Sayang Lestari - Cerita Pendek

20201017_095104_0000

Lestari perawan ayu idaman banyak lelaki. Rajin sembahyang, tekun mengaji. Suaranya merdu bak angin surgawi, lantunkan ayat dan shalawat setiap pagi. Air wudhu jadikan wajahnya putih terawat. Berilmu dan berwawasan luas juga membuatnya nampak hebat.

Dia juga dewi tandur, sawah manapun yang ditandurinya pasti subur. Meski setiap hari masak gabah bertabur beras, dia nampak hidup makmur. Dia juga merawat ibunya yang lumpuh dengan suka cita dan budi luhur.

Lestari begitu sempurna, bagai kemewahan digubuk yang hampir rubuh. Perawan sempurna di akal, akhlak dan tubuh. Wanita mandiri, kuat dan tangguh. Perangainya lembut dan santun membawa teduh.

Banyak orang menyayangi lestari, seperti kata para pemuda desa misalnya, “sayang ya Lestari sudah terlalu tua untuk diperistri. Sepertinya sudah tidak kuat beranak pinak.”

Atau seperti kata bapak-bapak yang mau mendua namun masih takut pada istri pertama, “Sayang ya, lestari itu terlalu pemilih. Coba kalau mau jadi istri kedua saya, pasti hidupnya bisa lebih baik.”

Atau seperti kata ibu-ibu muda, “Sayang ya, Mbak Lestari itu terlalu mandiri, jadinya laki-laki minder mau memperistri.”

Atau seperti kata teman-teman seusia, “Sayang ya, Lestari itu hidupnya habis menjaga Mboknya, jadi tidak punya kesempatan cari jodoh.”

Atau seperti para kumpulan nenek yang berjemur di sepanjang jalan desa, “Sayang ya, lestari itu dulu terlalu lama nyari ilmu dipesantren, jadinya terlambat punya suami. Perempuan itu harusnya ya belajar masak aja sama ngurus laki.”

Atau seperti para kakek yang sedang main catur, “Sayang ya, Lestari itu dulu gak mau sama saya. Karma dulu gak mau nikah muda, sekarang malah terlalu tua.”

Lestari mendengar kata-kata itu kemudian ikut-ikutan menyayangi dirinya. Merasa iba pada diri sendiri. Merasa kasihan pada nasib sendiri.

Pekerjaan yang awalnya dia cintai terasa sangat melelahkan. Merawat ibu yang amat dia sayangi terasa sangat merepotkan. Biasa sembahyang paling rajin kini jadi malas-malasan. Budi pekerti baik yang jadi bagian dari dirinya terasa memuakan. Ilmu dan wawasan yang biasanya dia gunakan dalam menyelesaikan permasalahan jadi terasa tak memberi manfaat.

Semua jadi lebih buruk, sebab sawah yang dia tanami tiba-tiba kekeringan. Dewi tandur kehilangan kemampuannya. Semua orang khawatir desa akan alami paceklik. Semua orang panik.

Apa yang terjadi pada Lestari? kemurungannya menimbulkan kerusakan pada desa. Anak-anak yang dulu dia ajari mengaji ikut-ikutan berontak. Desa dihiasi kelaparan, anak-anak nakal berseliweran, sawah-sawah gagal panen, sungai-sungai mengering. Nampaknya desa sedang menuju ke kehancuran.

Para pemuda berupaya menggali sumur mencari sumber air. Para bapak berupaya menggemburkan tanah desa. Para ibu mengendalikan anak-anak. Para orang tua sembahyang memohon hujan dan rezeki.

Sampai suatu pagi ibu Lestari yang lumpuh memaksakan diri keluar dari gubuknya. Menyeret kedua kakinya di pasir dan kerikil. Memanggil semua orang mendekat padanya. “Kalian kah yang menyakiti Lestari anakku?”

Mereka terdiam, tak satupun merasa pernah menyakiti Lestari. Tapi mereka sendiri ragu, bisa jadi mereka memang menyakiti lestari. Entah bagaimana, mereka sendiri tidak yakin.

“Kalian usik hidup seorang wanita yang pandai bersyukur, padahal setiap pagi lakukan tandur yang dia tanam adalah benih padi bercampur syukur, yang membuat sawah-sawah kalian subur. Dulu Lestari kekurangan, namun karena senantiasa bersyukur dia dicukupi, dengan limpahan air sungai untuknya berwudhu, sawah-sawah yang subur, serta suara anak-anak mengaji. Tuhan mencukupinya. Tapi, kalian usik semua hal itu, membuat Lestari lupa bersyukur. Maka terimalah hukuman ini! kalian kini kekurangan. Semoga kalian semua sadar, rasa syukur dari perawan tua yang kalian bicarakan itu lah yang selama ini mencukupi desa!”

Semua orang berlutut, menangis dan mengemis, “Ampuni kami Lestari, Dewi Tandur pandai bersyukur, bantulah kami hidup makmur. Kami sayang Lestari!”


Derisna
ig : @Derisnaaaaa

10 Oktober 2020 (dikumpulkan terlambat)
Dalam rangka Challenge 30 hari menulis sastra
Tema 6 : Bersyukur | Cerpen

source ilustrasi : pinterest edited by Derisna

Beri dukungan dengan like dan share, jangan sungkan tinggalkan kritik dan saran agar aku bisa terus melalukan perbaikan :two_hearts: