Siapakah Edwin Hallet Carr?

Edwin Hallet Carr
Edwin Hallet Carr adalah salah satu tokoh yang berperan dalam perkembangan ilmu hubungan internasional pada zaman modern. Carr adalah seorang akademisi sekaligus praktisi di bidang hubungan internasional. Selain itu ia adalah seorang sejarawan, dan meskipun bidang hubungan internasionall bukanlah satu-satunya bidang yang digeluti, pemikirannya tentang realisme dalam buku ‘ The Twenty Years’ Crisis ’ adalah salah satu masterpiecei nya yang masih digunakan sampai sekarang.

Siapakah Edwin Hallet Carr ?

Biografi E.H.Carr

Carr lahir di Inggris pada tahun 1982 dan menyelesaikan pendidikannya dari Univeristas Cambridge sebagai first class degree of classics. Carr banyak mempelajari politik realis dan sejarah selama kuliah. Tokoh yang mempengaruhinya adalah Thucydides dalam karyanya ‘ The Peloponnesian War ’ dan Machiavelli dalam bukunya ‘ Il Principle ’. Carr pernah bekerja menjadi pekerja dan diplomat di British Foreign Office selama 20 tahun, antara tahun 1916 sampai 1936. Selama masa jabatannya tersebut Carr pernah mengikuti Paris Peace Conference di Versailles pada 1919, yaitu pada akhir Perang Dunia I. Carr yang dianggap telah memiliki banyak pengalaman kemudian dipilih sebagai Woodrow Wilson Professor of International Politics at Aberystwy pada tahun 1936. Pada momen tersebut ia kembali berkarya di bidang akademisi. Beberapa tahun kemudian ia menerbitkan buku ‘ The Twenty Years’ Crisis (939)’. Buku ini tentang realism , ia mengkritik kaum idealist-utopianist yang dianggapnya telah gagal dalam memahami hubungan internasional sehingga langkah dan keputusan yang diambil juga salah dan menyebabkan pecahnya Perang Dunia II.

Semasa Perang Dunia II ia menulis editorial untuk “ The Times ‟, sebuah koran di Inggris dan menjadi asisten editor pada tahum 1941-1946. Carr memberi pengaruh besar terhadap pemikiran Inggris Raya tentang kebijakan luar negeri dan rekonstruksi pasca perang. Saat mudanya Carr merupakan penganut Lloyd-George liberal yang percaya akan perdagangan bebas dan reformasi sosial. Namun pada awal 1930-an, Great Depression meyakinan dia bahwa kapitalisme tidak bisa lagi digunakan dan mengubah beliau pun mengubah pandangannya. Ia kemudian mencari tatanan baru yang cocok untuk digunakan di abad ke-20.

Realisme Menurut Carr

Buku yang dikarang oleh Carr yaitu ‘ The Twenty Years’ Crisis ’ mencerminkan bahwa Car sendiri telah terpengaruh oleh pemikiran Hobbes dan Machiaveli tentang realism . Buku ini berkontribusi terhadap perkembangan ilmu hubungan internasional, terutama konsep realism . Hubungan Internasional berkembang karena kebutuhan setelah ‘ Great War ’ sebagai respons dan sekaligus untuk mencegah terjadinya perang kembali. Maka dari itu karakteristik dari studi Hubungan Internasional didominasi oleh elemen ‘harapan’, ‘tujuan’, dan ‘kebutuhan’.

Pemikiran Carr sebagai seorang realist berseberangan dengan utopian . Menurutnya, utopian kurang atau bahkan tidak menganalisis fakta dan makna. Padahal dalam penelitian ilmiah yang baik tidak seharusnya mengabaikan fakta yang terjadi di lapangan. Carr mengnaggap utopian cenderung ingin menghilangkan perang, bukannya ingin mengatasi perang dan mengubah tatanan fenomena demi menghilangkan perang dan menggantinya dengan public consent yang kemudian akan diartikulasikan dalam kebijakan luar negeri. Sayangnya utopian mengabaikan permasalahan dari fenomena tersebut. Sehingga lewat bukunya, ia ingin mengubah cara pandang dunia terhadap suatu fenomena. Ia beranggapan bahwa keadaan akan berbahaya jika idealisme terus dipakai sebagai cara untuk memandang suatu fenomena. Ia kemudian menciptakan cara pandang baru yang lebih sistematis dan lebih nyata dalam menganalisis masalah dengan level analisa inter state dimana tujuan dari Hubungan Internasiona di bawa ke dalam realita, yang secara singkat dalam ilmu politik disebut pengakuan akan pentingnya power yaitu aliran realism .

