Setujukah Kalian Jika Indonesia Menerapkan Hukum " Zero Food Waste " Seperti Prancis?

Pada tahun 2016 silam, Prancis menjadi negara pertama di dunia yang memberlakukan sebuah hukum yang isinya melarang supermarket yang ada di negara tersebut membuang setiap makanan yang masih memiliki kualitas baik sebelum masa expired. Supermarket - supermarket besar disana harus menandatangani kontrak donasi untuk amal. Jika tidak mau, mereka akan dikenakan denda sebesar 3.750 euro (Ivanova, 2020).

Semenjak peraturan ini dicanangkan, kini banyak makanan - makanan kaleng dan makanan fresh yang disumbangkan oleh supermarket di Prancis yang tentunya banyak membantu orang - orang kurang mampu yang ada di Prancis. Hukum ini sendiri juga merupakan bagian dari proyek ambisius Prancis untuk menekankan gerakan " zero food waste " dan dengan hukum yang sudah dijelaskan di atas tadi, jumlah food waste dapat ditekan. Hal ini menjadikan Prancis sebagai pionir dan pemimpin terdepan dalam Revolusi Food Waste yang juga menjadikan Prancis berada di peringkat pertama dalam Food Sustainability Index.

" Great food in France is not reserved for the rich. As a leader in food waste reduction, France is not only wasting less food on a national level but there is also better access to food for all the countries people ".

Kebijakan yang dilakukan Prancis ini juga banyak diapresiasi di dunia internasional. Apalagi food wasting masih menjadi salah satu problematika utama di dunia pangan. Menurut data yang dihimpun oleh FAO atau Organisasi Pangan Dunia, Sebanyak satu per tiga dari total jumlah makanan yang di produksi di dunia dibuang secara sia - sia. Jika ditilik dengan angka, maka jumlahnya mencapai 1,3 milyar ton makanan yang dibuang yang tidak saja merugikan secara ekonomi tetapi juga menghilangkan kesempatan untuk membantu sesama yang memang membutuhkan, dan juga berkontribusi besar dalam terhadap pelepasan sebanyak 3,3 milyar ton gas rumah kaca ke atmosfir. Sebuah penelitian juga menunjukan jika dunia bisa setidaknya melakukan pengurangan terhadap food wasting tahun 2050, maka akan mengurangi sebanyak 70 gigaton emisi C02.

Nah setelah melihat deskripsi diatas, apakah youdics sekalian setuju jika Indonesia juga sudah saatnya mengikuti langkah Prancis dengan menerapkan hukum yang mengatur food wasting ?

let me know in the comment

Referensi :

  1. Ivanova, V. (2020). How the French are Leading the Food Waste Revolution through Public Policy. Cozzo. Retrieved from How the French are Leading the Food Waste Revolution through Public Policy
  2. Christinee, L (2019). The Highs & Lows of France’s Zero Food Waste Law. The Wellness Feed. Retrieved from The Highs & Lows of France's Zero Food Waste Law
2 Likes

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwasan Zero food waste merupakan sebuah gaya hidup yang dimana menerapkan konsep reuse pada produk makanan. Dan jikalau diterapkan Indonesia sangat efektif untuk diterpakan pasal nya penduduk Indonesia sangat banyak tidak dapat kita pungkiri sampah yang dihasilkan juga banyak oleh sebab itu perlunya sebuah gerakan untuk mengedukasi terkait hal untuk menyadarkan kita semua untuk menjaga kebersihan maupun lingkungan. Yang dimana salah satu dari pengelolaan sampah yang setiap hari kita buang adalah sisa makanan dengan menerapkan Zero food waste.
Adapun manfaat Zero food waste sendiri yakni sebagai berikut:

