Seperti apa kultur Indonesia pada masa pra kolonial?

image

Sebelum kehadiran bangsa Eropa, sebagian wilayah nusantara yang pada kurun modern berdiri menjadi negara Indonesia, terdiri dari kelompok-kelompok suku bangsa yang masing-masing menunjukkan suatu kekhususan dalam suatu kontinum perkembangan yang khusus pula. Setiap kelompok suku bangsa mencerminkan kesatuan sosio kultural, yaitu kesatuan segmensegmen dan institusi-institusi sosial yang secara erat saling berhubungan dan secara fungsional saling ketergantungan. Kelompok tersebut terdiri atas sistem-sistem lokal yang sederhana dan tersebar pada wilayah yang sangat luas, yang membentuk sistem sosio kultural yang kompleks. Seperti apa kultru Indonesia pada masa pra kolonial?

Kelompok kulturan pada awalnya terdiri atas sistem-sistem yang masingmasing berdiri sendiri, tanpa keterkaitan satu dengan yang lain, tetapi memiliki kedekatan sosio-kultural, terutama karena kesamaan ras, sosial budaya dan bahasa. Komunitas yang kompleks dan berada pada teritorial yang luas tersebut dalam sejarah nusantara, bahkan sampai kurun Indonesia modern tetap dapat dikenali sebagai kelompok suku bangsa Dayak, Jawa, Sunda, Batak, Bugis, Aceh dan sebagainya. Setiap kelompok suku bangsa tersebut memiliki kekhasan budaya dan terutama bahasa yang mendekatkan mereka ke dalam satu ikatan etnisitas.

Sebagian komunitas berkembang menjadi kerajaan-kerajaan yang mapan dan sebagian lagi bertahan sebagaimana sebelumnya. Munculnya berbagai institusi kerajaan lambat laun menjadikan komunitas sosio kultural yang merdeka, pada derajat berbeda, terikat di bawah pengaruh kerajaan sebagai pusat politik dan budaya. Integrasi kelompok-kelompok sosio kultural kecil yang merdeka ke dalam kelompok kerajaan yang merupakan kelompok besar melahirkan stratifikasi sosial berikut sistem statusnya. Meski demikian, integrasi suku-suku bangsa tertentu di bawah penguasaan suku bangsa lain tidak serta-merta menghapuskan identitas lokal, di mana setiap suku bangsa bertahan dengan kekhasan tradisi dan budayanya.

Kerajaan-kerajaan di kawasan nusantara pada awalnya mencerminkan satu bentuk integrasi kesukuan dengan berbagai kekhasan tradisi, sistem sosial dan kebahasaannya. Kesamaan etnisitas dan budaya yang dipandang sebagai milik bersama inilah yang melahirkan suku bangsa, yang ketika terakomodasi dalam negara melahirkan suatu bentuk nasionalitas. Perbedaan dinamika setiap masyarakat suku bangsa di nusantara, dalam perkembangannya, menjadikan sebagian berdiri independen dan sebagian lagi berada di bawah penguasaan, atau minimal pengaruh yang lain. Beberapa kerajaan, seperti Sriwijaya, Majapahit dan Mataram merupakan sedikit di antara kerajaan-kerajaan nusantara yang menguasai, atau paling tidak, memiliki pengaruh besar pada wilayah di luar kelompok suku bangsanya.

Berbagai catatan dan bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa nusantara telah terbiasa berhubungan dengan bangsa-bangsa di kawasan lain, mulai dari pantai Timur Afrika, Semenanjung Arab, Asia Selatan hingga Cina. Kekayaan budaya dan peradaban nusantara berkembang sebagai hasil interaksi secara dinamis dengan bangsa-bangsa lain tersebut. Apresiasi dan akulturasi budaya luar secara signifikan telah turut memperkaya khazanah kebudayaan dan peradaban bangsa-bangsa nusantara. Paduan antara nilai-nilai lokal dengan unsur luar yang telah diterima sebagai bagian dari kebudayaan setempat membentuk nilai-nilai kultural yang mewarnai pola perilaku dan sistem sosial politik bangsa-bangsa di nusantara.

