Sikap apa yang harus diambil ketika merasa salah jurusan ?

perguruan_tinggi

(Julia ferlin) #1

salah jurusan

Apa sikap yang harus diambil oleh mahasiswa jika ia merasa salah jurusan atau kurangnya minat belajar pada jurusan yang sedang ia ambil ?


Salah jurusan di semester tengah, berhenti atau lanjut ?
(Annisa meidy) #2

Seperti yang kita ketahui. Memilih jurusan kuliah sangat menentukan bagaimana masa depan kita nanti nya. Ketika memilih jurusan sebaik nya kita mengetahui passion kita terlebih dahulu agar kita tahu harus kemana kita melangkah. Banyak kasus salah satunya, “saya sudah memilih jurusan sesuai dengan passion saya tetapi saya di terima di jurusan yang bukan passion saya. Saya juga sudah ikut tes ini itu malah tidak di terima di PTN”.

Bagaimana cara mengatasinya ?

Menurut saya, pertama kita harus ikhlas menerima apa yang kita peroleh karena kita masih beruntung bisa kuliah. tetap mengikuti perkuliahan dimana kita di terima dengan sungguh- sungguh dan sepenuh hati, jadikan ini passion baru kita. percaya bahwa ini lah yang terbaik untuk kita perdalam pengetahuan mengenai jurusan kita. Keputusan paling akhir apabila di pertengahan minat belajar berkurang dikarenakan merasa jurusan tersebut benar-benar kurang cocok dengan passion nya. Maka bisa mengikuti tes perguruan tinggi di tahun berikut nya memilih jurusan yang dirasa sesuai dengan passion nya.


(Mei Rinda Septi Hapsari) #3

Pertama tama sebagai seseorang mahasiswa, tidak, sebagai calon mahasiswa kita sudah seharusnya memikirkan baik baik jurusan apa yang akan kita ambil kelak, apakah sesuai dengan kemampuan kita , apakah sesuai dengan minat atau keinginan kita dan sebagainya.

Tapi memang semua adalah hal baru di perkuliahan jadi ekspektasi bisa saja jauh dari realita, selain itu ada juga seseorang yang asal memilih suatu jurusan karena merasa dirinya tidak condong ke suatu jurusan tertentu. Akibatnya ada kasus yang bernama salah Jurusan. Karena merasa salah jurusan, banyak sekali kendala atau gangguan yang muncul seperti Malas malasan, titib absen, ip rendah dsb. Lalu sebagian orang pasti akan menyarankan PINDAH JURUSAN. Ya itu salah satu caranya. Tapi apakah itu akan menyelasaikan masalah? Bisa saja timbul masalah baru seperti penyesuaian lagi dengan jurusan baru, kerugian materiil, kerugian waktu, tenaga dan belum tentu jurusan baru membuat nyaman.

Kalau menurut saya, lebih baik kita jalani saja jurusan atau perkuliahan kita tersebut. Dari awal kita memilih berarti sudah harus tau konsekuensi dan hal hal apa saja yang menjadi tanggung jawab kita. Seperti sebuah quotes yang pernah saya lihat “Sudah terlanjur masuk kolam, sekalian menyelam saja” Ya, sekalian saja kita push diri kita agar bisa menyesuaikan dengan jurusan kita tersebut. Dengan begitu, kita bisa lebih berusaha dengan giat. Berjalannya waktu, kita akan dapat menyesuaikan dan mau tidak mau harus mempelajari bidang jurusan kita tersebut.


(Panji Wicaksono) #4

Berdasarkan beberapa artikel yang saya baca berikut sikap yang harus diambil ketika merasa salah jurusan

1. Syukuri masih bisa kuliah
Walaupun agak klise, tetapi kita harus bersyukur orang tua kita bisa dan mau membiayai biaya kuliah kita. Harapannya? Tentu agar kita sukses dengan bekal pendidikan yang kita miliki. Coba kamu hitung berapa uang yang akan kamu keluarkan dan waktu kalau kamu pindah jurusan lagi. Jadi setiap kita bete dengan jurusan kita syukuri ya.

