Selamat Datang, Luka

Hai, namaku Irene. Aku seorang gadis yang terlahir dari keluarga sederhana. Sekarang umurku sudah 17 tahun. Hidupku kacau ketika aku merasakan yang namanya ‘jatuh cinta pada pandangan pertama’. Beruntung jika cintaku terbalas, nyatanya kisah cintaku tidak semanis itu.

Aku gadis gila yang diperbudak cinta untuk melakukan hal yang jahat. Coba sekali saja baca tulisan ini. Kutulis sendiri kisah cintaku yang berantakan. Bilamana esok atau lusa kau jatuh cinta, lalu bertepuk sebelah tangan, setidaknya jangan lalukan hal gila sepertiku.

Kisah itu berawal ketika aku pergi ke sekolah untuk pertama kalinya setelah libur panjang usai. Aku tidak terlalu bersemangat. Bahkan jika pagi tadi bukan Ibu yang membangunkanku, aku masih meringkuk di kasur. Lagipula aku masih kesal dengan kejadian kemarin. Kalian tahu? Aku diputuskan oleh pacarku di tengah jalan. Untuk seorang playgirl sepertiku, itu jelas menurunkan harga diriku.

Kita lewati bagian itu, setidaknya sebelum kami mengakhiri hubungan, aku sudah memoroti hartanya.

Seperti biasa, pembagian kelas sudah ditentukan. Aku ditarik paksa oleh sahabatku. Perkenalkan, namanya Haura. Gadis itu adalah satu-satunya sahabatku. Pertama kami kenal ketika kami melewati masa MOS bersama, dihukum bersama, dan ternyata kami satu kelas. Lantas semester berikutnya berlalu, Haura berada di kelas D sedangkan aku di kelas H.

“Ayo Irene, ke papan pengumuman,” katanya. Aku melongos pasrah. Tidak perlu ke papan pengumuman pun aku tahu, pasti aku akan berada di kelas h, lagi.

Tebakanku benar. Namaku terpampang jelas di kertas hvs bertulis ‘XI H’ dengan huruf kapital. Aku menghembuskan napas kasar. Aku tidak menghiraukan celotehan Haura yang terus mengomeliku. Bilang kenapa aku ini cinta sekali dengan kelas h.

“Irene, kapan lo mau fokus sekolah? apa lo nggak mau ngebanggain nyokap lo?” tanyanya kepadaku. Aku terlanjur malas menanggapi perkataan Haura.

“Jangan cuma pinter mainin perasaan cowok, Irene. Otak lo juga harus berfungsi. Tobat gitu lho. Apa enaknya coba jadi playgirl,” sinisnya padaku. Aku memutar bola mata malas. Lalu berjalan meninggalkannya. Haura di belakang masih terus mengomel.

Padahal aku sudah pernah bilang. Aku akan tobat dari playgirl jika aku menemukan cintaku. Namun Haura tetap Haura. Yang selalu menasihatiku sepanjang aku berbuat salah di matanya.

Hari kedua ke sekolah. Tidak banyak yang berubah. Tidak ada yang spesial. Kecuali satu hal. Hari itu, ketika aku sedang menaiki tangga ke lantai dua yang sepi-karena ini masih terlalu pagi. Suara langkahku terdengar menggema di langit-langit tangga. Dan aku juga mendengar suara langkah yang lain.

Di depanku ada seorang laki-laki dengan tinggi kurang lebih 175 cm. Badannya tegak. Aku tidak dapat melihat wajahnya karena ia membelakangi. Bertanya-tanya dalam hati, sepertinya aku tidak mengenalinya.

Ketika jarak kami hanya tinggal 8 anak tangga, lelaki tersebut berheti. Membuatku urung melangkahkan kakiku, lagi. Lelaki itu berbalik. Menatapku lama. Lalu tersenyum.

Saat itu, kali pertama aku melihat wajahnya. Entah kenapa ada rasa yang berdesir dalam hatiku. Aku tak ingat banyak setelah itu, kecuali tiba-tiba lelaki tadi mengguncang lenganku. Membuatku harus mengedipkan mata berulang kali dan mengalihkan kontak mata kami.

“Ada apa?” tanyaku. Aku bersyukur karena aku tidak sampai terbata-bata mengatakannya.

“Kelas sebelas h, dimana?”

