Ruang Kebahagiaan

image

Aku menghela nafasku kasar, kemudian menghadapkan kepalaku ke langit. Seperti biasa, langit malam ini sangat indah. Taburan bintang, cahaya bulan, serta semilir angin malam yang mencekit kulit membuat perasaan lelahku berubah menjadi perasaan tenang. Benar kata orang-orang, menatap langit malam merupakan refleksi bagi diri sendiri yang bisa dilakukan secara cuma-cuma.

“Permisi saya mau lewat, saya dari tadi udah klakson tapi kenapa mbaknya masih diem aja? Ini mobil saya gak bisa lewat, kalo mbak terus berdiri disini.” Aku tersentak kaget kemudian menoleh ke arah seseorang yang menegurku.

Kebodohan yang sama yang kulakukan beberapa minggu yang lalu. Entah karena terlalu sedih atau bagaimana, aku sampai tak sadar kalau melihat langit di tengah jalan yang sebenarnya tak begitu ramai ini.

Menyebalkannya, kali ini yang menegurku sepertinya berumur tak jauh dariku, beberapa minggu yang lalu aku ditegur seorang kakek tua yang aku jamin dia akan lupa kejadian ini jika suatu waktu secara tak sengaja aku bertemu kakek itu lagi. Sehingga aku tidak perlu malu berlebihan.

Tapi untuk kali ini, yang paling membuatku malu, laki-laki yang kini menegurku ini mengenakan almamater univeristas impianku. Bagaimana jika nanti saat aku kesampaian masuk ke universitas tersebut dia mengenaliku kemudian menceritakan kebodohanku kepada teman-temannya?

“Permisi,” seru laki-laki itu lagi.

Entah mendapat keberanian darimana, aku memegangi kepalaku, berpura-pura pusing. Lalu sepersekian detik kemudian aku menjatuhkan diri, pura-pura pingsan.

Laki-laki itu sigap menahan tubuhku, berkali-kali dia berusaha membangunkanku yang pura-pura pingsan ini.

Aku tertawa dalam hati, terpaksa kulakukan agar dia mengiraku sedang sakit, bukan bodoh atau gila karena melamun menatap langit di tengah jalan.

“Mbak, bangun mbak!” Laki-laki itu menepuk pipiku cukup keras.

Aku membuka mataku, kemudian terbatuk-batuk seraya langsung berdiri.

“Aku dimana?” Masa bodoh terlihat seperti di sinetron, yang terpenting aku terlihat seperti orang yang benar-benar baru terbangun dari pingsan.

“Di tengah jalan. Tapi setau saya kalau bangun dari pingsan itu lemas, bukan batuk-batuk apalagi langsung berdiri,” ujar laki-laki itu lalu dingin.

Aku merutuki kebodohanku, bagaimana bisa eskul teater yang telah kuikuti selama 2 tahun tidak juga membuatku pandai berakting.

“Maaf ya, saya lagi nggak enak badan. Makanya sedikit aneh begini. Saya permisi.” Aku membungkukkan badan, kemudian mulai berjalan meninggalkan laki-laki itu.

“Kamu Reina, ya?” Aku menghentikkan langkahku kemudian berbalik.

Aku mengernyitkan dahi, bingung dengan ucapannya. Bagaimana bisa laki-laki itu mengatakan bahwa aku Reina? Apa mungkin aku memiliki kembaran yang selama ini terpisah dariku? Tapi mana mungkin.

“Aku bukan Reina,” ujarku.

“Rei, gak usah malu kali udah kaya sama siapa aja,” ujarnya.

Aku melotot. “Aku bukan Reina apa-apaan sih!” aku berbalik hendak melangkah pergi, mengabaikan laki-laki gila yang merasa mengenaliku sebagai sosok seorang Reina.

“Rei!”

Aku berbalik, “Heh! Gua bukan Reina! Gua ini Fara! Apa perlu gua tunjukkin KTP gua yang baru aja jadi biar lo percaya!” ceplosku kesal.

Laki-laki itu mengangguk, “Jadi nama lo Fara? Oke, salam kenal.”

Aku melongo bingung, sementara laki-laki itu memasuki mobilnya, melaju meninggalkanku yang kebingungan.