2. Karena sudah terlanjur masuk kolam, sekalian menyelam saja
Harus dicoba untuk merasakan benar – benar jurusan kamu. Perdalam pengetahuan mengenai apa sebetulnya masa depan jurusan kamu dengan bertanya ke dosen atau alumni kamu. Karena dengan pengetahuan yang lebih pandangan kamu tentang jurusan kamu pun dapat berubah

3. Apakah kamu salah masuk jurusan?
Ini pertanyaan yang harus dijawab kalau Kamu merasa salah jurusan. Kalau memang salah jurusan, jurusan apa si yang sebetulnya jurusan yang tepat? Kebanyakan orang yang mengaku salah jurusan adalah tameng terhadap kejenuhannya terhadap sebuah jurusan. Harus disadari bahwa setiap jurusan pasti ada masa jenuh dan bosan atau bahkan muak. Tipsnya kalau dalam kondisi seperti ini coba take a break. Istirahatkan diri dan kumpulkan semangatmu untuk masa depan.

4. Sadari bahwa hidup kita akan menjadi lebih “kaya”
Dalam kondisi salah jurusan dan tau jurusan apa yang seharusnya kita ambil. Mulailah dalami bidang tersebut baik baca buku, tanya teman yang dibidang itu atau langsung terjun ke dunia tersebut dengan join company dibidang tersebut. Dengan hal ini, hidup kita akan semakin kaya dengan pengetahuan dan pengalaman.
Saya beri contoh seseorang dengan jurusan kedokteran ternyata tidak menyukai bidang ini, tetapi dipaksa oleh orang tua. Sambil kuliah sang anak mengetahui bidang yang ia sukai yaitu menjadi animator. Kesukaannya membuat ia aktif bergabung dalam komunitas animator dan freelance animator di studio animasi. Akhirnya setelah lulus ia memiliki skill seorang dokter dan animator yang handal dan koneksi teman ke bidang lain selain dokter. Keren kan?

5. Ikuti kegiatan non-akademis di Perkuliahan
Di kelas udah suntuk dan untuk belajar tentunya apalagi. Waktunya kamu untuk mengembangkan skill – skill non-akademis kamu dengan join UKM(Unit Kegiatan Mahasiswa) atau SAC (Student Activity Center) universitas kamu. Karena dimasa kuliah bukanlah kita hanya mengejar hardskill, tetapi softskill mulai dari time management, teamwork, public speaking dan lainnya. Karena dengan mengikuti kegiatan ini kamu dapat menemukan hal baru yang tidak akan kamu dapatkan dalam kegiatan perkuliahan, apalagi ketika kamu salah jurusan.
Selain itu dengan aktif mengikuti kegiatan di luar perkuliahan kamu dapat membuka wawasan kamu dan mendapat hal – hal baru. Bahkan akhirnya kamu dapat menemukan suatu bidang yang memang kamu benar – benar sukai dan dapat kamu dalami.

6. Tunjukan prestasi diluar perkuliahan
Karena kamu kurang suka dalam jurusan kamu buktikan kalau kamu memiliki keahlian atau kegemaran dibidang lain. Buat prestasi yang membuat dirimu dipercaya memiliki value lebih dibidang lain. Misalkan kamu suka bermain dalam sebuah band buktikan kalau kamu bisa berkarya dengan band kamu! Contoh lainnya kamu masuk jurusan Bioteknologi, ditengah jalan kamu sadar bahwa kamu lebih menyukai bidang bisnis. Tunjukan kalau kamu sebetulnya bisa membuat bisnis mu jalan sambil kuliah Bioteknologi.
Sekian 5 tips yang mahasiswa yang salah jurusan. Bila memang kamu sudah yakin kalau kamu salah jurusan dan memutuskan untuk keluar dari jurusan kamu ingat waktu dan biaya yang sudah kamu investasikan dalam jurusan ini, tetapi diingat juga berapa waktu dan usaha yang akan kamu investasikan dalam jurusan ini kedepannya. Semoga tips ini dapat membantu kamu sebagai mahasiswa yang salah jurusan. Salam berbagi tips.

Pak Mario Teguh, tidak pernah punya riwayat bersekolah dan kuliah di jurusan motivasi, toh buktinya beliau menjadi motivator hebat. Bahkan Steve Jobs, Bill Gates dan Mark Zuckerberg tidak pernah tamat kuliah, tetapi mereka tetap bisa sukses. Tidak selamanya jurusan dan perkuliahan itu selalu menentukan kesuksesan kita di masa datang. Tapi yang saya tahu, semua orang sukses tidak pernah rela membiarkan waktunya terbuang sia-sia. Kita boleh saja nanti punya profesi yang tidak pernah ada kaitannya dengan perkuliahan kita, tapi yakinlah apapun yang kita pelajari tidak ada yang sia-sia. Mungkin tidak untuk pekerjaan kita, tapi pasti akan berguna untuk hal lainnya nanti.