  1. Sebuah langkah kecil mengurangi pemanasan global
  2. Menjaga kesehatan bumi
  3. Mengurangi sampah

Sumber:
Sayur box.com
Jakartamedia.co.id

Wahh pertanyaan nya sangat menarik untuk di diskusikan bersama kak @williamaditama menurut saya Zero Food Waste sebaiknya memang perlu diterapkan di negara Indonesia, hal dikarenakan masalah sampah di negara Indonesia sudah memasuki tahap yang sangat serius, karena berdasarkan data yang dilansir oleh pers Kementrian Lingkungan Hidup dan kehutanan, sampah yang dihasilkan oleh negara Indonesia mencapai 175.000 ton per hari atau setara dengan 64 juta ton pertahun. Dengan jumlah sampah sebanyak ini, dan tanpa adanya penanggulangan khusus dari pemerintah dan dari masyarakat sekitar seperti pengolahan sampah dll, tentu saja jutaan ton sampah ini, dapat menciptakan gas beracun yang disebabkan oleh tumpukan sampah itu sendiri yang semakin hari semakin bertambah jumlahnya, gas yang dapat diciptakan dari tumpukan sampah tersebut adalah gas metana(CH4), gas ini sangat berbahaya bagi kehidupan kita sehari-hari, dimana gas metana(CH4) ini dapat memicu terjadinya pemanasan global yang mana gas-gas metana tersebut dapat terbawa ke atmosfer dan dapat berpotensi untuk merusak lapisan ozon, padahal yang telah kita ketahui bersama bahwa lapisan ozon memiliki peran peting dalam menjaga kestabilan suhu di bumi. Gas metana(CH4) juga merupakan salah satu gas rumah kaca yang 21 kali lebih berbahaya dari CO2 (karbondioksida), jadi untuk mengurangi resiko terjadinya pemanasan global hukum “Zero Food Waste” sangat penting untuk di terapkan di negara Indonesia agar kelestarian lingkungan dan kehidupan masyarakat baik yang berada di Indonesia maupun di luar negeri bisa terjaga dengan baik.

Source:

  1. https://buleleng.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/55-dampak-pemanasan-global-bagi-kehidupan-manusia-dan-lingkungan#:~:text=Dampak%20pemanasan%20global%20yang%20cukup,satunya%20adalah%20kenaikan%20permukaan%20laut.&text=Akibat%20pemanasan%20global%20yang%20kedua%20adalah%20terjadinya%20perubahan%20Iklim.

  2. Zero Food Waste” Langkah Kecil Kurangi Pemanasan Global |

  3. StackPath

1 Like

@williamaditama pertanyaan yang sangat memantik untuk bisa di diskusikan ya kak. Berbicara mengenai zero food waste yang telah diterapkan oleh Negara Prancis merupakan sebuah role model yang patut ditiru oleh negara-negara lain, mengingat kondisi bumi yang semakin hari semakin tidak baik-baik saja. Seperti yang kita ketahui bahwasanya penggunaan sampah atau limbah hasil konsumsi ini rata-rata akan mengalir ke perairan (laut) sehingga dapat membahayakan makhluk hidup akuatik dan tentunya banyak pihak yang dirugikan seoerti manusia sebagai konsumen. Maka dengan penerapan hukum zero food waste merupakan sebuah ide positif dalam membantu bumi khususnya Negara Indonesia dari banyaknya produksi sampah yang tidak dapat diolah kembali. Namun, menurut saya Negara Indonesia tidak hanya membutuhkan hukum penerapannya. Meskipun gerakan zero food waste sebenarnya sudah digaungkan sedari dahulu oleh berbagai pihak seperti komunitas yang peduli terhadap lingkungan ataupun NGO yang ada, bahwasanya kampanye dengan menggunakan peralatan atau wadah yang tidak sekali pakai ini dapat mengurangi (reduce) penggunaan plastik sekali pakai. Maka dari itu Indonesia membutuhkan sebuah pionir yang dapat ditiru oleh masyarakat lainnya sehingga dapat menciptakan kesadarannya terhadap pentingnya menjaga bumi dari penggunaan produk yang akan menghasilkan limbah.

Sumber:
Cimsa UI. 2020. Food Waste dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan.
Nurfi Islami. 2020. Wajib Ditanggulangi, Ini 7 Bahaya Fatal Sampah Plastik di Laut. IDN Times.