“Itu namanya dia cuman mau tau nama lo,” ujar Hilya ketika pagi-pagi di sekolah aku menceritakan kejadian semalam.

Aku mengernyitkan dahiku bingung, “Kenapa gitu?”

“Supaya bisa ngasih tau ke orang-orang akting lo yang luar biasa bagusnya itu,” ujar Hilya santai kemudian ia meringis sebab mendapat pukulan olehku.

“Serius Hil,” rengekku.

“Nggak tau juga sih apa maksud dia, tapi cerita lo lucu deh, gua suka.” Hilya tersenyum.

Aku menghela nafasku panjang, berharap agar tak bertemu lagi dengan laki-laki itu.

Ketika jam pulang sekolah tiba, aku segera pulang dengan berjalan kaki, tak peduli dengan rintik-rintik hujan yang turun membasahi beberapa bagian bajuku, aku berusaha pulang tepat waktu untuk menyanggupi permintaan bunda yang selalu menyuruhku pulang tepat waktu, supaya bunda senang.

Sesampainya di rumah, aku menaruh tasku di kamar, kemudian mulai melihat keadaan rumah yang berantakan seperti biasanya. Aku mulai merapihkan rumah. Berusaha untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumah sebaik mungkin, sekali lagi supaya bunda senang.

Sekitar satu jam kemudian, aku memutuskan untuk ke dapur, hendak membuat beberapa camilan untuk ayah ketika pulang kerja nanti.

Aku menghela nafasku kasar melihat tumpukan cucian piring juga taburan tepung serta gula yang berserakan di dapur. Padahal baru sekitar satu jam usai aku membereskan satu rumah ini, tetapi sudah berantakan lagi dapur yang dapat dipastikan ulah Kak Jia.

Ketika Bunda datang, aku buru-buru geleng-geleng kepala dengan kekacauan dapur, pura-pura tidak tahu siapa dalang dibalik semua ini.

“Siapalah ini yang abis masak gak diberesin,” omelku. , ujarku dalam hati seraya teru

“Nggak usah diberesin kalau kamu ngerjainnya sambil ngomel,” ujar Bunda.

Terus siapa yang mau ngerjain? Bunda? Mana tega aku lihat bunda capek, Bund, gumamku dalam hati seraya membereskan dapur. Mengabaikan perasaan marahku yang ingin meledak.


Hilya bilang, restoran cepat saji yang kini berada tepat di depanku mencari karyawan dengan waktu kerja paruh waktu yang bisa didaftari oleh remaja mulai dari usia lima belas tahun. Restoran ini kabarnya restoran lokal yang didirikan oleh seorang mahasiswa.

Dengan tekad bulat, aku memutuskan untuk melamar pekerjaan disini, hitung-hitung untuk menabung atau agar bisa merasakan nongkrong bersama teman-teman tanpa perlu merasa bersalah karena telah memakai uang orang tua tanpa keperluan yang sangat penting.

Di ruang CEO restoran cepat saji ini aku hanya bisa tersenyum canggung, ketika mendapati laki-laki yang kubohongi dengan acting pura-pura pingsanku beberapa hari yang lalu, kini menjadi calon bos yang akan sering kutemui.

“Reina, ya?” tanyanya, sedikit menyindir.

“Fara,” ujarku mengabaikan rasa maluku yang teramat besar.

“Oh, iya Fara. Karena saya udah kenal kamu sebelumnya, kamu diterima, bisa ambil shift siang mulai dari jam 2 sampai sore jam 6 ya,” ujarnya.

“Oke, Kak. Terima kasih banyak, saya bisa kerja mulai kapan ya?” tanyaku.

“Besok sudah bisa, kita ada stok seragam. Besok kamu tolong bawa fotokopi KTP atau kartu pelajar saja kalau belum punya KTP. Dan foto kopi kartu keluarga juga, ya,” ujar laki-laki itu.

“Baik, kak.” ujarku.

“Saya Aldi.” Laki-laki yang kini kuketahui namanya itu mengulurkan tangan.

Aku menjabat tangan Kak Aldi kemudian tersenyum, “Senang bisa kenal dengan Kak Aldi.”

