Seroja (Kisah Pemuja Dalam Diam)

#Challenge7 (Perjalanan)

Cerpen challenge 7
Sumber Foto : Google

Seroja (Kisah Pemuja Dalam Diam)
Oleh : Rika S. Majreha

Kau tahu, tanpa kita sadari setiap perjalanan kehidupan selalu menyisakan cerita. Selalu menyisakan sejarah kehidupan. Hingga jejak-jejak sejarah itu satu persatu terkumpul, tersusun, menjadi sebongkah berlian yang berharga. Sayangnya kita tidak pernah menyadarinya. Perekat apa yang digunakan untuk menempel semua berlian pada dipan-dipan kehidupan itu. Entah kita menginginkannya atau ingin membuang sejauh-jauhnya tapi tetap saja dia selalu menempel dengan rapih, seperti sebuah rak yang berisi kaset-kaset yang apabila kita ingin memutarnya dia nampak begitu saja di depan bola mata kita.

Apabila aku meminta tak selayaknya hari itu tiba. Bisakah kukembali di hari itu untuk menghapusnya atau paling tidak memainkan peran dengan alur dan latar yang berbeda? Bisakah? Jawaban yang sering kudapat hanyalah ‘tidak’, yang sering menjadi pertanyaan dan tanda tanya besar dalam benakku apakah kisah itu sudah dituliskan dalam masing-masing kitab perjalanan kita? Ataukah kisah itu diciptakan oleh kita sendiri? Entahlah, tugasku hanya mengumpulkan kisah-kisah dahulu, hari ini, esok, lusa, dan selanjutnya.

Masa remaja adalah masa mencari jati diri. Masa mencoba. Semua rasa tercampur menjadi kisah yang renyah apabila diceritakan dikemudian hari. Sampai aku menemukan ada yang aneh dalam diriku. Aku pun tak mengerti akan hal ini. Selalu ada duka di balik tawa, selalu ada tawa di balik duka. Hal ini aneh, sangat berbeda jika dibandingkan ketika aku tertidur dengan tenang di ayun ambing oleh ibuku, semua penuh dengan kejujuran. Rasa tenang yang dirasakan itu sama, hanya saja berbeda haluannya.

“Seroja!” Aku selalu memanggilnya apabila jam istirahat tiba. “Seroja! Kamu ada tugas? Tugas apa aja deh pokoknya! Mau ke perpustakaan enggak?”

“Oh, kayaknya enggak deh, Ril! Baru aja kemarin kita ke perpustakaan, kan?”

“O ya? Hehe… Aku lupa!” Sambil cengengesan.

Dia adalah teman SMP sekaligus teman SD-ku. Kita berdua terdampar di SMP negeri ini karena yang lolos dari sekolah SD kami hanya aku dan Seroja. Jadi kami amat dekat sekali dan sejauh ini kami masih terbilang murid baru jadi kami belum memiliki banyak teman.

Rupanya amat elok apabila diingat dan diingat. Senyumnya yang selalu membuatku rindu dan selalu ingin melihatnya. Dia anak perempuan yang anggun, pendiam, lemah lembut, dan satu hal yang paling kusukai darinya dia tidak banyak tingkah dibanding anak perempuan lainnya. Aku sangat kagum padanya.

Tapi sungguh, usiaku saat itu amat tidak pantas apabila menyampaikan rasa yang aneh ini padanya. Aku hanya bisa diam dan berdamai dengan hati. Aku hanya ingin memujanya sekedar saja. Aku takut jika aku terlalu memujanya akhir dari kisah ini hanyalah kekecewaan.

“Inilah aku dan dia yang hanya sekedar teman biasa. Teman sejawat.” Gumamku di dalam hati sambil menyusuri jalan setapak sepulang sekolah dan dia tepat di depanku. Entah sebagai rasa apa itu, aku hanya ingin menjaganya dari kejauhan.

“Ril!”

Aku hanya terdiam dan sesekali melamun memikirkan apa saja yang ada di dalam pikiranku.

“Syahril!” Dengan suara keras.

“Eh, iya! Ada apa, Ja?” Suaranya mengalihkan dunia yang aku lamunkan.

“Kamu sedang memikirkan apa? Kayaknya dari tadi kamu ngelamun! Ngelamunin apa Ril? Matematika?”

“Hehehe… Iya nih, Ja! Matematika!”

“Ril, sekarang bukan saatnya untuk melamun dan termenung! Kita harus serius dan bersungguh-sungguh megejar cita-cita kita!”

Perkataannya bisa menyadarkan pikiranku yang amat kacau saat itu. Antara peduli ataukah tidak peduli dengan masa depanku dan dia.

“Iya, Ja! Kamu betul!” Sambil berlari di depannya dan tersenyum. “Mari kita bersama-sama memetik bulan!”

Anak perempuan itu hanya tersenyum sambil berlalu di hadapanku. “Kamu aneh, Ril!”

Hingga saat ini kapal laut yang dikemudikan olehku telah merapat ke dermaga. Dermaga tempat kita bertemu saat kita berpisah karena haluan yang berbeda. Kita terpisahkan saat melanjutkan sekolah di jenjang selanjutnya.

“Ja, perlu kamu tahu aku tidak akan pernah percaya pada asmara sebelum aku menemukanmu kembali atau tidak sama sekali!” Sambil melepaskan sarung tangan putih dan topi nahkodaku.

Aku tahu saat ini adalah saat untuk memperbaiki dan menata diri. Aku hanya berharap do’a yang selalu aku angkasakan bersama namamu akan segera Tuhan semogakan. Bila saatnya tiba akan kujemput dirimu, Seroja. Hingga saat masa tua tiba, saatnya untuk merenung hal yang direnungkan olehku ketika dahulu ada di sampingku. Akan kuceritakan kembali kisah ini kepadamu tak hentinya, mungkin sampai kau merasa bosan, Ja. Biarkan aku bernostalgia. Seroja, terkadang kita selalu memuja keindahan yang semu tanpa menyadari keindahan yang hakiki.

Seroja

Mari menyusun Seroja bunga Seroja
Hiasan sanggul remaja putri remaja
Rupa yang elok dimanja jangan dimanja
Pujalah ia oh saja sekedar saja

Mengapa kau bermenung oh adek berhati bingung
Mengapa kau bermenung oh adek berhati bingung
Janganlah engkau percaya dengan asamara
Janganlah engkau percaya dengan asamara

Sekarang bukan bermenung dalam termenung
Sekarang bukan bermenung dalam termenung
Mari bersama oh sayang memetik bulan
Mari bersama oh sayang memetik bulan
(Lirik lagu Seroja)