Terima kasih atas pertanyaan yang sangat menarik @williamaditama, sebelumnya kita perlu tahu apa sih itu “Zero Food Waste?”
Zero Food Waste adalah agar tidak ada sampah dari makanan tersebut berakhir di tempat pembuangan, sehingga dapat di reuse kembali.
Dan saya sangat setuju jika Indonesia menerapkan “Zero Food Waste” mengapa? Karena Zero Food Waste merupakan konsep dimana kita akan mengurangi sampah makanan sampai nol, oleh karenanya sampah makanan yang menumpuk di TPA juga akan berkurang.
Saat ini banyak gerakan-gerakan kampanye untuk memelihara lingkungan sekitar dan bumi, salah satunya yaitu zero waste. Gerakan zero waste ini menjadikan seseorang lebih bijak dalam menggunakan benda karena harus meminimalisir bahkan hingga mencapai nol sampah yang dapat merusak lingkungan sekitar termasuk laut.
Gerakan zero waste nggak hanya untuk penggunaan benda saja tetapi, juga bisa diterapkan untuk makanan sehingga disebutlah zero waste food. Dengan demikian, seseorang dituntut untuk lebih bisa menghargai dan memanfaatkan bahan makanan dengan baik.
Dengan adanya zero food waste membuat hidup lebih sehat, lebih kreatif, lebih hemat, lebih peduli dengan lingkungan, dan lebih peduli dengan diri sendiri.

Referensi :

http://blog.sayurbox.com/mengenal-zero-wastefood/#:~:text=Zero%20Waste%20adalah%20sebuah%20gaya,jangan%20lupa%20konsep%20reuse%20nya.

https://zerowaste.id/zero-waste-lifestyle/alasan-kenapa-kamu-perlu-berpindah-ke-zero-waste-lifestyle/

Topik yang sangat menarik dari @williamaditama , “Setujukah kebijakan Zero Wasted Food bila diterapkan di Indonesia”

Kebijakan ini baik, akan tetapi saya memiliki pandangan lain. Apabila Pemerintah menerapkan, maka alangkah lebih bijak jika melakukan pertimbangan sebagai berikut :

  1. Lebih disarankan pada produk berlabel “Best Before” daripada “Expired Date”

Meskipun terlihat kedua label bermakna sama, akan tetapi faktanya berbeda. “Expired date” berarti tanggal kedaluwarsa atau bisa kita sebut sebagai batas waktu aman produk dikonsumsi oleh masyarakat. Label ini sering kita jumpai hampir di semua jenis produk, baik makanan, minuman maupun produk non-pangan.

Apabila produk sudah mencapai expired date, maka akan ada perubahan warna, rasa, tekstur maupun aroma akibat adanya aktivitas mikroba yang mulai bekerja untuk mengurai produk tersebut.

Kemudian di sisi lain, terdapat “Best Before” atau dalam terjemahan langsung yaitu “Baik digunakan sebelum…” sehingga bisa kita simpulkan bahwa kualitas produk baik untuk dikonsumsi sampai dengan tanggal yang tertera.

Singkatnya, pada label “Expired date”, yaitu tanggal aman dikonsumsi sedangkan, pada label “Best Before” apabila produk dikonsumsi melewati tanggal tersebut hanya akan terjadi penurunan kualitas.

Perbedaan signifikan ini perlu kita perhatikan karena kebijakan zero wasted food berfokus pada pemanfaatan produk dari swalayan atau supermarket yang mendekati tenggat waktu (read. expired date).

Kita tidak bisa mengesampingkan faktor keamanan produk yang akan dihibahkan pada masyarakat yang membutuhkan. Sehingga akan sangat baik apabila kebijakan ini diadopsi oleh Pemerintah, produk dengan label “Best Before” ini lebih dianjurkan daripada “Expired date”

  1. Perhatikan produk yang dikonsumsi bagi Balita

Apabila produk-produk sisaan yang dihibahkan dalam kampanye Zero-wasted Food juga ditujukan kepada korban bencana, salah satunya berupa susu formula kemudian disalurkan pada balita, lebih baik dihindarkan. Ketahanan tubuh Balita jauh lebih lemah ketimbang kelompok umur lain, sehingga pemberian produk tersebut dapat memicu penyakit, seperti diare hingga mengancam keselamatan Balita.

Referensi :

¹. Ini Bedanya Makna Expired Date vs. Best Before Pada Kemasan

  1. Perhatikan Ini Saat Sumbang Makanan bagi Korban Banjir...

Aksi Zero Food Waste ini sebenarnya sudah berlaku di Indonesia, dimana banyak orang-orang menyumbangkan persedian bahan pangan mereka atau memberikan makanan yang dinilai mendekati masa “Expired date.” Kegiatan Zero Food waste ini dilain sisi dapat menimbulkan kesenjangan sosial dalam bentuk yang lain, dimana orang-orang menyumbangkan sisa persediaan makanan mereka yang hampir mendekati masa expired kepada masyarakat kurang mampu.