Persentuhan bangsa nusantara dengan bangsa lain mengakibatkan perubahan dan perkembangan berbagai aspek kehidupan. Dampak dari hubungan dengan bangsa India, Cina dan Arab tampak pada perubahan sistem pemerintahan, birokrasi, tata susunan kemasyarakatan serta kepercayaan agama. Diterimanya tradisi luar terutama agama Hindu, Budha dan kemudian Islam, tidak secara radikal menghapus tradisi yang sudah ada, melainkan berpadu dan melahirkan sintesa budaya khas nusantara. Kerajaan-kerajaan nusantara dapat dihindukan, dibudhakan dan kemudian diislamkan tanpa banyak mengubah pola hidup dan kebudayaan setempat. Masyarakat Jawa, Aceh, Bugis, Bali dan berbagai suku tetap dengan kekhasan tradisi dan kulturalnya semula, meski telah menerima kebudayaan luar sebagai bagian dari tradisi dan budaya mereka.

Pengaruh budaya luar lebih menonjol pada aspek diterimanya agama sebagai bagian dari identitas sosial budaya setempat, sekalipun cenderung mengambil bentuk sinkretis. Perpaduan agama Hindu dan Budha melahirkan sinkrestisme berupa ajaran Siwa-Budha, juga terakomodasikannya khazanah kebudayaan lokal dalam perbendaharaan keagamaan, khususnya Hindu. Islam yang berkembang pada kurun berikutnya juga tidak lepas dari pola-pola keagamaan sinkretik, perpaduan khas antara ajaran dan nilai-nilai agama dengan tradisi masyarakat lokal maupun tradisi keagamaan sebelumnya. Hal ini dikarenakan nusantara memang tidak kering dari tradisi dan budaya yang berkembang baik sebagai apresiasi terhadap budaya luar yang terjadi sebelumnya maupun sebagai hasil dinamika di dalam negeri sendiri.

Apresiasi terhadap budaya luar tak membuat masyarakat nusantara kehilangan identitsnya. Unsur-unsur budaya asli tetap dominan dalam tradisi dan perikehidupan sosial budaya. Meski menerima ajaran Hindu dengan stratifikasi sosialnya (kasta), tapi penerapannya di nusantara berbeda dari praktik serupa di daratan India. Pengaruh agama tersebut hanya tampak pada pemapanan sistem keyakinan agama dan kepercayaan dari animisme ke agama formal, sementara praktiknya berjalan dengan corak budaya asli nusantara. Kehadiran agama-agama dari luar berikut kebudayaan negeri asalnya yang secara kultural berangkat dari pola tradisi dan kebudayaan yang hampir sama, yang pada perkembangan awalnya hanya menjadi tambahan legitimasi dan pengokohan bagi struktur sosial politik dan kebudayaan nusantara.

Hingga memasuki masa kolonial sistem sosial politik nusantara masih murni tradisional dengan ciri-ciri kultural sebagaimana umumnya masyarakat praindustri. Hanya beberapa kerajaan nusantara secara bertahap mengalami perkembangan kebudayaan dan peradaban dari negara agraris ke maritim. Setelah berinteraksi semakin intensif dengan budaya luar, dinamika sosial politik, kebudayaan, peradaban masyarakat dan negara semakin meningkat, yang ditandai dengan makin kuatnya daya tahan kerajaan-kerajaan di kawasan ini, dengan pemerintahan yang lebih stabil, cakupan wilayah dan relasi perekonomian yang semakin luas.

