Senja di Langit Perantauan

#Challenge4 (Menjadi Pemenang)

Cerpen Challenge 4
Sumber Foto : Dokumen Pribadi

Senja di Langit Perantauan
Oleh : Rika S. Majreha

Fyras… apakah kau pernah mengingat tragedi di tanggal 11 Juli 2010 yang lalu? Tragedi yang kau anggap baik-baik saja namun tidak bagiku. Apakah kau tak ingin mempertanyakan apa sebabnya aku meninggalkanmu? Kurasa ya, memang kau tidak ingin mendengaarkan penjelasanku. Menjawab sapaanku pun kau enggan, kau langsung menghapus setiap pesan elektronik yang kukirim. Entah apa yang membuatmu membenciku hingga detik ini.

Namun percayalah, senja itu indah apabila kita hayati arti dari keberadaan senja yang sesungguhnya. Begitupun perpisahan ini. Hijrahku untuk menemukan arti cinta yang sesungguhnya berawal dari perpisahan ini. Aku mengenal Kemaharahmaanan dan Kemaharahiiman Allah Swt., melalui kisah senja di langit perantauan ini. Mata hatiku terbuka setelah kutahu bahwa Islam tidak mengajari kita untuk berpacaran. Islam hanya mengajari kita untuk berta’aruf dan kesempatan itu pun tidak diperuntukkan dalam jangka waktu yang lama, karena berta’aruf hanya untuk mereka yang sudah siap untuk menikah. Begitu indahnya Islam mengajari kita arti cinta suci yang sesungguhnya. Kala itu aku bingung apakah aku harus memilih terkatung-katung pada sebuah cinta yang tidak mendapat ridha-Nya? Ataukah aku harus bersabar untuk menunggu sebuah cinta yang di ridhai-Nya? Maka dari itu aku memilih biarlah saja aku berhijrah untuk menemukan arti cinta yang sesungguhnya.

Kukira dengan adanya perpisahan ini kau akan mengerti Fyras, tapi aku salah menilaimu. Kau malah membenciku, kau malah mengacuhkanku, dan tidak memperdulikanku sedikit pun. Fyras, aku paham ini pun bukan kesalahanmu. Aku pun salah Fyras, karena aku tidak mengatakkan yang sebenarnyaa, aku malah berbohong kepadamu aku melepaskanmu karena aku ingin mencari cinta yang lain dan aku mengatakkan bahwa aku membencimu. Tahukah kau mengapa aku berbohong kepadamu? Karena aku tahu jika aku mengatakkan yang sebenarnya kau selalu mencari cara agar kita tidak berpisah. Sakitkah? Dan aku pun sama sakit. Aku tidak berpesta pora karena aku bisa terlepas darimu. Aku sakit, terlebih setelah mengetahuimu telah berbahagia dengan perempuan lain, kau meminjamkan sandal kepada salah seorang perempuan yang tercebur di dalam sebuah lumpur, kau berkomentar ria masalah jodoh dan pernikahan dengan teman perempuanmu di sosial media, bahkan kameraku sempat mengabadikan kedekatanmu dengan teman perempuanmu.

Dan apakah sekarang aku menyesal? Tidak Fyras Abdulhakim! Aku tidak pernah menyesal karena baru saja Allah Swt., menunjukkan kepadaku siapa kau yang sesungguhnya. Aku bahagia karena kau telah berhasil menemukan cinta sejatimu. Walaupun sejatinya cinta sejatimu belum tentu menjadi jodohmu.

Lalu apakah aku membencimu? Tidak Fyras! Sedikitpun aku tidak pernah membencimu. Dalam hati ini akan selalu ada kata untuk memaafkan. Dan ketika aku akan berhasil membencimu, aku selalu teringat kebaikanmu. Kebaikan ketika saling mengingatkan dalam kesalahan dan kekhilapan, kebaikan ketika mengerjakan tugas bersama walaupun pulang kehujanan, dan semua kebaikan perjuangan yang telah kau lakukan untukku.

Yang sempat aku tak percaya adalah semudah itukah kau melupakan cinta kita? Semudah itukah kau melupakan bagaimana susah payahnya untuk memperjuangkan cinta kita hanya untuk mendapatkan restu kedua orang tua kita? Semudah itukah Fyras Abdulhakim?

Entahlah, apa yang kulakukan dalam setiap do’a sepertiga malam yang selalu kusebut namamu agar Allah Swt., membukakan pintu hatimu agar kau mengerti dengan adanya perpisahan ini, apakah salah ataukah benar? Dan aku selalu memohon kepada-Nya apabila kau dan aku sedang melenceng dari jalur-Nya tolong luruskanlah dan berikanlah yang terbaik bagi kami.

Yaa Allah… sesungguhnya hatinya milik Engkau Yaa Allah, dan hatiku milik Engkau Yaa Allah. Jika memang Engkau meridhai dan dia adalah yang terbaik untuk diriku, tautkanlah kembali hati kami dengan naungan cinta-Mu Yaa Allah.


Jepara, 09 September 2011

Benarkah? Jika aku harus bertanya dengan menghujani beribu pertanyaan, apakah rasa itu masih kan tetap ada?
Ya, rasa itu selalu tersusun rapi hingga saatnya tiba
Aku hanya ingin mengisi kekosongan ini sebagai proses introspeksi diri
Biarlah aku hanya ingin lebih memantaskan diri supaya suatu saat jika memang Sang Maha Pencipta mengembalikan kembali Cinta kita, aku akan berdiri menjadi seseorang yang lebih tegar
Aku akan berdiri sebagai seseorang yang lebih dewasa, menjadi pribadi baru yang lebih kuat
Mungkin saja perpisahan ini cara terbaik untuk mendewasakan kita
Agar kita lebih mengetahui apa artinya memiliki
Dan agar kita lebih mengetahui apa artinya kehilangan
Tahukah kau? jauh sebelum kau dan aku diciptakan, kisah ini memang sudah ada dan sudah tersusun rapi di dalam kitab-Nya
Kita hanya sekedar pemeran utama dalam kisah yang telah dituliskan ini
Aku hanya ingin menjadi seseorang yang lebih tegar, walaupun suatu saat aku tak sanggup untuk bisa melihatmu bersanding dengan yang lain, yang lebih pantas bagimu
Aku akan tetap bertahan dan mengucapkan selamat atau bahkan mendo’akanmu semoga kau selalu berbahagia dengannya
Aku tak bisa meminta kembali hatimu, untuk bisa memilihku kembali
Aku takut jika seseorang yang telah kau pilih untuk menjadi yang terbaik untukmu itu merasa sakit
Sama seperti sakit hati yang kini ku rasakan
Aku lebih memilih menjauh darimu, aku lebih memilih melepaskanmu, dan aku lebih memilih mengikhlaskanmu
Aku lebih baik menyakiti hatiku sendiri, ketimbang hati seseorang yang sekarang ada bersamamu
Ya, aku memang seseorang yang bodoh, karena rela melepaskanmu untuk bersamanya
Namun aku memiliki perasaan yang sama apabila seseorang yang kita cintai bersama yang lain, rasa itu memang sakit
Ya, jadi aku lebih memilih biarlah aku saja yang tersakiti
Biarlah cerita ini menjadi sebuah sejarah, bahwa kelak dikemudian hari aku memang pernah mengenalmu, dan kau pun sama pernah mengenalku
Bila suatu saat kita tak bertemu kembali
Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih karena kau pernah singgah di dalam hidupku

Tertanda,

Almeera