Seperti apa pemberian pakan dan minum ternak perah sesuai dengan fasenya?

images (5)

Salah satu faktor yang mempengaruhi produksi ternak perah adalah pakan dan air minum. Pakan merupakan sumber energi dan protein bagi mahluk hidup. Ternak ruminansia contohnya sapi perah, pakan pokoknya berupa rumput rumputan, daun – daunan tanaman leguminosa dan dari berbagai jenis pohon - pohonan atau tanaman semak serta limbah pertanian. Berbagai macam hijauan pakan ternak seperti yang disebut di atas berfungsi sebagai sumber zat makanan sehingga ternak dapat mempunyai produksi susu yang tinggi. Selain hijauan sapi perah perlu diberi pakan konsentrat.

Pakan yang baik dalam bentuk hijauan maupun konsentrat mempunyai peranan yang sangat erat terhadap kuantitas dan kualitas produksi susu, sehingga pemberiannya harus sesuai dengan berat badan, produksi dan kadar lemak susu dari sapi perah laktasi. Demikian pula dengan pedet maupun sapi dara, pakan yang diberikan harus dapat mendukung kecepatan pertumbuhannya. Sedang pemberian air minum sebaiknya secara ad libitum.

Tujuan utama dari pemberian pakan sapi perah adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, kebuntingan, dan produksi susu bagi induk. Pemberian pakan yang baik diperlukan dalam managemen peternakan khususnya sapi perah, hal ini dilakukan untuk memastikan: sapi tetap bertahan hidup, sapi tetap sehat, dalam keadaan tubuh yang baik (tidak terlalu gemuk maupun terlalu kurus), sapi memiliki energi yang cukup untuk melakukan aktivitasnya.

Kebutuhan Pakan dan Minum Sapi Perah

Sapi perah laktasi pada dasarnya memerlukan pakan hijauan yang lebih banyak dari jumlah pakan konsentrat. Hal ini dikarenakan, hijauan memiliki kandungan serat kasar yang tinggi, sehingga Volatile Fatty Acid yang dihasilkan lebih banyak. Kurangnya VFA (Asam Asetat, Asam Butirat, Asam Propionat), akan berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas susu (protein, laktosa, lemak, SNF, dll). Imbangan antara pakan hijauan dan konsentrat yang optimal adalah 60% hijauan dan 40% konsentrat.

  • Fase Pedet Kolostrum (1-7 hari)
    Kolostrum diberikan 30 menit atau maksimum 2 jam setelah sapi melahirkan. Frekuensi pemberiannya 2-4 kali sehari. Pada hari pertama, kolostrum diberikan 5% dari berat badan pedet atau 1,5-2 liter. Hari ke 2-7 kolostrum diberikan 8-10% dari berat badan atau sekitar 4 liter/hari. Pemberian kolostrum dapat dengan menggunakan botol (Nipple Bottle Feeding) atau menggunakan ember (Nipple Nail Feeding).

  • Fase Pedet umur 1 minggu - sapih (4 bulan)
    Pada fase ini, sapi mulai diberikan calf starter atau konsentrat dengan formula khusus. calf starter harus memilki palatabilitas tinggi (disukai pedet) dan daya cerna yang tinggi pula. Kandungan nutrisi yang disarankan yakni, TDN 72-75% , Protein Kasar 16-18% dan Serat Kasar minimal 7%.

    Pemberian calf starter dilakukan secara bertahap, mulai dari 0,25 kg/hari hingga 1 kg/hari saat mendekati umur sapih. Pengenalan hijauan juga dilakukan, pemberian dilalukan secara bertahap mulai dari 2,5 kg hijauan segar/hari sampai saat sapih hingga 12,5 kg hijauan segar/hari. Air diberikan dalam jumlah ad-libitum.

  • Setelah sapih
    Pada periode ini, pedet akan diberi konsentrat biasa sebanyak 0,5 kg- 2 kg/hari dan hijauan segar akan diberikan sebanyak 15-20 kg/ekor/hari. Air diberikan dalam jumlah ad-libitum. Selain itu, pemberian pakan tambahan berupa singkong segar sebanyak 2 kg/ekor/hari memberikan respon yang positif terhadap kondisi induk dan anak yang dilahirkan (Rohaeni, dkk. 2011).

  • Fase Dara (7-12 bulan)
    Pertumbuhan sapi dara sebelum beranak pertama tergantung kepada pemeliharaan dan pemberian pakannya. Kerap kali peternak mengabaikan pemeliharaan sapi dara setelah pedet tidak menerima air susu, sehingga petumbuhan sapi dara akan terhambat. Sapi dara terus tumbuh dengan baik sampai umur 5 tahun. Bila pemberian pakan pada masa pertumbuhan ini tidak baik, maka berat sapi betina beranak pertama kali tidak mencapai berat badan yang ideal dan tubuhnya kecil. Target bobot badan pada umur 12 bulan adalah 297 kg (Bekti. 2010)

    Sapi dara dikawinkan pertama kali ketika umur 15 – 18 bulan dan berat badan mencapai 300 kg. Hal ini penting agar sapi dara dapat beranak pada umur 2 tahun (Bekti. 2010).

  • Fase Bunting + Pengeringan
    Induk sapi perah yang sedang bunting, harus mendapat pakan yang cukup, terutama setalah kebuntingan memasuki bulan ketiga, karena induk sapi harus menghasilkan air susu disamping harus membesarkan janin dalam kandungan. Oleh karena itu, status nutrisi induk selama bunting, sangat mempengaruhi kesehatan pedet (Bekti. 2010).
    Induk yang telah bunting 7 bulan, sebaiknya dikeringkan (dihentikan pemerahan sir susunya) selama 40-60 hari. Tujuan pengeringan induk bunting adalah mengistirahatkan sel-sel ambingnya dan mempersiapkan produksi kolostrum bagi anaknya. Semakin panjang masa kering, akan semakin baik mutu kolostrum yang dihasilkan karena kandungan antibodi dalam kolostrum semakin tinggi dan sangat baik bagi ketahan tubuh pedet (kesehatan pedet) (Bekti. 2010).

    Tiga hari sebelum dikeringkan, konsentrat tidak diberikan kepada induk dan sebaliknya rumput diberikan tidak terbatas. Pada 2-3 minggu sebelum beranak, konsentrat harus mulai diberikan kembali lebih kurang 2,5 kg/hari untuk membiasakan kembali bakteri rumen terhadap pakan konsentrat. Setelah beranak, induk sangat memerlukan konsentrat dalam jumlah yang lebih banyak dari biasanya. Hijauan yang diberikan selama dikeringkan, sebaiknya terdiri dari 30% legum dan 70% rumput ditambah dengan suplemen mineral. Air diberikan dalam jumlah ad-libitum (Bekti. 2010).

  • Fase Laktasi
    Pada fase ini, pemberian pakan sapi perah laktasi dilakukan dengan takaran 60% hijauan dan 40% konsentrat dengan jumlah pakan hijauan yang diberikan adalah 10% dari bobot badan sapi dan jumlah konsentrat yang diberikan 1,5-3% dari bobot badan sapi. Air diberikan dalam jumlah ad-libitum (Yusuf. 2012)