Sekspionase Dalam Perang Dan Damai

sekspionase

Sebelum saya menceritakan lebih jauh tentang tokoh yang akan diceritakan dalam artikel kali ini, saya akan meberikan sedikit riwayat hidup dari tokoh yang bernama Mata Hari dan bagaimana pengaruhnya pada masa Perang Dunia I.

Mata Hari adalah nama panggung dari Margaretha Geertruida “Grietje” Zelle (7 Agustus 1876 – 15 Oktober 1917). Ia adalah seorang penari eksotis dan pelacur yang dihukum tembak mati di Perancis atas tuduhan menjadi mata-mata saat Perang Dunia I.

Margaretha Zelle dilahirkan di Leeuwarden, Friesland, Belanda, anak tertua dari pasangan Adam Zelle (2 Oktober 1840 – 13 Maret 1910), pemilik toko topi, dan Antje van der Meulen (21 April 1842 – 9 Mei 1891). Ia memiliki 3 saudara laki-laki. Ayahnya berhasil melakukan investasi yang sukses dalam bidang perminyakan dan dapat memberikan Margaretha masa kanak-kanak yang mewah, termasuk sekolah eksklusif sampai usia 13.

Pelacur, kata Rudyard Kipling pada 1888, “adalah profesi paling tua di dunia.” Profesi yang jadi kebutuhan banyak laki-laki. Selain bisa jadi pengorek duit, juga pengorek cerita dari para laki-laki
Alasan terakhir inilah yang membuat pihak intelijen Perancis dan Jerman memanfaatkan Margaretha Geertruida Zelle alias Mata Hari, yang pernah tinggal di Malang di masa kolonial Belanda. Bermodal tubuh menarik, dengan profesi penari erotis dan imej terselubung sebagai perempuan panggilan kelas atas, Mata Hari ditugasi untuk mengorek informasi dari para pembesar atau perwira militer.

Mata Hari mendekati Frederick Wilhelm Victor Augustus Ernest, putra mahkota Jerman. Belakangan, jelang berakhirnya Perang Dunia I, Mata Hari dieksekusi militer Perancis karena dianggap agen ganda yang bekerja juga untuk Jerman.

Selain Mata Hari, ada sejumlah perempuan yang diminta sebagai mata-mata penggugah gairah lawan. Tak hanya dari dunia abu-abu, asal dianggap cantik dan punya bakat seperti Mata Hari, mereka dibujuk atau dipaksa untuk mau meladeni kaum bangsawan, penyalur informasi antara dua atau lebih kekuatan yang tengah bersaing.

Dalam kisah klasik tentang laki-laki kuat bernama Samson, Delila menjadi perempuan yang dijadikan agen untuk mencari kelemahan Samson. Delila berhasil dan Samson yang kuat itu pun jadi laki-laki loyo. Di era modern, setidaknya Jerman pernah punya Stephanie Julianna von Hohenlohe, anak orang kaya dan terhormat Jerman yang biasa tampil sebagai sosialita menawan, yang merontokkan iman para menteri Inggris sebelum Perang Dunia II.

Organisasi intelijen Uni Sovyet, Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti alias KGB, begitu serius mempersiapkan mata-mata molek nan pintar sejak awal Perang Dingin. Mereka diambil dari sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Setelahnya, mereka dilatih dan dipekerjakan dengan pelbagai fasilitas di atas standar negara-negara komunis. Begitulah menurut David Lewis dalam Sexpionage: The Exploitation of Sex by Soviet Intelligence (1976).

Perempuan-perempuan itu beraksi bagaikan gadis-gadis Bond. Tampil menggoda, mau menyerahkan daging kepada intel lawan, untuk mengorek data-data berharga. Discovery Channel pernah membuat video dokumenter berjudul Spionage. Korbannya bisa siapa saja. Bisa tua-muda, lajang-berpasangan, homoseksual-heteroseksual, duta besar, atase militer, wartawan, bahkan penjaga keamanan. Merekalah korban yang biasa disebut honey trap, jebakan seksual alias—istilah slang di kita—terkena jebakan batman.