(Ridho Hardiansyah) #5

Sebetulnya istilah salah jurusan itu tidak ada, mengapa demikian? karena kita dalam hidup ini berkebebasan untuk memilih, sepertihalnya saat memilih jurusan di perguruan tinggi negri (PTN) kita dapat memilih lebih dari satu univ atau institut dan lebih dari satu jurusan juga yang dapat kita pilih, jadi kita memilih tersebut secara sadar dan tau resikonya jika tidak terpilih di pilihan a pasti akan pindah ke pilihan b dan seterusnya.

Mengenai minat belajar yang turun karena perihal salah jurusan, sebaiknya segeralah mencari teman yang cocok dengan anda, sesuaikan diri anda dengan lingkungan sekitar ambilah sisi sisi positif dan hilangkan pikiran-pikiran buruk yang sering anda bayangkan atau imajinasikan. salah satu pikiran kita yang terlintas di saat kita salah mengambil suatu jurusan pasti kita berpikir saya tidak akan sukses kedepannya, saya pasti tidak paham apa yang di ajarkan oleh pengajar, dan lain sebagainya, hal ini lah yang dapat menimbulkan sugesti bagi otak dan membuat kita malas atau cenderung melakukan sesuatu dengan tidak ikhlas.

Jadi kesimpulan nya sikap yang harus di ambil di saat kita menganggap salah mengambil suatu jurusan yaitu :

  • kita terlebih dahulu mengoreksi apa yang kurang pada diri kita.
  • sudah kah kita bersyukur atas apa yang tuhan telah berikan.
  • sudahkah kita membaca banyak biografi tentang orang-orang sukses tanpa kuliah,
    apakah kita kalah dengan mereka yang tidak berkuiah.
  • teruslah memotivasi diri dan motivasi orang tua serta orang sekitar yang dapat membuat diri kalian terus membaik dari hari ke hari.
  • sukses tidaknya kita tergantung oleh diri kita dan kemaukan kita sendiri, bukan karena jurusannya ataupun universitas nya.

Lulusan S2 UI bekerja sebagai driver GO-Jek.

Lulusan SMA sukses dengan ketekunan nya.
https://m.tempo.co/read/news/2012/04/11/089396254/kisah-bekas-kenek-jadi-pengusaha-sukses-di-london


(Achmad Fauzi) #6

Mungkin beberapa orang beranggapan bahwa istilah “salah jurusan” adalah hal yang cukup fatal, karena menyangkut masa depan seseorang. mau jadi apa setelah lulus kuliah?, apakah cocok dengan bidang yang digelutinya selama kurang lebih 4 taun?. dan bagaimana jika ternyata jurusan yang diambil tidak cocok dengan apa yang selama ini dicita-citakan?. tak sedikit mahasiswa akan mencoba mengikuti tes perguruan tinggi lagi, yang mereka anggap tempat yang lebih baik untuk masa depan mereka.

Memang hal itu tidak salah, namun apakah mereka sudah benar-benar tau pasti bahwa nanti mereka berada di tempat yang lebih baik, bisa jadi tempat baru tersebut berbeda jauh dari ekspektasi mereka, karena bisa jadi mereka suka dengan bidang yang mereka inginkan namun lingkungannya sebaliknya, contoh : teman-teman yang “rusak”, tingkat keamanan yang rendah sehingga membuat resah, suasana belajar yang tidak kondusif dan lain sebagainya. karena selain diri sendiri, lingkungan sekitar sangat berpengaruh terhadap bagaimana kita terbentuk nanti.

Dan jurusan di perkuliahan bukan merupakan penentu sukses tidaknya seseorang. Setelah kita lulus kita tetap mempunyai peluang menjadi apa saja yang kita inginkan.
Berikut contoh orang sukses yang “salah jurusan” :

  1. Patrick Adhiatmadja dari jurusan Arsitektur kini menjadi Bos Produsen Oli

  2. Bill Gates dari jurusan Hukum namun kini ia menggeluti bidang IT dan menjadi pemilik Microsoft sekaligus orang terkaya

  3. Chairil Tanjung dari jurusan Teknik Sipil, karena ketertarikannya dibidang bisnis kini ia menjadi pemilik perusahaan-perusahaan besar yang tergabung dalam CT Corps

