Seberapa Pentingkah Pemahaman & kesadaran tentang kesehatan mental di Indonesia ..?

Inilah faktor yang memengaruhi, peran orang sekitar serta cara memahami dan meningkatkan kesadaran mengenai gangguan mental…!

image_1550298646_5c67ae1700fe5|690x350

Di Indonesia, kurangnya kesadaran terhadap kesehatan mental membuat para penderitanya terisolasi dan sulit mendapatkan penanganan. Di negara berkembang seperti Indonesia topik seperti kesehatan mental masih menjadi topik yang kurang diminati atau terasingkan.

Mungkin kita tidak sadar bahwa di sekitar kita banyak orang yang sedang mengalami gangguan kesehatan mental. Bisa jadi saudara dekat, teman, atau pasangan kita mengalami gangguan kesehatan mental tanpa kita sadari. Atau bahkan, kita sendiri pun mengalaminya. Pengetahuan mengenai kesehatan mental perlu diajarkan kepada anak–anak remaja Indonesia sejak dini. Karena di Indonesia masih kurang pengetahuan tentang isu tersebut.

Pada dasarnya manusia memiliki aspek fisik dan kejiwaan yang mendukung kehidupannya secara individu. Aspek fisik dapat kita lihat secara kasat mata, karena aspek kesehatan fisik adalah aspek yang bisa kita lihat yang berkaitan dengan kondisi fisik. Berbeda dengan aspek kesehatan jiwa, aspek ini merupakan hal yang sedikit sulit untuk diamati secara langsung. Aspek ini menyangkut dengan diri pribadi seorang individu.

Kesehatan jiwa ini merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Seorang individu dapat saja mengalami gangguan mental. Gangguan mental inilah yang disebut dengan mental disorder atau kelainan mental. Gangguan ini dapat terjadi pada siapa saja dan di mana saja. Terkadang pada kondisi tertentu seseorang dapat mengalami gangguan mental dikarenakan lingkungan sekitarnya.

Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan prevalensi ganggunan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 14 juta orang atau 6% dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia mencapai sekitar 400.000 orang atau sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk.

Secara global bahkan Indonesia berada di urutan ke-4 dalam daftar negara-negara dengan tingkat depresi paling tinggi di dunia dan berada di urutan ke-6 untuk hal gangguan kesehatan mental dan kejiwaan secara keseluruhan.

Orang yang hidup dengan penyakit mental akan sering mengalami stigma dan diskriminasi dari teman, keluarga, dan masyarakat secara keseluruhan. Kadang-kadang kekurangan dan isolasi yang mereka rasakan bisa lebih melumpuhkan daripada penyakit mental itu sendiri.

Bagian dari alasan untuk bersikap dan perilaku negatif terhadap orang-orang dengan penyakit mental adalah kurangnya pengetahuan dan ketakutan akan hal-hal yang tidak diketahui. Dengan begitu, isu tentang kesehatan mental sangat penting untuk dipahami, terutama oleh masyarakat Indonesia.

Faktor yang memengaruhi kesehatan mental.

16-image_1550299271_5c67b0874fd5e

Ada beberapa faktor yang memengaruhi kesehatan mental, yaitu faktor biologis, psikologis, lingkungan, dan sosial budaya. Faktor–faktor ini kerap memengaruhi kesehatan mental seseorang dan akan mengarah kepada gangguan mental apabila seorang individu tidak dapat mengendalikannya.

Banyak contoh dari faktor yang memengaruhi kesehatan mental di sekitar kita, seperti faktor sosial yaitu kemiskinan, masalah finansial, faktor biologis seperti genetic, dan faktor psikologis seperti putus asa, trauma, atau anak yang kurang perhatian dari orang tuanya. Tapi yang paling sering dijumpai adalah depresi.

Depresi merupakan kelainan mental yang dapat menyebabkan perubahan emosi. Depresi dapat mengganggu aktivitas seorang individu dalam waktu yang lama. Tidak sedikit juga orang yang mengakhiri hidupnya karena depresi.Menurut data WHO (2016), terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena demensia.

