Siapakah Sosok Abu Umar Al-Harbi?

Abu Umar AL-Harbi
Abu Umar Al-Harbi, berasal dari kota Madinah Al-Munawarrah, Saudi Arabia. Komandan unit. Syahid dalam operasi Miracle di Bosnia pada 21 Juli 1995. Berumur awal dua puluhan.

Seperti apakah sosok Abu Umar Al-Harbi?

Abu Umar Al Harbi datang dari Madinah Al-Munawarrah ke tanah jihad Bosnia dan meninggalkan kehidupan yang mewah dan berlimpah di belakangnya. Begitu sampai di kamp yang berada di garis depan, ia tidak pernah lagi kembali ke kota. Selama dua tahun ia berada di kamp, ia tidak pernah ingin kembali ke kota di mana terdapat kehidupan dunia yang menarik dengan toko-toko dan restaurannya. Ia menghabiskan waktunya di kamp atau di bunker-bunker yang berada di pegunungan. Bahkan jika ia membutuhkan sesuatu dari kota ataupun dari markas besar, ia meminta bantuan para mujahidin untuk mengambilkan atau membelinya dari kota.

Al-Harbi selalu berusaha untuk membuat para mujahidin tertawa dan terhibur. Di manapun ia berada, ia selalu membawa suasana yang riang, sehingga ia dicintai dan sangat populer di mata semua mujahidin. Jika seseorang melihatnya, ia tampak seperti seorang yang sering bercanda, namun ia seperti singa di tengah pertempuran. Meskipun rasa humornya tinggi, kecintaannya terhadap sesama muslim sangat tinggi. Saat pembantaian kaum Muslimin di Srebrenica terjadi pada tahun 1995 (dimana sekitar delapan ribu kaum muslimin tewas dibantai oleh tentara Serbia dalam waktu satu minggu, padahal Srebrenica dijaga oleh pasukan UNPROFOR PBB), Abu Umar Al-Harbi tampak sangat sedih dan terpukul, melebihi mujahidin lainnya.

Dalam operasi Miracle, Harbi dipercaya menjadi komandan unit khusus yang terdiri atas enam mujahidin. Tugas yang diberikan pada mereka adalah untuk merebut tiga buah bunker
Serbia yang terletak di medan yang paling berbahaya. Bunker yang pertama berada di tengah lapangan terbuka yang ditanami ranjau. Tidak ada pohon ataupun semak-semak yang dapat dipakai berlindung, dan hanya ada satu jalan akses keluar masuk yang langsung mengarah ke bunker tersebut. Hal ini sangat berbeda dengan bunker lainnya yang biasanya tersembunyi oleh pohon-pohon ataupun gundukan tanah.

Rencana penyerangannya adalah sebagai berikut: Salah satu mujahidin akan membuka serangan terhadap bunker tersebut dari salah satu sisi dengan RPG (granat berpeluncur roket), kemudian mujahidin lainnya akan berlari maju melalui jalan akses yang ada. Saat mujahidin mengambil posisi dan menunggu saat-saat untuk menyerang, orang-orang Serbia di bunker itu mulai menembak, seakan-akan mereka tahu bahwa mujahidin akan menyerang. Para mujahidin di unit tersebut panik, dan saat mereka semua berpikir apa yang harus dilakukan, Al-Harbi segera berlari cepat mendekati bunker tersebut, melintasi lapangan terbuka di tengah-tengah tembakan yang mengarah pada para mujahidin.

Para mujahidin lainnya ragu-ragu untuk mengikutinya dan berteriak padanya,* “Apakah ada
ranjau?". Al-Harbi hanya menjawab,”ALLAHU-AKBAR!"*, sambil terus berlari.

Melihat pemimpin mereka berlari, akhirnya mujahidin lainnya ikut berlari menyerbu bunker tersebut. Al-Harbi akhirnya berhasil mendekati pintu masuk bunker Serbia dan hanya berjarak dua meter dari dua orang Serbia di dalamnya. Mereka menembaki Al-Harbi dan ia pun menembaki mereka. Saat ia berhasil menewaskan salah satu tentara Serbia, seorang tentara lainnya menembak Al-Harbi di keningnya dan ia pun gugur syahid.

Keesokan harinya, salah satu mujahidin melihat Al-Harbi dalam sebuah mimpi. Wajahnya tampak sangat putih dan bercahaya. Mujahid itu bertanya padanya :

“Apa yang terjadi padamu?”

Al-Harbi menjawab,

“Pada malam sebelum penyerangan, kami semua berada di sebuah bunker di gunung. Saat itu saya tertidur dan kemudian saya berada dalam keadaan junub. Saat saya bangun, saya sadar bahwa tidak mungkin saya mandi wajib saat itu, jadi saya melakukan operasi tersebut dalam keadaan junub”.

Al-Harbi tahu bahwa dalam situasi ini, ia dapat melakukan tayammum, dan kemudian melakukan shalat, karena jihad lebih penting daripada turun gunung untuk mandi wajib. Bahkan ia adalah komandan (amir) kelompok itu, tidak mungkin ia menunda operasi itu hanya agar ia dapat melakukan mandi wajib.

“Saat saya mendekati bunker Serbia itu dan menembaki orang-orang di dalamnya, saya merasa ada sesuatu yang menempel pada kening saya, kemudian tiba-tiba saya merasa ada dua sosok yang memegang ketiakku dan mengangkatku dengan cepat sekali naik ke langit, kemudian para malaikat memandikan saya”.

Kejadian ini serupa dengan kejadian yang terjadi pada sahabat Rasulullah SAW, Hanzhalah ra, yang syahid dalam pertempuran sebelum ia dapat melakukan mandi wajib satu hari setelah malam pengantin. Rasululllah SAW mengatakan bahwa para malaikatlah yang memandikan Hanzhalah.

Referensi

http://www.ilma95.net/pdf_kisah.htm