Salah satu hasil dari PETE (Polythylene Terepthalate)

Botol minuman atau Botol Plastik

Proses Produksi Plastik

Perjalanan plastik hingga sampai ditangan kita melibatkan proses yang rumit dan panjang. Yuk kita intip bagaimana prosesnya!

Ekstrasi Bahan Baku

Proses pembuatan plastik bermula dari ekstrasi minyak bumi sebagai bahan baku utama proses pembuatan plastik. Lho kok minyak bumi? Yes, plastik yang biasa kita gunakan saat ini masih dibuat dengan menggunakan minyak bumi, sumber daya alam yang akan habis dan tidak dapat diperbarui. Proses ekstrasi ini melibatkan energi yang sangat besar dan memberikan dampak negatif terhadap lingkungan.

Transportasi dan Produksi Nafta

Proses ekstraksi minyak bumi tak jarang berada jauh dari tempat pemrosesan lebih lanjut. Minyak bumi dikirim dari wilayah ekstrasi dengan menggunakan kapal laut, pipa, atau melalui lajur darat. Proses pengiriman minyak bumi ini bisa menyebabkan tumpahan minyak bumi di lautan dan sangat berbahaya bagi lingkungan lho!

Setelah minyak bumi berhasil dikirim, minyak bumi mentah diproses lebih lanjut yaitu proses pemisahan berbagai macam senyawa dari minyak bumi, seperti bensin, kerosin , diesel, gas dll. Salah satu senyawa yang dihasilkan dari proses pemisahan ini adalah senyawa Nafta yang merupakan bahan baku pembuatan berbagai jenis plastik yang kita gunakan sehari-hari.
plastik 2
Proses pemisahan minyak bumi hingga menghasilkan senyawa Nafta. source: plasticisrubbish.com

Proses Pembuatan Pelet Plastik

Setelah mendapatkan Nafta, senyawa Nafta ini kemudian diproses lebih lanjut untuk menjadi pelet plastik atau biasa disebut dengan nurdles . Di Indonesia, proses produksi nurdles atau pelet plastik ini dilakukan oleh perusahaan PT Chandra Asri Petrochemical dengan mengimpor bahan baku Nafta dari India, Thailand, atau China.

Yup, jadi bahan baku plastik yang kita gunakan di Indonesia ini ternyata masih IMPOR lho!


Nurdles atau pelet plastik. Source: https://www.intelligentliving.co/nurdles/

Transportasi dan Pencetakan Plastik

Setelah proses produksi nurdles atau pelet plastik ini selesai, nurdles didistribusikan ke pabrik produksi plastik untuk dicetak dan dibentuk sesuai dengan kebutuhan, misalnya menjadi botol plastik, tas plastik, dan lain sebagainya.

Tidak banyak yang mengira bahwa saat proses distribusi, terdapat kemungkinan nurdles plastik ini terlepas dan sangat berbahaya bagi lingkungan.

Proses transportasi nurdles berpotensi merusak lingkungan. Source: https://www.nurdlehunt.org.uk

Setelah pelet plastik sampai di pabrik produksi, pelet plastik dilelehkan dengan suhu tinggi dan dicetak sesuai dengan kebutuhan atau rekues para pembeli.


Proses pencetakan plastik dari pelet menjadi botol plastik. Source: pinterest.com

Sampai disini. perjalanan plastik bisa dilanjutkan untuk didistribusikan ke para pembeli plastik dan akhirnya akan sampai ke tangan kita, atau bisa dilanjutkan ke pabrik lain untuk proses selanjutnya, misalnya ke pabrik air mineral atau minuman dalam kemasan plastik lainnya.

Sumber: dwi sasetyaningtyas Oktober 2014: https://sustaination.id/dibalik-mudahnya-hidup-ada-dampak-plastik/

Izin menambahkan sedikit kak, PETE (Polytylene Terepthalate) biasa digunakan untuk kemasan makanan dan minuman karena kemampuannya untuk menjaga makanan tetap kedap udara, juga memastikan keutuhan gas karbon dioksida di dalam minuman berkarbonasi.

Meskipun PETE (Polytylene Terepthalate) merupakan salah satu bahan plastik yang banyak didaur ulang, PETE (Polytylene Terepthalate) mengandung antimony trioxide yang dianggap karsinogen (dapat memicu kanker). Semakin lama sebuah cairan berada di dalam kemasan yang terbuat dari bahan ,PETE (Polytylene Terepthalate) semakin besar potensinya untuk mengaktifkan antimony. Suhu panas di dalam mobil, garasi, dan lemari penyimpanan tertutup juga bisa meningkatkan kemungkinan terlepasnya zat berbahaya tersebut.