Siapakah Eka Tjipta Widjaja?


EKa Tjipta Widjaja adalah pendiri Sinar Mas Grup.
Siapakah Eka Tjipta Widjaja ?

Sebelum kita mengenal lebih jauh sosok Eka Tjipta Widjaya mari kita ketahui dulu biodata dari Eka Tjipta Widjaya itu sendiri.

Nama : Eka Tjipta Widjaja / Oei Ek Tjhong
Lahir : China, 3 Oktober 1921
Wafat : Jakarta, 26 Januari 2019
Istri : Trini Dewi Lasuki, Mellie Pirieh
Anak : Teguh Ganda Widjaja, Oei Hong Leong, Franky Oesman Widjaja, Indra Widjaja, Frankle Widjaja, Muktar Widjaja, Jimmy Widjaja, Fenny Widjaja, Sukmawati Widjaja, Ingrid Widjaja, Nanny Widjaja, Lanny Widjaja, Inneke Widjaja, Chenny Widjaja, Meilay Widjaja, Jetty Widjaja
Dikenal : Pendiri Sinar Mas Grup
Kekayaan : 13.9 Milyar Dollar USD / 195.7 triliun Rupiah (Globe Asia, 2018)

Oei Ek Tjhong merupakan nama asli dari Eka Tjipta Widjaja, ia terlahir di China pada tanggal 3 Oktober 1921 dan memutuskan untuk pindah ke Indonesia disaat umurnya masih 9 (Sembilan) tahun yaitu sekitar tahun 1930. Ia bertekad untuk pindah ke Indonesia dari Quanzhou, China dikarenakan kondisi keluarganya yang sangat miskin, sehingga ia mempunyai keinginan yang besar untuk mengubah hidupnya dan hidup keluarganya. Dari China akhirnya ia memutuskan untuk pindah ke Kota Daeng, Makassar untuk membantu ayahnya yang sudah lebih dahulu tiba dan memiliki toko kecil-kecilan. Sebagai seorang perantau yang berusia masih cukup belia ia tidak hanya dituntut untuk membantu ayahnya saja, akan tetapi pada saat itu ia juga memiliki kewajiban untuk melunasi utang sebesar USD150 kepada seorang rentenir. Utang tersebut digunakan oleh Eka Tjipta Widjaja sebagai ongkosnya untuk ke Indonesia. Akhirnya, dua tahun kemudian utang yang ia miliki tersebut dapat dibayarkan.

Dikarenakan saat kecil kehidupannya dapat dikatakan kurang berkecukupan ia pun harus mengorbankan pendidikan demi membantu orang tua nya berdagang dan membayar utang. Pria yang dikenal sebagai pendiri salah satu perusahaan raksasa di Indonesia, yaitu perusahaan Sinar Mas ini hanyalah seorang lulusan SD (Sekolah Dasar). Ia melakukan berbagai cara untuk membantu kedua orang tuanya, seperti berkeliling kota Makassar dengan sepeda onthel miliknya untuk menjajakan jualan kecil-kecilan yang terdiri dari permen, biskuit, serta aneka ragam makanan dari toko ayahnya secara door to door.

Masa remaja beliau pun diisi dengan semangatnya untuk berjualan, diusianya yang ke-15 ia mencari pemasok kembang gula beserta biskuit dengan sepeda onthel lawasnya melewati hutan-hutan yang cukup lebat dan jalanan yang masih kasar. Ia memang sosok yang tidak pantang menyerah dan tidak juga kenal takut. Kerja kerasnya untuk mencari pemasok pun tidak langsung membuahkan hasil yang manis, malahan kebanyakan dari pemasok gula dan biskuit tersebut tidak dapat mempercayainya. Setelah dua bulan berkecimpung dalam usaha penjualan biskuit dan gula, ia sudah dapat meraih laba sebesar Rp.20, yang jumlah tersebut merupakan jumlah yang cukup besar pada kala itu. Sebagai perbandingan, harga beras 1 kilogramnya saat itu hanyalah sebesar 3-4 sen.

Usahanya dapat dikatakan sudah mulai berkembang dan membuahkan hasil yang cukup banyak beberapa tahun kemudian, bahkan beliau sempat dapat membeli becak untuk mengangkut berbagai barang jualannya, yang sesungguhnya pada waktu itu tidak dapat dibeli dengan harga yang murah. Memang untuk dapat menjadi seseorang yang sukses berbagai sepak terjang haruslah dirasakan, usahanya yang ia rintis sejak muda harus bangkrut hingga hancur total saat tentara Jepang menyerbu Indonesia. Pada saat itu ia harus menganggur dan menggunakan total laba sebesar Rp.2000 yang telah ia kumpulkan selama ini untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari.

