Seputih Kasih Secerah Jiwa

ba24639fef41857b6f63910380609cd7
Source: Pinterest

Arisa menyaksikan wanita itu terbujur lemah. Tapi ia masih bisa bersyukur karena ibunya bukan terbujur kaku.

Boleh kan, ia bersyukur tentang itu?

Wanita tua yang adalah ibunya sekarang sedang menderita sakit. Entah sakit apa yang dirasainya, yang jelas ibunya itu hanya sanggup berbaring di kasur lantai favoritnya.

Arisa hampir tidak pernah berurusan dengan orang sakit. Bahkan kepada dirinya sendiri. Dan kondisi ibunya saat ini cukup memberatkan raganya. Ia hanya bisa berdoa semoga ibunya cepat kembali seperti semula.

Gadis itu meletakkan segelas air hangat di samping ranjang. “Ma, aku pergi dulu,” izinnya. Ibunya masih tetap terpejam. Arisa menghela napas pelan. Kemudian berlalu keluar rumah.

Ia berjalan menyusuri ramainya trotoar dengan kepala menunduk. Masih terpikirkan ibunya yang tergeletak di rumah. Seharusnya gadis itu berjalan dengan kepala mendongak karena kalau tidak ia bisa saja menabrak apapun di hadapannya.

Benar saja. Tidak lama Arisa merasakan tubrukan keras menghantam bahunya dan membuatnya oleng seketika. Ia mendengar suara aduhan kecil, yang kemudian disadari bahwa itu adalah suaranya sendiri. Arisa yakin tubuhnya akan jatuh tersungkur jika tidak ada yang menahannya punggungnya.

Orang itu tepat berada di belakangnya. Masih menahan punggung dan bahunya. Dan Arisa terheran-heran karena manusia yang menabraknya tadi bahkan tidak mengucapkan sekalimat pun. Yah, walaupun kesalahannya juga yang berjalan menunduk.

“Terima kasih,” ucapnya pada si penolong—seorang laki-laki—sesaat setelah dirinya melepas diri dari tangan besar itu. Arisa hanya melihatnya sekilas sebelum dirinya menunduk kembali.

Laki-laki itu tidak bersuara. “Saya permisi,” pamit Arisa segera.

Arisa langsung meneruskan perjalanannya yang tertunda tanpa menengok ke belakang lagi. Ia harus cepat sebelum bos tempatnya magang memutuskan memecat dirinya.

Sepanjang perjalanan, gadis itu masih bisa merasakan hangat di punggungnya yang berasal dari tangan besar si ‘penolong’.

**

Gelap sudah menguasai sebagian bumi saat Arisa sampai di rumah. Berat, napasnya berat. Ia melihat ke arah kantung plastik dalam genggamannya yang berisi obat yang ia pikir dibutuhkan oleh ibunya.

Akrabnya kesunyian menyambut Arisa setelah ia masuk ke dalam rumahnya yang sederhana. Lagi. Sunyi itu sudah menjadi teman lamanya, entah sejak kapan.

“Ma,” panggil Arisa sambil membuka sedikit pintu kamar ibunya.

Tidak ada sahutan. Yang ia dapatkan setelah masuk sepenuhnya adalah sang ibu masih tergolek lemah. Arisa yakin wanita yang melahirkannya itu belum makan. Kenyataan tersebut membuat perutnya seakan ditinju sesuatu yang kuat.

Menelan saliva, Arisa mendekat perlahan. Lalu duduk di lantai di samping ranjang tempat ibunya berbaring. Ia memejamkan matanya, menahan napas. Tangannya bergerak, hendak menyentuh kepala wanita itu.

Tetapi kemudian tangannya berhenti. Baru Arisa sadari bahwa tangannya bergetar.

Gadis itu tidak mengerti. Selalu seperti ini. Ia tidak pernah merasa nyaman jika harus bersentuhan fisik dengan ibunya. Mereka memang masih berada di bawah atap yang sama. Namun tidak pernah sampai sejauh itu.

Arisa kemudian meletakkan bungkusan obat di tangannya ke meja dekat kasur. Menatap ibunya sebentar, kemudian bangkit keluar kamar. Ia menutup pelan pintu kamar lalu menyandarkan punggungnya di sana. Satu tetes air turun dari matanya. Cepat-cepat ia menghapus benda itu dengan telapak tangan, dan menarik napas panjang. Semenjak Arisa tingal berdua saja dengan ibunya memang tidak pernah mudah.