Seusai keluar dari restoran cepat saji, aku memijat keningku pelan, tiba-tiba saja merasa pusing sebab kejadian yang baru saja aku alami. Jika saja tidak karena aku membutuhkan uang, aku akan kabur secepat kilat dari ruangan itu karena laki-laki yang melihat tingkah bodohku beberapa waktu yang lalu akan menjadi bosku.

Tapi untungnya, dia masih kuliah. Sehingga tidak setiap hari aku bisa menahan malu karena melihat wajahnya.

Hari-hari berjalan seperti biasa, semuanya berjalan lancar. Aku kini sudah menebalkan muka tiap kali Kak Aldi datang ke restoran, mengobrol dengannya seakan-akan lupa dengan tingkah bodohku beberapa waktu yang lalu.

Bunda sudah tahu aku bekerja di restoran cepat saji, alasan yang kukatan pada Bunda adalah aku hanya ingin mencari pengalaman kerja, juga bercerita pada Bunda kalau aku mengagumi sosok Kak Aldi yang tampan.

Padahal alasan terbesarku, aku ingin memiliki uang sendiri agar dapat nongkrong bersama teman-temanku, menjaga hubungan baik dengan teman-temanku agar tak dikira enggan berkumpul. Aku tak ingin mengatakan bahwa uang jajanku hanya untuk makan di sekolah saja, bukankah itu sama saja merendahkan Ayah?

Selain itu aku menabung untuk biaya kuliah, dan untuk membelikan Bunda kado di hari ulang tahunnya nanti.

Malam ini, tepat pada pukul 07.30 Ayah pulang kerja, buru-buru menghampiri kamar Kak Jia dengan sebuah plastik ditangannya. Entah apa yang akan diberikan Ayah, aku tak seberapa peduli karena menonton televisi.

“Jia udah dikasih hp baru janji apa sama Ayah semalam?” perkataan Ayah di makan pagi kami kali ini membuatku terpaku.

Hp baru? Bukankah waktu itu aku mengeluh minta dibenarkan laptop ayah menolak sebab biaya servisnya bisa mencapai satu juta? Lalu mengapa dengan entengnya Ayah mampu membelikan Kak Jia hp baru? Bukankah Iphonenya yang lama masih berfungsi dengan baik? Lalu kenapa harus membeli hp baru?

“Iya, aku inget. Sholat tepat waktu dan rajin belajar.” Kak Jia tersenyum.

Janji yang sama waktu Kak Jia pertama kali merengek ingin membeli Iphone, janji yang sama waktu Kak Jia ingin dibelikan baju baru, janji yang sama pula waktu Kak Jia ingin masuk ke sekolah pilihannya. Tapi tak satupun janjinya ditepati. Kenapa Ayah masih percaya?

Kenapa Ayah tidak percaya pada mimpiku yang dapat lebih mudah tercapai jika laptopku diservis?

Aku marah dengan Ayah. Berhari-hari lamanya mengabaikannya.

Aku benci Kak Jia yang selalu membohongi Ayah dengan segala janjinya, yang membuat Ayah berharap Kak Jia akan berubah menjadi anak yang baik. Aku benci Ayah yang bodoh sebab mempercayainya.

Di suatu sore ketika hujan turun, Ayah menghampiriku yang sedang asyik bermain instagram di ruang tamu.

“Kenapa kamu jadi marah sama ayah? Emangnya kamu siapa?” aku terdiam beberapa saat, kemudian tersenyum, kutatap mata ayah dalam, mencari letak kebohongan di matanya.

Berharap besar kalau aku menemukan candaannya yang garing seperti hari-hari yang lalu di matanya.

Tapi aku tak menemukannya, kedua bola mata besar itu menatapku serius.

Aku menahan tangis sekuat mungkin, memutuskan untuk meninggalkan Ayah di ruang tamu, mencari pekerjaan rumah yang bisa kukerjakan.

Berusaha menyamarkan luka agar seisi rumah tak tahu seberapa besar kecewa memenuhi lubuk hatiku, atau seberapa menyakitkannya perkataan Ayah yang membuatku mendadak bingung tentang siapa diriku sebenarnya, membuatku kehilangan diriku sendiri.

Semenjak hari itu, aku semakin yakin bahwa keputusanku tidak menganggap keberadaan Kak Jia selama ini merupakan hal yang benar.

Siang hari sepulang sekolah, aku bergegas menuju restoran cepat saji melaksanakan pekerjaanku seperti biasanya.

