Sahabat Bernama Nina

Uncharted Territory

“Gila lu baru dateng. Nih ada tugas kimia banyak banget, lu bawa kertas folio nggak?”

Nina, sahabatku. Ia baru saja datang setelah bel sekolah berbunyi. Kemarin Nina tidak masuk dikarenakan hujan deras dan membuat daerah rumahnya terkena banjir. Alhasil aku sendirian tidak ada teman untuk mengobrol, karena memang hanya dengannya sebuah percakapan menjadi begitu menyenangkan. Nina sama denganku, menyukai hal bernama SKS “Sistem Kebut Semalam.”

Tugas kimia dari Bu Indah yang tidak sedikit ini membuatku begadang semalaman untuk mengerjakannya, padahal tugas ini sudah diberikan dari seminggu yang lalu. Aku sih sebenarnya bisa santai anda kimia bukan pelajaran pertama pagi ini dan membuat sibuk teman-temanku yang lain.

“Bawa nih gue, mana sini tugasnya.” Jawab Nina terburu-buru.

Aku menghembuskan nafas lega, cemas karena takut ia tidak membawa kertas folio yang kuingatkan semalam.

“Ini nih segini tugasnya?” tanya Nina terkejut.

Aku menjawab tanpa menoleh padanya karena aku pun sedang menyelesaikan beberapa pertanyaan yang belum diisi. “Banyak banget ternyata, gue ngerjainnya begadang ini. Ngga tidur gue, ngantuk banget sekarang.”

“Udah sini buruan kerjain jangan banyak omong.” Ucapnya kesal.

Aku pun tertawa, sudah menjadi ciri khas kami berbicara dengan nada sarkas seperti itu. “Lu lagian, kemarin kenapa ngga masuk. Gue tau rumah lu nggak banjir kan, emang lu males aja.”

“Berisik lu, banjir rumah gue woi.”

Bu Indah yang sedang sibuk menjawab pertanyaan dari teman-temanku seolah sedang di wawancara menjadi hal baik bagi kami untuk menyelesaikan tugas ini.

“Yang lain udah pada selesai juga kali?” kata Nina lagi.

“Belum sih, itumah lu tau sendiri mereka orang-orang pinter.”

Tiga jam pelajaran kimia hari itu terasa begitu cepat, tugas sudah kami selesaikan dengan baik meski harus berjuang lebih untuk mengerjakannya. Kami pun berganti pakaian, karena setelah itu pelajaran olahraga. Melelahkan memang, setelah otak kami berpikir keras, kali ini fisik kami yang harus bekerja.

Pelajaran olahraga pun sama berakhir cepat begitu saja, padahal tiga jam pelajaran. Kalau itu matematika mungkin sudah terasa sangat lama. Bel istirahat kedua pun berbunyi, aku dan Nina pergi ke musholla kecil dekat kelas untuk melaksanakan shalat dzuhur.

“Lu ngga bawa bekal?” tanyaku setelah kami kembali.

Baik aku maupun Nina, sama-sama malas pergi ke kantin. Dikarenakan kantin sekolah kami memang sempit, sehingga membuat kami enggan kesana.

“Ngga bawa…” jawabnya dengan nada memelas, karena kami berdua sama-sama lapar.

Temanku yang duduk didepan kami menyahut, “Lu mau nitip nggak?”

“Beli jajanan warung aja Nin,”

“Yaudah nih uangnya, sekalian es juga yakkk.”

Aku dan Nina memberika beberapa uang kertas pada temanku yang baik sekali itu.

Jam sekolah hampir usai, pelajaran terakhir tidak ada guru. Kelas hari itu damai sekali, ada yang tidur, mendengarkan lagu memakai headset. Berusaha tidak berisik agar kelas kami terkesan sedang belajar. Aku dan Nina memilih scroll sosial media dan melihat foto-foto lelucon yang biasa kami lihat.

“Woi, lu tau nggak?” Ucap Nina setelah selesai merapikan buku dan memasukkannya dalam tas.

“Apaan?”

Dia mengeluarkan kotak yang terlihat seperti tempat makan.

“WAHHHH gila lu. Lu bawa bekal dan baru dikeluarin sekarang?” protesku.

Nina hanya tertawa, “Gue nggak tauuuu.”

Kemudian kami berdua memakan bekal yang berisi ayam goreng plus nasi tersebut.

.Aku hanya bisa tersenyum mengingat kenangan yang terjadi di atas meja belajar kami. Kini mungkin Nina sudah menemukan sahabat barunya disurga. Aku merindukannya, sungguh.

By : Annisa Husniya
Pic : Pinterest