Ia hendak menuju dapur saat pintu depan diketuk seseorang di luar sana. Entah mengapa seketika otaknya memunculkan sosok ‘penolong’-nya yang bahkan tidak benar-benar dilihatnya tadi pagi. Dengan itu, Arisa menegakkan badan waspada. Lalu berjalan ke depan sambil menengok pada jam dinding. Pukul 21.20.

Seseorang di luar sana kembali mengetuk. Kali ini menyuarakan: “Permisi.”

Tetapi Arisa mengenali suara itu. Adiknya. Yang bahkan telah berbulan-bulan tidak menampakkan raganya.

Gadis itu tidak segera membuka pintu. Tubuhnya masih menegang. Udara tiba-tiba terasa lebih pekat. Pelan, Arisa menjulurkan tangannya ke pegangan pintu, dan berhenti disana. Tidak bergerak.

Ketiga kalinya pintu diketuk. “Permisi? Kak? Ma?” Suara berat adiknya terdengar lagi di seberang sana.

“Ngapain kamu kesini?” Dingin, Arisa bersuara tanpa membukakan pintu. Tapi dapat ia pastikan, adiknya yang tidak tahu diri itu dapat mendengar suaranya. Arisa bahkan tidak sudi menyebutkan namanya.

Laki-laki itu memutuskan diam. Arisa mendengus keras.

“Pergi.” Ucap gadis itu dalam.

Terdengar suara terkesiap. “Kak—“

Arisa mulai histeris. “Pergi!” Ia mulai berteriak. “Pergi! Saya ga sudi lihat muka kamu! PERGI KAMU DARI SINI!” Tanpa Arisa sadari air mata sudah mengalir di kedua pipinya.

“Kak, kakak tenang, okei? Aku minta maaf kak. Aku tau aku sal—“

Suara mengiba adiknya tidak ia hiraukan. “Saya ga mau dengar suaramu! Tolong, tolong pergi! PERGI!” Arisa merasa dadanya sesak. Ia mencengkeram leher kemejanya erat-erat untuk mengusir sesaknya. Air matanya masih mengalir. Tetapi sesak dalam dadanya semakin menjadi-jadi. Tubuhnya luruh ke lantai.

“Oke, aku pergi. Maafin aku, Kak. Aku sayang Kakak dan mama.” Di telinga Arisa suara adiknya semakin lemah dan berat. Kemudian terdengar langkah kaki menjauh, dan semakin menjauh.

Dengan itu, Arisa memaksa tubuhnya yang lelah bangkit. Air matanya masih mengalir. Kepalanya seperti penuh gumpalan yang membuatnya semakin berat dan berpendar. Namun tidak ada waktu untuk merayakan duka. Ada yang harus ia pikirkan sekarang. Ibunya yang masih berbaring lemah di kamar.

Terseok-seok dirinya berjalan ke dapur. Membuat apapun yang dapat ditelan oleh sang ibu. Hanya wanita itu satu-satunya yang masih ia miliki secara utuh. Ia tahu ia tidak pernah dekat dengan ibunya. Tetapi kedatangan adiknya hari ini membentuk satu kesadaran dalam akalnya yang masih berfungsi. Ia tidak ingin kehilangan ibunya.

Hampir setengah jam kemudian Arisa membawakan semangkuk sayur bayam bening dan sepotong ikan goreng ke kamar ibunya. Hanya lauk itu saja yang tersisa di kulkas. Setidaknya tadi ia sudah makan bersama teman-teman magangnya di kantor.

Penampakan yang ia saksikan saat masuk ke kamar sang ibu membuat Arisa berhenti bergerak di ambang pintu. Hatinya seketika cemas. Cemas memikirkan kemungkinan ibunya mendengar kejadian tadi. Di kasurnya, masih dengan keadaan terbaring, wanita tua itu menangis.

Arisa menggigit bibirnya. Kemudian perlahan melangkah mendekati ibunya. Lalu duduk di lantai di samping ranjang. Gadis itu memejamkan mata sejenak, tidak sanggup melihat keadaan ibunya. Rasanya seperti ada sebilah pisau menusuk dadanya. Namun ia memaksa dirinya tetap sadar. Ibunya harus makan.

“Ma, ayo makan,” ucapnya dengan suara bergetar.

Ibunya lalu menolehkan kepala ke arah Arisa dengan susah payah. Mulutnya terbuka ingin mengucapkan sesuatu. Suaranya lebih terdengar seperti cicitan saat melisankan kalimat itu.