“Kamu lagi sedih, Ra?” tanya Kak Aldi.

Aku menatap Kak Aldi bingung, “Memangnya aku keliatan begitu?”

“Kamu lupa kamu gak pinter akting?” Aku terkekeh.

“Aku sedikit sedih,” ujarku.

“Kamu bisa cerita.”

“Hm?” Aku bergumam bingung.

“Maksud saya kamu bisa cerita sama saya. Saya penjaga rahasia yang baik kok, buktinya karyawan yang lain nggak tau kalau kamu pernah pura—“ Aku menutup mulut Kak Aldi dengan tanganku, kemudian memukulnya kuat.

“Bisa diem kan!” teriakku.

Entah kenapa, mulai hari itu banyak cerita di antaraku dan Kak Aldi. Mulai dari seringnya kami pergi ke pantai bersama atau sekedar saling bertukar cerita mengenai banyak hal.

Dari cerita Kak Aldi aku jadi tahu kalau Kak Aldi membangun bisnis restoran tersebut tanpa bantuan dan dukungan dari siapapun. Ibu Kak Aldi menikah lagi, Ayah tirinya yang tak menyukai Kak Aldi membuat Kak Aldi memilih untuk pergi dari rumah. Mengejar mimpinya sendiri.

Kak Aldi bilang, untuk memulai sesuatu, modal utama yang perlu kita miliki adalah kepercayaan bahwa kita mampu melakukan hal tersebut.

Di suatu sore sepulang dari pantai, aku mengatakan kepada Kak Aldi bahwa aku menyukainya. Mendengar hal itu, Kak Aldi tertawa lantas berkata, “Kamu masih muda, Ra. Kejar dulu mimpimu.”

Aku hanya tersenyum tipis, aku pikir setelah banyak hari dan momen yang kita lalui selama ini, membuat Kak Aldi bisa menyukaiku. Tapi ternyata aku salah, membuat seseorang mencintai kita tak semudah menggenggam tangannya, seperti yang kulakukan sekarang.

Di perjalanan pulang menuju rumah, Ayah menelfonku. Menanyakan soal uang yang berada di atas kulkas. Apakah aku mengambilnya atau tidak. Kujawab dengan tegas bahwa aku tidak mengambilnya, kukatan bahwa Kak Jia mungkin mengambilnya karena selama ini dia memang senang mengambil uang Ibu. Tapi Ayah tak percaya. Katanya, mana mungkin aku tak pernah meminta uang jajan tambahan sedikit pun.

Sesampainya di rumah, mengingat kejadian di telepon tadi membuatku menangis. Dan dengan bodohnya aku menangis di depan Ayah.
Aku menghela nafasku kasar, kemudian mendengakkan kepalaku menghadap langit. Seperti biasa langit malam ini sangat indah, taburan bintang, cahaya bulan, serta semilir angin malam yang mencekit kulit membuat perasaan lelahku berubah menjadi perasaan tenang. Benar kata orang-orang, menatap langit malam merupakan refelksi bagi diri sneidri yang bisa dilakukan secara cuma-cuma.

image

“Permisi saya mau lewat, saya dari tadi udah klakson tapi kenapa mbaknya masih diem aja? Ini mobil saya gak bisa lewat, kalo mbak terus berdiri disini.” Aku tersentak kaget kemudian menoleh ke arah seseorang yang menegurku.

Kebodohan yang sama yang kulakukan beberapa minggu yang lalu. Entah karena terlalu sedih atau bagaimana, aku sampai tak sadar kalau melihat langit di tengah jalan yang sebenarnya tak begitu ramai ini.

Sialnya, kali ini yang menegurku sepertinya berumur tak jauh dariku, beberapa minggu yang lalu aku ditegur seorang kakek tua yang aku jamin dia akan lupa kejadian ini jika suatu waktu secara tak sengaja aku bertemu kakek itu lagi. Sehingga aku tidak perlu malu berlebihan.

Tapi untuk kali ini, yang paling membuatku malu lagi, laki-laki yang kini menegurku ini mengenakan almamater univeristas impianku. Bagaimana jika nanti saat aku kesampaian masuk ke universitas tersebut dia mengenaliku kemudian menceritakan kebodohanku di depan teman-temannya?