Percakapan kami terus berlanjut hingga di kelas. Aku yang tidak tahu malu terus bertanya dan dia yang semangat menjawab seluruh pertanyaanku. Saat itu aku tidak tahu, perasaan apa yang tiba-tiba menghampiriku. Namun, lama-kelamaan aku mulai sadar. Itu bukan hanya perasaan sementara.

Aku jatuh cinta!

Bahkan pada pandangan pertama.

Oke, akan aku ulangi kalimat tadi. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama yang malah bertepuk sebelah tangan!

Mari, aku lanjutkan kisah cintaku yang berantakan.

Sudah hampir seminggu aku mengenal Matt. Dia lelaki yang sempurna. Dan sekarang sangat istimewa. Matt cepat sekali famous di sekolah. Membuatku ingin mencakar-cakar wajah para gadis yang ikut mengincar Matt.

Aku tidak ingat kapan aku memperkenalkan Haura dengan Matt. Yang aku ingat, beberapa hari setelah mereka berkenalan, kami jadi sering makan di kantin bersama, pergi bersama, dan hal lain yang dilakukan bersama.

Suatu hari, Matt menghampiri mejaku yang berada di pojok. Memutar kursi di depan mejaku dan mendudukinya. Aku memberikan senyum terbaik. Melepas earphone yang terpasang di kedua telingaku.

“Irene yang cantik, gue minta tolong dong,” katanya.

Jantungku berdebar hebat. Untuk pertama kalinya Matt mengatakan aku cantik. Ingin sekali aku merekam kata-katanya yang terdengar lembut di kedua telingaku. Rasanya hatiku kembali berdesir.

“Irene,” Matt mengguncangkan lenganku.

“Apa?” tanyaku tak berdosa.

“Gue minta tolong, kasih ini ke Haura ya,” Matt mengeluarkan sebuah kotak kecil berukuran 8×8 meter berwarna hitam dengan pahatan yang sangat cantik. Aku tidak tahu benda apa itu. Tetapi, aku lebih tidak tahu alasan Matt ingin memberikan benda itu kepada Haura.

“Bilang aja dari Matt, gitu,” kata Matt sembari menyodorkan benda tersebut. Aku diam. Masih bergeming di tempat. Memandangi benda itu. Sedangkan Matt beranjak keluar dari kelas namun ia urungkan, karena aku memanggilnya.

Aku menetralkan deru jantungku yang terus berpacu tidak karuan. Aku mengusir rasa takutku selama ini. Mencoba terus berpikir positif. Aku menelan salivaku. Mengumpulkan keberanian.

“Matt, lo suka sama Haura?”

Kelas ini sepi. Membuat suara pelanku tetap terdengar keras sampai di telinga Matt. Untuk beberapa saat Matt masih diam. Membuat pelipisku basah akibat keringat yang bercucuran. Aku berharap mendapati gelengan dari Matt sebagai jawaban. Nyatanya itu semua hanya anganku.

Matt mengangguk dengan senyum manisnya.

Aku ditampar realita. Saat itu aku tidak tahu perasaan apa yang menghampiriku. Namun, lama-kelamaan aku sadar. Saat Matt mengangguk sebagai jawaban, aku tahu, hatiku tiba-tiba patah. Tidak benar-benar rusak dalam fungsinya, hanya seperti aku merasa dalam lubuk hatiku aku merasa sesak.

Kalian tahu? Cinta membutakan segalanya. Aku menjadi gelap mata karena cinta. Aku menjadi orang paling menyedihkan di muka bumi ini. Dan aku baru menyesalinya setelah aku merasa bersalah.

Setelah Matt meninggalkanku di kelas sendirian. Air mataku lolos begitu saja. Ada rasa yang terselip di dalam hatiku. Ada rasa yang kosong dalam hatiku. Namun, aku tidak tahu apa itu. Entahlah, aku hanya merasa, aku kecewa. Kecewa karena bahkan cinta pertamaku harus bertepuk sebelah tangan.

Aku juga tidak mengingat banyak setelah itu. Yang aku ingat, sepertinya Haura juga telah lama menyukai Matt. Tiba-tiba aku menjadi gadis licik. Kalian tahu? Sebuah kotak yang dibawa Matt kian hari itu isinya jam tangan. Haura pernah berkata kepada kami, bahwa jamnya tiba-tiba mati. Lalu hari itu Matt membelikan jam tangan kepada Haura. Aku yakin harganya mahal. Ayolah, Haura juga kaya. Ia bahkan bisa membeli jam tangan 10 kali lipat jika ia mau. Sedangkan aku? punya satu saja sudah alhamdulillah.

