Salsabila, Mata Air dari Surga

#Challenge8 (Kenangan)

Cerpen challenge 8
Sumber Foto : Google

Salsabila, Mata Air dari Surga
Oleh : Rika S. Majreha

Padang Pariaman, 9 September 2020

Ini adalah kisahku yang berawal dari sebuah riwayat hidup, namun berakhir dari batas sebuah cerita. Aku, ya Aku, adalah seorang laki-laki yang terlahir pada saat zaman Reformasi, tepatnya pada saat lengsernya Presiden RI yang ke-2 yaitu Jend. H.M. Soeharto. Seperti inilah keadaan lndonesia, ibu pertiwiku nyaris selama 75 Tahun merdeka masih sangat memilukan sekali. Keadaannya masih semeraut tak jauh berbeda seperti 10 Tahun lalu. Masih banyak koruptor yang berlalu lalang di depan Televisi yang tak punya malu melambai-lambaikan tangannya. Entahlah, sebelum terbentuk 1 kata yaitu “NOTONEGORO” Indonesia ini tak akan pernah menjadi lebih baik. Teringat perkataan guruku saat aku duduk di bangku SMA. ‘NO’ untuk Dr.lr.H.Soekarno, ‘TO’ untuk Jend.H.M.Soeharto, dan ‘NE’ ? Entahlah hingga dipenghujung Tahun 2020 ini tidak pernah ada Presiden RI yang berakhiran ‘NE’, itu masih menjadi teka-teki didalam benakku. Apakah guruku berbicara itu adalah sebuah candaan atau bahkan berbalik menjadi sebuah fakta.

Ini adalah desaku tepatnya berada di Provinsi Sumatera Barat. Yang terlihat hanyalah sebaran kebun kelapa sawit. Aku adalah salah satu korban dari arus Transmigrasi dan Urbanisasi yang dicanangkan Pemerintah pada saat itu. Pemerintah memang mengiming-imingi akan memberi kami kebun kelapa sawit. Ya, memang Pemerintah menepati janjinya, namun setelah kebun kelapa sawit itu tidak berdaya guna lagi, barulah Pemerintah memberikannya kepada kami.

Aku berasal dari Tanah Jawa, tepatnya di Provinsi Jawa Barat. Aku menata kembali karierku di sini, tepatnya di desa yang berada di Kabupaten Padang Pariaman yang sangat berbeda jauh dengan adat istiadat di tempat kelahiranku. Namun sayangnya, Aku sangat kesulitan untuk berbicara didalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya Aku sering di juluki ‘Anak Rantau’. Seiring berjalannya waktu, roda kehidupan mulai berputar dan zaman pun berganti. Kini pembangunan sudah mulai maju dari Sabang sampai Merauke. Banyak gedung-gedung menjulang tinggi dan mencakar langit. Namun, tetap saja lndonesia berada dalam sektor ekonomi terendah dari negara-negara lain. Dan lndonesia tidak bisa terlepas dari para Pemimpin yang tidak amanah. Seketika itu aku teringat kepada guruku yang pernah menerangkan Hadis yang berbunyi: “Apabila suatu urusan yang diserahkan kepada seseorang yang bukan ahlinya, maka tunggu saja Kehancurannya”.

“Huuuffttttt…” sejenak Aku menghelakan napas. Aku teringat pada masa lalu, tepatnya 10 Tahun silam. Gambaran lndonesisa yang sekarang ini tepat sekali untuk mengibaratkan kisah Cintaku. Yang pernah terenggut waktu. Aku adalah seorang laki-laki yang sangat menyesali semua kesalahanku. Mungkin saja jikalau sedari dulu aku menyadari semua kesalahanku. Mungkin, aku tidak akan pernah kehilangan Cinta Sejatiku yang selalu sabar menerima semua kekuranganku. Ya dia adalah seorang wanita yang pertama namun tidak akan pernah menjadi yang terakhir bagiku. Itu semua karena kesalahanku. Mungkin saja pada tanggal 9 September 2020 ini adalah genap berusia 10 Tahun saat-saat yang paling ku nanti. Saat-saat paling bahagia memetik sebuah kebahagiaan yang selama ini aku dan dia perjuangkan. Namun, nyaris untung tak mujur, Takdir-Nya tak menyatakan seperti apa yang aku harapkan. Enam Tahun lalu, dia pergi melepaskanku tanpa kutahu apa sebabnya dia bisa merelakanku. Dan setelah kejadian itu, barulah aku bisa berpikir jernih bahwa dia melepaskanku itu karena kesalahanku sendiri. Aku baru tersadar karena sejak dahulu aku telah menyia-nyiakannya, aku telah menyakitinya, dan… dan aku telah melukai perasaannya. Aku bodoh… aku tak pernah peduli akan kesakitannya.