“Permisi,” seru laki-laki itu lagi.

Entah mendapat keberanian darimana, aku memegangi kepalaku, berpura-pura pusing. Lalu sepersekian detik kemudian aku menjatuhkan diri, pura-pura pingsan.

Laki-laki itu sigap menahan tubuhku, berkali-kali dia berusaha membangunkanku yang pura-pura pingsan ini.

Aku tertawa dalam hati, terpaksa kulakukan agar dia mengiraku sedang sakit, bukan bodoh atau gila karena melamun menatap langit di tengah jalan.

“Mbak, bangun mbak!” Laki-laki itu menepuk pipiku cukup keras.

Aku membuka mataku, kemudian terbatuk-batuk seraya langsung berdiri.

“Aku dimana?” Masa bodoh terlihat seperti di sinetron, yang terpenting aku terlihat seperti orang yang benar-benar baru terbangun dari pingsan.

“Di tengah jalan. Tapi setau saya kalau bangun dari pingsan itu lemas, bukan batuk-batuk apalagi langsung berdiri,” ujar laki-laki itu lalu dingin.

Aku merutuki kebodohanku, bagaimana bisa eskul teater yang telah kuikuti selama 2 tahun tidak juga membuatku pandai berakting.

“Maaf ya, saya lagi nggak enak badan. Makanya sedikit aneh begini. Saya permisi.” Aku membungkukkan badan, kemudian mulai berjalan meninggalkan laki-laki itu.

“Kamu Reina, ya?” Aku menghentikkan langkahku kemudian berbalik.

Aku mengernyitkan dahi, bingung dengan ucapannya. Bagaimana bisa laki-laki itu mengatakan bahwa aku Reina? Apa mungkin aku memiliki kembaran yang selama ini terpisah dariku? Tapi mana mungkin.

“Aku bukan Reina,” ujarku.

“Rei, gak usah malu kali udah kaya sama siapa aja,” ujarnya.

Aku melotot. “Aku bukan Reina apa-apaan sih!” aku berbalik hendak melangkah pergi, mengabaikan laki-laki gila yang merasa mengenaliku sebagai sosok seorang Reina.

“Rei!”

Aku berbalik, “Heh! Gua bukan Reina! Gua ini Fara! Apa perlu gua tunjukkin KTP gua yang baru aja jadi biar lo percaya!” ceplosku kesal.

Laki-laki itu mengangguk, “Jadi nama lo Fara? Oke, salam kenal.”

Aku melongo bingung, sementara laki-laki itu memasuki mobilnya, melaju meninggalkanku yang kebingungan.

“Itu namanya dia cuman mau tau nama lo,” ujar Hilya ketika pagi-pagi di sekolah aku menceritakan kejadian semalam.

Aku mengernyitkan dahiku bingung, “Kenapa gitu?”

“Supaya bisa ngasih tau ke orang-orang akting lo yang luar biasa bagusnya itu,” ujar Hilya santai kemudian ia meringis sebab mendapat pukulan olehku.

“Serius Hil,” rengekku.

“Nggak tau juga sih apa maksud dia, tapi cerita lo lucu deh, gua suka.” Hilya tersenyum.

Aku menghela nafasku panjang, berharap agar tak bertemu lagi dengan laki-laki itu.

Ketika jam pulang sekolah tiba, aku segera pulang dengan berjalan kaki, tak peduli dengan rintik-rintik hujan yang turun membasahi beberapa bagian bajuku, aku berusaha pulang tepat waktu untuk menyanggupi permintaan bunda yang selalu menyuruhku pulang tepat waktu, supaya bunda senang.

Sesampainya di rumah, aku menaruh tasku di kamar, kemudian mulai melihat keadaan rumah yang berantakan seperti biasanya. Aku mulai merapihkan rumah. Berusaha untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumah sebaik mungkin, sekali lagi supaya bunda senang.

Sekitar satu jam kemudian, aku memutuskan untuk ke dapur, hendak membuat beberapa camilan untuk ayah ketika pulang kerja nanti.

Aku menghela nafasku kasar melihat tumpukan cucian piring juga taburan tepung serta gula yang berserakan di dapur. Padahal baru sekitar satu jam usai aku membereskan satu rumah ini, tetapi sudah berantakan lagi dapur yang dapat dipastikan ulah Kak Jia.