Menurut WHO (World Health Organization), 450 juta orang di dunia saat ini menderita kondisi gangguan mental, hal ini menempatkan gangguan mental di antara penyebab utama kesehatan yang buruk dan cacat di seluruh dunia. Perawatan tersedia, tetapi hampir dua pertiga orang dengan gangguan mental yang diketahui tidak pernah mencari bantuan dari seorang profesional kesehatan. Stigma, diskriminasi, dan penelantaran mencegah perawatan dan pengobatan dari menjangkau orang-orang dengan gangguan mental, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Di mana tidak ada pemahaman, di situ ada pengabaian. Disinilah masalah yang ada di Indonesia mengenai kesehatan mental. Dengan banyaknya faktor biologis, psikologis, dan sosial dengan penduduk yang beranekaragam, maka jumlah kasus gangguan jiwa terus bertambah setiap harinya. Hal ini berdampak pada penambahan beban negara dan penurunan produktivitas manusia untuk jangka waktu yang panjang.

Penderita kesehatan mental memilih untuk diam, kenapa?

Stigma buruk terhadap orang dengan gangguan mental/mental disorder menyebabkan mereka sulit untuk mendapatkan penanganan. Kebanyakan orang dengan gangguan kejiwaan memilih untuk diam saja dan tidak cerita ke orang lain karena takut dikucilkan. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kesadaran, pengetahuan, dan informasi tentang isu itu sendiri.

Data riset Risekdas menunjukkan bahwa pada tahun 2013 terdapat 56.000 orang dengan gangguan jiwa yang dipasung karena stigma negatif dan buruknya fasilitas penanganan. Data lain dari Risekdas mennyatakan bahwa pada tahun 2007 terdapat sekitar 1 juta orang yang mengalami gangguan jiwa berat dan 19 juta orang dengan gangguan jiwa ringan hingga sedang, dan jumlah ini terus meningkat secara signifikan.
Hal ini memprihatinkan karena jumlah penderita gangguan kesehatan mental di Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Beberapa daerah yang mengalami hal tersebut contohnya Jakarta dan Yogyakarta. Di Jakarta, peningkatan penghuni panti–panti sosial yang dikelola oleh pemerintah daerah jumlahnya mencapai 174% di tahun 2017. Kini jumlah penghuninya mencapai lebih dari 3.000 orang dari kapasitas panti yang hanya 1.700 orang.

Tanpa adanya penanganan yang baik, jumlah ini akan terus bertambah. Informasi dan pengetahuan tentang masalah gangguan kesehatan juga perlu dikuatkan untuk menghilangkan stigma buruk yang masih menyelimuti isu kejiwaan di Indonesia. Bahkan sebagian besar daerah di Indonesia mempercayai bahwa penyebab gangguan kesehatan jiwa adalah karena seorang penderita tersebut kurang iman, pendosa, bahkan kerasukan roh jahat. Sehingga alih–alih mendapat penanganan medis yang benar, korban dibawa ke ahli spiritual. Stigma buruk ini juga mendorong terjadinya tindakan diskriminatif terhadap mereka, yang pada akhirnya akan menyebabkan sang penderita gangguan mental melakukan bunuh diri.

Jumlah psikiater yang ada di Indonesia juga menjadi faktor yang menyebabkan jumlah penderita gangguan mental di Indonesia tidak berkurang dengan baik. Hanya ada 600 hingga 800 psikiater di Indonesia. Yang mana artinya seorang psikiater terlatih menangani 300.000–400.000 orang. Sebanyak 70% dari seluruh psikiater berada di Pulau Jawa dan 40% dari jumlah itu bekerja di Jakarta. Hal ini menyebabkan penanganan untuk pasien dengan gangguan jiwa sangat kurang.

Remaja rentan terkena masalah gangguan mental.

Sebagian besar gangguan kesehatan mental muncul pada masa remaja atau awal usia 20-an. Karena pada dasarnya seseorang tidak akan mengalami gangguan kecemasan saat dewasa. Gejalanya biasa dimulai sejak kecil atau remaja dan akan berlanjut hingga dewasa. Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa mereka mengalami gangguan kecemasan pada saat mereka remaja, dan menyadarinya saat sudah dewasa.

Ada jenis gangguan kesehatan mental yang sering tumbuh dan terjadi dari sejak usia dini. Gangguan tersebut antara lain skizofrenia dan gangguan bipolar. Di mana gangguan ini apabila tidak diatasi sejak awal akan berisiko untuk berkembang sendiri.

