Seorang Bersama Orang Yang Dicintainya

Dari Ibnu Mas’ud ia berkata: "Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah lalu berkata: “Ya Rasulullah, bagaimanakah pendapat Rasul mengenai seorang yang mencintai sesuatu kaum, tetapi tidak pernah menemui kaum itu?” Rasulullah bersabda: "Seorang itu beserta orang yang dicintainya. (Hr. Muttafaqun alaihi)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits:

  1. Mencintai seseorang, golongan atau kelompok tertentu dapat dibagi menjadi tiga jenis:

    • Mencintai karena agama
      Cinta ideologis dan keyakinan agama. Yakni, mencintai atau menyukai seseorang atau kelompok tertentu karena faktor ideologi dan keyakinan. Misalnya, mencintai ulama karena kesalihan dan ketaatannya pada ajaran agama. Atau, cinta pada Karl Marx karena menyukai ideologi atheis-nya. Maka, cinta seperti ini dapat membawanya berkumpul dengan orang yang dicintainya kelak di akhirat. Yang cinta Rasul dan ulama akan bersama Rasul dan para ulama di surga. Sedang yang cinta Karl Marx akan bersamanya kelak di neraka.

    Dalam konteks inilah relevansi penjelasan Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, hlm. 10/555:
    Artinya: Kalimat “Engkau bersama orang yang kamu cintai” maksudnya dipertemukan dengan mereka sehingga kamu menjadi golongan mereka…

    • Mencintai dan meniru perbuatan yang orang yang cinta.
      Yang menyebabkan seseorang meniru dan meneladani perbuatan orang yang dicintainya. Misalnya, orang yang cinta seorang alim atau para ulama dan meneladani perbuatan mereka, maka dia akan masuk surga bersama para ulama. Sedangkan orang yanga cinta orang fasiq atau kafir lalu meniru perbuatan mereka yang maksiat maka dia akan disiksa sebagaimana mereka.
      Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin, hlm. 2/160, menyatakan:

    Artinya: Al-Hasan berkata: Wahai manusia, janganlah terpedaya dengan ucapan: “Seseorang bersama orang yang dia cintai” karena engkau tidak akan bertemu dengan orang-orang baik kecuali dengan amal perbuatan. Karena orang Yahudi dan Nasrani mencintai para Nabi mereka tetapi mereka tidak bersama para Nabinya.

    • Mencintai karena faktor duniawi non-agama. Cinta duniawi.
      Mencintai sesama manusia karena ada ikatan batin yang bersifat duniawi seperti kekerabatan, keuntungan materi, perkawinan atau sebab-sebab duniawi lainnya. Misalnya anak muslim mencintai ibunya yang kafir. maka itu tidak menjadi sebab mereka akan dikumpulkan di akhirat. Jadi, kecintaan dan kesukaan yang bersifat duniawi dan tidak mempengaruhi orang itu untuk berbuat baik atau buruk maka tidak akan berakibat orang itu dikumpulkan bersama orang yang dicintai kelak di akhirat. Jadi, cinta jenis ketiga ini tidak masuk dalam makna hadits di atas.
      Al-Zarqani dalam Syarah Al-Zarqani ala Al-Mawahib Al-Laduniyah bil Minah Al-Muhammadiyah, hlm. 5/304, menyatakan:

    Artinya: Al-Hasan Al-Bashri berkata: Barangsiapa yang mencintai suatu kaum maka ia akan mengikuti perilakunya. Ketahuilah, bahwasanya engkau tidak akan dipertemukan dengan orang-orang pilihan kecuali kalau mengikuti perilaku mereka, meneladani perbuatan mereka pagi dan sore karena keinginan untuk menjadi seperti mereka.

  2. Seseorang berdasar agama kekasihnya.” Maka secara implisit, hadits tersebut mengandung unsur motifasi (untuk mencintai dan mengidolakan orang shalih) juga peringatan (untuk tidak mencintai dan tidak mengidolakan orang durhaka). Didalamnya terdapat janji sekaligus ancaman. Dan baginya akibat dari yang telah diperbuat.

  3. Mencintai orang yang taat itu sudah mendapat pahala, menyukai mereka dan meniru perbuatan mereka akan membuat kita dikumpulkan di surga bersama mereka. Begitu juga, menyukai dan meniru perbuatan orang kafir dan fasiq yang terlarang akan membuat kita mendapat dosa. Adapun kesukaan yang bersifat duniawi tapi pada batas-batas tertentu yang tidak sampai membuat kita meniru perbuatan yang haram, maka itu tidak termasuk dalam makna hadits di atas.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:

  1. Seseorang akan bersama orang yang dicintainya.” Yakni seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.

Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah. Yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. Al Nisa’: 69)

  1. Sang Idola dan Panutan yang bebas dari segala keburukan dan kekejian

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” QS. Al Ahzab: 21.

3- Orang bisa masuk neraka karena pertemanan/ komonitas.

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”.
Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.
[Surat Al-Furqan :27-28-29]