Ketika Bunda datang, aku buru-buru geleng-geleng kepala dengan kekacauan dapur, pura-pura tidak tahu siapa dalang dibalik semua ini.

“Siapalah ini yang abis masak gak diberesin,” omelku. , ujarku dalam hati seraya teru

“Nggak usah diberesin kalau kamu ngerjainnya sambil ngomel,” ujar Bunda.

Terus siapa yang mau ngerjain? Bunda? Mana tega aku lihat bunda capek, Bund, gumamku dalam hati seraya membereskan dapur. Mengabaikan perasaan marahku yang ingin meledak.


Hilya bilang, restoran cepat saji yang kini berada tepat di depanku mencari karyawan dengan waktu kerja paruh waktu yang bisa didaftari oleh remaja mulai dari usia lima belas tahun. Restoran ini kabarnya restoran lokal yang didirikan oleh seorang mahasiswa.

Dengan tekad bulat, aku memutuskan untuk melamar pekerjaan disini, hitung-hitung untuk menabung atau agar bisa merasakan nongkrong bersama teman-teman tanpa perlu merasa bersalah karena telah memakai uang orang tua tanpa keperluan yang sangat penting.

Di ruang CEO restoran cepat saji ini aku hanya bisa tersenyum canggung, ketika mendapati laki-laki yang kubohongi dengan acting pura-pura pingsanku beberapa hari yang lalu, kini menjadi calon bos yang akan sering kutemui.

“Reina, ya?” tanyanya, sedikit menyindir.

“Fara,” ujarku mengabaikan rasa maluku yang teramat besar.

“Oh, iya Fara. Karena saya udah kenal kamu sebelumnya, kamu diterima, bisa ambil shift siang mulai dari jam 2 sampai sore jam 6 ya,” ujarnya.

“Oke, Kak. Terima kasih banyak, saya bisa kerja mulai kapan ya?” tanyaku.

“Besok sudah bisa, kita ada stok seragam. Besok kamu tolong bawa fotokopi KTP atau kartu pelajar saja kalau belum punya KTP. Dan foto kopi kartu keluarga juga, ya,” ujar laki-laki itu.

“Baik, kak.” ujarku.

“Saya Aldi.” Laki-laki yang kini kuketahui namanya itu mengulurkan tangan.

Aku menjabat tangan Kak Aldi kemudian tersenyum, “Senang bisa kenal dengan Kak Aldi.”

Seusai keluar dari restoran cepat saji, aku memijat keningku pelan, tiba-tiba saja merasa pusing sebab kejadian yang baru saja aku alami. Jika saja tidak karena aku membutuhkan uang, aku akan kabur secepat kilat dari ruangan itu karena laki-laki yang melihat tingkah bodohku beberapa waktu yang lalu akan menjadi bosku.

Tapi untungnya, dia masih kuliah. Sehingga tidak setiap hari aku bisa menahan malu karena melihat wajahnya.

Hari-hari berjalan seperti biasa, semuanya berjalan lancar. Aku kini sudah menebalkan muka tiap kali Kak Aldi datang ke restoran, mengobrol dengannya seakan-akan lupa dengan tingkah bodohku beberapa waktu yang lalu.

Bunda sudah tahu aku bekerja di restoran cepat saji, alasan yang kukatan pada Bunda adalah aku hanya ingin mencari pengalaman kerja, juga bercerita pada Bunda kalau aku mengagumi sosok Kak Aldi yang tampan.

Padahal alasan terbesarku, aku ingin memiliki uang sendiri agar dapat nongkrong bersama teman-temanku, menjaga hubungan baik dengan teman-temanku agar tak dikira enggan berkumpul. Aku tak ingin mengatakan bahwa uang jajanku hanya untuk makan di sekolah saja, bukankah itu sama saja merendahkan Ayah?

Selain itu aku menabung untuk biaya kuliah, dan untuk membelikan Bunda kado di hari ulang tahunnya nanti.

Malam ini, tepat pada pukul 07.30 Ayah pulang kerja, buru-buru menghampiri kamar Kak Jia dengan sebuah plastik ditangannya. Entah apa yang akan diberikan Ayah, aku tak seberapa peduli karena menonton televisi.

