Setujukah anggapan bahwa wanita harus bisa masak?

wanita harus bisa masak

Bagi masyarakat kita, adalah hal yang aneh apabila ada wanita ngga bisa masak. Wanita yang ngga bisa masak dianggap tidak sempurna sebagai wanita, karena karakteristik wanita adalah pandai memasak. Bagaimana pendapatmu ?

4 Likes

Saya bisa memahami tuntutan kemampuan memasak yang dibebankan oleh masyarakat kepada perempuan, sebab dalam rumah tangga biasanya perempuan lebih terlibat dalam urusan makanan. Salah satu contoh sederhananya dalam hal memikirkan nutrisi yang baik untuk tumbuh kembang anak. Entah kenapa kalau di Indonesia, bapak-bapak sepertinya jarang memikirkan hal ini, padahal pemahaman tentang makanan dan nutrisi seharusnya dimiliki oleh keduanya. Sampai di sini saya sepakat, kalau sebaiknya perempuan bisa memasak untuk mendukung konsumsi makanan sehat di keluarga.

Tapi saya tidak setuju kalau tuntutan itu sampai pada taraf melabeli seorang perempuan sebagai perempuan yang tidak sempurna hanya karena tidak bisa memasak. Tidak bisa memasak bukan berarti tidak mampu memilihkan makanan sehat dan menyediakan nutrisi yang baik untuk keluarga. Apalagi kalau tuntutannya sampai ke level “pandai” memasak. Tidak semua orang yang bisa memasak dapat masuk ke kategori pandai memasak.

Selain itu, buat saya memasak adalah basic survival skill untuk menunjang kehidupan. Apabila memasak dapat dipandang sebagai survival skill, maka tidak hanya perempuan, laki-laki juga seharusnya dituntut untuk bisa memasak.

1 Like

Sebetulnya pernyataan “wanita harus bisa masak” adalah karena budaya Indonesia “menentukan” demikian. Dan rasanya ngga mengherankan, karena sampe sekarang pun masih sering denger idiom “makanan paling enak adalah masakan ibu”. Ngga tau lagi generasi ke depan, mungkin idiomnya dah ganti “makanan paling enak ya tergantung rating gofood” :joy:

Selain budaya, kondisi juga sangat berperan dalam kemampuan memasak. Waktu kuliah di Jerman, semua mahasiswa, ngga cowok ngga cewek, masak sendiri semua, karena memang ngga mungkin untuk beli makanan di warung. Ngga bakal cukup uang sakunya hehehe…

Akhirnya semuanya bisa masak. Tapi kalau di Indonesia, jarang banget mahasiswa masak sendiri, karena beli makanan jadi masih terjangkau bagi mereka.

Balik lagi ke masalah budaya, terutama di jawa, ya memang sampai saat ini masih umum pendapat bahwa “dapur adalah daerah kekuasaan cewek”. Kalaupun cowok masuk dapur, palingan bikin mie instan hahaha. So keliatannya anggapan bahwa wanita harus bisa masak masih berlaku umum di masyarakat kita.

1 Like

Masyarakat Indonesia tergolong pada jenis masyarakat komunal dimana secara langsung maupun tidak langsung budaya yang dimiliki juga seputar kegiatan komunal dimana gotong royong dan kepentingan bersama serta keselarasan sangat dijunjung. Saya ingat betul salah satu episode TEDx Talks yang menghadirkan Gusti Kanjeng Ratu Hayu, putri keempat dari Sri Sultan Hamengkubuwono X sosok raja yang pertama kali memberikan kesempatan perempuan untuk memangku jabatan dalam keraton. Perempuan dalam budaya Jawa memang pada umumnya memiliki prinsip yang ditanamkan yaitu sumur, dapur, kasur.

uhh, but it’s not fair enough…

Saya sendiri sebagai perempuan dengan suku Jawa dan hidup di lingkungan masyarakat ‘pribumi’ secara tidak langsung membiarkan diri saya terpapar dengan budaya perempuan Jawa tersebut. Prinsip sumur, dapur, kasur memiliki makna perempuan sebagai kanca wingking atau ‘teman belakang’ dimana berkegiatan dibalik layar sehingga lebih aman karena di dalam rumah daripada pekerjaan di luar yang menggunakan kekuatan fisik. Memasak termasuk kegiatan ‘dapur’ dalam frasa sumur, dapur, kasur.

jadi memasak termasuk kegiatan aman, begitu kah? Padahal ketika memasak melibatkan api dan barang-barang berat dan mudah pecah loh

Sebelum menuju pada pembahasan awal pada topik ini yaitu Setujukah anggapan bahwa wanita harus bisa masak? coba kita bedah kira-kira Mengapa sampai ada pertanyaan seperti ini ya? jawabannya ya karena budaya patriarki yang umum di antara masyarakat Indonesia bahkan dunia. Drake (2012) melalui buku Gayatri Rajapatni: perempuan di balik kejayaan Majapahit menyebutkan bahwa wanita merupakan sosok terkuat yang dapat dipercaya dalam mengatur kebutuhan keluarga seperti pangan. Memasak termasuk pokok utama dalam kehidupan karena makan adalah kebutuhan sehingga kegiatan memasak termasuk hal esensial dalam kehidupan.

Konklusi

Pandangan saya mengenai Setujukah anggapan bahwa wanita harus bisa masak? saya lebih setuju apabila memasak dipandang sebagai sebuah kemampuan, dimana kemampuan didefinisikan sebagai kesanggupan seseorang dalam melakukan sesuatu.

kemampuan/ke·mam·pu·an/ n 1 kesanggupan; kecakapan; kekuatan: kita berusaha dengan - diri sendiri; 2 kekayaan: karena -nya sudah memadai, ia membeli sebuah rumah baru;- bahasa Ling kemampuan seseorang menggunakan bahasa yang memadai dilihat dari sistem bahasa; - berinteraksi Ling kemampuan seseorang untuk berinteraksi dalam suatu masyarakat bahasa, antara lain mencakupi sopan santun, memahami gi-liran dalam bercakap-cakap, dan mengakhiri percakapan; - komunikatif Ling kemampuan seseorang untuk mempergunakan bahasa yang secara sosial dapat diterima dan memadai; - verbal kemampuan potensial dalam bidang bahasa yang dapat diukur melalui pengetahuan kosakata, melengkapi kalimat, hubungan kata, dan wacana;

Jadi saya akan memilih setuju dengan pertanyaan ‘Setujukah anggapan bahwa seseorang harus bisa masak?’ daripada ‘Setujukah anggapan bahwa wanita harus bisa masak?’ karena kemampuan masak seharusnya dimiliki oleh semua orang yang merasa memiliki keinginan untuk bisa melakukan kegiatan masak bukan dibatasi hanya karena orang tersebut wanita.

Referensi

Drake, earl. 2012. Gayatri Rajapatni: perempuan di balik kejayaan Majapahit. Jakarta: Ombak

5 Likes