Saat kebenaran bisa menyakiti orang lain, benarkah sebaiknya kita tidak mengatakan yang sebenarnya?

Tidak semua kebenaran menyenangkan untuk diketahui. Ada kebenaran-kebenaran yang dapat memutarbalikkan kehidupan seseorang. Coba bayangkan kalau kamu berada dalam posisi mengetahui suatu kebenaran yang menyangkut seseorang dan kamu tau kalau kamu mengatakan hal itu, ada kemungkinan kebenaran tersebut dapat menyakitinya. Tapi di sisi lain, kamu merasa orang tersebut berhak mengetahui kebenarannya. Saat kamu punya pilihan untuk menyampaikan atau menyembunyikan, apakah memang sebaiknya kamu tidak mengatakan yang sebenarnya?

4 Likes

Menurut saya, kebenaran sudah seharusnya disampaikan walaupun bisa menyakiti seseorang sekalipun. Suatu kebenaran pada dasarnya dibutuhkan untuk kita bisa menjalankan sesuatu yang benar. Perasaan tersakiti hanyalah sesaat, namun suatu kebenaran merupakan sesuatu yang mutlak dan sampai akhir akan tetap seperti itu.

Adapun kebenaran yang sifatnya berhubungan dengan personal atau individu bisa disampaikan secara personal dan dengan cara yang baik tanpa maksud menyakiti dia, tetapi karena sayang lah kita menyampaikan kebenaran itu.

2 Likes

Kamu bisa sembunyikan sebanyak yang kamu mau, kalau kamu takut kebenaran akan merusak hubunganmu dengan orang lain. Tapi apa kamu pikir hubungan yang dibangung di atas pondasi kebohongan bisa bertahan selama yang kamu inginkan? Ada terlalu banyak cara bagi kebohongan untuk terbongkar, cepat atau lambat. Menyimpan kebohongan sama halnya dengan menyimpan bom waktu. Kalau kamu mengatakan dengan cara yang tepat, besar kemungkinan malah hal itu bisa memperkuat hubunganmu. Berbeda halnya kalau yang terjadi adalah “ledakan tidak terkontrol” dari bom waktu yang kamu simpan.

1 Like

Kalau menurut saya, meskipun itu merupakan kebohongan kecil. Kebohongan tetaplah kebohongan dan BOHONG itu BURUK. Menurut pendapat para pakar psikologi, sekali seseorang bertindak bohong, maka untuk selanjutnya akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan ini menimbulkan karakter “Tukang bohong”. Bisa jadi untuk menutupi kesalahan kecil pun akan dihadapi dengan kebohongan. Karakter ini menurut saya sangat buruk. Dengan alasan “berbohong untuk kebaikan” itu menurut saya bullshit.

Seburuk apapun hasil dari kejujuran, tetaplah lebih baik untuk berlaku jujur. Dengan jujur, tidak akan ada perasaan cemas berkepanjangan. Hubungan yang dilandasi dengan kejujuran akan terasa nyaman.

1 Like

Situasi yang dilematis ya. Secara moral saya tidak bisa membenarkan kalau yang dimaksud dengan tidak mengatakan yang sebenarnya adalah berbohong. Sebenarnya kita bisa tidak mengatakan yang sebenarnya dengan tidak membahasnya sama sekali. Kalau saya punya pilihan sepertinya saya akan memilih hal yang kedua ini dan membiarkannya tetap seperti itu. Tapi pada akhirnya kebenaran pasti harus dikatakan. Hanya saja kita punya pilihan bagimana cara mengungkapkannya agar kerusakan yang timbul bisa ditekan seminimal mungkin.

Kalau saya ada di situasi itu, hal yang paling mudah yang akan saya lakukan adalah menghindari topik yang mengarah ke sana. Hal ini akan saya lakukan selagi bisa, sambil memikirkan hal-hal yang bisa saya katakan apabila pada suatu momen akhirnya topik tersebut naik ke permukaan dan harus saya hadapi.