“Jia udah dikasih hp baru janji apa sama Ayah semalam?” perkataan Ayah di makan pagi kami kali ini membuatku terpaku.

Hp baru? Bukankah waktu itu aku mengeluh minta dibenarkan laptop ayah menolak sebab biaya servisnya bisa mencapai satu juta? Lalu mengapa dengan entengnya Ayah mampu membelikan Kak Jia hp baru? Bukankah Iphonenya yang lama masih berfungsi dengan baik? Lalu kenapa harus membeli hp baru?

“Iya, aku inget. Sholat tepat waktu dan rajin belajar.” Kak Jia tersenyum.

Janji yang sama waktu Kak Jia pertama kali merengek ingin membeli Iphone, janji yang sama waktu Kak Jia ingin dibelikan baju baru, janji yang sama pula waktu Kak Jia ingin masuk ke sekolah pilihannya. Tapi tak satupun janjinya ditepati. Kenapa Ayah masih percaya?

Kenapa Ayah tidak percaya pada mimpiku yang dapat lebih mudah tercapai jika laptopku diservis?

Aku marah dengan Ayah. Berhari-hari lamanya mengabaikannya.

Aku benci Kak Jia yang selalu membohongi Ayah dengan segala janjinya, yang membuat Ayah berharap Kak Jia akan berubah menjadi anak yang baik. Aku benci Ayah yang bodoh sebab mempercayainya.

Di suatu sore ketika hujan turun, Ayah menghampiriku yang sedang asyik bermain instagram di ruang tamu.

“Kenapa kamu jadi marah sama ayah? Emangnya kamu siapa?” aku terdiam beberapa saat, kemudian tersenyum, kutatap mata ayah dalam, mencari letak kebohongan di matanya.

Berharap besar kalau aku menemukan candaannya yang garing seperti hari-hari yang lalu di matanya.

Tapi aku tak menemukannya, kedua bola mata besar itu menatapku serius.

Aku menahan tangis sekuat mungkin, memutuskan untuk meninggalkan Ayah di ruang tamu, mencari pekerjaan rumah yang bisa kukerjakan.

Berusaha menyamarkan luka agar seisi rumah tak tahu seberapa besar kecewa memenuhi lubuk hatiku, atau seberapa menyakitkannya perkataan Ayah yang membuatku mendadak bingung tentang siapa diriku sebenarnya, membuatku kehilangan diriku sendiri.

Semenjak hari itu, aku semakin yakin bahwa keputusanku tidak menganggap keberadaan Kak Jia selama ini merupakan hal yang benar.

Siang hari sepulang sekolah, aku bergegas menuju restoran cepat saji melaksanakan pekerjaanku seperti biasanya.

“Kamu lagi sedih, Ra?” tanya Kak Aldi.

Aku menatap Kak Aldi bingung, “Memangnya aku keliatan begitu?”

“Kamu lupa kamu gak pinter akting?” Aku terkekeh.

“Aku sedikit sedih,” ujarku.

“Kamu bisa cerita.”

“Hm?” Aku bergumam bingung.

“Maksud saya kamu bisa cerita sama saya. Saya penjaga rahasia yang baik kok, buktinya karyawan yang lain nggak tau kalau kamu pernah pura—“ Aku menutup mulut Kak Aldi dengan tanganku, kemudian memukulnya kuat.

“Bisa diem kan!” teriakku.

Entah kenapa, mulai hari itu banyak cerita di antaraku dan Kak Aldi. Mulai dari seringnya kami pergi ke pantai bersama atau sekedar saling bertukar cerita mengenai banyak hal.

Dari cerita Kak Aldi aku jadi tahu kalau Kak Aldi membangun bisnis restoran tersebut tanpa bantuan dan dukungan dari siapapun. Ibu Kak Aldi menikah lagi, Ayah tirinya yang tak menyukai Kak Aldi membuat Kak Aldi memilih untuk pergi dari rumah. Mengejar mimpinya sendiri.

Kak Aldi bilang, untuk memulai sesuatu, modal utama yang perlu kita miliki adalah kepercayaan bahwa kita mampu melakukan hal tersebut.