Setidaknya seorang sersan marinir Amerika bernama Clayton J. Lonetree pernah jadi korbannya. Menurut majalah Time pada 1987: “Clayton Lonetree, 25 tahun, begitu terhormat dengan tugasnya sebagai pengawal keamanan di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Moskwa … Ia diduga oleh atasannya membantu KGB Sovyet mencuri dokumen rahasia dari kantor Diplomatik Amerika di Moskow dan Wina. Lonetree, menurut pihak berwajib, punya hubungan asmara dengan agen perempuan KGB yang bekerja sebagai penerjemah di Kedutaan.”

Setelahnya Lonetree harus membayar mahal ongkos pelepasan libidonya pada perempuan Sovyet yang ternyata mata-mata itu: sembilan tahun penjara.
Jauh sebelum Lonetree, John Vassall, yang bekerja sebagai staf atase militer di Kedutaan Besar Inggris di Moskow, yang homoseksual (yang masih ilegal saat itu) terkena honey trap pada Juni 1956. Percintaan sesama jenisnya dipotret.

Vassall, yang enggan kehidupan seksualnya dibongkar, diancam bekerja untuk KGB. Menurut penulis obituarinya, meski Vassall menjadi agen yunior dalam birokrasi intelijen di Inggris, ia menyerahkan sejumlah dokumen yang memuat informasi soal progersi mata-mata negeri Ratu Elizabeth itu. Namun, kasusnya segera redup lantaran sebuah kasus yang jauh lebih merusak kredibilitas pemerintahan Perdana Menteri Macmillan (1957-1963): jalinan cinta segitiga John Profumo-Christine Keeler-Yevgeny Ivanov.

Christine Keeler, yang fotomodel Inggris, berkenalan dengan Profumo, orang penting dalam Departemen Peperangan Inggris yang menjabat Menteri Pertahanan Inggris. Profumo, yang sudah beristri, menjalin asmara dengan Keeler. Rupanya, Keeler juga berhubungan mesra pula dengan Ivanov, staf atase militer Sovyet di Inggris. Ivanov sebenarnya perwira intel militer Uni Sovyet alias GRU.

Perselingkuhan Profumo terbongkar pada 1963, begitu pula soal Ivanov. Terpaksa Profumo harus meletakkan jabatannya. Kabinet pimpinan Macmillan kemudian goyah dan bubar tak lama setelah skandal itu terkuak.

"Honey Trap" ala Jendral Moestopo
Di luar arena Perang Dingin, Indonesia juga pernah mencoba jurus honey trap. Ketika revolusi kemerdekaan, para pelacur dikerahkan untuk ikut serta melemahkan tentara Belanda. Kolonel Drg Moestopo, yang dikenal eksentrik dan panjang akal, mengerahkan para maling dan pelacur untuk berjuang melawan Belanda.

Menurut Soehardiman dalam Kupersembahkan kepada pengadilan sejarah (1993), pengerahan itu disetujui Sultan Hamengkubuwono IX untuk membersihkan ibukota Yogyakarta dari pencurian dan prostitusi.

“Kedua barisan itu dibawa oleh Mayjen dr. Moestopo ke front Bandung. Tugasnya mengacau musuh, menyelundup ke kota, dan melakukan sabotase,” klaim Soehardiman.

Barisan maling tentu saja untuk mencuri harta-harta musuh di daerah pendudukan. Kedua, para perempuan ini, yang dinamakan Pasukan Teratai, diharapkan dapat memberikan informasi soal kedudukan tentara Belanda, dengan cara melemahkan iman tentara Londo.

Idenya: serdadu ini jauh dari keluarga dan kekasih, dan siapa tahu birahi mereka yang ditekan selama perang bisa kepincut Pasukan Teratai. Tak tak jelas benar sejauh mana operasi honey trap ala Moestopo itu berhasil.