Di awal usia 20, remaja lebih sensitif untuk terkena gangguan mental. Johanna Jarcho, Ph.D, seorang postdoctoral di National Institute of Mental Health menyatakan bahwa remaja berpotensi untuk mengalami gangguan mental seperti masalah sekolah, kuliah, kurangnya tidur, bermain, dan percintaan. Tak jarang pula para remaja ini memilih untuk mengonsumsi obat–obatan dan alkohol untuk melupakan masalahnya tersebut.

Penelitian menunjukkan bahwa saat remaja, otak akan berkembang lebih besar, yaitu artinya otak mampu menangkap segala sesuatu untuk dikonversikan sebagai tindakan. Lingkungan sosial sangat berpengaruh besar di dalam kasus ini. Sebagian besar remaja mengalami depresi dan kecemasan. Hal ini sangat umum terjadi di kalangan remaja. Terutama remaja Indonesia.

Sayangnya, karena tingkat kepedulian masyarakat umum maupun pemerintah masih tergolong rendah, remaja dengan masalah kejiwaan di Indonesia masih belum terdata dengan jelas. Itulah mengapa pengetahuan tentang kesehatan mental sangat penting untuk dipelajari, diedukasi, dan diinformasikan kepada remaja dan masyarakat Indonesia. Supaya tidak ada lagi korban penderita gangguan mental.

Bagaimana cara meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan mental?

Cara yang efektif untuk meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan mental adalah semua elemen masyarakat dan pemerintahan harus digerakkan untuk melakukan tindakkan. Kreativitas lembaga juga dapat diarahkan untuk memberikan wadah untuk membantu orang–orang yang memiliki mental disorder.

Terutama sekarang teknologi sudah sangat berkembang pastinya akan lebih mudah untuk membantu para korban dan dapat mengedukasi masyarakat luas dengan cepat mengenai masalah kesehatan mental. Media juga berperan penting dalam hal ini karena media memiliki perkembangan dan audience yang sangat banyak sehingga informasi dan edukasi mengenai kesehatan mental di Indonesia ini dapat diedukasikan ke khalayak banyak.

Pemerintah berperan penting untuk memberikan sosialisasi dan edukasi tentang gangguan mental untuk mengurangi stigma dan salah persepsi yang sering disematkan masyarakat kepada orang dengan gangguan mental. Selain sosialisasi pemerintah juga perlu untuk lebih memperhatikan fasilitas dan kualitas dari penanganan orang yang memiliki gangguan mental.

Lembaga–lembaga pendidikan juga dapat berperan dengan mengedukasikan kepada pelajar mengenai kesehatan mental di setiap sekolah dan menyediakan konseling yang professional di setiap sekolah.

Masyarakat juga dapat membantu dengan mengurangi stigma negatif terhadap orang yang memiliki gangguan mental dan mengingat bahwa orang dengan gangguan mental juga merupakan seorang manusia yang berhak dan layak untuk mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan penanganan yang sesuai. Peranan keluarga pun juga tidak kalah penting. Mengingat bahwa dekatnya seseorang kepada keluarganya. Keluarga diharapkan untuk menumbuhkan sikap peka terhadap keluarganya. Apabila ada anggota keluarga yang terlihat memiliki gejala yang mengarah pada gangguan mental, segara deteksi dini supaya tidak mengalami kondisi yang semakin buruk.

Kita dapat membantu keluarga atau orang sekitar kita dengan mengumpulkan informasi mengenai masalah kesehatan mental dan menyebarkannya kepada mereka. Selain itu, menyediakan waktu untuk mendengarkan dengan tulus dan ikhlas permasalahan teman atau keluarga yang memiliki gangguan kesehatan mental juga dapat mencegah gejala semakin buruk.

Perlu diingat juga untuk memperlakukan orang dengan gangguan mental dengan baik. Kita perlu menghargai mereka, jangan pernah berbohong kepada orang yang memiliki masalah gangguan mental, pahami keadaan mereka, dan perhatikan ucapan kita, jangan sampai apa yang kita katakan menyakiti perasaan mereka karena itu dapat memperburuk keadaannya.