Di suatu sore sepulang dari pantai, aku mengatakan kepada Kak Aldi bahwa aku menyukainya. Mendengar hal itu, Kak Aldi tertawa lantas berkata, “Kamu masih muda, Ra. Kejar dulu mimpimu.”

Aku hanya tersenyum tipis, aku pikir setelah banyak hari dan momen yang kita lalui selama ini, membuat Kak Aldi bisa menyukaiku. Tapi ternyata aku salah, membuat seseorang mencintai kita tak semudah menggenggam tangannya, seperti yang kulakukan sekarang.

Di perjalanan pulang menuju rumah, Ayah menelfonku. Menanyakan soal uang yang berada di atas kulkas. Apakah aku mengambilnya atau tidak. Kujawab dengan tegas bahwa aku tidak mengambilnya, kukatan bahwa Kak Jia mungkin mengambilnya karena selama ini dia memang senang mengambil uang Ibu. Tapi Ayah tak percaya. Katanya, mana mungkin aku tak pernah meminta uang jajan tambahan sedikit pun.

Sesampainya di rumah, mengingat kejadian di telepon tadi membuatku menangis. Dan dengan bodohnya aku menangis di depan Ayah.

Laki-laki itu menatapku bingung, “Kenapa kamu nangis?”

“Mungkin karena aku patah hati,” ujarku.

Ayah tertawa, “Apa cintamu ditolak bos kerja paruh waktumu itu?”

Aku menatap Ayah teduh, kemudian tersenyum dengan derai air mata yang membanjiri pipiku. “Aku patah hati karena Ayah lebih percaya Kak Jia daripada aku. Aku patah hati karena cinta pertamaku nggak mempercayaiku.”

Aku berlari menuju kamar, mengabaikan teriakan Ayah.

“Ayah sudah bilang kamu harus memaklumi sifat buruk kakak kamu semua itu terjadi karena dia dibully di SMAnya yang dulu! Kamu harus paham kalau Ayah bersusah payah buat dia percaya kebaikan!”

“Kakak kamu itu hebat, Fara!”

Ayah, mungkin aku tidak melalui hal menyakitkan sampai tidak ada lagi ruang di kepala dan hatiku untuk memikirkan kebahagiaan orang lain.

Tapi Yah, aku selalu sempat membiarkan ruang di hati dan kepalaku terbentuk untuk memikirkan kebahagiaan orang lain.

Selalu Yah, sampai semua hal menyakitkan yang hadir padaku tidak mampu membangun ego yang dapat menutup ruang-ruang tersebut.

Yah, apa mungkin seseorang yang selalu dimaklumi kesalahannya sebab masa lalunya yang sempat diperlakukan jahat oleh orang lain, menjadikannya lebih baik?

Tapi seluas apapun kesedihanku sebab Ayah, aku tak pernah berhenti menyanyanginya, begitupun Ayah.

Laki-laki itu menatapku bingung, “Kenapa kamu nangis?”

“Mungkin karena aku patah hati,” ujarku.

Ayah tertawa, “Apa cintamu ditolak bos kerja paruh waktumu itu?”

Aku menatap Ayah teduh, kemudian tersenyum dengan derai air mata yang membanjiri pipiku. “Aku patah hati karena Ayah lebih percaya Kak Jia daripada aku. Aku patah hati karena cinta pertamaku nggak mempercayaiku.”

Aku berlari menuju kamar, mengabaikan teriakan Ayah.

“Ayah sudah bilang kamu harus memaklumi sifat buruk kakak kamu semua itu terjadi karena dia dibully di SMAnya yang dulu! Kamu harus paham kalau Ayah bersusah payah buat dia percaya kebaikan!”

“Kakak kamu itu hebat, Fara!”

Ayah, mungkin aku tidak melalui hal menyakitkan sampai tidak ada lagi ruang di kepala dan hatiku untuk memikirkan kebahagiaan orang lain.

Tapi Yah, aku selalu sempat membiarkan ruang di hati dan kepalaku terbentuk untuk memikirkan kebahagiaan orang lain.

Selalu Yah, sampai semua hal menyakitkan yang hadir padaku tidak mampu membangun ego yang dapat menutup ruang-ruang tersebut.

Yah, apa mungkin seseorang yang selalu dimaklumi kesalahannya sebab masa lalunya yang sempat diperlakukan jahat oleh orang lain menjadikannya lebih baik?