Sesudah revolusi kemerdekaan, mengecer libido seksual justru melanda. Hario Kecik melihat potensi bahaya macam ini. Terlepas dari benar-tidaknya gosip Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Ahmad Yani berpoligami, Kecik dalam Pemikiran Militer 2: Sepanjang Masa Bangsa Indonesia (2010) mencatat: “Kelemahan Yani di bidang seks dan wanita dianggap Amerika berguna dalam strateginya menghadapi Sukarno dalam jangka panjang.” Dalam buku hariannya, Catatan Seorang Demonstran, Soe Hok Gie mencatat betapa lemah iman pejabat Orde Lama atas perempuan cantik.

Bahaya honey trap tentu saja tak kenal waktu, banyak pihak percaya, bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Teknologi perekam yang makin canggih tentu makin memudahkan cara kerja menjebak orang-orang di lingkaran kekuasaan yang doyan berbuat mesum, sekaligus kian gampang disebarkan. Seiring teknologi informasi, apalagi di era semua-mua yang privat jadi konsumsi publik, banyak pejabat dari presiden sampai politikus tersandung kasus skandal seks. Di Indonesia, lagi-lagi, jebak-menjebak dalam skandal seksual bukanlah perkara asing.

Sumber 1
Sumber 2

Penggunaan daya tarik seksual dalam praktek intelijen banyak digunakan, terutama apabila aktor yang ingin di-mata-mata-i mempunyai kelemahan dalam mengontrol nafsu seksual-nya. Laki-laki, secara psikologi menepatkan kerteraikan secara fisik (seksual) dalam hal ketertarikan Interpersonal.

Berikut wanita yang berperan sebagai agen intelijen negara, atau mata-mata, yang diketahui oleh masyarakat umum.

1. Noor Inayat Khan

Noor Inayat Khan adalah seorang mata-mata Inggris pada perang dunia ke-2. Ayahnya berkebangsaan India dan ibunya berkebangsaan Amerika. Ia bergabung dengan komando angkatan udara wanita Inggris sebagai operator telekomunikasi nirkabel sebelum ia direkrut oleh SOE (Special Operation Executive),organisasi pemerintah Inggris yang menjalankan kegiatan spionase pada perang dunia ke-2.

Pada 1943, ia ditugaskan menjalankan misi di Prancis yang saat itu dikuasai Jerman. Satu demi satu rekannya ditangkap oleh tentara Jerman hingga hanya Khan agen Inggris yang tersisa di Prancis. Tapi ia terus menjalankan misi dengan mengirim informasi-informasi penting kepada SOE. Pada akhirnya ia tertangkap oleh Jerman dan disiksa selama 10 bulan di kamp konsentrasi Dachau, Prancis.


Patung Noor Inayat Khan di Gordon Square, London

Selama itu ia tidak mengungkap informasi sama sekali hingga ia menemui ajalnya pada 13 September 1943 dengan peluru di kepala. Noor Inayat Khan menerima penghargaan George Cross dari pemerintah Inggris dan Croix de Guerre dari pemerintah Prancis atas keberaniannya. Untuk mengenang jasanya, pemerintah Inggris membuat patung Noor Inayat Khan di Gordon Square, London.

2. Anna Chapman

Anna Chapman adalah seorang wanita yang cantik dan tubuh yang molek. Tetapi siapa sangka ia adalah mata-mata Rusia. Anna Chapman berasal dari keluarga terhormat. Ayahnya adalah seorang diplomat Rusia, dan menikmati gaya hidup kelas atas. Anna sempat bekerja di bank Barclays di Inggris dan menikah dengan Alex chapman hingga pada 2009 Anna pindah ke New York, AS.

Anna membangun koneksi dengan orang-orang penting melalui media sosial. Ia tergabung dalam Klub eksklusif yang hanya bisa diakses oleh orang-orang ternama. Pada 2010 Anna bersama 9 orang lain ditangkap otoritas AS atas tuduhan keterlibatan dalam program spionase ilegal milik organisasi intelijen eksternal Rusia, SVR. Anna mengakui bersalah atas tuduhan konspirasi dan aktivitas spionase tanpa pemberitahuan kepada pemerintah AS. Anna bersama 9 orang lainnya dideportasi ke Rusia sebagai bagian dari pertukaran tahanan. Sejak saat itu Anna tinggal di Rusia dan bekerja pendidikan kaum muda.

