkit dari duduknya dengan malas-malasan, untuk kemudian melangkah menyambut kereta dengan (juga) malas-malasan. Semua yang gadis itu lakukan sejak membuka mata pagi itu tidak melibatkan semangat sedikit pun. Yang ia yakini, permintaan Ayah dan Ibu–yang juga dengan khilaf ia setujui waktu itu–adalah harga mati yang tak lagi bisa dihitung-hitung.

Agni yang tidak terlalu suka keramaian sengaja membiarkan calon penumpang lain berkerumun masuk lebih dahulu. Setelah dirasanya pintu kereta sudah agak lengang, ia pun masuk ke dalam dengan hati yang setengah-setengah. Matanya menyelisik seisi kereta: mengira-ngira bangku mana yang masih kosong dan nyaman untuk ia duduki. Tetapi, tak banyak pilihan tersisa. Agni hanya mendapati dua pasang bangku berhadapan yang sebagiannya sama-sama sudah terisi: satu ditempati tiga gadis remaja yang terlihat banyak bicara, sementara yang lain diduduki oleh seorang pemuda yang tampaknya lebih suka diam. Setelah menimbang-nimbang, Agni memilih duduk di bangku yang berhadapan dengan pemuda itu. Selain bisa dekat dengan jendela, ia juga bisa menghindari kemungkinan akan diajak bicara banyak oleh tiga orang remaja tadi.

Setelah bergumam mengucap permisi tanpa perlu melihat respons pemuda di hadapannya, Agni duduk dan meletakkan tas bawaannya di rak bagasi. Ia segera duduk dan langsung membuka tas kecilnya lalu mengeluarkan handphone dan headset. Setelah memastikan headset terpasang di kedua telinga, Agni mulai sibuk menatap pemandangan di luar jendela.

Banyak hal berkecamuk dalam benak Agni: tentang pekerjaannya yang begitu menguras waktu juga cintanya yang kandas karena itu. Agni tidak mengerti ia harus apa sebenarnya. Apa waktu itu ia lebih baik berhenti dan mencari kerjaan lain atau pilihannya bertahan pada pekerjaan itu dengan konsekuensi putus sudah tepat. Saat itu Agni pikir kekasihnya hanya tidak mampu memberi pengertian lebih. Dibanding memberinya pilihan yang bisa ia pertimbangkan dengan baik atau mengajak diskusi untuk menentukan masa depan mereka, kekasihnya malah memilih mengakhiri hubungan tiba-tiba. Itulah yang memicunya semakin gila bekerja belakangan ini: sebuah upaya melarikan diri dari pahitnya kehilangan.

Akan tetapi, ternyata ia tak sanggup berlari lama-lama. Dua minggu lalu, sambil berderai air mata, ia menelepon ibunya, meluapkan segala keluh kesah. Dari situlah ide perjodohan ini muncul, yang–entah apa yang merasukinya waktu itu–ia setujui tanpa berpikir dua kali. Ketika Agni telah sadar apa yang sebenarnya ia setujui, ia sudah terlambat. Bahkan dua hari setelah telepon panjang hari itu, ibunya kembali menelepon dan mengatakan bahwa perjodohan telah disepakati kedua belah pihak.

“Kau baik-baik saja?”

Agni sedikit terkesiap, untung ekspresinya bisa langsung ia kendalikan. Entah mengapa pemuda yang ia kira bukan tipe peduli pada sekitar–apalagi orang yang tidak dikenal–itu malah mencoba membuka pembicaraan. Agni berlagak membenarkan posisi headset di telinganya, berharap pemuda itu pikir bahwa ia tidak mendengar dan berhenti berusaha mengajaknya bicara.

“Ngomong-ngomong, headset-mu belum tersambung ke handphone-mu."

Seketika Agni menatap handphone dan ujung headset-nya yang belum tersambung. Ia menggigit bibirnya pelan dan merutuki kebodohannya dalam hati. Headset ini memang hanya tameng, tetapi cerobohnya Agni yang lupa memasangnya dengan baik.

Agni berdeham sebelum memutuskan merespons pemuda itu. “Kau bilang apa tadi?”

Headset-mu belum terpasang.”

“Bukan itu.” Agni menjawab cepat dengan kesal dan tak sempat mengontrol nada bicaranya.

Pemuda itu tersenyum kecil sebelum kembali berkata, “Oh, aku bertanya, apa kau baik-baik saja?”

Agni sengaja mengernyitkan dahi. “Memangnya aku kenapa? Dan kenapa kauperlu tahu?”

“Kau terlihat akan menangis. Aku hanya akan tidak nyaman jika kau benar-benar menangis makanya aku bertanya.” Pemuda itu menjawab dengan tenang.

Agni menatap pemuda itu dengan tidak berdosa. Tiba-tiba, ada sesuatu yang seperti mendorongnya untuk bertindak sedikit berani kali itu. “Apa kau pendengar yang baik?”

Pemuda itu balas menatap Agni dengan tatapan bertanya. “Aku tidak yakin. Kaubisa menilainya sendiri.”

“Aku sedang menuju kampung halamanku untuk sebuah pertemuan keluarga, membicarakan perjodohan.”

Pemuda itu terlihat sedikit terkejut, tetapi ia berhasil menetralkan wajahnya segera. “Biar kutebak. Kau terlihat tidak baik-baik saja karena sebenarnya kau menentangnya?” Setelahnya, pemuda itu menatap Agni lamat-lamat.

“Tidak juga, ini terjadi pun karena persetujuanku.”
Agni menjawab dengan polos, sementara pemuda di depannya terlihat mengerutkan dahi.