  4. Raditya Dika berasal dari jurusan Hukum namun dia menjadi stand up comedian, penulis buku, membuat film, dan masih banyak orang seperti mereka

Jadi menurut saya jika kita sudah masuk dalam suatu jurusan yang kita tidak suka atau bukan passion kita, kita hanya perlu menjalaninya sampai tuntas. Orang-orang sukses tersebut dapat sukses meskipun salah jurusan, karena mereka tidak hanya menyerap ilmu dari kelas saja, namun ilmu dari lingkungan(teman-teman, masyarakat sekitar, masalah yang timbul dan sebagainya) mereka juga pelajari, sampai akhirnya mereka benar-benar menemukan apa yang mereka inginkan. Ketika kita sudah terlanjur masuk dalam “arena pertarungan” tersebut , jika ingin keluar yaa… selesaikan dulu pertarungannya, menang atau kalah. Toh jika kalah kita belum gagal, jika kita mau bangkit.


(Yudhistira Serdiansyah Alrio) #7

saya sangat setuju dengan pendapat @meirindahapsari, karena segala keputusan yang telah kita ambil mempunyai konsekuensi dan tanggung jawab masing-masing, manusia diciptakan dengan mempunyai banyak kekurangan namun juga mempunyai banyak kelebihan, salah satunya adalah akal yang kita gunakan untuk berpikir, semua masalah yang ada di dunia ini pasti mempunyai solusi, jika kita mau untuk berpikir lebih keras meski seberat apapun masalah yang kita hadapi, tentu masalah tersebut akan terselesaikan.

sumber gambar: etsy


(I Made Andwi Raditya Prabhawa) #8

Menurut saya jika sudah merasa salah jurusan adalah ambil sikap. Pikirkan baik – baik tentang sikap yang akan anda ambil. Kalau anda ingin bertahan, ubah semua pemikiran anda. Ambil sisi positif dari jurusan tersebut, ciptakan banyak kesempatan dengan mencari relasi maupun tutor untuk dapat tetap survive pada jalan yang ditempuh. Cepat atau lambat anda akan menemukan titik dimana semua akan berubah semakin baik dan anda akan yakin bahwa jurusan itu tetap memilki kelebihan. Kalau merasa ga tahan, ya anda bisa memilih opsi berhenti. Balik arah terus kejar apa yang sebenarnya pingin anda lakuin. Kedua opsi tersebut emang ngga ada yang mudah, makanya saya lebih menyarankan pemikiran yang masak di awal, daripada ujungnya ribet sendiri kan?

Nah setelah penjabaran diatas saya yakin anda pasti akan berpikir 2 kali untuk mengambil sikap. Tapi apapun yang anda pilih, lakukan semua itu dengan bertanggung jawab. Buat para petinggi diluar sana percaya bahwa lulusan di Indonesia layak untuk mendapatkan tempat. Mereka ngga mau tahu tentang anda yang salah jurusan atau ngga, mereka cuma ingin tahu anda bisa apa ngga. Jadi lakukan yang terbaik dimana pun dan kapan pun, usaha ngga pernah mengkhianati tuannya. Terpenting? Pikirin masak-masak ya dalam memilih jurusan karena itu yang sedikit banyak akan menuntun anda ke dalam batas tertinggi yang diinginkan.

Keep moving forward!


(Muhammad Fachryza Purwanto Putra) #9

Menurut saya adalah apakah memang anda benar benar salah dengan pilihan yang saat ini anda jalani ataukah hanya karena masalah kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru yang sangat berbeda dengan dunia sma. Dan terus bagaimana, apakah satu-satunya jalan adalah dengan harus berhenti dan mencoba peruntungan di tahun depan yang kita juga tak tahu pasti apakah bisa masuk ke jurusan yang kita benar benar mau. Sebenarnya ada 2 pilihan yaitu dengan tetap melanjutkan dengan apa yang anda jalani saat ini atau memilih menjalani jurusan yang lain dengan tujuan yang baru. Dan mana jawaban yang benar diantaranya keduanya yang bisa menentukan adalah diri anda sendiri.