Saya merasa perlu menyiapkan momen pengungkapan itu dengan segala kemungkinannya dengan baik. Meskipun banyak hal yang tidak bisa diprediksi, tapi sesuatu yang dipersiapkan lebih kecil kemungkinannya untuk gagal seburuk sesuatu yang tidak dipersiapkan. Kebenaran-kebenaran yang berpotensi menyakiti dan merusak hubungan semacam ini tidak bisa dikatakan secara impulsif tanpa pertimbangan matang. Cara yang salah hanya akan memperparah sakit yang dirasakan orang yang bersangkutan.

Selagi menghindari topik itu saya juga akan sebisa mungkin menyiapkan “peredam”. Misalnya apabila rahasia yang bisa menyakiti itu berkaitan dengan kesetiaan, maka saya akan membuktikan terlebih dahulu kesetiaan pada orang yang pernah dikhianati. Dengan begitu, walaupun ia tetap sakit hati, tapi dia tau kalau masa lalu tidak sama dengan apa yang ada saat ini. Saya berusaha membuatnya berpikir bahwa meskipun masa lalu terungkap tidak ada yang perlu dikhawatirkan hari ini dan seterusnya karena semua sudah berbeda, semua akan baik-baik saja.

1 Like

Menurut saya, menyembunyikan kebenaran memanglah bukan sesuatu yang tepat, namun tidak semua hal memang harus disampaikan. Bukan berarti kita menyembunyikannya, tetapi ada hal-hal yang tidak perlu diutarakan. Apabila dirasa hal kebenaran tersebut bisa menyakiti, ya dilihat kembali apakah hal tsb memang harus dissampaikan. Kalau perlu, sampaikanah dengan baik, tetapi kalau tidak perlu mending disimpan sendiri saja. Silahkan kita memilah kebenaran tsb sesuai dengan kebutuhannya.

Adapun kita juga harus menyiapkan diri dengan segala apapun yang terjadi apabila suatu kebenaran bisa menyakiti diri kita. Yang harus kita yakini bahwa, perasaan sakit hanya bersifat sementara saja.

1 Like

Dilema ketika harus dihadapkan dengan kondisi tersebut. Saya sendiri juga pernah mengalami hal tersebut. Ketika kita sebagai sahabat dekat yang benar-benar mengenal seseorang dan mengakibatkan kita merasa mampu untuk mengambil keputusan bagi dirinya, salah satunya dengan tidak memberitahukan kebenaran yang sebenarnya miliki orang lain. Nah, saya melihat kondisi ketika mengetahui kebenaran yang menyangkut orang lain dan membuat dirinya harus menyimpan kebenaran tersebut merupakan salah satu langkah pengambilan keputusan seseorang.

Pada pengambilan keputusan menurut ahli manajemen George Robert Terry pengambilan keputusan salah satunya didasari oleh intuisi yaitu berdasarkan perasaan yang subjektif. Ketika seseorang memutuskan untuk menyimpang kebenaran karena kemungkinan kebenaran tersebut dapat menyakiti perasaan orang lain maka diri kita sendiri secara subjektif telah menentukan hal tersebut. Kita dengan pengalaman, pengetahuan, dan ditambah kedekatan emosional dengan orang yang bersangkutan bisa menimbulkan bias untuk mengambil sebuah keputusan.

Hal tersebut sebenarnya tidak salah, ketika kita memang merasa bahwa kita sedang menyimpan kebenaran yang tidak baik untuk disampaikan kepada orang lain maka harus selalu diingat bahwa terdapat alasan faktual yang dapat mendasarinya. Manusia terlahir dengan kemampuan penalaran logika jadi selama terdapat penjelasan secara logis dari segala tindakan yang kita ambil maka akan lebih mudah untuk dipahami oleh individu lain daripada, ‘ah ya tidak ada alasannya, hanya ingin menyimpan kebenaran ini saja untukmu karena aku tahu kamu’. Alasan yang tidak mendasar kan?

Referensi

Terry, R George. 1972. Principles of Management an Integrated Approach. New jersey: Prentice Hall Inc