Tidak pantang menyerah ia pun memutuskan untuk mengayuh sepeda onthel bututnya keliling Kota Makassar, yang tak lama kemudian ia sampai ke daerah pangkalan perahu di Paotere. Disitulah ide cemerlangnya dalam memanfaatkan suatu situasi turut berjalan, ia melihat banyak tentara Jepang sedang mengawasi ratusan tawanan pasukan Belanda dan ia pun melihat berbagai tumpukan terigu, semen, gula yang masih dalam keadaan sangat baik. Ia pun memutuskan untuk berjualan di dekat lokasi tersebut, keesokan harinya sekitar jam 4 (empat) subuh ia sudah berada di Paotere. Ia membawa kopi, gula, air, ayam, serta berbagai keperluan lainnya yang dapat menunjang dirinya saat berjualan nanti. Sayangnya hingga waktu menunjukkan pukul 9 (Sembilan), masih belum ada pengunjung di tenda jualannya. Ia pun berinisiatif untuk mendekati bos pasukan Jepang tersebut dan mentraktirnya untuk makan-makan di tenda miliknya. Benar saja, setelah beberapa saat ia merasakan kenikmatan ayam beserta minum beberapa teguk whisky, bos tentara Jepang tersebut menyatakan bahwa masakan Eka terasa enak dan ia pun memperbolehkan anak-anak buahnya untuk makan dan minum di tenda milik Eka. Dengan demikian Eka memiliki keberanian untuk meminta izin mengangkati atau mengambil berbagai barang yang telah dibuang oleh tentara Jepang, dan dengan segera ia mengerahkan anak-anak sekampung untuk mengangkati barang-barang tersebut ke rumah Eka menggunakan becak.

Setelah mengupahi anak-anak tersebut masing-masing 5-10 sen, akhirnya berbagai barang tersebut sampai. Disana ia memilahi berbagai barang tersebut agar dapat memisahkan mana yang layak pakai dan yang layak untuk dijual. Dikarenakan pada saat itu masih dalam keadaan perang, maka suplai bahan bangunan beserta barang keperluan sehari-hari menjadi sedikit, yang tentunya membuat berbagai barang tersebut menjadi berharga. Ia menjual terigu sebesar Rp.50/karung dan lama kelamaan menaikkan harganya menjadi Rp.60/karung.

Pada suatu hari ia pun didatangi kontraktor yang hendak membeli semennya untuk membuat kuburan orang kaya. Dikarenakan otak bisnis kuatnya berjalan, Eka pun menolak menjual semen yang didapatnya kepada kontraktor tersebut. Malahan ia hendak mengikuti jejak kontraktor itu, ia pun membayar tukang sebesar Rp.15/hari ditambah 20% saham kosong untuk mengadakan kontrak 6 (enam) kuburan mewah. Ia menghargai jasanya sebesar Rp. 3500/kuburan hingga yang terakhir membayar sebesar Rp.6000/kuburan. Akan tetapi setelah besi dan beton miliknya habis, ia pun berhenti sebagai kontraktor kuburan.

Setelah ia berhenti menjadi kontraktor kuburan, ia pun mulai menggeluti bisnis perdagangan kopra, yaitu daging buah kelapa yang dikeringkan sebagai bahan baku pembuatan minyak kelapa. Akan tetapi, bisnis tersebut harus berhenti secara mendadak dikarenakan Jepang mengeluarkan peraturan bahwa jual beli minyak kelapa dikuasai oleh Mitsubishi yang hanya menghargai sebesar Rp. 1,80/kaleng, padahal biasanya harga kopra di pasaran seharga Rp.6/kaleng. Tidak kenal Lelah, ia pun terus-terusan mencoba berkiprah dalam sektor bisnis atau usaha. Ia sempat berjualan teng-teng (makanan khas makassar yang berbahan dasar gula merah dan kacang tanah). Tak lama kemudian harga gula jatuh dan ia pun rugi besar. Segala modalnya habis bahkan ia harus menjual barang-barangnya untuk menutupi utang dagang.

Tak lama kemudian sekitar tahun 1980-an Eka memutuskan untuk membeli sebidang perkebukan kelapa sawit dengan luas lahan 10 ribu hektar. Bisnis kelapa sawit tersebut berkembang dengan sangat pesatnya dan beliau akhirnya memutuskan untuk merambah ke bisnis dalam bentuk lain. Pada tahun 1981 ia membeli perkebunan teh sekaligus dengan pabriknya. Tak puas hanya berkecimpung di dalam kelapa sawit dan teh, ia pun mulai merintis karirnya dalam bisnis perbankan. Ia membeli Bank Internasional Indonesia seharga 13 milyar rupiah. Semakin sibuk dan semakin bertekad untuk maju, ia pun memutuskan untuk turut ikut serta dalam bisnis kertas. Ia membeli PT. Indah Kiat dan ia pun dapat memproduksi kertas hingga 650 ribu/tahun. Selain itu ia pun membangun ITC Mangga Dua, Green View Apartemen yang berada di Roxy, dan Ambassador di Kuningan. Setelah sekian lama akhirnya ia mendirikan Sinar Mas Group, yaitu merupakan operasi bisnis yang bergerak diberbagai sektor seperti pulp dan kertas, agribisnis dan food, jasa keuangan, developer dan juga real estate.

Eka Tjipta Widjaya meninggal dunia pada 26 Januari 2019, dengan usianya yang mencapai 97 tahun. Ia meninggal di kediamannya yang berada di Menteng, Jakarta Pusat dan ia pun disemayamkan di Rumah Duka RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.

Referensi

https://www.biografiku.com/biografi-eka-tjipta-widjaja-pengusaha-sukses-pemilik-sinar-mas-group/
https://www.cermati.com/artikel/mengintip-sejarah-sinarmas-kerajaan-bisnis-milik-konglomerat-eka-tjipta-widjaja
https://strategi.id/profil-pendiri-sinar-mas-group-eka-tjipta-widjaja/
https://m.merdeka.com/eka-tjipta-widjaya/profil/