Kegiatan yang memiliki tujuan positif untuk mengurangi limbah dunia serta menebar kebaikan ini akan dapat memunculkan opini bahwa masyarakat miskin berhak mendapatkan makanan sisa dan hampir kadaluarsa milik orang kaya.

Prediksi tersebut tentunya kembali lagi pada pendapat dan pribadi masing-masing individu. Namun, menurut saya alangkah baiknya daripada memberikan makanan yang hampir mencapai Expired date kepada orang-orang tidak mampu, orang-orang memilih untuk membeli satu atau dua produk bahan pangan yang akan mereka sisihkan untuk masyarakat miskin. Kegiatan tersebut tentunya membutuhkan promosi, serta dukungan dan koordinasi dari berbagai lapisan masyarakat.

Manfa’atnya hampir sama dengan Zero Food Waste, masyarakat meskipun hanya satu dua produk yang diberikan tetap mampu mengurangi jumlah limbah di Indonesia karena stok bahan pangan terjual. Selain itu kegiatan tersebut juga dapat memperkuat rasa kekeluargaan antar lapisan masyarakat karena menikmati produk dengan kualitas sama meskipun dengan jumlah proporsi yang berbeda.

[What Environmental Problems Does Wasting Food Cause?]

jika indonesia menerapkan hukum " zero food waste" seperti di prancis, mungkin hal tersebut akan mengurangi atau bahkan menghilangkan masalah - masalah sosial lainnya di indonesia. jika dilihat dari perkembangan hukum zero food waste di prancis, hal ini memberikan manfaat yang sangat efisien. selain mengurangi limbah wasted food (sampah sisa makanan) hal ini juga membuka dan menggerakan hati masyarakat untuk saling membantu. memberikan makanan yang masih memiliki kualitas baik sebelum expired kepada orang yang kurang mamou atau orang yang membutuhkan sehingga hal tersebut mengurangi angka kelaparan dan kekurangan gizi pada anak ( stunting ).
menurut saya pribadi, hal ini boleh dan sangat dianjurkan untuk diterapkan di indonesia.

sumber : Sampah Makanan Orang Indonesia yang Terbuang, Setara dengan Memberi Makan 125 Juta Jiwa

Terima kasih atas reply dari @nurulhikmahnadzim , saya sependapat dengan kamu. Kegiatan Zero-wasted Food tidak hanya terbatas dengan pemanfaatan produk yang mendekati “Expired date” namun juga bisa juga dari bahan makanan sisa yang masih layak untuk dikonsumsi.

Dengan adanya kegiatan positif sepeti ini tentunya memberikan rasa gotong-royong dan menguatkan persatuan antar masyarakat di Indonesia.

Mengingat permasalahan sampah makanan di Indonesia nampaknya hingga kini masih menjadi polemik. Di lain sisi, data menunjukan berdasarkan riset Bappenas, limbah makanan di Indonesia setidaknya mencapai 48 juta ton per tahun. Selanjutnya berdasarkan Waste4Change, ditemukan bahwa pada tahun 2019 setidaknya setiap orang di Indonesia menghasilkan sampah makanan sebanyak 184 kilogram per tahun.

Dengan adanya hukum zero food waste, setidaknya mampu untuk mengurangi jumlah sampah makanan di Indonesia dan ikut andil dalam mengurangi pemanasan global.

Selain itu jauh sebelum dikenalkannya hukum zero food waste, masyarakat Indonesia sudah jauh mengenal sistem zero food waste bahkan sejak zaman dahulu atau biasa disebut kearifan lokal di era sekarang. Seperti contohnya di Jawa sendiri. Ada yang namanya makanan rengginang dan Intip. Makanan tersebut terbuat dari sisa nasi yang dijemur lalu diolah dengan cara digoreng. Ada lagi contohnya tempe semangit atau tempe busuk yang berasal dari tempe mentah yang sudah basi. Bahan makanan ini justru malah dijadikan sebagai pelengkap bumbu masakan.