Apapun keputusannya adalah anda akan mengorbankan beberapa hal yaitu waktu dan tenaga, biaya yang dikeluarkan dan pastinya masa depan yang pastinya juga belum jelas. Maka dari itu keputusan yang akan anda ambil harus diri anda sendiri yang memutuskan, setiap orang punya prioritas nya sendiri diri dan menurut saya anda sudah cukup dewasa untuk dapat menentukan keputusan yang tepat untuk masa depan yang anda akan jalani


(Neala Agita) #10

Kuliah adalah masa dimana seorang siswa berganti titel yang telah ia miliki selama 12 tahun sekolah menjadi mahasiswa. Maha yang dalam KBBI artinya adalah sangat atau amat, dijadikan gelar tambahan siswa. Artinya adalah sikap atau perbuatan seorang mahasiswa dalam menyatakan suatu pilihan atau pendapat pun harus disertai pertanggungjawaban dan kedewasaan.

Sikap menyesal ketika merasa salah jurusan merupakan pilihan sikap yang tidak tepat. Keinginan pindah jurusan pun harus disertai alasan yang kuat sebelumnya. Memilih jurusan, pada awalnya pasti telah memikirkan konsekuensi masing-masing yang telah dipilih. Pikirkan lagi alasan-alasan kuat tersebut, jika hanya karena bosan sesaat dan merasa bahwa kuliah terasa sulit, seharusnya menyadari bahwa kuliah dimanapun dan jurusan apapun pasti tidak mudah kecuali jika kita bersungguh-sungguh. Tidak ada yang bisa menjamin seseorang berhasil ketika memilih jurusan yang sesuai dengan passion-nya. Seharusnya, menjalankan apa yang telah dipilih, serta mempertimbangkan dengan penuh kedewasaan ketika merasa ingin mengulang atau pindah jurusan. Mempertimbangkan apa yang telah dijalankan selama masa kuliah, prestasi yang telah diperoleh, dan ilmu-ilmu yang telah didapatkan selama masa kuliah.

Lebih baik bertahan, lanjutkan, dan perjuangkan sampai selesai. Pikirkan kembali dana yang telah dikeluarkan, tenaga yang telah dicurahkan, serta waktu yang telah terbuang. Kasus serupa, apabila merasa salah jurusan karena tidak sesuai dengan passion atau prospek bekerja untuk masa depan maka pilihan untuk pindah jurusan adalah pilihan yang kurang benar. Alasannya adalah ijazah yang diterima hanya di kuliah saja, namun ilmu-ilmu bermanfaat tidak hanya dominan dan diperoleh secara text book saja.

Alasan lain bahwa terkadang pekerjaan yang diinginkan selama kuliah bisa berbanding terbalik dengan apa yang telah dipelajari, namun beberapa ilmu pasti akan terus digunakan jika selama masa kuliah tersebut ditekuni secara sungguh-sungguh dan berusaha untuk fokus menyelesaikan dengan baik. Pada akhirnya, barangkali setelah melewati segala masa kuliah yang telah dijalanin, akan mendapatkan sesuatu yang lebih dari apa yang anda bayangkan di jurusan impian anda. Namun, keputusan yang sesungguhnya adalah diri anda sendiri yang memutuskan dan harus menerima segala konsekuensi atas pilihan yang telah dipilih.


(Aprivisi Ewa Abbas) #11

Sebelumnya salam kenal Julia , topik yang sangat menarik untuk diperbincangkan.

Sebenarnya kata " salah jurusan " itu kurang begitu tepat . Kenapa saya mengatakan seperti itu , karena kita yang memilih jurusan tersebut dan tahu tentang konsekuensi itu sebelumnya. Kebanyakan kasus yang kita temukan di lingkungan kampus sekarang adalah bagi para mahasiswa yang merasa salah jurusan karena mereka masuk di pilihan ke-2 atau malah di pilihan ke-3. Jujur menurut saya pribadi hal ini lumrah lumrah saja , karena menaruh pilihan ke-2 dan ke-3 itu bukan main-main , pasti ada pertimbangan yang sangat serius sebelumnya Mungkin kata yang tepat untuk menyatakan kondisi seperti ini lebih ke sulitnya penyesuaian metode pembelajaran , dimana kita memerlukan adaptasi untuk menghadapi masa transisi dari metode pembelajaran di SMA ke masa Perguruan Tinggi. Pada hakikatnya kuliah di jurusan sebagus apapun pastilah kita akan menemukan mata kuliah yang membuat kita berkata " Aduh , ini materi tentang apa sih ? " , " Males banget belajar ini ." , " Susahnya minta ampun " dan itu semua adalah hal yang sangat wajar .