3. Josephine Baker

Josephine Baker adalah seorang artis, penyanyi, dan penari yang terkenal di Eropa pada awal abad ke-20. Ia adalah salah satu artis berdarah Afrika-Amerika pertama. Ia meninggalkan status kewarganegaraan Amerika untuk menjadi warga negara Prancis. Josephine terkenal dengan pesona dan tarian erotisnya. Pada 1939 saat Prancis menyatakan perang kepada Jerman, intelijen Prancis merekrut Josephine sebagai informan.

Josephine Baker sering mengisi acara-acara pesta milik orang-orang penting seperti bangsawan dan diplomat di seluruh Eropa. Ia menggunakan pesonanya untuk mengorek informasi dari para perwira militer dan birokrat-birokrat dan mengirimnya kepada atasannya tanpa menimbulkan kecurigaan. Ia sangat mendukung perjuangan Prancis melawan Jerman, bahkan memfasilitasi rekan-rekan seperjuangan.

Setelah perang dunia 2 berakhir, ia terlibat dalam perjuangan melawan rasialisme di Amerika dan mendukung hak asasi manusia. Josephine Baker meninggal tahun 1975. Ia menerima penghargaan dari pemerintah Prancis.

4. Yoshiko Kawashima

image

Yoshiko Kawashima lahir sebagai putri keluarga kerajaan dinasti Manchu. Saat berusia 8 tahun, ia diadopsi oleh Naniwa Kawashima, seorang agen mata-mata Jepang. Yoshiko menghabiskan masa kecilnya di Jepang. Di sana ia belajar banyak hal termasuk bela diri. Ia direkrut oleh seorang atase militer Jepang yang ingin menggunakan koneksi Yoshiko dengan keluarga Manchu untuk memperluas jaringan spionase Jepang di Tiongkok.

Ia akhirnya memulai misinya dengan menjadi mata-mata di keluarga Manchu. Ia bertugas memberi informasi-informasi penting kepada militer Jepang. Kawashima mempelopori berdirinya Machukuo, sebuah negara boneka bentukan Jepang di tanah Manchu. Ia memainkan beberapa peran disamping kaisar yang merupakan boneka Jepang.

Di satu waktu, Kawashima menjadi selir kaisar, dilain hari ia menjadi penasehat keamanan. Dengan posisinya ia membentuk satuan tugas yang berfungsi memburu para gerilyawan anti Jepang di Tiongkok. Yoshiko Kawashima mengakhiri karirnya sebagai mata-mata setelah ditangkap oleh intelijen Tiongkok pada 1945 dan dihukum mati dengan tembakan di kepala.

5. Mata Hari

Mata Hari bisa dikatakan sebagai mata-mata wanita paling terkenal di dunia. Ia terlahir dengan nama Margaretha Geertruida Zelle di Belanda pada 1876. Mata Hari lahir di sebuah keluarga berkecukupan hingga ayahnya bangkrut. Saat berusia 18 tahun, ia menikah dengan seorang kapten di Hindia Belanda dan tinggal di Malang. Saat berada di Hindia Belanda ia mempelajari budaya Indonesia dan tarian-tarian khas nusantara. Ia mengambil Mata Hari sebagai nama panggungnya.

Ia pindah ke Paris pada 1903 dan memulai karir sebagai penari eksotis. Mata Hari mendapat popularitas luar biasa di seantero Eropa. Mata Hari dengan mudah menjalin hubungan dan koneksi dengan pria-pria berkuasa di Eropa dan mendapat informasi-informasi penting.

Mata Hari juga adalah double agent yang memberi informasi kepada pihak Jerman maupun Prancis. Akhirnya pada 13 Februari 1917, Mata Hari ditangkap oleh pemerintah Prancis di Paris dan diadili karena dianggap bertanggung jawab atas kematian puluhan ribu tentara. Kisah Mata Hari telah menginspirasi banyak judul film, teater, dan pertunjukan musikal.

Referensi : idntimes.com