Artinya apabila hukum zero food waste diterapkan di Indonesia ditambah hasil riset dari kedua lambaga (Waste4Change dan Bappenas) di atas untuk sekarang pun tampaknya tidak akan menjadi masalah yang berarti. Dengan ini saya menyatakan "Saya setuju terhadap penerapan hukum zero food waste di Indonesia. "

Sumber data : Waste4Change, Bappenas

baik sebelumnya terima kasih banyak atas pertanyaannya kak
jika dibilang setuju atau tidak, tentu sangat setuju, tetapi mari kita ketahui bersama tentang zero waste sendiri, berdasarkan dari informasi dan pendapat yang lain bahwa didapatkan zero waste itu menerapkan prinsip 5R, yaitu recycle, reduce, refuse, reuse, dan rot. Reduce adalah mengurangi penggunaan barang ataupun plastik. Recycle adalah mendaur ulang plastik dan besi. Refuse merupakan menolak penggunaan plastik sekali pakai dalam kehidupan sehari. Rot merupakan pembusukan terhadap sampah organik seperti kompos. Reuse mengajak kita untuk menggunakan peralatan plastik yang masih bisa dipakai ulang.

prinsip zero waste ini bukan hanya di negara prancis tetapi beberapa negara seperti Amerika, Australia, Swedia, Selandia Baru dan beberapa negara Eropa lainnya sudah menerapkan konsep tersebut untuk menjadi solusi konkret dalam pengelolaan sampah.

sebelumnya kita ketahui bersama, apakah indonesia belum menerapkan prinsip zero waste? jika secara bentuk prinsip utuh dan ke konsistenan belum, belum seutuhnya menerapkan, mengapa?
karena Pemerintah menargetkan terkait pengelolaan sampah, yaitu dapat mengurangi sampah hingga 30% dan pengelolaan sampah hingga 70% pada 2025. Oleh karena itu dikeluarkan Peraturan Presiden Nomor 18/2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan. sedangkan menurut Guru Besar Pengelolaan Udara dan Limbah Institut Teknologi Bandung (ITB) Enri Damanhuri menilai target pemerintah memang sangat tinggi. Pasalnya sebagaian besar , sebanyak 80% sampai plastik belum terkelola dengan baik. artinya masih banyak sampah yang sampai saat ini belum terkelola dengan baik, bahkan mencemari lingkungan seperti laut yang sudah kita ketahui bersama akibat banyak sampah yang belum dikelola dengan baik.

Namun, jika lihat bersama masih ada orang yang peduli akan lingkungan jadi ada bebrapa yang paham dan menerapkan prinsip zero waste. jadi, intinya bukan hanya soal prinsip tapi juga soal kebijakan hukum yang seutuhnya di terapkan, dan kerjasama antara pemerintah, stakeholder, rakyat untuk dapat menerapkan seutuhnya prinsip zero waste ini karena memang terbukti zero waste ini menjadi solusi dalam menangani pencemaran lingkungan (sampah). serta, bentuk kesadaran diri kita sendiri untuk selalu menjaga lingkungan dan tidak mencemarinya dalam bentuk apapun salah duanya buang sampah sembarang dan tidak membuang makana yang kualitasnya masih baik (no exp)

untuk prinsip zero waste sendiri, seharusnya bukan hanya Indonesia saja yang menerapkan prinsip zero waste tapi seluruh negara, mengapa? karena hal itu penting banget untuk kelestarian lingkungan, ditambah lagi masih banyak negara yang mengirim sampah dengan seenaknya, seperti Malaysia telah mengirim 43 kontainer sampah ke negara prancis.

sources

Kebijakan “Zero Food Waste” yang telah dilakukan Prancis memang patut dicontoh guna menekan timbulnya tumpukan sampah makanan yang banyak menimbulkan berbagai masalah di masyarakat.
Namun, pelaksanaan prinsip ini tentunya harus dilandasi ilmu pengetahuan tentang bagaimana cara mendaur ulang produk makanan agar zat gizi yang terkandung tetap sama, dan saya yakin gerakan ini tetaplah membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sehingga peran serta kontribusi masyarakat sangatlah menentukan. Apabila pemerintah sudah mendukung dengan memberikan fasilitas serta contoh bagaimana cara menerapkan prinsip “Zero Food Waste” dan disertai dengan adanya kesadaran masyarakat yang baik saya yakin manfaat dari prinsip ini dapat kita rasakan secara luas.m