Berbeda halnya ketika pada kurun yang lebih awal, potensi agraris menjadi tumpuan utama, negara hanya mampu memfokuskan diri pada aspek keamanan dalam negeri, yang karenanya daya tahan kerajaan tidak cukup kuat. Ini dapat dicermati pada bagaimana daya tahan kerajaan-kerajaan nusantara kuno, seperti Mulawarman, Tarumanegara, Kalingga, Tumapel dan Kediri misalnya, bila dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan yang muncul lebih kemudian seperti Majapahit dan Mataram Islam.

Kerajaan-kerajaan yang muncul kemudian, terutama di Jawa, berkembang relatif stabil dengan sistem birokrasi pemerintahan yang ditunjang berbagai sumber pendapatan negara baik dari potensi agraris maupun perdagangan. Relasi dengan bangsa luar yang semakin intensif, paling tidak telah mendorong berkembangnya kerajaan-kerajaan maritim di nusantara yang lebih maju dengan akses hubungan luar negeri yang lebih luas. Sriwijaya, Majapahit dan Mataram Islam merupakan sebagian di antara perkembangan setingkat lebih maju sebagai negara maritim yang ditunjang berbagai aturan birokrasi untuk menjamin stabilitas dalam negeri, meski tidak mengabaikan potensi agrarisnya.

Ketika bangsa Eropa pertama-tama mencapai daratan nusantara, status dan kedudukan bangsa nusantara dengan bangsa lain berada pada posisi setara. Bangsa nusantara juga tidak terkesan lebih kecil dan terbelakang dibanding bangsa Eropa. Bangsa Eropa bahkan merasa memasuki daerah yang lebih kaya, atau paling tidak berhadapan dengan bangsa yang setaraf dengan mereka. Sebaliknya, bangsa nusantara juga tidak menilai bangsa Eropa sebagai bangsa yang istimewa. Bangsa yang dipandang besar, kuat dan disegani saat itu, termasuk oleh bangsa Eropa, adalah imperium Islam Turki, bukan Eropa.

Meski belum mengarah pada perkembangan seperti yang terjadi di Eropa pada kurun yang sama, setidaknya kebudayaan dan peradaban nusantara memperlihatkan kecenderungan berkembang secara dinamis. Barangkali bila tidak terlanjur didahului penjajahan, atau minimal, bilamana interaksi budaya nusantara dengan budaya luar, khususnya Eropa, dapat berlangsung sebagaimana relasi dengan bangsa Arab, Cina dan India, bangsa nusantara dapat mengikuti modernitas Barat sebagaimana Jepang. Persoalannya, sejak kehadiran bangsa Eropa, potensi ke arah dinamika tersebut tidak berkembang karena kecenderungan eksploitatif yang sedemikiran besar di kalangan pendatang dari Eropa, yang mengakibatkan dinamika tersebut terhenti, bahkan mengalami kemunduran.

Tidak sebagaimana budaya India, Cina dan Arab yang mampu berakulturasi dengan relatif tanpa konflik, budaya Eropa, terutama di bidang tatanan sosial politik, militer, pemerintahan dan teknologi tidak mengalami akulturasi secara memadai. Ketamakan pendatang Eropa yang terlalu menonjol pretensi eksploitatifnya, di samping pola pikir masyarakat yang belum mampu mengimbanginya, menyebabkan budaya dan peradaban Eropa disikapi secara antipati dan perlawanan.

Masyarakat nusantara relatif kurang mengapresiasi kemajuan Eropa secara akulturatif yang memperkembangkan peradabannya seperti proses akulturasi dengan peradaban Cina, Arab dan India. Saat Eropa mencapai taraf kemajuan yang pesat dalam sistem ketatanegaraan, administrasi dan teknologi, kerajaan-kerajaan nusantara masih lekat dengan otokrasi tradisional yang mendasarkan pada keturunan dengan serangkaian mitos-mitos irasionalnya. Di pihak lain, setara dengan Islam di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, Islam nusantara telah disibukkan dengan tradisi keagamaan eskapis dan kurang respek pada tradisi intelektual dan perkembangan tuntutan kehidupan profan yang kian progresif.