Sebagai tambahan , sewaktu dulu saya pernah mendengar pemateri menyampaikan hal seperti ini , " Ketika Anda tercemplung ke dalam lautan dan ikut merasakan arusnya , mungkin pada awalnya Anda akan merasa kesulitan beradaptasi dan seakan-akan ingin menyerah saja , namun pada akhirnya lambat laun Anda pasti akan bisa beradaptasi dan bisa untuk berenang untuk bisa survive dari kondisi ini " .
Nah dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ketika kita merasa salah pilih jurusan dan jurusan itu sangat tidak mencerminkan jati diri kita seutuhnya , yang harus kita lakukan hanyalah perlunya kesabaran untuk beradaptasi dan mulai perlahan lahan untuk mengkikuti kemana " arus " ini akan membawa kita dan jangan lupa untuk tetap bersyukur dan mengingat Tuhan YME serta doa restu kedua orangtua.

dan sebagai penutup , semoga cuplikan artikel dibawah ini bisa membuka pikiran kita bahwa ketika kita merasa salah jurusan , itu bukan akhir dari segalanya .

"Ijazah hanya bisa didapat lewat kuliah, tapi ilmu bisa didapat dengan berbagai cara "

Ingat artikel tentang perusahaan Google yang gak butuh ijazah? Nah, kamu masih punya kesempatan yang lebar untuk menggapai pekerjaan impianmu meski latar pendidikanmu gak sejalan. Kecuali profesi yang kamu inginkan itu butuh keahlian yang spesifik–seperti dokter, insinyur, ahli ekonomi, ahli bahasa, atau pengacara–kamu bisa kok mempelajari ilmunya secara mandiri atau otodidak.

Jadi, sembari berusaha merampungkan studimu dengan sebaik mungkin, kamu bisa memanfaatkan waktu luangmu buat mengasah skill yang penting buat menggapai rencanamu nanti

sumber : http://www.hipwee.com/motivasi/ketika-kamu-salah-jurusan-lanjut-kuliah-atau-bubar-jalan/


(Tiara Pangestu) #12

Salah jurusan ? Mungkin pada saat kita memilih jurusan, ekspetasi yang kita pikirkan dengan kenyataan sangat berbeda pada saat kita menjalaninya di bangku kuliah. Oleh karena itu banyak mahasiswa yang merasa banyak salah pilih jurusan tersebut. tetapi sebagai mahasiswa yang siap merubah diri sendiri, orang lain dan bangsanya, kita sebagai mahasiswa harus tetap menjalani sepenuh hati, ikhlas, dan tetap semangat untuk mewujudkan cita cita awal kita, agar semuanya tercapai dengan tidak adanya rasa keterpaksaan dan stress di dalam diri pribadi masing masing.


(Julia ferlin) #13

Terimakasih atas jawaban yang sangat memuaskan, pikiran saya menjadi terbuka saat membaca tulisan anda. Dilihat dari pemaparan awal anda, kita tidak bisa mengabaikan beberapa orang yang tidak memilih jurusan mereka dengan pertimbangan yang matang. Kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa banyak orang yang memilih jurusan mereka hanya karena mereka takut bersaing dengan orang orang yang memilih jurusan yang mereka inginkan. Saya contohkan dengan kasus, jika seandainya A ingin masuk kedokteran, tapi melihat ketatnya persaingan akhirnya A lebih memilih mengikuti seleksi jurusan teknik karena ia merasa lebih mudah.

Disinilah yang saya maksudkan dengan salah jurusan. Tidak bisa dipungkiri kasus sejenis ini sering terjadi dikalangan mahasiswa baru. Saya setuju bahwa banyak hal yang kita sukai bisa dipelajari secara otodidak, tapi mari kita lihat dari fakta yang ada. Mungkin Google tidak memerlukan ijazah untuk perekrutan pegawainya, tapi apakah semua perusahaan menerapkan sistem seperti itu?

Saya sangat setuju dengan qoute yang anda kutip

Namun, jika dipertimbangkan lagi, apakah tetap menjalani apa yang bukan passion kita, dan menerapkan sistem otodidak itu sendiri adalah hal yang paling efektif?


(Muhammad Irsad 165150407111020) #14

Bismillah. Percayalah kawan, kalimat yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan ini adalah ya seperti gambar diatas. BERSYUKUR selalu atas segala yang diberikan oleh Allah SWT yang begitu banyak nikmat yang kita tidak bisa hitung jumlahnya.