“Maafkan adikmu, Sa.”

Arisa mendengarnya dengan jernih dan bening.

**

Beberapa hari kemudian kondisi ibunya semakin membaik. Arisa bisa mengembuskan napas lega. Satu hal lain yang ia syukuri adalah, sakit ibunya membawa ia lebih intens dengan sang ibu, walau masih sedikit berjarak. Arisa dengan sabar merawat ibunya, bahkan sabar saat sang ibu tidak mau dibawa ke rumah sakit. Jiwanya lebih terasa ringan sekarang.

Namun masih ada sebongkah batu yang memberati dadanya. Permintaan ibunya malam itu sebenarnya tidak sulit, karena sudah sejak lama Arisa memaafkan adiknya. Adik yang hampir membunuh ibunya sendiri. Tidak ada yang lebih fatal dari itu. Dengan kurang ajarnya laki-laki yang hanya lebih muda dua tahun dari gadis itu kabur. Mengikuti jejak ayahnya.

Kau memang tidak bisa mengharapkan cinta yang besar dari manusia berjenis laki-laki jahanam.

Suatu hari nanti, entah kapan dan dimana dirinya berada saat itu, Arisa meminta satu permohonan kepada Tuhan. Ia ingin mengungkapkan bahwa ia sangat mengasihi ayah dan adiknya walau mereka mengecewakannya. Seperti yang ia ungkapkan pada ibunya pagi tadi sebelum dirinya berangkat ke kantor magangnya.

“Aku sayang banget sama Mama. Sehat terus ya, Ma. Aku selalu doain Mama. Maaf selama ini aku ga bisa menjadi anak yang baik. Terima kasih banyak, Ma.” Ungkapnya dengan senyum lebar.

Arisa—bersama kerumunan manusia lain—sedang menanti lampu hijau berubah menjadi merah. Ia menyadari ada sosok tinggi yang terasa tidak asing di sampingnya. Ia merasakan aura putih cerah dari diri lelaki itu. Hangat tubuhnya bahkan dapat Arisa tangkap. Tidak salah lagi, laki-laki itu adalah ‘penolong’-nya.

Baru saja ia akan berbicara, Arisa melihat kerumunan sudah bergerak maju. Tanda lampu lalu lintas sudah berubah. Laki-laki di sebelahnya juga sudah melangkah. Segera ia mengikuti kerumunan itu, tidak ingin kehilangan jejak ‘penolong’-nya juga.

Setelah beberapa langkah, dirinya mengalami tubrukan—atau benturan? Ia tidak tahu—amat sangat keras. Yang ia tahu, tubuhnya terlempar beberapa meter ke depan. Yang ia tahu, tidak pernah dalam hidupnya ia merasakan sakit yang luar biasa ini di sekujur tubuhnya. Yang ia tahu, tubuhnya tergeletak mengenaskan pada kasarnya aspal. Sesuatu terasa mengalir dari kepalanya.

Napasnya putus-putus. Mungkin sebentar lagi berhenti total. Tubuhnya kaku, karena ia tidak sanggup menahan perihnya luka di kaki, tangan, serta kepalanya.

Matanya yang masih terbuka melihat indahnya biru langit. Begitu cerah dan bersinar. Dalam waktunya yang sangat sedikit itu, Arisa berkata kepada Tuhan bahwa ia mencintai ibunya dan keluarganya. Dan ia memohon supaya Tuhan menjaga keluarganya.

Arisa tidak merasakan kegelapan. Sebaliknya ia merasakan sesuatu yang terang melingkupinya. Lalu tiba-tiba muncul laki-laki ‘penolong’-nya. Dapat gadis sekarat itu lihat ‘penolong’-nya menatap penuh kekhawatiran padanya. Napasnya laki-laki itu terlihat memburu.

Di tengah kesadarannya yang tidak sampai 50 persen., Arisa mendengar laki-laki itu menggumamkan kata maaf. Dengan susah payah Arisa mengatakan, “Terima kasih.”

Kemudian terang itu mengambil seluruh kesadarannya. Dan hidupnya. Selesai. Tugasnya sudah selesai.

Terima kasih atas pengorbanan yang telah kau berikan kepadaku, Ma. Maaf aku pergi terlebih dahulu. Tapi aku dapat pastikan dirimu tidak akan pernah kekurangan kasih sayang. Karena masih begitu banyak cinta yang bertebaran di dunia yang berantakan ini. Dan, dirimu tidak akan pernah sendirian. Percayakan saja kalimat itu.