Dahulu, aku pernah dan sering sekali berdekatan dengan wanita lain. Hingga… suatu saat aku Jatuh Cinta pada wanita lain. Aku merasa wanita lain itu adalah… wanita yang lebih baik daripada dia. Namun, karena itu, kini aku sadari. Aku telah salah menilai. Wanita itu hanya mengincar kebaikanku dan memanfaatkan kepolosanku. Tapi itu jauh berbeda dengan dia, yaitu ‘Salsabila’ wanita yang selama ini aku sia-siakan di sisa penantian panjangnya. Padahal Aku telah berjanji padanya. Bahwa Aku akan membuktikan Cintaku 10 Tahun yang akan datang. Tetapi, hingga saatnya tiba yaitu hari ini Aku mengingkari janjiku sendiri.

Ya Allah… kuatkanlah hatinya dan bukakanlah pintu hatinya agar dia bisa memaafkan semua kesalahanku. Aku selalu berpikir dengan Logika, Logika kesalahan terbesarku. Aku tak tahu sekarang dia menjadi apa atau bersama siapa? Itu pertanyaan yang selalu ada dalam pikiranku. Kini aku tidak pernah bertemu dengannya karena lautan lepas Laut lndonesia dan Selat Sunda juga tingginya Gunung Kerinci telah memisahkan batas pandangku kepada Salsabila, dermaga mata air dari Surga itu.

Ya Allah… kini aku telah berpasrah dan berserah diri terhadap semua kehendak-Mu. Kini di sisa-sisa hariku, Aku hanya tinggal menghitung hari. Nyaris sekali, di zaman se-modern ini Aku mengalami masa Perjodohan seperti kisah dari Ranah Melayu ini ‘Siti Nurbaya’ yang dijodohkan oleh orang tuanya sendiri kepada seorang Raja Tanah. Namun sungguh malangnya Aku adalah seorang laki-laki dan Aku bukan ‘Siti Nurbaya’. Tapi aku dipaksa mencintai seorang wanita yang tidak aku Cintai. Mungkin ini karma bagiku, karena aku tak pernah mensyukuri pemberian Allah Swt yang telah kusia-siakan. Tetapi, aku harus lkhlas menerimanya. Mungkin suatu saat Skenario Yang Maha lndah telah direncanakan oleh-Nya.

Sejenak untuk melupakan perjodohan itu, Aku berjalan-jalan perlaham menyusuri jalan setapak yang entah ke mana akan membawaku. Ternyata jalan setapak itu membawaku pada sebuah desa yang amat terpencil, namun kulihat dari segi geografis desa ini bisa dijadikan tumpuan bahkan sumber devisa terbesar bagi Negeri ini. Namun, sungguh sangat disayangkan pemerataan untuk menikmati bangku sekolah di desa ini sangat kurang. Banyak sekali penduduk di sini yang putus sekolah. Nyaris sekali di zaman semaju dan semodern ini masih ada saja warga negara yang tidak mendapatkan Haknya dengan baik.

Ketika aku duduk-duduk di sebuah bangku memandangi kekayaan alam di desa ini. Tiba-tiba saja aku menemukan jalan keluar dari semua permasalahan ini. Terbesit dalam pikiran dan benakku untuk menemui Salsabila, mata air dari Suurga itu. Dan sebelum semuanya terlambat besok aku memutuskan untuk menemui Salsabila.

Pagi itu menyapa, mentari jauh di lembah sana perlahan-lahan mulai muncul berbinar-binar. Sayup-sayup pagi nampaknya mengizinkanku untuk bertemu Salsabila hari ini. Semoga di penghujung ini pun Salsabila sedang melihat mentari yang akan membawa kabar gembira.

Dengan segenap keteguhan dan keyakinan hati aku berusaha meyakinkan diriku untuk menemui Salsabila. Lamanya perjalanan dan jarak tempuh untuk kembali ke tempat kelahiranku tak menghentikan derap langkahku. Menyusuri jalan setapak, terjalnya batuan curam, dan luasnya lautan tak menghalangiku. 24 jam perjalanan kutempuh demi menebus semua kesalahanku.

Setibanya dari kepergianku, aku melihat desa yang membesarkanku kini lambat laun sudah mulai berbeda. Pembangunan sudah mulai mengeruk semua tempat bermainku dulu. Hanya sisa puing-puing kenangan itu yang tergambar sesampainya di desa tempat kelahiranku itu. Tapi, apakah rerumpunan sawah hijau yang terbentang luas itu, tempat aku berjanji bahwa 10 Tahun lagi aku akan menemui Salsabila apakah masih ada? Ataukah sudah tergerus bersama luka-luka itu? Ya Allah… Yang Maha Pengasih dan Penyayang janganlah Kau berikan kesedihan yang teramat dalam lagi kepada Salsabila.