“Aku gak mau kuliah sampai aku masuk fakultas/jurusan yang aku mau!” “Gimana mau dapet nilai bagus kalo kuliahnya ga sesuai minat kita?” “Ini kan bukan SMA lagi, jadi kuliahnya harus benar-benar sesuai minat kita!” “Ini kan kuliah, jadi jangan ambil jurusan yang kita ga minat, nanti kamu gak kuat!”

Ya kurang lebih seperti itulah keluh kesah manja para lulusan SMA yang salah jurusan .
Tanpa berpanjang-lebar, Saya paling tidak suka dengan keluhan orang seperti itu, kenapa? Allah Maha Tahu. Siapa yang tahu kalau suatu saat nanti dia justru sukses di jurusan yang saat ini dia salah masuk?

Guys, simplenya ya kita yang mengikuti dunia, bukan dunia yang mengikuti kita. Alhamdulillah banget kita masih bisa kuliah, dengan biaya kuliah yang tentunya tidak sedikit. Coba kita lihat diluar sana, masih banyak ratusan bahkan ribuan orang yang ingin masuk ke jurusan kita ini. Pernah gak sih kalian pikir gimana perasaan mereka yang kalah saing dengan kita? Makanya tambahin lagi syukurnya, bro.

Jujur saja, fakultas saya sekarang adalah fakultas ilmu komputer, dan saya sama sekali tidak ada minat dan tidak menyangka saya bisa keterima di fakultas yang sehebat filkom ini. Ya, fakultas ekonomi dan bisnis adalah fakultas yang saya idam idamkan…bukan dari SMA, tapi dari SMP! Tapi saya selalu ingat pesan orang-orang terdekat saya yang meminta saya untuk lebih bersyukur…

Sekarang nasi sudah jadi bubur, dan sekarang jadi tugas kamu untuk membuat bubur itu menjadi lebih enak dari bubur-bubur lainnya. Hidup jangan terlalu banyak lihat ke atas, sering-seringlah lihat ke bawah… Semoga membantu.


(cholidmawardi) #15

Memilih jurusan tentunya harus dipilih sesuai minat dan jurusan yang diambil pada saat SMA, jangan saja mengambil jurusan karena jurusan tersebut ada pada universitas negeri dan mengutamakan gengsi.

Menurut saya apabila merasa salah jurusan dan minat belajar juga berkurang sehingga menghasilkan nilai yang kurang memuaskan lebih baik mengikuti test masuk perguruan tinggi lagi untuk memilih jurusan yang sesuai, namun mengikuti test masuk perguruan tinggi lagi juga harus mempertimbangkan waktu dan biaya yang sudah dikeluarkan.


(dineva) #17

Apapun keputusan yang sudah diambil pasti ada positif dan negaifnya, semua kembali lagi ke pribadi masing-masing. Ada kalanya teman yang ketika dia sadar bahwa jurusan yang dia ambil salah, langsung dia ambil langkah seribu untuk segera pindah ke jurusan yang dia inginkan, toh dari segi finansial dan keluarganya tidak keberatan atas keputusannya.
Tetap semangat apapun yang terjadi pada diri kita, yang menurut kita tidak baik bisa jadi itu yang terbaik menurut Tuhan, dan menurut kita baik belum tentu itu baik buat kita.


(Arief Rakhman) #18

Kalau salah jurusan, layaknya naik krl, bis atau angkot… maka ikuti dulu aturan di moda transportasi itu. Hhe… kalau kereta berhentinya di stasiun, kalau bis di halte, kalau angkot lebih banyak tempat. Ini salah satu kelemahan sistem pendidikan tinggi kita. Seharusnya ada fasilitas untuk ganti atau transfer kredit ke jurusan tertentu di universitas yang sama. Kalau nggak salah di bbrp universitas luar negeri ada istilah jurusan mayor dan minor. Kalau minor lebih mudah ganti daripada jurusan mayor. Tapi mereka sudah lebih dini penjurusannya, sejak SMP bersiap milih jurusan SMA. Nggak seperti kita yg penting jurusan IPA dulu, nanti kuliah bisa ke jurusan IPS. Mbok ya dipertimbangkan lebih jauh. Pengetahuan itu semakin banyak dan luas, mau nggak mau kita harus spesialisasi. Dan mengurangi belajar pengetahuan yg kita tidak minati. Kenapa? Agar ilmu tak terpakai bisa ditekan.