Review Buku Garis Waktu

novelgariswaktu

Garis Waktu adalah salah satu buku karangan Fiersa Besari yang cukup dikenal oleh banyak orang. Salah satu karya yang patut untuk dibaca oleh siapapun. Buku ini merupakan kumpulan kontemplasi yang ditulis Fiersa Besari sebagai sebuah usaha untuk menghapus luka.

Buku ini diterbitkan pertama kali di tahun 2016. Ini bukanlah novel yang punya percakapan di dalamnya. Ini seperti sebuah kumpulan monolog tokoh utama “aku” yang mengabadikan kejadian penting dalam hidupnya. Seperti kata pengantar yang disampaikan oleh Fiersa Besari dalam halaman pertama buku ini, “Akhirnya, kumpulan pemikiran dan perasaan itu menjadi rangkaian cerita yang bisa dinikmati sebagai satu kesatuan, sekaligus sebagai karya yang terpisah tiap babnya,” kumpulan monolog yang ia rajut untuk tetap menghadirkan benang merah diantara setiap kejadian.

Fiersa Besari mengawali petualangan di dalam buku ini dengan sebuah quote yang mewakili tentang buku Garis Waktu ini,

“Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya. Kemudian, satu orang tersebut akan menjadi bagian terbesar dalam agendamu. Dan hatimu takkan memberikan pilihan apa pun kecuali jatuh cinta, biarpun logika terus berkata bahwa risiko dari jatuh cinta adalah terjerembab di dasar nestapa.”

Ya, sebuah kisah tentang tokoh “aku” yang memaknai sebuah cinta dalam hidupnya. Kisah bagaimana tokoh “aku” bertemu, tertolak, bersatu, dan berpisah dengan tokoh “kamu” yang menjadi lawan mainnya.

Hal yang menarik dari buku ini adalah kemampuan Fiersa dalam meramu berbagai macam kalimat namun tetap mengandung unsur cinta yang kuat. Pembaca bisa merasakan bagaimana alunan emosi yang dimiliki “aku”. Alunan itu diperjelas oleh Fiersa melalui judul bab, bulan, dan tahun yang disertakannya setiap pergantian kejadian yang menimpa “aku”.

Kisah yang dialami “aku” memang sepertinya sangat mewakili kisah muda-mudi. Sebuah kisah cinta yang penuh dengan pengharapan dan pengorbanan yang mampu mendewasakan siapapun yang mengalaminya. Saya pikir, Garis Waktu ini adalah cara Fiersa membagikan tips menghadapi kejadian yang melukai hidup pembacanya. Meski memang di dominasi oleh kisah cinta terhadap lawan jenis, tetapi Fiersa juga menyelipkan makna cinta kepada orang tua, sahabat, dan Tuhan yang Maha Cinta.

Luka yang diterima oleh “aku” ia jelaskan dengan gamblang bagaimana sakitnya menerima hal itu dari orang yang ia cintai. Kemudian, tokoh “aku” memulai dirinya untuk berdamai dengan luka itu. Meski beratnya menghadapi cinta yang rumit telah memorat-marit hatinya, namun ia harus tetap berpikir dengan bijak. Menghargai cinta yang diterimanya dari orang-orang sekitarnya dan ketetapan Tuhan pada setiap hambaNya. Ia belajar menerima semua. Ya, menerima.

Buku ini kaya sekali akan rasa yang dihadapi oleh manusia, rasa dengan dia yang kita cintai, dengan orangtua yang sangat kita hargai, dan dengan sahabat yang selalu menemani kita di setiap titik kehidupan. Buku ini layak menjadi salah satu bagian dari readlist kalian. Buku ini juga dapat membantu kalian dalam menambah kosakata sastra untuk mengutarakan rasa yang kadang sulit sekali kita ungkapkan dan menambah rasa syukur kita terhadap kejadian pahit dan manis yang dialami.

Selamat membaca dan selamat berkontemplasi. Bagaimana pendapat kalian tentang buku ini?

1 Like