Kemudian tas-tasku bersama oleh-olehku untuk Salsabila tanpa kusadar terjatuh begitu saja. Aku berlari sekuat tenaga untuk menemui Salsabila di tempat yang ku janjikan dahulu. Dari kejauhan kulihat seorang wanita memakai jilbab putih dan mengenakan busana putih tergelar seperti putus harapan dan memendam sejuta kesedihan mendalam. Kuharap itu bukanlah Salsabila. Aku menghampiri dengan perasaan yang berguncang, perasaan rindu, sedih, takut, bahagia berkecamuk dalam benakku. Ya Allah… Laa haula walaa quwatta illaabillah… air mata itu terjatuh seketika.

“Apakah kau Salsabila?”

Ketika wanita itu berbalik, wanita itu menangis. Pecah kemerah-merahan wajahnya menambahku terluka. Ternyata… ya, dia adalah Salsabila yang sedang menangis. Ya Allah… betapa kecewa dan hancurnya diriku.

“Assalamu’alaikum… Salsabila? Bagaimana kabarmu?”

Hanya sekedar salam pembuka untuk mengawali penjelasanku. Dia hanya terdiam dan meneteskan air mata.

“Salsabila, aku datang kemari jauh dari negeri sebrang untuk menepati janjiku”.

Dia hanya menangis, dengan berkeping luka 1001 ucapan sepertinya dia tak ingin berbicara kepadaku.

“Salsabila, kumohon berbicaralah padaku. Selasa, 20 Oktober 2020 hari ini aku hanya ingin menepati janjiku dan meminta maaf kepadamu. Salsabila, entahlah Aku harus berawal dari mana dan berujung ke mana. Aku… aku begitu menyesal karena sekian lama aku telah meninggalkanmu dan tak berpamitan kepadamu”.

Tiba-tiba Salsabila berbicara dengan terisak-isak.

“Ya, tak usah meminta maaf… Aku sudah mengerti dan menyadarinya sekarang”.

“Kalau begitu apakah kau sudah memaafkanku?”

“Sebelum kau meminta maaf, aku sudah memaafkanmu, hanya saja sayat-sayat luka itu belum sembuh pulih. Aku sering mengingat ketika kamu bercanda tawa dengan wanita lain yang bukan Mahrammu. Bagaimana keadaan dia sekarang?”

Aku tak menyangka ternyata Salsabila sesakit itukah? Sampai-sampai dia mengeluarkan air mata ketika menanyakan kabar wanita itu. Tiba-tiba aku terjatuh di hadapannya.

“Salsabila, maafkan aku… itu semua kesalahanku dan baru kusadar kali ini aku kecewa karena sekian lama aku sudah melupakanmu. Tanpa memperdulikanmu. Baru kusadar ternyata yang benar-benar mencintai kesederhanaanku adalah dirimu, kau adalah seorang wanita yang tak pernah mengecewakanku, namun kau selalu dibuat kecewa olehku. Aku mohon katakanlah apa yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku?”

Tiba-tiba dia berbalik dan tidak ingin memperlihatkan kesedihannya.

“Bangun…bangunlah… dan segera berbahagialah dengan wanita yang selama ini kau puja. Dan Tinggalkan Diriku!!!”

Mendengar kata-kata itu seakan-akan bumi itu terhempas dan berhenti sejenak. Dan baru ku sadari ternyata setegarnya laki-laki, tanpa tersadar air mata itu jatuh seketika. Gagalnya dan Hancurnya hati ini, tetapi apabila di bandingkan dengan Salsabila hatinya jauh lebih Hancur akan kegagalan kepercayaannya. Ssalsabila pun berkata.

“Ternyata selama ini aku salah menilai orang, Laki-laki yang dahulu ku anggap Baik karena Agamanya dan Tampan karena Kesederhanaannya ternyata jauh lebih Luka jika dibandingkan dengan Laki-laki yang Urak-urakan tetapi mengerti akan Agama dan selalu menjauhi Larangan-Nya. Ya Allah… Astaghfirullahaladzimm…”

Salsabila pun berlari meninggalkan ku sendiri. Aku berusaha mengejarnya. Namun aku terjatuh pada sebuah tumpukkan tanah yang bertuliskan Lafadz ‘lnaa lillahi wa lnaa ilaihi Roji’un’. Tiba-tiba seorang wanita tua menghampiriku dan mengusap air mataku. Tangannya seperti kukenal dahulu aku sering mencium tangan ini untuk meminta restu bersama Salsabila.

“Nak, yang sabar… pasti semua ada hikmahnya. Ya, dahulu sebelum kereta kencana menjemput mendiang anak ibu, dia berpesan agar dia dibaringkan di sini. Dia berpesan dan berjanji ingin menanti seorang Laki-laki yang akan membawa Cintanya ke mari”.

Aku hanya memandang dengan kosong wanita tua itu. Dan seakan-akan tak percaya apakah yang sebenarnya terjadi?

“Astaghfirullahaladzimm… Yaa Rahmaanu Yaa Rahimm… lnaa lillahi wa lnaa ilaihi Roji’un…”