Dengan segala ide licikku, pemberian dari Matt kepada Haura aku simpan sendiri. Namun, lebih liciknya, aku mengembalikan pemberian Matt dengan alasan Haura tidak suka dengan barang-barang yang diberikannya.

Sebut saja aku gadis gila yang diperbudak cinta. Aku memang gila! Bahkan ketika Matt kembali memberikan sesuatu kepada Haura lewat aku, barang itu juga tak kunjung kuberikan.

“Matt, kayaknya Haura lagi deket sama seseorang,” kataku pada Matt yang sedang meneguk minuman setelah berlatih bermain basket. Matt terbatuk tersedak. Aku yakin kali ini Matt akan mundur dan melupakan Haura. Dengan begitu aku bisa mendekatinya.

Sejahat-jahatnya aku, aku mengerti perasaan manusia. Aku tahu aku jahat. Namun aku sedang berusaha. Barang kali aku bisa membuat Matt berpaling dari Haura. Nyatanya perasaan Matt tetap sama. Aku tahu, orang lain juga akan melakukan hal sepertiku.

Esok harinya, aku ingin bertemu Haura. Menunggunya di depan kelasnya yang belum bubar. 5 menit setelah itu, gadis yang kutunggu-tunggu akhirnya datang. Anehnya ia melewatinya begitu saja. Aku memanggilnya, sepertinya Haura menulikan pendengarannya. Membuatku naik pitam.

Aku mencekal pergelangan tangan Haura dan mendapat hadiah tepisan dari gadis itu. Aku menatapnya bingung, mengapa tiba-tiba Haura marah?

Aku tahu alasan di balik Haura marah setelah perdebatan panjang kami selesai di taman sekolah.

“Lo kenapa sih Ra?” tanyaku emosi.

Haura balik menatapku, jijik.

“Gue yang seharusnya tanya lo, lo ada masalah apa sama gue Ren?!” nadanya mulai meninggi. Membuatku sedikit hilang keberanian karena jarang melihatnya marah.

"Lo jahat Ren. Lo buat gue sama Matt salah pengertian. Lo bilang ke Matt kalau gue suka kan sama orang lain? sedangkan lo sendiri tahu gue suka sama Matt. Dan buat Matt malah ngejauhin gue.

“Dimana letak sisi pengertian lo sebagai sahabat gue?!” tanyanya dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.

Punggungnya ikut bergetar.

“Gue minta maaf Ra,”

“Kenapa lo lakuin ini Ren? lo tahu kalau Matt suka sama gue, kenapa lo nggak cerita. Kenapa lo malah bilang ke Matt kalau gue suka sama orang lain?”

“Karna gue suka sama Matt, Ra!” kata itu justru tertelan di mulutku. Aku pecundang, mengatakan aku suka Matt saja aku tidak bisa. Bodoh.

Aku tahu, sesering apa aku menyembunyikan benda dari Matt untuk Haura, perasaan Matt akan selalu tumbuh begitupun sebaliknya.

Aku juga tahu, sesering apa aku membumbui keadaan agar lebih buruk, Matt tetap pada pendiriannya. Lantas, hari itu untuk apa aku berjuang?

Aku tahu, aku adalah orang paling jahat. Memberi sekat kedua insan yang saling mencintai. Aku adalah orang paling menyedihkan. Mempertahankan sebuah perasaan yang padahal sudah dipatahkan. Aku adalah orang paling bodoh yang ingin menggapai egoku di bawah kesedihan orang lain.

Jika hari esok tiba, aku ingin minta maaf kepada mereka. Aku akan mundur atas perasaan ini. Kembali mengubur perasaan ini. Meskipun aku tahu, hanya rasa kecewa dan sakit hati yang akan aku rasakan setelahnya.

Terimakasih kepada Haura dan Matt, karena kalian aku tahu rasanya harus berjuang meskipun gagal. Karena kalian aku tahu, rasa bersalah hanya akan kudapatkan setelah aku menyesal. Karena kalian aku tahu, cinta tidak akan pernah dipaksakan.

Untuk itu, selamat datang luka.