Carr menganggap bahwa kegagalan pemimpin dunia pada waktu itu untuk memahami dunia menjadi penyebab terjadinya berbagai peristiwa yang tidak diinginkan, seperti Perang Dunia II. Kaum idealis mendirikan Liga Bangsa Bangsa sebagai alat untuk mewujudkan perdamaian. Namun pada kenyataannya negara anggota LBB justru saling menyerang sehingga menyebabkan Perang Dunia II. Carr menganggap bahwa LBB merupakan salah satu keputusan yang didasarkan pada dasar yang salah, yaitu idealisme.

Dalam buku ‘ Twenty Years’ Crisis, Carr juga menyatakan 4 kunci yang dapat membedakan realis dan utopian-idealis. Perbedaan yang pertama yaitu kaum idealis-utopianmengharapkan perubahan yang ideal melalui act of will , namun mereka tidak mengetahui langkah-langkah untuk mencapai perubahan idea tersebut. Sedangkan kaum realist cenderung pesimis akan terjadinya perubahan realitas. Perbedaan kedua adalah perbedaan pada teori dan praktik, ketiga adalah perbedaan antara golongan ‘kiri’ (radikal) dan ‘kanan’(konservatif).

Golongan radikal cenderung ideaslis dan utopis, sedangkan golongan konservatif cenderung realis. Yang terakhir adalah perbedaan antara etika dan politik. Kaum idealis-utopian cenderung percaya akan kekuatan etika. Sedangkan menurut realis etika muncul karena ada relasi kekuasaan. Oleh karena itu kaum realis lebih percaya pada politik.

Moralitas dalam Politik

E. H. Carr meskipun seorang realist dan sudah mengkritik habis-habisan kaum idealis-utopian, namun Carr dalam edisi kedua buku ‘ Twenty Years’ of Crisis ’ menyatakan bahwa moral juga harus mengambil peran dalam dunia politik. Moral dan Politik menurutnya haruslah seimbang. Hal tersebut berkaitan dengan pemikirannya bahwa power tanpa moral tidak akan berjalan dengan baik. Menurutnya meski membutuhkan power sebagai dasar dalam kekuasaan, namun moralitas juga diperlukan sebagai dasar dari perizinan dari pemerintah, sehingga power tidak dapat dijadikan dasar sendiri.

Dalam buku Basic Texts in International Relations , dapat diketahui Carr tidak mengabaikan moral dalam politik. Ia menyatakan bahwa apabila hanya power yang bermain, maka tidak akan pernah tercapai pada tatanan internasional yang baru. Dengan moral maka tatanan internasional yang baru diharapkan dapat tercapai. Carr juga menegaskan bahwa karena moralitas harus dijaga, maka prinsip menjaga dalam hubungan internasional haruslah ‘kebaikan untuk semua’. Namun demikian ia berpesan bahwa tatanan moral internasional yang baru tidak dan tidak dapat menjamin adanya kedamain yang tercipta.

Carr menjelaskan bahwa yang ia maksud dengan moralitas berbeda dengan moralitas antar individu. Standar moralitas antar negara tidak sama dengan standar moralitas yang ada pada antar individu, hal itu disebabkan oleh empat sebab. Yang pertama tidak mudahnyamengungkapkan emosi seperti cinta atau benci pada suatu negara. Maka dari itu sulit untuk menyatakan bahwa negara harus menyatakan kedermawanannya misalnya. Hal-hal tersebut dipandang terlalu subjektif untuk dinyatakan sebagai international behaviour

Kedua, walaupun ada beberapa perilaku moral yang tidak dapat dijalankan oleh sebuah negara. Ada pula perilaku moral yang hanya dilaksanakan oleh sebuah negara. Contohnya saat sebuah negara memperjuangkan mati-matian kesejahteraan rakyatnya meski harus berhadapan dengan negara lain.

Ketiga adalah tidak mudah untuk menemukan konteks dalam moralitas antar negara. Dalam bermasyarakat kita dapat mengekspresikan perilaku moral kita terhadap orang lain. namun lain halnya dengan negara. Tidak mudah untuk megekspresikan hal tersebut.

Keempat adalah apa yang dipandang baik oleh negara belum tentu dipandang baik juga oleh individu. Meskipun demikian moralitas antar negara dan antar individu berjalan seiringan. Konsep Carr tentang moralitas tidak lepas dari kritikan para pemikir lainnya. Kritik yang diutarakan antara lain Carr tidak dapat menemukan standar moralitas dalam hubungan internasional. Situasi tentu akan berubah dan dibutuhkan moral dalam menyikapi masalah-masalah tersebut, namun apabila tidak ada standar moralitas dalam hubungan internasional maka menimbulkan kesulitan dalam berhubungan antar negara. Sehingga seperti halnya moralitas yang dimiliki oleh individu, moralitas oleh negara juga harus fleksibel mengikuti situasi dan kondisi yang ada.

Referensi

https://www.academia.edu/7222741/Summary_E._H._Carr