pada tahun 2016 pemerintah Perancis mulai meresmikan France Food Waste Law untuk memerangi permasalahan sampah makanan dan kesenjangan.Dengan adanya peraturan ini, maka supermarket wajib mendonasikan makanan bahan makanan yang masih layak konsumsi agar makanan tidak segera dirusak karena sudah dekat waktu kedaluwarsa.⁣ Dengan adanya France Food Waste Law, pemerintah Perancis terbukti berhasil meningkatkan tingkat donasi makananan hingga 100.000 ton/ tahunnya. Harapannya, gerakan ini dapat menginspirasi negara-negara lain untuk lebih baik dalam mengelola makanan yang tidak terjual.

Saya sangat jika zero food waste law berlaku di Indonesia mengingat aksi tersebut sangat bermanfaat. Kemungkinan hukum ini untuk berlaku di Indonesia sangat memungkinkan karena sebenarnya saya cukup sering melihat para pelaku usaha-usaha makanan yang melakukan hal ini walaupun tidak memahami apa itu zero food waste.

Zero waste merupakan filsafat yang mendorong perancangan ulang suatu sumber daya dari sistem linier menuju siklus tertutup, sehingga semua produk dapat digunakan kembali. Bebas sampah ( zero waste ) mengacu pada pengelolaan sampah dan pendekatan perencanaan yang menekankan pencegahan produksi sampah. Hal ini berlawanan dengan pendekatan pengelolaan sampah selama ini, yang menekankan pengolahan sampah yang sudah dihasilkan Zero waste merupakan pemahaman yang lebih dari sekedar mendaur ulang sampah, mencakup pencegahan dan pengurangan sampah . Prinsip zero waste secara umum adalah 3R yaitu Reduce , Reuse , dan Recycle , serta prinsip pengolahan sampah sedekat mungkin dengan sumber sampah untuk mengurangi beban pengangkutan.

Zero waste menjadi suatu pandangan baru dalam manajemen sampah, mengingat isu sampah telah mencapai level yang menghawatirkan. Isu sampah, terutama sampah plastik, menjadi perhatian serius karena produksi plastik berdasarkan data ourworldindata.org mengalami peningkatan drastis yang mencapai 381 juta ton di tahun 2015 (Ritchie H, Roser M, 2018). Bahkan kompas.com telah menuliskan bahwa Indonesia termasuk dalam Negara yang mengalami darurat sampah (Kompas, 2016, 2018). Kondisi ini mengancam ekosistem dan lingkungan, sehingga perlu penanganan khusus. Penanganan ini dapat dimulai dari regulasi dari masing-masing stakeholder di dunia.

Pemerintah Indonesia telah mencanangkan program Indonesia Bebas Sampah 2020. Melalui Kementerian Lingkungan Hidup, pemerintah mengharapkan perubahan cara pandang masyarakat terkait sampah melalui kemandirian pengelolaan sampah. Gerakan ini diterapkan di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di provinsi Nusa Tenggara Barat. Gerakan ini pernah dilaksanakan oleh Zambana, FL, et al. (2019) namun terbatas di Desa Jerowaru, Lombok.

Provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki kebijakan pengelolaan sampah melalui peraturan daerah. Hampir di setiap kabupaten/kota telah menerbitkan peraturan daerah tentang pengelolaan sampa, seperti Peraturan Daerah Kota Mataram Nomor 10 tahun 2018 tentang Pengelolaan Sampah serta Peraturan Daerah Kabupaten Lombok Barat Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pengelolaan sampah. Berdasarkan Peraturan Daerah ini, sampah bukan lagi hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, namun membutuhkan partisipasi setiap orang. Dalam hal ini, budaya pengelolaan sampah harus diedukasi sejak dini dan di setiap lapisan masyarakat.

Oleh karena itu, perlu gerakan dari berbagai elemen termasuk perguruan tinggi serta lembaga pendidikan dalam upaya penanggulangan sampah. Berdasarkan hal ini tim pengabdian program studi fisika berupaya berperan untuk memberikan edukasi dan menumbuhkan budaya pengelolaan sampah melalui gerakan zero waste .

Sumber Refrensi :