SANG BINTANG BAMBU LORENG

Dini hari saat sang mentari belum menampakkan wujudnya, seorang gadis dengan piyama cokelatnya berjalan keluar menuju belantara yang tak jauh dari gubuk tempat tinggalnya. Seorang diri ia berjalan menembus hutan bambu yang masih gelap gulita. Tak jauh dari tempatnya berdiri, terlihat cahaya yang terlihat menyambar angin. Sepertinya itu adalah api yang sengaja dinyalakan di tengah hutan.

“Kakek sedang apa di sini?” gadis itu berjongkok mendapati kakeknya yang tengah menebas beberapa pohon bambu.

“Mengumpulkan bambu untuk dijual. Kenapa kamu ke sini, Tang?” kakek balik bertanya.

Gadis yang bernama Bintang itu menggedikkan bahunya, “Kalau semua bambu-bambu di sini ditebang, apakah tidak akan habis?”

Kakek tersenyum kecil kemudian menatap Bintang, “Bambu memiliki tunas baru. Jadi, jika satu bambu ditebang maka tunasnya akan tumbuh menggantikan. Lagian juga pasti kami akan menanam lagi setelah menebangnya. Jangan khawatir.”

“Kenapa harus dengan menebang bambu, kenapa tidak dengan pekerjaan lain saja,” tanya Bintang dengan polosnya, “Kenapa bambu-bambu itu tidak dibuat kerajinan saja. Pasti akan lebih menguntungkan.”

Spontan wajah kakek berubah menjadi murung. Tanpa menyahut pertanyaan dari Bintang, ia segera melangkah pergi. Mengusung bambu-bambu itu menuju ke sebuah tempat.

“Cepat kembali ke rumah. Nenek sudah menunggumu,” suruh kakek dengan nada sedikit meninggi.

Bintang yang tak tahu apa-apa hanya mengangguk lalu berjalan pergi mengikuti apa yang diperintahkan oleh kakeknya.


Bau nasi panas dengan ayam bakar memenuhi setiap sudut ruangan. Bintang tersenyum girang, “Ah, nenek ini tau saja kalau aku lapar.”

Nenek berjalan membawakan lauk-pauk menuju tikar di ruang tengah. Bintang segera menghambur ke neneknya sambil tertawa kecil. “Kamu tadi dari mana?” tanya nenek tiba-tiba.

“Menyusul kakek di hutan bambu,” jawab Bintang yang langsung membuat neneknya kaget.

“Jangan diulangi lagi,” larang neneknya dengan serius.

“Memangnya kenapa, nek?”

“Kamu adalah gadis kota. Nenek yakin kamu pasti akan memberikan ide yang aneh-aneh kepada kakekmu. Jika kau melakukan itu, maka kakekmu akan marah.”

“Marah? Kenapa?” Bintang bertambah bingung.

“Karena hidup kami di sini memang hanya bergantung pada bambu. Di Desa Bambu Loreng tidak diperkenankan untuk mencari pekerjaan selain hanya menjual bambu ke kota. Dan kakekmu itu sangat berpegang teguh pada tradisi itu. Paham?” Bintang langsung mengangguk.

Seusai makan, Bintang langsung masuk dalam bilik kamarnya, mengambil beberapa buku dan alat tulis. Ia pamit izin kepada neneknya. Setelah mendapat izin, Bintang pergi ke rumah Udin, teman sebayanya di Desa Bambu Loreng.

“Udin, kenapa masyarakat di desa ini masih terlalu kuno? Ini sudah zaman modern, aku ingin melihat desa ini lebih berkembang,” bisik Bintang lirih sekali di samping Udin.

“Ssstt, jangan bilang begitu. Kampung ini memang sangat berpegang teguh pada tradisi dan kakekmu adalah ketua adat. Mau tidak mau, kamu harus bisa menyesuaikan diri di sini. Kami hidup dengan sederhana, bukan sepertimu,” sahut Udin.

Bintang langsung memasang wajah cemberut. Sebenarnya ia sangat sedih melihat kondisi desa kakeknya. Bukan karena kekunoannya, tapi karena kondisi desa dan masyarakatnya. Ia prihatin melihat kondisi kakeknya yang setiap pulang bekerja pasti ada saja goresan luka di tangan atau di kakinya. Juga kondisi desa yang diintari oleh hutan bambu yang lebat, membuat desa dipenuhi nyamuk meskipun siang hari. Takut-takut hal tersebut bisa menjadi sumber penyakit.

“Bukannya aku tidak setuju, tapi…,” jeda tiga detik, “Aku ingin mengubah desa ini lebih maju. Seperti mengajak warga untuk membuat kerajinan dari bambu untuk dijual. Bukankah seperti itu lebih menguntungkan? Lalu merapihkan hutan yang berantakan. Aku bisa mengajak teman-temanku dari kota untuk melakukannya.”

Udin hanya bisa menghela nafas berat, “Terserah kamu saja. Lalu, bagaimana usahamu untuk ini?”

“Aku akan pulang ke kota. Mempelajari berbagai hal yang bisa menguntungkan desa ini. Desa kelahiranku, Desa Bambu Loreng, aku ingin melihat desa ini maju. Aku harus pulang ke kota dan aku janji setelah aku pulang nanti aku akan bisa membuat desa ini lebih maju. Aku janji,” ucap Bintang berapi-api.

“Semoga berhasil.”


Bintang kembalu ke kota, di susul oleh kedua orang tuanya. Dalam hati ia memiliki tekad yang besar untuk memajukan Desa Bambu Loreng. Ya, dia harus berhasil. Dia akan belajar dengan sungguh-sungguh. Ia yakin, suatu hari nanti ilmu yang dia miliki akan berguna bagi banyak orang, terutama bagi masyarakat sekitarnya.

Bintang tersenyum menatap langit-langit yang tengah menari riang bersama sang mentari, " Inilah aku. Bintang dari Bambu Loreng."

“Bambu Loreng, motivasiku untuk menjadi insan berguna.”


1 Like