“Apa kau pikir menyetujui sesuatu selalu berarti menyukainya? Aku rasa tidak. Setelah kupikir-pikir, aku hanya memilih mana yang lebih baik di antara hal yang tidak kusuka.”
Agni menjeda kalimatnya seraya melepas headset yang sedari tadi masih terpasang di telinganya. Pemuda tadi memandangnya jenaka, mengingatkan kembali kejadian memalukan tentang headset itu.

Segera setelahnya, Agni kembali melanjutkan. “Pembicaraan tentang perjodohan ini bukan hal baru. Sejak aku SMA, orang tuaku sudah beberapa kali mengatakan bahwa mereka dan teman sekolah mereka punya niat saling menjodohkan anak, tetapi tentu tidak dengan paksaan. Orang tuaku selalu menekankan bahwa itu adalah opsi jika anak mereka masing-masing setuju. Tidak kusangka, perkataan yang selama ini kuanggap guyon belaka, malah justru aku sendiri yang menjadikannya serius.”

Dari situ, percakapan semakin lancar mengalir. Agni tidak repot memikirkan bagaimana persisnya ia bisa begitu terbuka tentang pikiran dan perasaannya hari itu kepada pemuda asing yang baru saja ditemuinya di kereta. Gadis itu hanya ingin melewati perjalanan yang lumayan panjang itu dengan tidak berlarut dalam kegundahannya sendiri, dan ia pikir berbicara dengan orang lain adalah salah satu jalan keluar.

“Yah. Itulah yang menjadi alasanku mengambil cuti dan berada di kereta saat ini.”
Agni mengakhiri bicaranya. Gadis itu terlihat lega setelah bisa berbagi kisahnya lagi pada orang lain.

“Aku rasa langkahmu sudah tepat.” Setelah mendengarkan Agni dengan khidmat, si pemuda kembali membuka suara. “Untuk menuju bahagia, ada banyak jalan yang tersedia. Jika kau tidak melewati salah satunya, bagaimana kau bisa yakin akan menemukan kebahagiaan itu. Iya, kan?”

Setelah mendengar kalimat barusan, Agni tidak bisa tidak terpana. Gadis itu tidak berharap apa-apa selain telinga untuk mendengar resahnya, tetapi ia justru bisa mendapat kekuatan baru dari perkataan orang yang bahkan begitu asing ini. Namun, satu hal yang kemudian ia sadari: pemuda itu ahli membuat orang di sekitarnya merasa ia layaknya teman lama yang baru saja datang kembali.

Suara speaker di lorong kereta menghentikan percakapan yang terasa singkat hari itu. Sebentar lagi, kereta akan berhenti di stasiun yang Agni tuju. Gadis itu yang tadi pagi berharap perjalanan ini cepat berakhir, malah merasa waktu begitu sempit sore ini.

Agni bangkit dari duduknya dan mengambil tasnya dari bagasi. Setelah memastikan bawaannya lengkap, ia berniat pamit pada si pemuda yang masih duduk tenang di tempatnya itu. Namun sebelum Agni sempat membuka mulut, pemuda itu bangkit berdiri.

“Bukannya kau bilang masih dua stasiun lagi?”

“Karena sudah lama tidak ke sini, aku salah hitung tadi.” Pemuda itu menjawab sembari menggaruk pelipisnya, persis siswa yang sedang diciduk guru bolos di kantin sekolah.

Agni tertawa kecil, lalu keduanya berjalan perlahan menuju pintu keluar yang sudah terbuka sedari tadi. Saat sudah sampai di luar kereta, dengan sedikit tidak rela Agni berpamitan pada si pemuda yang hanya dibalas anggukan. Agni kemudian memilih beranjak lebih dahulu. Sambil melangkah, ia mengulang-ulang perkataan pemuda tadi, bahwa ia akan menemukan kebahagian dengan mencoba menyusuri jalan yang ditawarkan ayah dan ibunya. Karena itu, Agni tidak lagi melangkah dengan malas-malasan. Langkahnya terlihat begitu ringan sore itu meski barang titipan ibunya sedikit membuat tangannya pegal.

“Agni!”

Gadis yang merasa seseorang baru saja meneriakkan namanya itu serta-merta berbalik. Alisnya seketika berjengit ketika yakin bahwa yang memanggilnya adalah pemuda di kereta tadi.

“Aku akan pastikan kau bahagia.”

Setelah meneriakkan kalimat itu dan membuat Agni bingung sekaligus malu ditatap seisi stasiun, pemuda itu langsung berlari kecil memunggunginya tanpa memberi kesempatan ia mendapat penjelasan. Dari mana pemuda itu tahu namanya, pasti dari kalung yang ia pakai. Namun, bagaimana tentang pernyataan bahwa pemuda itu akan memastikan ia bahagia? Agni tidak punya petunjuk sama sekali.

Masih dalam keadaan bingung, Agni kembali melangkah menuju pintu luar stasiun. Tadinya ia pikir tidak terlalu penting untuk tahu nama pemuda itu. Tetapi karena pemuda itu mengetahui namanya, ia jadi merasa tidak adil jika ia tidak. Namun, apa boleh buat. Ia harus segera bisa mengabaikan pertemuan singkat di kereta itu, dan segera fokus pada pertemuan keluarga di rumahnya nanti.




Tidak ada manusia yang benar-benar tahu apa yang terjadi di detik berikut dalam hidupnya. Tidak terkecuali Agni. Gadis itu sama sekali tidak menyangka ia bisa bertemu lagi dengan pemuda di kereta hari itu.

Namanya Cakka. Pada pertemuan keluarga untuk membahas perjodohan, pemuda itu menyambangi rumah Agni bersama ayah dan ibunya. Tentu saja, Agni tidak lagi setengah-setengah untuk berkata iya, sebab meski singkat, pertemuan di kereta hari itu cukup meyakinkan hatinya bahwa perjalanan mereka sudah diatur Tuhan.

1 Like